Review Film Mangkujiwo (2020)

Minggu terakhir di bulan Januari 2020 diwarnai dengan rilisnya “Mangkujiwo”, film yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh penggemar kelima film dalam seri “Kuntilanak” sebelumnya. Film ini dikabarkan bakal bercerita mengenai asal usul lahirnya sosok Kuntilanak yang mendiami cermin antik Pengilon Kembar. Karakter Karmila (yang diperankan oleh Karina Suwandhi) menjadi benang merah dengan film “Kuntilanak 2” yang tayang tahun lalu. Lalu bagaimanakah filmya? Apakah sesuai dengan yang diharapkan? Simak sinopsis dan review singkatnya di bawah ini.

Sinopsis Singkat

poster mangkujiwo

Tanggal Rilis: 30 Januari 2020
Durasi: 1 jam 46 menit
Sutradara: Azhar Kinoi Lubis
Produser: Raam Punjabi
Penulis Naskah: Dirmawan Hatta, Erwanto Alphadullah
Produksi: MVP Pictures
Pemain: Asmara Abigail, Sujiwo Tejo, Roy Marten, Djenar Maesa Ayu, Karina Suwandhi, Yasamin Jasem, Samuel Rizal, Septian Dwi Cahyo

Setelah disingkirkan oleh Cokrokusumo (Roy Marten) dengan berbagai macam fitnah di hadapan Sinuhun Raja, Brotoseno (Sujiwo Tejo) berniat membalas dendam melalui bayi yang dikandung oleh Kanthi (Asmara Abigail). Kanthi adalah gadis desa yang dihamili Cokrokusumo, dan kemudian dipasung karena difitnah sebagai perempuan yang mengandung anak setan. Kanthi menjadi alat bagi dua petinggi yang berseteru itu. Ketika menyadarinya, ia hanya bisa membayangkan bahwa cara untuk mencegah itu semua adalah dengan bunuh diri. Ia dibantu diam-diam oleh Sadi (Septian Dwi Cahyo), abdi Brotoseno yang tidak tahan dengan perbuatan dan rencana tuannya. Kanthi berhasil bunuh diri, tapi bayi itu diselamatkan Brotoseno dengan cara membelah perut perempuan malang itu, dan kemudian diberi nama Uma (Yasamin Jasem). Roh Kanthi kemudian diserap ke dalam Cermin Kembar yang selama ini menjadi saksi bisu kesengsaraannya di bawah kekuasaan Brotoseno. Dua puluh satu tahun kemudian, tibalah saat bagi Brotoseno untuk memetik buah dari rencananya, dengan cara yang ia juga belum mengerti.

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mungkin mengandung SPOILER!

Cerita terbagi menjadi dua. Yang pertama berpusat pada sosok Kanthi, wanita yang dihamili oleh Cokrokusumo kemudian dimanfaatkan oleh Brotoseno untuk membalaskan dendamnya pada Cokrokusumo. Yang kedua adalah tentang Uma, anak dari Kanthi, yang sudah beranjak dewasa.

Di awal film, cerita pertama di masa lalu mendapat porsi yang lebih besar. Sebaliknya, menjelang akhir, porsi cerita kedua yang lebih dominan. Di antara itu, alur akan bergerak maju mundur sehingga perlu mantengin layar dengan teliti agar tidak ada yang terlewat.

Sayangnya, perpindahan cerita Kanthi dan Uma terkadang terasa kasar. Ada beberapa hal yang jadi membingungkan atau kurang jelas akibat keburu move on. Di sisi lain, untungnya hal-hal tersebut masih bisa disambung-sambungkan sendiri dengan nalar. Walau kadang harus mikir ekstra keras juga sih, hehehe.

Yang bagi saya sangat mengganggu adalah dialognya. Dari latar lokasi dan waktu, seharusnya yang lebih cocok adalah menggunakan bahasa Jawa. Saya masih bisa memaafkan apabila sekalian saja seluruhnya menggunakan bahasa Indonesia. Masalahnya, terkadang ada kalimat yang menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Jawa, dan itu sama sekali gak masuk akal.

“Sikilku sakit” misalnya. Ato “Culno, lepaskan, culno, lepaskan”. WTF?

Selain itu, film ini rasanya benar-benar dibuat untuk yang benar-benar mengikuti seluruh kisah di film-film “Kuntilanak” sebelumnya. Yang hanya menonton sebagian atau sekedar menonton tanpa mendalami sepertinya akan bosan dengan “Mangkujiwo”. Faktanya, film ini lebih mirip dokumenter ketimbang film horor.

Tidak ada jump scare sama sekali di sini. Sosok kuntilanak yang dimunculkan juga biasa biasa saja, sekedar mengandalkan make up muka seram. Kalau pun ada yang patut diacungi jempol adalah keberaniannya untuk menampilkan adegan pembedahan tikus secara eksplisit.

Untuk akting, hampir semua pemeran utama tampil dengan skor sangat memuaskan. Hampir tidak ada karakter yang gak jelas atau sekedar numpang lewat. Semua ada perannya. Termasuk karakter Pulung (diperankan oleh Samuel Rizal) yang baru sebentar eksis sudah menutup mata.

Yang menjadi catatan, penyelesaian akhir masih saja bermasalah seperti kebanyakan film horor lokal. Mulai dari adegan berdarah-darah yang terlihat sekali efek CGI-nya, hingga karakter pria bongkok Sadi yang tiba-tiba jadi setangguh Superman dan mampu (nyaris) mengalahkan 4 pria sekaligus. Lama-lama jadi bingung sendiri. Masalah apa sebenarnya yang bikin bagian ending film horor lokal jadi sesuatu yang sulit untuk digarap serius?

Kesimpulan

Film “Mangkujiwo” sukses memuaskan rasa penasaran penggemar serial film “Kuntilanak” mengenai asal usul sosok Kuntilanak serta kelompok pengikut Mangkujiwo itu sendiri. Tentu saja dengan mengabaikan penggunaan bahasa dialog yang tidak konsisten. Para bintang utama cukup total dalam menjalankan perannya, dilengkapi dengan set karakter yang pas, sesuai dengan kebutuhan cerita. Selain adegan bedah-bedahan, tidak ada jump scare maupun adegan seram sama sekali di film ini.

Recommended? Ya JIKA teman-teman sudah mengikuti kelima film “Kuntilanak” sebelumnya, yang tayang mulai 2006 hingga 2019. Atau setidaknya versi tahun 2018 dan 2019-nya, mengingat sosok Kuntilanak yang diangkat dalam “Mangkujiwo” lebih mengarah pada film “Kuntilanak” dan “Kuntilanak 2” versi 2018 dan 2019, bukan versi 2006-2008 yang dibintangi Julie Estelle.

Oh ya, seandainya saya tahu lebih dulu jika ada animal abuse dalam film ini, saya pasti TIDAK AKAN menonton filmnya. Tidak peduli binatang yang dimaksud ‘hanya’ sekedar tikus maupun cicak. Walau rasanya tidak mungkin, saya masih berharap semoga saja binatang-binatang yang ‘terlibat’ adalah merupakan efek CGI, bukan binatang asli…

OK Google, tema artikel yang berhubungan:

One Response - Add Comment

  1. Avatar

Reply