Review Film Kereta Setan Manggarai (2008)

Saya jarang naik kereta malam. Alasannya dua. Pertama, karena jarang bisa terlelap dalam kereta. Kedua, malas kalau pas naik gerbong tiba-tiba sudah ada penumpang lain yang menempati kursi kita dan dalam keadaan tertidur. Ribet harus ngebangunin segala. Iya kalau orangnya langsung sadar diri. Kalah nggak? Bikin ilfil, kan?

“Kereta Setan Manggarai” jadi opsi tontonan horor saya kali ini. Sebenarnya hendak menonton “Kuntilanak Kuntilanak”. Tapi ada yang bilang film tersebut mengandung unsur “Kereta Setan Manggarai”. Jadi ya bolehlah urutannya digeser. Lagipula penasaran juga dengan hasil besutan sutradara Nanang Istiabudi yang belum pernah saya dengar namanya sebelumnya.

Tanpa berpanjang lebar lagi, simak sinopsis dan review singkatnya di bawah.

Sinopsis Singkat

Review Film Kereta Setan Manggarai (2008)

Rey, Fajar, Fifi, Dado, dan Key hendak pergi berlibur ke Bandung. Sebelum itu, Dado diberi mandat oleh orang tuanya untuk mampir ke rumah omnya dan menanyakan kabar kedua sepupunya yang menghilang begitu saja usai liburan ke Bogor. Om Dado mengatakan bahwa ia tidak tahu menahu mengenai keberadaan kedua sepupu Dado. Namun ia curiga keduanya tanpa sengaja naik kereta hantu dan terjebak selamanya di sana. Dado dkk tidak percaya ucapan omnya. Mereka menganggap hal tersebut hanya mitos bualan belaka.

Melanjutkan perjalanan, mobil yang dikendarai Rey dkk mengalami masalah. Sebuah insiden lantas mengantarkan mereka berlima ke sebuah stasiun. Kemunculan hantu yang tiba-tiba membuat mereka buru-buru naik ke kereta yang tengah berhenti. Belakangan mereka baru sadar bahwa yang mereka tumpangi adalah kereta hantu. Bisakah mereka keluar dengan selamat?

Tanggal Rilis: 2 April 2008
Durasi: 100 menit
Sutradara: Nanang Istiabudi
Produser: Zainal Susanto
Penulis Naskah: Kumar Pareek
Produksi: MM Creations
Pemain: Vera Lasut, Nelly Yustikarini, Ferry Gustian, Ocke Mulyawan R, Ray Thompson, Asep Rahman, Lina Erent

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Berhubung ada embel-embel kisah nyata dalam sinopsis maupun poster film “Kereta Setan Manggarai”, saya terlebih dahulu mencari-cari referensi tentangnya, untuk nantinya dibandingkan dengan yang ada di film. Dan hasilnya?

Hasil penelusuran saya, kisah nyata ‘asli’ dari misteri kereta hantu Manggarai hanya terbatas pada kemunculan kereta tersebut di jam-jam yang tidak semestinya (di luar jam operasional). Kereta juga terlihat tidak dijalankan oleh masinis, bahkan ada yang menyebutkan tidak berpenumpang sama sekali dengan kondisi gerbong gelap gulita.

Kenapa perlu saya beri embel-embel ‘asli’? Karena ada pula cerita lain, mengenai seseorang yang sempat menaiki kereta hantu tersebut dan mengatakan di dalamnya ada penumpang-penumpang lain yang memiliki wajah pucat serta pakaian serba putih. Faktanya, itu cuma bagian dari pemasaran film “Kereta Hantu Manggarai” yang dirilis hanya berselang beberapa minggu setelah film ini.

Nah di film ini, ada penambahan aturan main. Yang sudah terlanjur masuk ke gerbong tidak akan pernah bisa keluar. Selamanya bakal jadi penumpang atau penghuni kereta setan. Makhluk-makhluk gaib yang digambarkan berada di dalam juga bukanlah seperti hantu atau setan semodel kuntilanak atau genderuwo. Melainkan lebih mirip zombie yang berdarah-darah. Minimal bermuka pucat dengan lingkaran hitam di bagian mata.

Ajaibnya, cerita tidak bisa setia dengan konsep mitos yang sudah dibuat sendiri. Ada hantu kakek dan cucunya yang digambarkan biasa bermain-main di sebuah rumah di tengah hutan saat siang dan sore hari. Mereka baru kembali lagi menjadi penumpang kereta hantu di malam hari. Gimana to?

Untuk alur cerita sebenarnya tidak ada masalah karena memang sederhana dan tidak banyak dieksplor. Sekelompok remaja yang sok-sokan terjerumus masuk ke dalam kereta misterius itu dan pada akhirnya satu persatu menemui ajal.

Yang menjadi masalah adalah akting para pemainnya. Dari sekian banyak film horor lokal yang pernah saya tonton, mungkin ini adalah jajaran cast pemain terburuk yang pernah ada. Apapun yang mereka lakukan terasa fake dan dibuat-buat. Jangankan berdialog, tertawanya saja terdengar tidak alami. Bukan hanya satu dua orang, melainkan semuanya. Cuma zombie-zombienya saja yang tidak bermasalah. Lha wong mereka juga gak ngapa-ngapain, hehehe.

Dialog yang kacrut melengkapi segala kekacauan yang ada dalam film ini. Penulis naskah sepertinya punya kamus kotakata yang terbatas. “Buruan”, “cepet”, “ayo”, jadi tiga kata andalannya. Entah sudah berapa puluh ribu kali diucapkan oleh para karakternya.

Penutup

“Kereta Setan Manggarai” seperti dibuat oleh sekelompok orang yang sama sekali tidak paham dengan dunia horor. Juga tidak punya pengalaman membuat film dalam genre tersebut. Padahal baik sutradara Nanang Istiabudi maupun penulis Kumar Pareek sama-sama sudah pernah menggarap proyek film horor sebelumnya. Film jadi terasa dibuat dengan asal-asalan, sekedar mengandalkan urban legend dan tulisan ‘kisah nyata’ sebagai penarik pengunjung bioskop. Hanya satu adegan yang seru ditonton. Apalagi kalau bukan adegan ciuman bibir di toilet gerbong. Poin 0.5/10 untuk itu.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply