Review Film Perjanjian Dengan Iblis (2019)

Berhubung minggu ini tidak ada film horor lokal baru yang dirilis, kita obrolin saja film “Perjanjian Dengan Iblis” yang naik layar di awal tahun 2019 lalu. Saat itu saya tidak sempat menontonnya langsung karena hanya tayang di bioskop yang letaknya jauh dari rumah. Itu pun belum genap seminggu sudah turun layar. Kebanyakan review yang beredar menyatakan bahwa film yang dibintangi oleh Shandy Aulia ini tidak layak tonton. Ratingnya tidak ada yang lebih dari 5/10. Seburuk itukah?

Sinopsis Singkat

Review Film Perjanjian Dengan Iblis (2019)

Annisa (diperankan oleh Shandy Aulia) menikah dengan Bara (diperankan oleh Aghi Narottama), duda beranak satu, Lara (diperankan oleh Basmalah Gralind). Dengan alasan stress, Bara mengajak keduanya liburan ke pulau Bengalor yang terpencil dan jarang dikunjungi wisatawan. Adalah Regganis (diperankan oleh Artika Sari Devi) selalu penjaga (atau pengelola?) villa tempat mereka menginap yang lantas menyambut kedatangan Bara dan keluarganya di pulau tersebut.

Kondisi di pulau Bengalor ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Penduduk lokal terlihat tidak suka dengan kehadiran mereka. Annisa dan Lara juga mulai diganggu oleh kejadian-kejadian menyeramkan. Bara yang tidak percaya dengan cerita Annisa dan Lara malah memilih pergi untuk urusan pekerjaan. Sepeninggal Bara, Annisa dan Lara semakin sering mendapatkan gangguan. Hubungan keduanya yang awalnya renggang karena Lara belum bisa menerima Annisa sebagai pengganti sosok ibu kandungnya lamban laun mulai menjadi dekat. Bersama-sama mereka berusaha untuk bertahan hidup dan meninggalkan pulau Bengalor.

Tanggal Rilis: 10 Januari 2019
Durasi: 80 menit
Produser: Manoj Punjabi
Sutradara: Ardy Octaviand
Penulis: Ardy Octaviand, Husein M Atmodjo
Produksi: MD Pictures, Pichouse Films
Pemeran: Shandy Aulia, Artika Sari Devi, Alex Abbad, Aggi Narottama, Basmalah Gralind

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!

Apa yang saya rasakan tampaknya berbeda dengan kebanyakan review yang sudah beredar. Di luar sinematografinya yang terlihat seperti film tahun 80-an, secara keseluruhan saya bisa menikmati film “Perjanjian Dengan Iblis” ini. Ceritanya memang cenderung biasa biasa saja, dengan twist yang sudah bisa ditebak sejak pertengahan durasi, tapi akting Basmalah Gralind yang cukup baik bisa menutupinya. Tidak sepenuhnya sempurna sih. Ada beberapa adegan dimana yang bersangkutan tidak mampu menyampaikan emosi yang seharusnya ada dengan tepat. Namun untuk anak seusia dia rasanya hal tersebut masih bisa dimaafkan.

Belum lagi akting Artika Sari Devi dan Alex Abbad yang di atas rata-rata. Keduanya mampu membuktikan bahwa mereka adalah bintang film yang sudah berpengalaman. 5 menit terakhir bisa dibilang adalah puncak cerita, sekaligus puncak akting keduanya dalam film ini. Saya sampai mengulang bagian tersebut beberapa kali saking serunya.

Dengan naskah yang sederhana, Ardy Octaviand selaku penulis dan sutradara saya rasa berhasil meminimalisir adanya plot hole maupun keanehan dalam cerita. Hanya ada satu dua bagian saja yang bikin saya mengernyitkan dahi. Seperti ketika karakter Annisa bisa tiba-tiba berada di rumah Salim (diperankan oleh Alex Abbad) setelah ia jatuh pingsan di rumah Rengganis.

Elemen horor sendiri masih mengandalkan penampakan setan dengan make up seram. Untungnya kualitas make upnya di atas rata-rata. Ardy juga berhasil memainkan tensi dan menghadirkan jump scare di momen yang tepat. Seperti ketika Lara bersembunyi di dalam lemari dan muncul penampakan si setan secara mendadak di sampingnya. Atau ketika hantu di depan mata Annisa menghilang lalu secara tiba-tiba mendekat dan langsung mencekiknya. Not bad.

Pada akhirnya, yang bagi saya pribadi membuat segala sesuatunya menjadi berantakan justru pada adegan akhir. Bara terlihat berdiri di pinggir pantai bersama dengan sekelompok orang berpakaian hitam. Tidak jelas apa makna maupun kaitannya dengan cerita utama. Apakah karena Annisa dan Lara gagal ditumbalkan lantas Bara dikutuk jadi penduduk di pulau Bengalor? Atau apa?

Kesimpulan

Cerita yang tergolong tidak istimewa berhasil diimbangi dengan akting pemain yang di atas rata-rata. Unsur horor tidak mengecewakan walau tidak bisa dibilang orisinil juga. 5 menit di penghujung cerita merupakan bagian yang terbaik. Tidak jelek dan masih aman buat ditonton, asalkan tidak usah terlalu tinggi berekspektasi. Hanya saja, dengan gosip biaya produksi yang mencapai 6 milyar seharusnya sih bisa jauh lebih baik lagi kualitasnya.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply