Review Film Ladronas de Almas (Netflix, 2015)

“Ladronas de Almas” jadi film horor asal negeri Meksiko kedua yang saya tonton setelah “Romina” di bulan lalu. Jika “Romina” sukses membuat saya menyesal sudah membuang waktu untuk menontonnya, dapatkah film besutan sutradara Juan Antonio de la Riva ini menebusnya? Skor 5.0 di IMDB setidaknya memberi secercah harapan. Harapan bagi saya untuk tidak ilfil terhadap film-film Meksiko lainnya. Simak sinopsis dan review singkatnya berikut.

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Sinopsis Singkat

poster ladronasdealmas

Di masa perang saudara Meksiko, sekelompok pemberontak mendatangi sebuah area properti yang dihuni oleh seorang ayah yang kakinya luka, Don Agustín Cordero; 3 orang putri (Maria, Roberta, Camila); seorang penjaga, Indalesio; dan seorang asisten rumah tangga, Ignacia. Mereka minta ijin diperbolehkan menginap di sana selama beberapa hari. Melihat gelagat mereka yang mencurigakan, Don Agustin mengizinkannya. Ia tidak mau mereka jadi kalap jika tidak.

Malam harinya, Indalesio memberitahu kelompok pemberontak bahwa sebaiknya mereka tidak berkeliling di area properti sembarangan. Ada rumor tentang mayat hidup di wilayah tersebut. Ia juga menceritakan tentang keluarga Don Agustin yang beberapa waktu lalu diserang oleh kelompok pendukung kerajaan hingga menewaskan istri Don. Salah satu putri mereka, Maria, bahkan sempat dijadikan tawanan.

Belakangan terungkap bahwa kelompok pemberontak tersebut sebenarnya adalah kelompok pendukung kerajaan yang menyamar. Mereka diperintahkan untuk mencari emas kerajaan yang hilang di wilayah tersebut. Dan kebetulan, emas tersebut memang tersimpan di sana. Tepatnya di lantai bawah tanah bekas bangunan gereja.

Sayangnya, tidak semudah itu bagi mereka untuk mengambil emas-emas tersebut. Rumor adanya mayat hidup ternyata benar adanya. Bahkan salah satunya dijadikan sebagai penjaga emas di lantai bawah tanah. Tidak itu saja, ketiga putri Don Agustin bukanlah wanita yang lemah. Semenjak menyaksikan kebrutalan kelompok pendukung kerajaan dan tewasnya ibu mereka, mereka menjadi sosok yang kuat dan tega melakukan apa saja untuk melindungi keluarga mereka. Alhasil, bukannya berhasil membawa emas, kelompok pendukung kerajaan justru satu persatu tewas di tangan mereka.

Dua di antaranya, yang masih utuh badannya, kemudian dijadikan mayat hidup yang baru dan diperintahkan untuk menjaga emas. Kemampuan itu sendiri dimiliki oleh Maria, hasil ajaran Indalesio, pasca Maria lolos dari tawanan beberapa tahun sebelumnya.

Tanggal Rilis: 4 Oktober 2015
Durasi: 1 jam 28 menit
Sutradara: Juan Antonio de la Riva
Produser: Marcela Odriozola Guajardo, Cucuy Odriozola, Paloma Padilla Silva
Penulis Naskah: Christopher Luna
Produksi: Eficine
Pemain: Sofía Sisniega, Arnulfo Reyes Sánchez, Juan Ángel Esparza, Luis Gatica, Natasha Dupeyrón, Tizoc Arroyo, Ana Sofía Durand, Harding Junior, Javier Escobar, Claudine Sosa

Review Singkat

Ini menarik. “Ladronas de Almas” tidak hanya mengandalkan unsur horor di dalamnya, berupa mayat hidup yang bisa diperintah. Film ini ternyata punya unsur slasher yang kuat. Saking kuatnya, saya bahkan merasa film ini bakal jauh lebih seru jika tidak memasukkan tetek bengek per-zombie-an di dalamnya. Untungnya, eksistensi mayat hidup di sini tidak ala kadarnya. Punya peran tersendiri dalam alur cerita yang tensinya terus meningkat hingga akhir.

Ada 4 karakter sadis di sini. 4 bersaudari. Mereka tidak ujug-ujug digambarkan berjiwa psikopat. Melainkan ada pemicunya, momen kelam dalam kehidupan mereka berempat. Yang termuda pun awalnya tidak sadis-sadis amat. Baru ter-trigger belakangan, saat melihat kakaknya dilecehkan. Sebaliknya, justru karakter ayah mereka yang terasa minim fungsi keberadaannya dalam cerita.

Yang sedikit disayangkan adalah penampakan mayat hidup yang kurang nendang. Tidak buruk, hanya terasa kurang maksimal. Padahal set yang digunakan sudah sangat mendukung. Sebuah area properti yang sebagian sudah menjadi puing akibat perperangan. Dikelilingi hutan dan sungai (atau danau?) pula. Dua spot yang disebut terakhir juga seharusnya bisa lebih dimaksimalkan lagi dalam cerita.

Untuk ceritanya sendiri secara keseluruhan terbilang oke. Tidak benar-benar spesial, tapi masih layak ditonton. Minim lubang kejanggalan. Cuma sempat jenuh dengan dialog antar antagonis seputar percaya tidak percaya terhadap keberadaan mayat hidup. Sudah terlalu sering terdengar.

Untuk akting tidak ada masalah. Menurut saya pribadi semuanya sesuai porsi. Tidak ada yang kureng, tidak ada pula yang berlebihan. Di sisi lain, saya kagum dengan perawakan tokoh antagonisnya. Kok bisa mirip mirip semua gitu ya. Seolah-olah kalau dari kecil apes terlahir dengan wajah sedemikian rupa besarnya auto jadi penjahat, hehehe.

Penutup

“Ladronas de Almas” cukup mengobati kekecewaan saya terhadap “Romina”. Film ini dengan cerdas memadukan genre horor dan slasher dimana masing-masing memiliki kekuatan tersendiri. Saya yakin, seandainya film ini fokus ke salah satunya pun hasilnya tetap akan menarik untuk disimak. Walau dari segi cerita cenderung standar dan tidak istimewa, namun setidaknya minim celah kejanggalan yang bikin ilfil. Mungkin bisa jadi lebih optimal jika beberapa spot menarik di sekitar set utama (bangunan mansion dan puing-puingnya) dimanfaatkan. 6/10.

Catatan: review serta rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

gambar #24317

Leave a Reply