Review Film Pocong The Origin (2019)

Telat sehari karena kemarin ada urusan seharian di Kemenag, siang ini kesampaian juga untuk nonton film “Pocong The Origin”, yang sejak kemunculan trailer berkelasnya sudah bikin saya super penasaran. Apalagi, kabarnya film ini dulu gagal tayang karena tidak lolos sensor sehingga disalip oleh sekuelnya, “Pocong 2”. Pada akhirnya, setelah melewati beberapa revisi naskah, hadirlah karya film horor ke-empat dari Monty Tiwa ke bioskop-bioskop kesayangan kita di minggu ketiga bulan April 2019 ini.

Sinopsis Singkat

Poster film Pocong The Origin

Ananta (diperankan oleh Surya Saputra) adalah seorang pembunuh yang baru saja menjalani eksekusi mati. Pesan terakhirnya adalah dikubur di kampung halamannya di Cimacan. Dengan ditemani oleh Yama (diperankan oleh Samuel Rizal), Sasthi (diperankan oleh Nadya Arima) mengantarkan jenazah ayahnya menuju ke sana. Namun karena Ananta memiliki ilmu gaib Banaspati, ia harus dikubur dalam waktu 24 jam setelah meninggal. Jika tidak, maka arwahnya akan hidup kembali. Perjalanan berat yang penuh gangguan mistis menuju Cimacan pun dimulai.

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Mesti tidak banyak memuat kisah masa lalu, premis yang ditawarkan oleh “Pocong The Origin” bisa dikatakan cukup jelas. Selain karakter Yama, saya cukup bisa memahami masing-masing karakter utama yang ada dan mengapa mereka berbuat demikian. Alurnya rapi dari awal hingga akhir. Mungkin karena bingkai waktu cerita yang digambarkan hanya sehari lebih sedikit, sehingga tidak ditemui lompatan-lompatan adegan yang membingungkan.

Seperti yang dijanjikan, film ini tidak (terlalu) berusaha untuk menakuti atau mengagetkan penontonnya. Suasana mencekam kebanyakan berasal dari latar adegan yang sinematografinya patut diacungi jempol. Justru menurut pendapat saya, momen-momen dimana “Pocong The Origin” mencoba untuk seram malah menjadi titik lemah.

Saya termasuk yang tidak suka dengan penampakan hantu random (tidak berkaitan dengan cerita), dan sayangnya, hal tersebut ada di film ini. Ditambah lagi dengan efek suara tangisan yang diulang berkali-kali. Bukannya merinding, jatuhnya malah membosankan.

Poin positifnya, Monty Tiwa sukses membalutkan unsur komedi ke dalam film ini. Dari semua film horor yang saya tonton di tahun 2019, sepertinya “Pocong The Origin” punya titik tawa terbanyak. Kebanyakan lawakan receh, tapi mengena. Karakter Yama sebagai salah satu pemicu utamanya, yang membuat saya sedikit banyak bisa memaafkan aksen Pantura-nya yang terdengar masih kaku.

Dua jempol perlu diberikan pada Surya Saputra dan Nadya Arima. Keduanya mampu memerankan karakter masing-masing dengan amat sangat baik. Screen time Surya memang tidak banyak, tapi perlu diketahui, sosok yang ada di dalam kain kafan adalah benar-benar Surya, sama sekali bukan pemeran pengganti. Luar biasa totalitasnya.

Sebaliknya, saya agak terganggu dengan karakter wartawan (lupa namanya) yang diperankan oleh Della Dartyan. Seperti agak berlebihan. Mungkin memang itu tuntutan skenario, mengingat latar karakternya dimana sahabatnya menjadi salah satu korban dari Ananta. Tapi yah, jujur saja, tetap mengganggu sih.

Dari segi kekurangan, beberapa adegan menurut saya terlalu panjang durasinya. Terlalu bertele-tele. Seperti saat Yama mendengar suara tangisan di WC Umum misalnya. Sebaliknya, twist di bagian akhir justru dibuat terburu-buru. Yang harusnya bikin terkejut, malah terasa biasa saja. Mengingat twist sejenis sudah sering ditemui di berbagai film horor, rasanya wajar jika saya mengharapkan Monty Tiwa menghadirkan yang lebih baik lagi di bagian itu.

Oh ya, dialog-dialog yang menggunakan bahasa daerah juga tidak disertai dengan subitle. Yang ini beneran bikin kesel.

Dan sebelum lupa, kenapa coba si pocong yang awalnya melayang dengan mulus bisa mendadak jadi lompat-lompat giliran pas mau ‘dibunuh’??? Apa karena kalau dia terus-terusan terbang ceritanya jadi gak selesai-selesai, hehehe.


Tidak jelek, tapi juga tidak bagus. Untuk saat ini masih bisa sih masuk dalam daftar lima besar film horor lokal yang direkomendasikan di tahun ini. Entah apa bakal bertahan hingga akhir tahun atau tidak…

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply