Review Film Rasuk (2018)

Saya ingat dulu pernah menonton film “Rasuk” ini. Dan saya juga ingat kalau dulu menyerah di sekitar menit ke 30. Malas untuk melanjutkan hingga tuntas. Pun begitu, demi melengkapi review deretan film horor yang diangkat dari novel karya Risa Saraswati, kali ini saya korbankan diri untuk menyelesaikannya. Akankah saya merasa menyesal karena sebelumnya tidak menuntaskannya? Atau sebaliknya, bersyukur karena keputusan saat itu sudah tepat? Simak sinopsis dan review singkatnya di bawah ini.

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Sinopsis Singkat

poster rasuk

Langgir Janaka sangat mencintai ayahnya. Hingga suatu ketika ayahnya meninggal dan Langgir merasa sejak itu ibunya membencinya. Langgir jadi menutup diri dan ganti membenci semua orang, termasuk ibunya, ayahnya yang baru, om Udin, serta adiknya hasil pernikahan ibunya dengan om Udin, Bakula Borneo. Langgir sendiri berteman dengan Lintang Kasih, Sekar Tanjung, dan Fransisca Inggris, dimana mereka menamakan geng mereka sebagai Putri Sejagat.

Suatu hari, sebelum pergi berlibur ke Singapura, Lintang mengajak teman-temannya untuk menginap di villa pamannya, Karma Rinjani. Langgir sempat mengajak Abimanyu, cinta terpendamnya, untuk ikut, namun Abimanyu menolak dengan alasan masih ada tugas kuliah. Langgir juga awalnya tidak mau ikut, namun karena tahu ibunya hendak menjual rumah mereka, Langgir kesal dan tidak betah di rumah.

Dalam perjalanan, mobil yang mereka kendarai tidak bisa lewat karena jembatan putus. Langgir dkk memutuskan untuk berjalan kaki dan malah tersesat di hutan. Awalnya mereka berniat untuk bermalam di dekat sebuah pondok, namun niat tersebut batal karena Langgir melihat ada wajah mengerikan dari balik lubang tembok pondok.

Tak lama muncul seorang wanita bernama Kumala Sari, mengaku sebagai penduduk lokal. Ia mengantarkan Langgir dkk ke villa dan kemudian menghilang begitu saja. Sementara itu, di villa mereka disambut oleh Cecep, penjaga villa. Tanpa disangka, sudah ada Abimanyu di sana. Lebih mengejutkan lagi, Inggrid kemudian menyatakan bahwa ia dan Abimanyu sekarang berpacaran.

Mendengar hal itu, Langgir sakit hati dan memutuskan untuk pergi meninggalkan villa, berusaha untuk kembali ke kota. Di hutan ia tersesat dan mendapati makam Kumala Sari yang ternyata sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Melihat hantu Kumala Sari di hadapannya, Langgir terperosok dan jatuh ke liang lahat. Ia kemudian kerasukan.

Sementara itu, Abimanyu yang berusaha mencari Langgir juga sama dihantui oleh arwah Kumala Sari. Motor yang ia kendarai terpeleset dan ia pun jatuh pingsan.

Di villa, Inggrid dan Lintang bergantian dirasuki oleh arwah Kumala Sari. Di tengah kekacauan, terungkap bahwa Lintang sebenarnya hendak ke Singapura untuk operasi tumor otak, bukan untuk berlibur seperti yang dikira teman-temannya. Sekar, di balik keluarganya yang terlihat bahagia, sebenarnya juga merupakan anak angkat dimana ia dibuang oleh orangtuanya sendiri sejak keluar dari kandungan. Mengetahui kondisi di villa tidak lagi kondusif, Sekar memutukan untuk pergi ke rumah Cecep dan minta dicarikan kendaraan untuk pulang.

Abimanyu ditemukan oleh penduduk lokal. Ia kemudian dibawa ke rumah seorang ustadz yang menceritakan kepadanya apa yang sebenarnya terjadi di Karma Rinjani. Dua tahun lalu, Kumala Sari diperk0sa oleh salah seorang pekerja konstruksi. Ia kemudian bunuh diri. Untuk membalas dendam, ayahnya, Rudi, mendalami ilmu hitam dan membangkitkan arwah Kumala Sari hingga sekarang gentayangan. Ia pun berniat untuk mencari tubuh seorang wanita untuk ditumbalkan dan menjadi tubuh baru bagi Kumala Sari. Setelah melihat foto Rudi, Abimanyu kaget karena pria yang ada di foto tersebut ternyata adalah Cecep.

Sekar memergoki Rudi hendak menjalankan ritual untuk menumbalkan Langgir. Rudi yang mengetahuinya segera mengejar Sekar. Sekar sempat bertemu dan menyelamatkan Rosita, istri Rudi yang selama ini disekap karena tidak setuju dengan ulah Rudi. Keduanya kembali dihadang Rudi. Setelah melalui pertarungan sengit, Sekar berhasil membunuh Rudi.

Sementara itu, Langgir yang kerasukan menuju villa dan hendak membunuh Inggrid dan Lintang. Untungnya Abimanyu dan pak Ustadz datang di saat yang tepat. Walau berhasil menyelamatkan keduanya, Langgir masih bisa melarikan diri. Mereka pun bergegas mengejarnya.

Langgir mendatangi tempat pria yang hendak membeli rumahnya dan membunuhnya. Ia lanjut pulang ke rumah dan berniat untuk membunuh Bakula. Lagi-lagi rombongan pak ustadz datang di saat yang tepat. Sesaat kemudian Sekar dan Rosita juga muncul. Pada akhirnya mereka semua berhasil menyadarkan Langgir.

Tanggal Rilis: 28 Juni 2018
Durasi: 90 menit
Sutradara: Ubay Fox
Produser: Dheeraj Kalwani
Penulis Naskah: Alim Sudio
Produksi: MD Pictures, Dee Company
Pemain: Shandy Aulia, Miller Khan, Denira Wiraguna, Gabriella Desta, Josephine Firmstone, Ninok Wiryono

Review Singkat

Jujur, usai menonton “Rasuk”, saya jadi ingin membaca novel aslinya. Bukan karena kagum dengan ceritanya. Melainkan penasaran… ini yang geblek adaptasi naskahnya atau emang dari aslinya.

Film ini dibuka dengan sebuah adegan yang cinematic, namun sekaligus tidak masuk akal. Mungkinkah ada orang yang bela-belain naik gunung untuk menenangkan diri, sendirian, dengan mengenakan gaun ala pengantin? Nyeker pula.

Adegan dengan shoot keren dan dramatis tersebut ternyata memang pembuka bagi sejumlah adegan (dan dialog) tidak masuk akal yang menghiasi film ini. Saya sampai bingung jika disuruh menjabarkannya. Saking bejibun.

Kita mulai dari si karakter utama, Langgir. Ibunya diceritakan menyalahkannya karena dianggap menyebabkan kematian ayah Langgir. Langgir jadi kesal dan balik membenci ibunya plus Bakula, anak ibunya dari pernikahan keduanya dengan om Udin. Kendati demikian, ibu Langgir justru terlihat woles, sama sekali tidak ada kesan tidak suka terhadap Langgir. Justru Langgir yang seolah marah-marah sendiri tanpa sebab, bahkan mencap keluarganya sebagai lingkungan yang penuh kebencian. Lah wong yang benca benci geje dia sendiri.

Langgir yang diceritakan sebagai pecinta alam dan suka naik gunung ajaibnya tidak merasa aneh ketika sudah berjalan sekian lama di hutan tanpa sampai tujuan yang disebut seharusnya hanya berjarak 300 meter. Ia yang jelas-jelas membawa kompas juga pasrah ketika salah seorang temannya mengajak berjalan ke arah lain dari yang seharusnya. Belum lagi keputusannya untuk minggat dari villa di malam hari, di saat ia baru saja tersesat di hutan, adalah dengan pergi ke hutan.

Itu saja? Tentu tidak.

Ketika Langgir, Lintang, Sekar, dan Inggrid tersesat dan bertemu dengan Kumala Sari, setelah memperkenalkan nama, hal pertama yang mereka lakukan adalah memperkenalkan nama geng! Woi, kalian lagi tersesat, bukan lagi gathering. Siapa juga peduli dengan nama geng kalian.

Selanjutnya adalah ketika tangan Inggrid dan Sekar digambarkan sama-sama terluka parah — satu dicakar, satu ditusuk pisau. Setelah itu, keduanya tetap bisa beraktifitas seperti biasa. Cuman meringis meringis seadanya. Alih-alih berusaha mengobati tangannya, Inggrid malah sempat-sempatnya mengelap pisau yang habis digunakan untuk menusuknya. Sekar juga memilih menggunakan tangan yang habis dicakar untuk menggenggam senter, ketimbangan tangan satunya yang baik-baik saja.

Puncaknya adalah jalur menuju villa yang di awal tidak bisa dilewati mobil karena jembatan putus. Eh, di akhir secara ajaib mobil bisa melewatinya. Lebih misterius lagi, Sekar dan Rosita yang menyusul entah naik apa, bisa sampai nyaris bersamaan ke rumah Langgir dengan rombongan Lintang dkk yang naik mobil. Wow.

Dan jangan tanya ya bagaimana mereka bisa tahu kalau mereka harus ke rumah Langgir.

Kesemuanya itu dibalut oleh beberapa jump scare yang mengandalkan karakter ber-make-up seram. Jump scare-nya sih tidak masalah. Yang masalah adalah reaksi hampir semua karakter saat diberi penampakan. Semuanya auto terjungkal ke belakang. Mirip adegan lawak.

Bagaimana dengan akting pemainnya? Di luar Gabriella Desta yang menurut saya mampu mencuri perhatian, yang lain terbilang so so. Yang paling parah justru bintang utamanya, Shandy Aulia. Nyaris tidak ada kesan yang tersampaikan setiap kali ia berdialog. Seperti anak SD sedang membaca puisi. Ada intonasi, tidak ada emosi.

Penutup

Pada akhirnya, insting saya saat pertama kali menonton “Rasuk” ternyata sudah tepat. Ini adalah contoh film yang tidak hanya tidak perlu ditonton, melainkan sebisa mungkin dihindari jauh-jauh. Naskahnya kacau, dialognya berantakan, detilnya tidak diperhatikan, serta horornya menggelikan. Couldn’t be worse. 0/10.

Catatan: review serta rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

gambar #24676

Leave a Reply