Review Film Kesurupan (2008)

Entah darimana sumbernya hingga di Wikipedia film “Kesurupan” ini bisa mendapat julukan sebagai film terseram yang pernah dibuat dalam sejarah perfilman Indonesia. Apakah mungkin perwakilan dari tim produksi yang menggubah sendiri halaman Wikipedia tersebut? Bisa jadi. Sekarang tinggal dibuktikan saja benar tidaknya klaim tersebut. Yuk mari kita simak sinopsis dan review singkatnya di bawah.

Sinopsis Singkat

Review Film Kesurupan (2008)

Alin (diperankan oleh Shareefa Daanish) dan Felina (diperankan oleh Nia Ramadhani) sama-sama tengah mengikuti ospek di Universitas Tarumanagara. Setelah kegiatan di kampus usai, masih ada kegiatan ospek lanjutan yang diselenggarakan di Hutan Kayu Mati, Sukabumi. Saat sedang persiapan jurit malam, Alin menemukan sebuah boneka yang lantas ia bawa pulang. Malam harinya, ia kesurupan, walau akhirnya bisa disembuhkan oleh dua warga sekitar.

Sekembalinya ke rumah, Alin ternyata kembali kesurupan. Tidak hanya sekali dua kali, melainkan terus berulang. Felina dan Marik (diperankan oleh Andhika Pratama), kakak senior yang jatuh cinta pada Felina, berusaha untuk selalu menjaga Alin. Ibu Alin juga sudah mendatangkan dua orang paranormal, namun tidak ada satu pun yang mampu mengalahkan makhluk gaib yang bersemayam dalam tubuh Alin. Belakangan diketahui bahwa ada tiga sosok gaib sekaligus yang merasuki Alin, ketiganya merupakan pengikut dari Ki Sarwana Armadirga, penunggu Hutan Kayu Mati.

Setelah mengetahui adanya boneka yang dibawa Alin dari hutan, paranormal kedua lantas meminta Felina dan Marik menemani Alin mengembalikan boneka tersebut ke tempat asalnya. Dalam perjalanan, mereka kembali bertemu dengan dua warga sekitar yang sebelumnya membantu menyembuhkan Alin. Dua orang warga tersebut kemudian memberitahu bahwa ada ritual khusus yang harus dilakukan agar nantinya Alin bisa benar-benar sembuh.

Setelah menempuh berbagai rintangan, pada akhirnya mereka berhasil mengembalikan boneka tersebut. Alin juga tampak sudah sembuh total. Namun tak lama kemudian semuanya berubah. Alin kembali kesurupan. Di saat itulah Felina dan Marik baru menyadari, bahwa warga yang sedari awal mereka temui sebenarnya adalah jelmaan dari Ki Sarwana Armadirga.

Tanggal Rilis: 27 Maret 2008
Durasi: 99 menit
Sutradara: Rizal Mantovani
Produser: Manoj Punjabi
Penulis Naskah: Aviv Elham
Produksi: MD Pictures
Pemain: Shareefa Daanish Sumartono, Nia Ramadhani, Andhika Pratama Subagio, Mastur Irawan, Dwi Damar, Santy, Stefie Hariadioyo, Debora Florist Me, Eddie Karsito, Irene Racik Salamun, Jedi Saputra, Larasati P Tjakrawanagiri, Stefanie Boumann, Zeviska Obbina, Yuyun Arafah

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Beberapa menit adegan di awal sebenarnya membuat saya tertarik. Film terlihat niat dengan menghadirkan suasana kampus dan ospek yang nyata. Bukan seperti kebanyakan film horor jaman sekarang, yang katanya ospek tapi panitianya cuman 3-4 orang. Kan ngawur.

Tapi semakin ke belakang, cerita menjadi semakin ngawur dan berantakan. Bahkan berbagai set up di babak pertama serasa tidak berarti. Nyaris tidak ada lagi adegan yang berlokasi di kampus. Sosok kakak senior yang jutek, yang di awal terlihat dominan, ujung-ujungnya menghilang begitu saja.

Alur cerita yang mengantarkan Alin, Felina, Marik, dan yang lain tiba di sebuah tempat sakral di Hutan Kayu Mati, tempat ospek berlangsung, juga tidak masuk akal. Itu lubang lumayan dalam, sekitar 3 meter, tapi mereka terlihat baik-baik saja usai terjungkal ke dalamnya.

Pun begitu, saya suka dengan bagaimana cerita fokus pada tema utama, yaitu kesurupan. Tidak ada penampakan yang berlebihan. Semuanya konsisten. Yang bisa melihat hantu hanyalah Alin. Kalau pun di babak ketiga Felina dan Marik bisa melihatnya, itu karena memang sesuai dengan yang sudah diwanti-wanti. Bahkan usaha mereka untuk mengembalikan boneka bakal mendapat halangan dari makhluk gaib.

Adegan demi adegan kesurupan, yang jumlahnya tidak hanya satu dua, cukup menarik. Terlihat nyata. Walau karena terus-terusan berulang, lama-lama bosan juga. Apalagi orang-orang di sekitar Alin terlihat santuy bin woles dalam menyikapinya.

Ada karakter pembantu Mastur yang sibuk mesum, Felina dan Marik yang sibuk menjalin asmara, sampai ibu Alin yang masih saja terlihat sibuk dan jarang di rumah meski sudah mengetahui keadaan putrinya yang sedemikian rupa.

Sayangnya, saking fokusnya cerita pada tema, penulis maupun sutradara jadi mengabaikan kerapian dan logika yang ada. Simak bagaimana saat Alin kabur dari kamar, Felina dan Marik tidak langsung mengejarnya. Mereka menunggu sampai paranormal datang dan menyatakan bahwa Alin sedang kesurupan baru keduanya mulai mencari. Apa gak geblek tuh.

Simak pula bagaimana dengan ajaibnya Felina bisa tiba-tiba menyimpulkan bahwa yang menyebabkan semua itu adalah boneka yang dibawa Alin dari hutan. Sudah bisa ngegantiin dua paranormal sebelumnya tuh.

Selain Shareefa Danish, tidak ada pemain yang tampil meyakinkan dalam “Kesurupan”. Saya pribadi merasa masalahnya ada pada naskah skenario, sehingga potensi seni peran yang lain tidak optimal. Terlebih Mastur, yang sengaja dihadirkan sebagai titik tawa. Memang tidak ada yang salah. Sayang terlalu berlebihan. Ada banyak momen dimana seharusnya dia diam saja, bukan terus terusan bercanda. Yang harusnya bikin tertawa pada akhirnya malah bikin muak.

Oh ya, film ini punya twist yang cukup mengejutkan walau mungkin dapat ditebak. Yang jeli malah bisa jadi sudah tahu sedari awal. Saya agak menyesali kebodohan saya sendiri yang tidak ngeh dengan petunjuk di babak pertama tersebut, hehehe.

Penutup

Dengan kemampuannya untuk konsisten dengan tema tanpa terbawa nafsu untuk menakut-nakuti, “Kesurupan” sebenarnya punya potensi. Sayang Rizal Mantovani tidak mendapat partner penulisan yang bisa dipercaya di sini. Dari rekam jejak dua film horor sebelumnya yang ia tulis saja sulit untuk berharap banyak pada naskah skenario garapan Aviv Elham. Cerita yang awalnya menarik dan berpotensi mulai berantakan dan acak-acakan seiring berlalunya durasi. Twist yang sebenarnya juga mengejutkan pada akhirnya terasa sia-sia. 2/10.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply