Review Film Kuntilanak 3 (2008)

“Kuntilanak 3” menutup trilogi “Kuntilanak” Rizal Mantovani di tahun 2008. Berbeda dengan dua film sebelumnya yang berselisih setahun, film ketiga ini dirilis hanya sekitar 4 bulan setelah “Kuntilanak 2”. Apakah kualitasnya masih tetap terjaga? Atau bakal ada penurunan gara-gara jeda rilis yang tidak terlalu jauh sehingga terkesan tergesa-gesa itu? Simak langsung aja deh sinopsis dan review singkatnya berikut.

Sinopsis Singkat

Review Film Kuntilanak 3 (2008)

Sepasang kekasih — Stella (diperankan oleh Laudya Cynthya Bella) dan Rimson (diperankan oleh Robby Kolbe) — hilang di hutan Ujung Sedo. Empat orang temannya, Darwin (diperankan oleh Mandala Abadi Shoji), Asti (diperankan oleh Imelda Therine), Herman (diperankan oleh Reza Pahlevi) dan Petra (diperankan oleh Laura Antoinette) memutuskan untuk mencari mereka. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan Samantha (Julie Estelle). Ibunya (diperankan oleh Ida Iasha) ternyata memberitahu Sam bahwa satu-satunya cara untuk melepaskan wangsit kuntilanak adalah menemui Mbah Putri (diperankan oleh Irene Racik Salamun), pencipta durmo pemanggil kuntilanak, di Ujung Sedo. Setibanya di sana, apa yang ditemui Sam tidak sesuai dengan harapannya.

Tanggal Rilis: 28 Februari 2008
Durasi: 90 menit
Sutradara: Rizal Mantovani
Produser: Raam Punjabi
Penulis Naskah: Ve Handojo
Produksi: MVP Pictures
Pemain: Julie Estelle, Imelda Therinne, Laura Antoinette, Mandala Abadi Shoji, Reza Pahlevi, Ida Iasha, Irene Racik Salamun, Cindy Valerie, Robby Kolbe, Laudya Cynthia Bella

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Memindahkan lokasi dari area perkotaan yang suram dan kumuh ke hutan belantara jelas merupakan langkah yang cerdas agar penonton tidak bosan. Menariknya, gaya hantu kuntilanak dalam membunuh pun mengalami perubahan. Tidak lagi menyerang secara langsung, melainkan dengan mengganggu pikiran atau psikologis targetnya. Sepertinya karena di TKP yang bersangkutan, Ujung Sedo, kekuatan kuntilanak diceritakan lebih besar ketimbang saat berada di tempat lain.

Pun begitu, cerita dalam “Kuntilanak 3” malah tidak seintens dua film sebelumnya. Tidak ada adegan pamungkas yang bikin tahan nafas. Di “Kuntilanak” kita mendapatinya saat Sam beradu durmo dengan Raden Ayu Sukma Mangkoedjiwo. Sementara di “Kuntilanak 2”, hal tersebut terwakilkan melalui momen pembantaian pengikut sekte Mangkujiwo. Di film ini? Tidak ada sama sekali.

Penggantinya adalah jawaban dari misteri asal usul kuntilanak. Memuaskan bagi sebagian pihak, mengecewakan bagi sebagian lainnya.

Tapi jangan salah. Ceritanya tetap rapi, solid, dan berkualitas. Feeling saya, sedari awal Ve Handojo sudah menulis seluruh naskah trilogi “Kuntilanak” ini. Atau setidaknya gambaran kasarnya. Dengan demikian, saat berpindah bagian, minim adanya lubang yang mengganggu. Kualitas ketiganya pun setara.

Tetap ada dialog asal seperti pada film sebelumnya. Untung jumlahnya tidak terlalu signifikan. Yang paling geblek pada saat karakter Herman terjebak dalam lumpur hisap. Kata-kata terakhirnya diucapkan dengan nada bercanda. Tidak sesuai dengan keadaan yang ia hadapi. Mending tanpa dialog di bagian itu.

Akting pemain setia menjadi kekuatan tersendiri bagi franchise film ini. Kalau memang pemilihannya melalui proses casting, sosok yang bertanggung jawab untuk itu sangat patut diberi acungan 4 jempol. Semua pemain mampu berperan dengan meyakinkan dan pas sesuai karakter masing-masing.

Oh ya, untuk adegan seram dan jump scare-nya, saya pribadi masih lebih suka dengan yang dihadirkan di film pertama.

Penutup

Setelah jor-joran di film pembuka, franchise “Kuntilanak” ditutup oleh “Kuntilanak 3” dengan tensi yang agak mengendor. Entah faktor cerita yang memang disengaja karena menjadi penutup trilogi atau karena tergesa-gesa dalam pembuatannya. Tidak ada adegan yang benar-benar menegangkan dan berkesan seperti pada dua film sebelumnya. Tapi penggambaran karakter Mbah Putri-nya asli keren bin creepy sih. Munculnya tangan Sam di penghujung film juga menyediakan ruang untuk sekuel selanjutnya, jika ada. Mungkin bakal seru kalau suatu saat nanti ia bergabung dengan penerus wangsit dari versi reboot-nya.

Overall, dengan segala kekurangannya, “Kuntilanak 3” masih tetap enjoyable dan tetap pantas berada dalam jajaran salah satu film horor lokal terbaik di tahun 2008. 7/10.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply