Review Film Perempuan Di Rumah Angker (2012)

“Perempuan di Rumah Angker” adalah film bergenre horor komedi yang hadir di tahun 2012 lalu. Sutradaranya adalah Findo Purwono Hw dengan TB Ule Sulaeman sebagai penulis naskah. Ini adalah satu dari tiga proyek film horor Ule Sulaeman selain “Dendam Dari Kuburan” dan “Bangkit Dari Kubur”. Keduanya nanti menyusul di review, ya. Lalu bagaimana dengan “Perempuan di Rumah Angker” ini sendiri? Simak sinopsis dan review singkatnya di bawah ini.

Sinopsis Singkat

Review Film Perempuan Di Rumah Angker (2012)

Erwin (diperankan oleh Keith Foo) tiba-tiba mulai mendapat teror via telpon dan SMS dari seorang wanita yang mengaku sebagai teman dekatnya di masa SMU dulu. Sosok tersebut tidak hanya menyatakan cintanya, melainkan juga mengancam akan membunuh Karina (diperankan oleh Kartika Putri), kekasih Erwin, jika Erwin tidak mau menerima cintanya. Kematian beberapa orang di sekitar dirinya dan Karina membuat Erwin akhirnya menerima cinta hantu tersebut.

Pun begitu, agar masalah tidak berlarut-larut, Erwin mencoba untuk mencaritahu siapa sebenarnya sosok hantu wanita misterius yang menterornya. Dengan bantuan petunjuk dari guru sekolahnya dulu, Pak Darman, Erwin menyimpulkan bahwa sosok tersebut adalah Murni, teman SMU-nya yang meninggal gantung diri di dalam kelas. Tidak itu saja, kematian Murni ternyata akibat ulah seseorang, yang cemburu pada kedekatan Murni dengan Erwin.

Tanggal Rilis: 12 Desember 2012
Durasi: 1 jam 18 menit
Sutradara: Findo Purwono Hw
Produser: Firman Bintang
Penulis Naskah: TB Ule Sulaeman
Produksi: Mitra Pictures, BIG Production
Pemain: Kartika Putri, Joe Richard, Hardi Fadhillah, Tya Restyana, Keith Foo

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Dari adegan pembukanya saja, “Perempuan Di Rumah Angker” ini sudah menunjukkan jati dirinya yang sesungguhnya sebagai sebuah film bergenre KOMEDI horor. Tulisan komedi sengaja saya beri huruf besar karena unsur itulah yang lebih menonjol. Dan setelah menyimak adegan demi adegan yang ada hingga akhir, bagi saya pribadi film ini memang tidak berpura-pura untuk menjadi sajian horor yang menyeramkan. Tujuan utamanya adalah untuk menghadirkan gelak tawa, bukan untuk menakut-nakuti.

Dengan kejujuran yang telah dihadirkan oleh sutradara Findo Purwono, akan terasa jahat dan tidak fair jika kemudian saya menilai film ini dari kacamata genre horor.

Layaknya cerita komedi, segala sesuatu yang serba lebay bisa ditemui di sini. Terutama dari dialog dan ekspresi para pemainnya. Lha wong adegan nangis dan ketawa aja gak ada bedanya.

Untuk ceritanya sendiri tidak terlalu ada masalah. Karena memang sederhana dan mudah dicerna. Yah, selevel FTV lah. Penampakannya pun idem. Tidak menyeramkan karena, seperti yang sudah saya sebut di atas, tidak berniat untuk menakut-nakuti penonton. Rasanya tidak perlu ada yang kena gunting lembaga sensor apabila ditayangkan di layar kaca.

Yah, pengecualian untuk outfit dari karakter Karina yang terbuka. Bahkan terlalu terbuka mengingat yang bersangkutan digambarkan masih berstatus mahasiswi. Sudah pasti bakal jadi korban blur di televisi, hehehe.

Lalu bagaimana dengan unsur komedinya? Jujur saja, saya suka humor-humor garing yang biasa ada di FTV salah satu stasiun TV swasta kita. Dan kebetulan saja, yang disajikan di “Perempuan di Rumah Angker” adalah komedi semacam itu. Puas ngakak sih jadinya, wkwkwk.

Penutup

“Perempuan di Rumah Angker” memang gagal total untuk urusan horor. Namun sebagai film bergenre komedi, usahanya cukup membuahkan hasil. Setidaknya bagi saya yang selera humornya sejalan dengan yang dibawakan oleh film ini. 4/10 deh sebagai imbalannya.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply