Review Film Pintu Merah (2019)

Buruknya dua kualitas trailer “Pintu Merah” yang dirilis ternyata cukup berdampak. Tidak hanya minimnya jumlah bioskop yang menayangkannya di hari perdana (di Surabaya hanya tayang di Sutos XXI), animo masyarakat juga tidak kalah rendahnya. Termasuk saya, total jumlah penonton di slot pertama pas sesuai dengan jumlah jari tangan. Rekor terendah dari seluruh film horor lokal yang saya tonton di bioskop sepanjang tahun 2019 ini. Lantas bagaimana dengan kualitas filmnya? Apakah bisa melebihi ekspektasi? Atau sama hancurnya dengan trailernya? Simak reviewnya (dari sudut pandang penonton awam) di bawah ini ya.

Sinopsis Singkat

Review Film Pintu Merah (2019)

Aya Lestari (diperankan oleh Aura Kasih) adalah seorang wartawan junior di sebuah media. Sebuah tugas untuk menulis berita pembunuhan di sebuah hutan menyeretnya ke dalam kasus pembunuh berantai yang misterius. Tanpa mengindahkan pesan Andini (diperankan oleh Monica Oemardi), reporter yang dulu pernah mendalami kasus tersebut, penyelidikan Aya tiba di sebuah bangunan rumah sakit jiwa yang sudah ditutup sejak 10 tahun silam. Setelah melewati sebuah pintu merah, Aya terjebak di sana bersama dengan Alex Subroto (diperankan oleh Miller Khan), pria yang ia temui di sana. Bersama-sama mereka lalu mencoba mencari cara untuk keluar dari rumah sakit sembari memecahkan misteri apa yang sebenarnya menyelimuti tempat tersebut.

Tanggal Rilis: 18 Juli 2019
Durasi: 77 menit
Sutradara: Noviandra Santosa
Penulis: Eric Gunawan, Angga Haryono, Alivia Priscilla Kamal, Monge, Noviandra Santosa
Produser: Noviandra Santosa
Produksi: Kanta Indah Films
Distributor: –
Pemain: Aura Kasih, Miller Khan, Cornelio Sunny, Monica Oemardi, Ridho Illahi, Teno Ali, Willy Smith, Deni Martin

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!

Meski dibumbui dengan aksi-aksi investigasi yang tidak meyakinkan dan cenderung menggelikan, namun tema utama mengenai orang yang terjebak dalam sebuah ‘dimensi lain’ menurut saya pribadi berhasil dieksekusi dengan baik. Set yang hanya terbatas pada lantai 3 bangsal rumah sakit sukses dioptimalkan tanpa membuat saya menjadi bosan. Kuncinya adalah alur cerita yang dinamis, yang diekor dengan baik oleh latar adegan.

Agar lebih jelas, mungkin perlu disampaikan bahwa di sini karakter Aya dan Alex terperangkap di lantai 3 bangsal rumah sakit jiwa. Setiap kali mereka mencoba untuk keluar, mereka akan kembali lagi ke lantai tersebut. Rasanya hampir 80% durasi film dihabiskan di tempat tersebut.

Nah, walau hanya berputar-putar di lantai yang sama, namun, sekali lagi, saya pribadi sama sekali tidak merasa jenuh. Detil kecil yang memang seiring dengan perkembangan cerita benar-benar diperhatikan. Seperti lampu yang ada kalanya bersinar terang, ada kalanya pula berkedip-kedip. Pintu yang di satu waktu terbuka, tapi di waktu lain tertutup. Dan lain sebagainya.

Kalau teman-teman pernah memainkan game-game bergenre horor misteri, ya seperti itulah film ini. Kita dibawa untuk menjelajahi ruang yang sama berulang-ulang demi mengumpulkan potongan-potongan petunjuk yang ada. Sayangnya, misteri yang dihadirkan tidak cukup kuat dan terlalu mudah untuk ditebak. Rasanya penggemar film horor sudah bisa langsung menebak bahwa karakter Alex ada kaitannya dengan pembunuhan yang terjadi sejak kemunculan pertamanya di layar. Dialog-dialog yang terucap juga sama sekali tidak menunjukkan kepiawaian Aya dalam menjalankan tugasnya sebagai wartawan.

Hal ini sudah terlihat sejak awal, dimana Aya dengan mudahnya mempercayai sebuah artikel di BLOGSPOT yang ditulis oleh Andini. Okelah, pada akhirnya memang Andini benar memiliki informasi mengenai kasus yang sedang diselidiki Aya. Tapi di jaman sekarang mestinya kebanyakan orang juga sudah paham bahwa artikel dari situs-situs gratisan atau yang tidak jelas penulisnya bukanlah sumber informasi yang bisa dipercaya begitu saja.

Titik lemah terbesar menurut saya justru dari sisi horornya. Banyak sekali ‘meminjam’ elemen horor dari film-film lain. Termasuk tokoh hantu utamanya yang langsung membuat saya teringat dengan karakter Slender Man. Tidak buruk memang. Momen jump scare saat Aya mengintip dari balik lubang kunci pun cerdas dan tidak terduga. Tapi saya yakin para kritikus dan reviewer film (yang sok mengkritik) pasti akan menyindir hal ini sebagai kebobrokan “Pintu Merah”.

Saya sendiri lebih mempermasalahkan kenapa begitu bentuk asli si hantu ‘slender man’ terlihat malah jadi tidak ada serem-seremnya, hehehe.

Karakter Aya bagi saya cukup baik. Punya modal yang kuat apabila suatu saat ceritanya hendak dikembangkan lagi. Ide ‘memindahkan’ perangkap pintu merah ke dalam rumah seperti yang ada di ending film rasanya bakal seru kalau bisa dieksplor lebih dalam lagi. Akting Aura Kasih? Belum benar-benar berkesan, tapi setidaknya lebih baik ketimbang aksinya di “Sacred Riana”.

Oh ya, satu ekstra poin plus yang perlu disampaikan, tidak ada suara latar yang lebai di sepanjang film. Semua sesuai porsinya. Tidak jarang hanya terdengar sekilas untuk menotif kalau ada penampakan, lalu kembali hening. Ini patut diacungi jempol.

Kesimpulan

Secara keseluruhan tidak terlalu mengecewakan untuk ditonton. Memang masih jauh dari sempurna, tapi setidaknya film “Pintu Merah” punya modal yang cukup kuat apabila hendak dibuat sekuelnya. Tinggal mencari penulis yang paham elemen-elemen cerita misteri. Atau kalau kembali menggunakan tim penulis yang sekarang, perbanyak referensi novel-novel misteri dulu deh baiknya.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply