Review Film Kembalinya Anak Iblis (2019)

Agak galau sebenarnya sebelum memutuskan apakah hendak menonton film “Kembalinya Anak Iblis” ini atau tidak. “13: The Haunted”, prekuelnya, tidak berhasil membuat impresi apa-apa bagi saya pribadi saat menontonnya. Tapi karena dulu film tersebut hanya sempat saya tonton di TV, tentu saja dengan adanya bagian-bagian yang dipotong, sehingga rasanya tidak adil jika saya menilainya berdasarkan tayangan yang tidak komplit. Jadilah pada hari Kamis pukul 12.45 kemarin saya meluncur ke studio 3 Delta 21 di Plaza Surabaya. Apakah pendapat saya terhadap film ini berubah total? Simak deh reviewnya di bawah ini.

Sinopsis Singkat

Review Film Kembalinya Anak Iblis (2019)

Meski selamat dari teror di Pulau Ayunan, Rama (diperankan oleh Al Ghazali) tidak bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang. Kekasihnya, Chelsi (diperankan oleh Valerie Thomas), syok berat dan harus dirawat di rumah sakit jiwa. Ditambah dengan jasad adiknya, Hana (diperankan oleh Marsha Aruan), dan sahabatnya, Vira (diperankan oleh Mumuk Gomez), yang belum juga diketemukan. Ia pun mengajak Garin (diperankan oleh Endy Arfian), Farel (diperankan oleh Atta Halilintar), dan Quincy (diperankan oleh Steffi Zamora) untuk kembali ke Pulau Ayunan. Garin dan Farel awalnya keberatan, namun insiden misterius yang menewaskan Quincy meyakinkan mereka berdua untuk ikut bersama Rama. Bersama dengan Clara (diperankan oleh Mikha Tambayong) dan Joy (diperankan oleh Achmad Megantara), berlima mereka menuju Pulau Ayunan.

Tanggal Rilis: 5 September 2019
Durasi: 84 menit
Sutradara: Rudi Soedjarwo
Produser: Melia Indriati
Penulis Naskah: Demas Garin, Talitha Tan
Produksi: RA Pictures
Pemain: Al Ghazali, Mikha Tambayong, Valerie Thomas, Achmad Megantara, Atta Halilintar, Endy Arfian, Steffi Zamora

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Pertama-tama, saya mengapresiasi dimunculkannya adegan flashback di bagian awal yang merupakan cuplikan dari prekuel film ini, “13: The Haunted”. Dengan demikian, penonton yang belum sempat menonton film tersebut bisa mendapat gambaran mengenai cerita yang diusung dalam “Kembalinya Anak Iblis”, yang notabene adalah bagian kedua alias sekuelnya.

Salah satu kritikan mengenai ’13 cara’ yang pada prekuelnya baru muncul di babak ketiga dan pada akhirnya terkesan terburu-buru diimplementasikan ke dalam cerita sepertinya didengarkan dan coba diperbaiki. ’13 Cara Menutup Gapura Tentrem’ yang diangkat sebagai tema film kali ini sudah mulai diperkenalkan sedari awal. Sayangnya, sama sekali tidak ada penjelasan keterkaitan cerita dengan terbukanya gapura tentrem yang merupakan jembatan antara dunia nyata dengan dunia arwah. Ujug-ujug saja Clara dan Joy tahu bahwa mereka harus kembali ke Pulau Ayunan dan menutup gerbang tersebut.

Soal benang merah cerita inilah yang lantas konsisten menimbulkan tanda tanya sepanjang durasi. Banyak hal yang membingungkan dan tidak masuk dinalar. Sutradara maupun penulis juga tidak berusaha untuk menjelaskannya.

Sebagai contoh, di awal ditunjukkan bahwa si anak iblis (diperankan oleh Khadijah Banderas), lupa nama karakternya, nempel ke Chelsi. Itu yang menyebabkan dirinya menjadi seolah-olah gila. Namun meski belakangan terungkap bahwa arwah anak iblis tersebut merasuk ke tubuh Clara, sosok si anak iblis masih tetap menghantui rumah sakit jiwa tempat Chelsi dirawat. Aneh.

Contoh lain adalah ketika karakter Farel hendak mencari Joy. Arah datangnya Farel dan Clara adalah dari depan pohon, namun Farel justru melangkah pergi melalui samping pohon, bukan ke arah mereka sebelumnya datang. Soal pohon yang disebutkan punya kekuatan besar juga sama sekali tidak dijelaskan penyebabnya maupun kaitannya dengan tragedi di Pulau Ayunan. Malah jadi terkesan seperti pohon keramat yang memang sudah ada sejak lama di pulau tersebut, tanpa ada hubungannya sama sekali dengan insiden pembunuhan yang terjadi.

Cerita secara keseluruhan terasa singkat dan datar. Twistnya sudah mulai tertebak sejak kamera di-close-up ke wajah Clara pada adegan Clara berdiri di depan pohon ‘keramat’. Momen saat Chelsi menyadari ada yang tidak beres dengan Clara juga sebenarnya agak ambigu. Kembali ke soal gapura tentrem, Clara dan Joy digambarkan sebagai sosok yang paham tentang apa yang terjadi di pulau Ayunan. Sehingga pernyataan Chelsi tentang Clara yang tahu soal pembunuhan dengan kapak sejujurnya bukanlah bukti yang kuat untuk mencurigai Clara.

Bagaimana dengan urusan horornya? Dari segi musik atau efek suara bagi saya cukup. Tidak lebay dan masih sesuai porsi. Untuk penampakan masih mengandalkan make up seram, yang bagi saya pribadi tidak berhasil bikin merinding. Tapi karena seingat saya dulu Raffi Ahmad pernah menyatakan tidak ingin membuat film horor yang terlalu seram agar masih aman apabila ditonton oleh anak-anak, jadi bagian ini bisa saya maafkan.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, “Kembalinya Anak Iblis” berusaha untuk memperbaiki kesalahan mereka dalam “13: The Haunted”. Sayangnya, alur cerita yang dangkal dan terasa cenderung datar — bahkan seolah tidak berhubungan sama sekali dengan judulnya — membuat hasil penilaian akhir keduanya tidak jauh berbeda.

Nonton “IT: Chapter Two” saja lah.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply