Review Film Pandora (2016)

Puasa puasa begini enaknya ngabuburit sambil nonton film. Apalagi yang seru dan durasinya panjang. Seperti yang satu ini, “Pandora” (판도라), film asal Korea Selatan yang dirilis pada tahun 2016 lalu. Ceritanya tentang sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir yang mengalami krisis / kebocoran (meltdown) sehingga menimbulkan kehebohan di seluruh penjuru negeri. Menariknya, ini adalah film asal negeri gingseng pertama yang hadir di layanan digital video streaming Netflix. Seperti apa ceritanya?

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Sinopsis Singkat

poster pandora

Kang Jae-hyeok (diperankan oleh Kim Nam-gil) bekerja di sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) bersama beberapa temannya sejak kecil. Salah satunya adalah Gil-Seop (diperankan oleh Kim Dae-myung). Jae-hyeok tinggal bersama ibunya, Mrs. Seok (diperankan oleh Kim Young-ae); kakak iparnya, Jung-Hye (diperankan oleh Moon Jeong-hee); dan keponakannya. Tunangannya, Yeon-Joo (diperankan oleh Kim Ju-hyeon), juga bekerja di tempat yang sama. Ayah dan kakak Jae-hyeok sendiri meninggal beberapa tahun lalu karena terkena radiasi dari kebocoran nuklir di PLTN.

Pyeong-seok, salah seorang kepala di PLTN, sempat mengirim laporan pada presiden mengenai kondisi PLTN yang sudah tua dan seharusnya ditutup. Tapi laporan tersebut ditahan oleh perdana menteri (diperankan oleh Lee Geung-young), sehingga terlambat dibaca oleh presiden.

Esok harinya, terjadi gempa yang mengguncang kota tempat tinggal Jae-hyeok. Walau tidak menimbulkan banyak kerusakan di kota, gempa tersebut memicu kebocoran di pipa-pipa pendingin reaktor nuklir. Jae-hyeok dan rekan-rekannya yang sedang bertugas di basement berusaha untuk menyelamatkan diri. Terlambat, sebuah ledakan terjadi, menewaskan sebagian besar rekan Jae-hyeok.

Setelah tersadar, Jae-hyeok berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin teman-temannya yang tertimpa reruntuhan bangunan. Ia dibantu oleh ayah Gil-Seop, Mr. Kong (diperankan oleh Kang Shin-il), yang nekat masuk untuk mencari putranya. Setelah Gil-Seop berhasil diselamatkan, ditambah dengan pihak pemadam kebakaran serta regu penanggulangan bencana yang tidak berani masuk karena tingginya tingkat radiasi, Jae-hyeok memutuskan untuk kembali masuk ke dalam. Pyeong-seok ikut membantunya.

Kendati demikian, setelah beberapa waktu, Jae-hyeok akhirnya tak sanggup lagi melanjutkan karena tubuhnya sudah banyak terpapar radiasi. Ia pun dibawa ke sebuah rumah sakit yang dijadikan pusat penanganan bencana.

Sementara itu, presiden, perdana menteri, dan jajaran menteri berbeda pendapat antara mencegah terjadinya krisis nuklir atau mengevakuasi warga sekitar. Presiden memutuskan untuk mengambil opsi kedua. Hal itu berujung pada tumpukan reaktor yang meledak dan mengakibatkan krisis nuklir.

Di sisi lain, para warga yang dievakuasi akhirnya mengetahui kejadian tersebut. Dengan radiasi yang mulai menyebar, mereka berusaha untuk secepat mungkin menjauhi PLTN.

Setelah reaktor berhasil didinginkan, timbul masalah baru. Lantai kolam air penyimpanan used fuel (saya tidak tahu istilahnya dalam bahasa Indonesia) retak dan air yang menjadi pendingin semakin lama semakin berkurang. Jika air habis, maka used fuel bakal meledak. Ledakannya bahkan bisa lebih dahsyat dari reaktor nuklir.

Satu-satunya cara adalah dengan menambal keretakan tersebut dari ruangan yang ada di bawahnya. Namun karena tingkat radiasi yang masih tinggi, dipastikan tidak ada yang bisa bertahan lebih dari 5 menit. Oleh karena itu, presiden melalui siaran langsung memohon siapa saja yang sanggup untuk menjadi sukarelawan dalam misi hidup mati tersebut.

Dengan paparan radiasi dalam tubuh yang sudah terlanjur tinggi, Jae-hyeok, Gil-Seop, dan rekan-rekan mereka yang lain memutuskan untuk maju sebagai sukarelawan. Aksi mereka dipandu oleh Pyeong-seok. Apes, alih-alih berhasil menambal, yang terjadi justru keretakan makin parah.

Hanya ada satu cara tersisa. Yaitu dengan sekaligus meledakkan lantai kolam dan menjadikan ruang di bawahnya sebagai bagian dari kolam penyimpanan used fuel. Untuk itu, harus ada satu orang yang mau meledakkan bom dari dalam. Dan satu-satunya orang yang memiliki keahlian untuk itu adalah Jae-hyeok.

Setelah menyiapkan bom, Jae-hyeok minta agar rekaman kamera yang ada di helmnya disiarkan secara langsung. Ia lalu mengarahkan kamera tersebut ke wajahnya guna menyampaikan salam perpisahan pada keluarganya dan juga Yeon-Joo. Usai melakukan hal itu, Jae-hyeok menguatkan diri dan mengaktifkan bom peledak. Untungnya, kali ini semua berjalan lancar. Lantai kolam seluruhnya meledak, used fuel turun ke ruangan di bawahnya, dan kembali terendam air seluruhnya.

Tanggal Rilis: 7 Desember 2016
Durasi: 136 menit
Sutradara: Park Jung-woo
Produser: Kim Chul-yong, Park Kyung-sook
Penulis Naskah: Park Jung-woo
Produksi: CAC Entertainment
Pemain: Kim Nam-gil

Review Singkat

Dengan budget ‘hanya’ sebesar USD 477 ribu, “Pandora” ini berhasil meraup USD 32 juta dari hasil penayangannya di bioskop. Tidak salah karena filmnya memang luar biasa keren. Alur ceritanya memang klise dan sudah banyak dipakai di film-film bertema sejenis. Namun setidaknya masih ada sisi manusiawi yang diselipkan. Terutama saat Jae-hyeok menangis merasa hidupnya tidak adil karena ia harus mati demi menyelamatkan orang lain. Terus terang ini yang jarang saya temui di film sejenis.

Salah satu yang saya suka adalah film ini tidak ribet memasukkan terlalu banyak unsur politis di dalamnya. Dengan demikian, cerita bisa benar-benar fokus pada apa yang terjadi di PLTN. Kita cukup tahu seperlunya bahwa si perdana menteri punya agenda lain terkait keberadaan PLTN sehingga ada keputusan-keputusannya yang terkadang berujung bencana. Kendati demikian, di saat kondisi benar-benar sudah mentok, ia legowo menerima presiden kembali mengambil alih. Tidak lagi menyusahkannya.

Untuk ukuran film tahun 2016, efek-efek spesial yang digunakan terbilang halus. Memang tidak bejibun. Tapi yang ada terasa dioptimalkan. Tidak bikin ilfil atau kecewa.

Aktingnya? Yah, sejauh ini saya jarang menemukan film layar lebar asal Korea Selatan yang aktingnya di bawah standar. Begitu pula dengan “Pandora”.

Penutup

Bagi pecinta film-film bertemakan bencana, krisis, dan sejenisnya, “Pandora” amat sangat saya rekomendasikan. Ceritanya seru dan tingkat ketegangan yang terus meningkat. Bagian akhir, yang paling mengaduk-aduk perasaan, digarap dengan rapi tanpa melupakan sentuhan manusiawi. Tidak sok heroik seperti kebanyakan film serupa. Efek-efek spesial yang digunakan pun tidak mengecewakan. 9/10.

Catatan: review serta rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

rf pandora

Leave a Reply