Review Film Lewat Tengah Malam (2007)

“Lewat Tengah Malam” adalah salah satu pengisi jajaran film box office di tahun 2007. Ia berada di posisi 12 dengan raihan 443 ribu penonton. Not bad mengingat saat itu ada 10 film bergenre horor sekaligus di daftar 15 film terlaris. Saking populernya, cerita dalam film ini kemudian diadaptasi dalam bentuk novel pendek berjudul sama setahun kemudian, dengan Gola Gong dan Ibnu Adam Aviciena sebagai penulisnya. Seberapa baguskah ceritanya? Simak sinopsis dan review singkatnya di bawah ini.

Sinopsis Singkat

Review Film Lewat Tengah Malam (2007)

Alice (diperankan oleh Joanne Alexandra) dan ibunya, Tara (diperankan oleh Catherine Wilson), pindah ke sebuah apartemen untuk memulai hidup baru pasca Tara bercerai dengan suaminya. Apesnya, sejak hari pertama hidup Alice justru tidak tenang gara-gara adanya gangguan mistis di sana. Sialnya lagi, ibunya sama sekali tidak mempercayai adanya makhluk gaib dan menganggap Alice hanya sedang berkhayal. Gangguan yang dialami Alice terus berlanjut hingga di sekolah dimana ia melihat adanya sosok arwah rekan sekolahnya yang meninggal karena bunuh diri.

Berulang kali dimarahi ibunya yang kebetulan menderita tumor otak sehingga sulit mengontrol emosi, Alice memilih untuk curhat pada sahabatnya, Ramon (diperankan oleh Andhika Pratama). Kedekatan mereka berdua memilih Melvi (diperankan oleh Ichi Nuraini), kekasih Ramon, cemburu dan meminta Ramon memilih antara dirinya dan Alice. Sebuah insiden membuat Ramon pada akhirnya harus menentukan sikap.

Belakangan barulah diketahui bahwa hantu yang ada di apartemen Alice adalah arwah selingkuhan ayahnya yang tewas terbunuh oleh ayah Alice, Yuga (diperankan oleh Krisna Murti Wibowo), tanpa sengaja. Arwahnya yang penasaran berniat untuk membalas dendam dan mencelakai Alice serta Tara. Alice sendiri ternyata sudah meninggal sebelum mereka berpindah apartemen. Adalah Tara pelakunya, yang menghantam Alice akibat ia tidak bisa mengontrol amarahnya. Interaksinya dengan Alice di apartemen baru adalah halusinasi belaka yang ditimbulkan akibat tumor otak yang ia derita. Sedangkan Ramon, yang selama ini bisa berkomunikasi dengan Alice, pada dasarnya memang memiliki indera keenam, sehingga bisa melihat dan membedakan keberadaan makhluk halus

Tanggal Rilis: 8 Maret 2007
Durasi: 90 menit
Sutradara: Koya Pagayo
Produser: Ody Mulya Hidayat
Penulis Naskah: Ery Sofid
Produksi: Maxima Pictures
Pemain: Joanna Alexandra, Cathrine Wilson, Andhika Pratama

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Saya percaya bahwa duet Koya Pagayo dan Ery Sofid punya banyak ide cerita yang bagus. Beberapa kali mereka sudah membuktikannya. Sayangnya, hampir semua gagal dalam hal mengeksplorasi dan mengeksekusi. Ide yang menarik pun ujung-ujungnya sia-sia.

Tidak dengan yang satu ini. “Lewat Tengah Malam” bisa dibilang merupakan salah satu karya terbaik Koya Pagayo / Nayato Fio dan Ery Sofid, setidaknya untuk urusan membangun cerita drama misteri berbalut nuansa horor. Tidak sempurna memang. Tapi jika dibandingkan dengan karya mereka berdua yang lain (percaya deh, sudah banyak yang saya tonton), apa yang disajikan di film ini terlihat brillian.

Di pertengahan babak pertama atau babak kedua, kita mungkin sudah bisa menduga-duga twistnya. Pun begitu, kali ini ada usaha untuk mengaburkannya. Akan ada titik dimana kita harus menebak apakah si A atau si B yang sebenarnya merupakan bagian utama dari misteri. Baru di babak ketiga semakin lama petunjuk yang ada akan semakin mengerucut.

Model bercerita seperti ini jarang saya temui dari duet mereka. Seringkali, kita sebagai penonton dianggap bodoh dan berbagai obvious clues dihambur-hamburkan begitu saja sedari awal. Sebaliknya, “Lewat Tengah Malam” mengajak kita berpikir dan menyelami karakter demi karakter, yang lagi-lagi disajikan dengan cara yang berbeda dengan kebiasaan duo Koya Ery. Ini satu dari sedikit karya mereka dimana saya bisa benar-benar bersimpati pada karakter yang ada.

Tentu saja, akting para pemeran utama yang di atas rata-rata sangat mendukung hal tersebut. Sebagai karakter yang pendiam dan tidak banyak berkata-kata, Joanna Alexandra tetap bisa menghadirkan sosok Alice yang berkesan. Pun begitu dengan Catherine Wilson. Aktingnya sebagai wanita labil yang sulit mengontrol emosi terasa nyata dan meyakinkan.

Bahkan, dua karakter pendukung, Melvi dan Ramon, yang berturut-turut diperankan oleh Ichi Nuraini serta Andhika Pratama, tampil tidak sekedar numpang lewat. Karakter Melvi biasanya digambarkan sebagai sosok yang annoying, mengganggu. Di sini Ery cukup pintar dengan menjadikannya sebagai pribadi yang masih tetap pada jalurnya. Andhika juga berhasil memerankan sosok seorang sahabat yang harus tetap ada walau menyimpan kesedihan.

Di akhir, twist yang hadir tidak terlalu mengejutkan. Sayangnya, Koya Pagayo tampaknya sudah cukup puas dengan karya yang ia buat di titik tersebut sehingga ia lupa menyelesaikan dua misteri yang ada. Dibiarkan mengambang begitu saja. Padahal, di sepanjang film keduanya termasuk yang menyita durasi. Yaitu tentang arwah siswi SMA yang mati bunuh diri yang mengganggu Alice dan Melvi, serta hantu wanita yang menteror Alice dan Tara di apartemen. Yang disebut terakhir malah secara tidak langsung diklaim sebagai setan yang dipenuhi rasa dendam, sampai-sampai penunggu (dalam tanda kutip) kamar sebelah apartemen mereka ikut mencoba menyelamatkan.

Ada dua jump scare yang berkesan. Pertama, saat Alice mengintip kolong tempat tidur, di seberang ada hantu yang ikut melongok. Saya kaget dan sekaligus ngakak di bagian itu. Begitu juga saat Alice yang sedang berdiri di dekat halte tiba-tiba nyaris ketiban pocong jatuh. Mana pas dideketin si poci malah joget-joget gak jelas, wkwkwk.

Permasalahannya, penampakan sisanya beneran nggak banget. Apalagi dengan model pengambilan gambar yang diterapkan, ala ala adegan pembunuhan atau kejar-kejaran di film bergenre thriller. Mengganggu sekali. Jangankan tegang, apa yang terjadi di layar saja jadi tidak ketahuan. Pokoknya terang gelap terang gelap kayak lagi di dalam diskotik gitu.

Penutup

“Lewat Tengah Malam” memang gagal menakut-nakuti. Namun di sisi lain, film ini berhasil membawa kita ke dalam sebuah cerita drama misteri yang mencekam dan bikin penasaran, setidaknya hingga memasuki babak ketiga dimana kepingan petunjuk yang ada mulai komplit. Dukungan akting dua pemeran utama, Joanne Alexandra dan Catherine Wilson, membuat naskah yang lumayan menjadi tidak sia-sia. Sayang penyelesaian akhir tidak rapi dan menyisakan pertanyaan. Kendati demikian, tetap layak jika kemudian diberi ganjaran lima penghargaan dalam sebuah ajang film independen: Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktris Terbaik, Aktris Pendukung Terbaik, serta Naskah Adaptasi Terbaik. 6/10.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply