Review Film Nakalnya Anak Muda (2010)

“Nakalnya Anak Muda” nyaris tidak saya tulis reviewnya di Curcol.Co karena sepanjang film terlihat tidak adanya adegan yang berhubungan dengan horor. Nyatanya, saat mendekati akhir, ada satu adegan yang, yah, nyerempet-nyerempet. Jadi, boleh lah diselipin di seri review film horor kita, hehehe. Film ini sendiri rilis pasca hadirnya “Air Terjun Pengantin” yang memicu lahirnya film-film lain yang bergenre thriller slasher dengan sentuhan sensual di dalamnya. Lalu seperti apa ceritanya? Simak sinopsis dan review singkatnya di bawah.

Sinopsis Singkat

Review Film Nakalnya Anak Muda (2010)

Setelah beberapa hari menghilang, Andien (diperankan oleh Ratu Felisha) pulang kembali ke rumah dimana ia tinggal bersama dengan sahabatnya, Renata (diperankan oleh Uli Auliani). Renata lantas mengajak Andien untuk ikut ke pesta pada malam harinya.

Di pesta tersebut, keduanya berkenalan dengan empat orang pemuda. Yaitu Dicky (diperankan oleh Fero Walandouw), Andra (diperankan oleh Billy Ade Sumirat), Pay (diperankan oleh Rozie Mahally), dan Reno (diperankan oleh Rommy Ravalzy). Mereka mengajak Andien dan Renata untuk ikut berlibur bersama mereka esok harinya di sebuah villa yang terpencil di tengah hutan. Andien dan Renata setuju.

Setibanya di hutan, hal-hal aneh mulai terjadi. Seperti adanya teriakan seorang wanita serta sosok seseorang bermantel yang terlihat bersliweran. Puncaknya adalah saat Reno dan Andien mendadak menghilang. Belakangan Reno diketemukan telah tewas. Pun begitu dengan Pay dan Andra yang satu per satu menemui ajalnya. Sekembalinya ke kota, giliran Dicky yang menghilang.

Di tengah kebingunan, Renata menerima telpon dari Andien yang memintanya untuk datang ke sebuah rumah. Di sana, Renata mendapati Dicky dalam kondisi terikat. Andien tiba-tiba muncul dan memberitahu Renata bahwa semua itu adalah ulahnya. Ia melakukan karena dendam pada Dicky dkk yang telah memperkosanya beberapa hari lalu. Renata merasa perbuatan Andien salah dan melawan. Andien sempat melumpuhkan Renata, namun saat ia kembali untuk membunuh Dicky, Renata menusuknya dari belakang hingga ia pun tewas.

Tanggal Rilis: 29 Juli 2010
Durasi: 75 menit
Sutradara: Nayato Fio Nuala
Produser: Karan Mahtani
Penulis Naskah: Farah Mandala
Produksi: Mitra Pictures
Pemain: Ratu Felisha, Uli Auliani, Fero Walandouw, Billy Ade Sumirat, Rozie Mahally, Rommy Ravalzy

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Nayato Fio ini memang suka bikin saya geregetan. Di saat menghadirkan ide cerita menarik, ujung-ujungnya pasti mengecewakan. Sebaliknya, di saat muncul dengan ide yang biasa-biasa aja, eksekusinya malah di atas karya-karyanya yang lain.

“Nakalnya Anak Muda” adalah satu di antaranya. Alurnya sederhana. Tentang sekumpulan anak muda yang pergi ke sebuah villa terpencil, lantas bergiliran masing-masing dari mereka tewas mengenaskan. Sudah tak terhitung lagi betapa banyak film thriller / slasher dengan plot serupa.

Tapi dengan adanya plot usang secara tidak langsung kita hanya perlu fokus pada hasil akhir yang terpampang di layar. Surprisingly, film ini menyuguhkan sebuah sajian yang secara keseluruhan asyik untuk ditonton. Bagus? Tidak. Berkualitas? Apalagi. Tapi menyenangkan? Ya.

Harus saya akui bahwa Nayato cukup jago merancang adegan-adegan action. Pertarungan berdarah-darah di akhir “Affair” masih jadi yang akan saya ingat sampai detik ini. “Rumah Dara”? Jika sering nonton film gore slasher luar, apa yang ada dalam “Rumah Dara” tidak jauh berbeda. Tidak ada unsur khas seperti yang disuguhkan Nayato dalam “Affair” dengan tabung gas LPG dan tabung hydrant-nya.

Hal serupa bisa ditemui di film ini. Memang tidak ada penggunaan barang-barang unik sebagai senjata. Namun aksi pertarungannya terlihat mengalir dengan baik tanpa ada kesan dibuat-buat. Yah, bukan pertarungan juga sih sebenarnya. Lebih tepatnya aksi ngegebukin seseorang dengan berbagai variasi jurus ajaib, hehehe.

Namun ada satu catatan yang harus dipatuhi dengan baik. Dilarang menggunakan logika. Pasalnya, begitu dalang di balik semua itu terungkap, adegan-adegan yang terjadi di babak pertama dan kedua semuanya terasa tidak masuk akal. Twist bahwa Andien adalah pelakunya mungkin sudah bisa ditebak sedari awal. Namun, saat Andien sedang bersama teman-temannya yang lain, terlihat ada seseorang dengan mantel melintas. Jika Andien beraksi sendiri, lalu siapa orang bermantel tersebut?

Yang lebih tidak masuk akal lagi adalah, jika benar Andien seorang yang membunuh Andra, Pay, dan Reno, bagaimana mungkin ia bisa tidak berdaya saat mereka, plus Dicky, memperkosanya? Mabuk jelas tidak bisa menjadi alasan mengingat ia diburu tidak hanya sekali, melainkan juga keesokan harinya saat sudah tidak dipengaruhi alkohol.

Ada satu adegan yang sebenarnya memberi petunjuk. Yaitu saat Andien berlari di hutan (pasca dibuang dari air terjun) dan terjatuh di tanah. Ia sekilas terlihat mengalami kerasukan. Masuk akal jika ia membunuh Andra, Pay, dan Reno saat dalam kondisi kerasukan. Tapi hal ini sama sekali tidak disinggung kembali hingga akhir. Ujung-ujungnya jadi lubang dalam skenario yang menganga lebar.

Hal lain dalam cerita yang bikin heran adalah bagaimana Renata lebih peduli pada 4 orang yang baru dikenalnya dan sudah jelas-jelas tahu mereka telah memperkosa sahabatnya ketimbang pada nasib Andien. Sungguh tidak masuk akal.

Tapi yah, menilik karakter Renata yang digambarkan hobi mandi, rasanya jadi wajar. Siapa tahu otaknya menciut karena kebanyakan kena siraman shower, hehehe.

Khusus untuk adegan mandi, sudah pasti itu adalah fans service bagi para penonton pria yang berpikiran mesum. Durasinya terlalu panjang dan terjadi berkali-kali. Terlebih Uli Auliani digambarkan jelas dalam kondisi topless walau hanya di-shoot dari belakang.

Oh, by the way, dengan hanya ada satu adegan yang menjurus horor, saya rasa yang menakutkan adalah kenyataan bahwa anak muda jaman sekarang bisa dengan mudahnya percaya pada orang lain. Seperti yang digambarkan dalam film ini.

Penutup

Dengan mengabaikan adegan-adegan pamer bodi yang tidak penting, “Nakalnya Anak Muda” sebenarnya cukup bisa dinikmati untuk ukuran film thriller. Namun begitu terungkap bahwa pelakunya adalah satu orang tanpa ada bantuan dari siapapun, keseluruhan cerita jadi berantakan. Terlalu banyak kejadian yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Apalagi ditambah bagian penutup dimana Renata lebih peduli terhadap pemerkosa sahabatnya sendiri. Sungguh absurd. 3/10.

Catatan: rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply