Review Film Keluarga Tak Kasat Mata (2017)

Setelah sekian lama, akhirnya kesampaian juga menonton film horor yang satu ini, “Keluarga Tak Kasat Mata”. Meski tidak mengikuti secara utuh, setidaknya saya pernah membaca beberapa bagian kisahnya yang dipublikasikan di forum Kaskus oleh Bonaventura Genta. Ya, film ini memang diangkat dari kejadian nyata yang dialami sendiri oleh Genta dan rekan-rekannya. Tapi apakah antusiasme pembaca dan respon yang baik di forum tersebut berbanding lurus dengan kualitas filmnya?

Sinopsis Singkat

Sejak kantor tempatnya bekerja pindah ke bangunan yang baru, Genta (diperankan oleh Deva Mahenra), Yoga (diperankan oleh Miller Khan), Bebek (diperankan oleh Kemal Palevi), Rudi (diperankan oleh Ganindra Bimo), dan Andrea (diperankan oleh Wizzy Williana) acap dihantui oleh kejadian-kejadian mistis. Tidak hanya di kantor, bahkan hingga sampai di rumah mereka. Apesnya, bos mereka, Marwan (diperankan oleh Gary Iskak), yang tidak percaya pada hantu, tidak mau peduli dan tetap memaksa mereka bekerja seperti biasa.

Gangguan-gangguan gaib tersebut belakangan diketahui berasal dari sebuah keluarga makhluk halus yang kebetulan menempati bangunan tersebut. Untuk mengusirnya, Rudi lantas meminta bantuan pada Rere (diperankan oleh Aura Kasih). Rere sempat berkonsultasi pada Hao (diperankan oleh Tio Pakusadewa), guru spritualnya, sebelum memutuskan untuk membantu Rudi. Paham bahaya yang bakal dihadapi Rere, Hao berpesan agar Rere berhati-hati. Mampukah Rere menyelesaikan masalah gaib yang terjadi?

Tanggal Rilis: 23 November 2017
Durasi: 1 jam 50 menit
Sutradara: Hedy Suryawan
Produser: Ody Mulya Hidayat
Penulis Naskah: Bonaventura Genta, Lele Laila, Evelyn Afnilia
Produksi: Max Pictures
Pemain: Deva Mahenra, Miller Khan, Ganindra Bimo, Wizzy Williana, Aura Kasih, Tio Pakusadewo, Kemal Palevi, Gary Iskak

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Film “Keluarga Tak Kasat Mata” rupanya konsisten dalam satu hal. Alur ceritanya benar-benar tak kasat mata. Alias tidak jelas. Yang bisa dipahami hanyalah ada sekelompok makhluk halus yang mendiami dan menteror penghuni sebuah bangunan di kota Yogyakarta. But that’s it.

Siapa keluarga tak kasat mata yang dimaksud? Kenapa mereka bisa jadi arwah penasaran? Bantuan apa yang mereka minta dari Genta, yang diceritakan sebagai orang yang terpilih karena punya tanggal lahir sama dengan tanggal tragedi yang dialami keluarga bersangkutan? Tragedi seperti apa yang dialami oleh keluarga tersebut? Tidak ada satu pun yang terjawab.

Saking malasnya film bercerita, beberapa kali ada adegan dimana satu dua karakter seolah kaget melihat sesuatu, namun apa yang mereka lihat sama sekali tidak disajikan ke layar. Sulit rasanya untuk jadi bersimpati pada karakter-karakter tersebut.

Semakin ke belakang film semakin tidak jelas arahnya. Karakter Rere yang diceritakan datang untuk membantu menyelesaikan masalah di bangunan tersebut ujung-ujungnya ‘hanya’ membantu mengembalikan roh karakter Andrea yang dibawa ke dimensi gaib. Padahal, kejadian diculiknya roh Andrea terjadi SETELAH Rere datang. Notabene BUKAN alasan Rere diundang untuk membantu.

Untuk penampakan hantu dan jump scare sendiri sebagian menggunakan efek CGI. Di luar jump scare yang monoton dan tidak spesial, tidak ada komplain untuk penggunaan efek CGI-nya. Mungkin karena digunakan tepat sasaran dan tidak berusaha untuk pamer, sehingga terlihat baik-baik saja di layar.

Untuk akting juga bagi saya pribadi tidak ada masalah. Semua tepat pada porsi peran masing-masing. Tidak ada yang terkesan lebay, atau sebaliknya, malas-malasan.

Penutup

Sebagai adaptasi sebuah thread yang populer di jagat maya, ‘Keluarga Tak Kasat Mata” terbilang gagal. Saya beruntung tidak / belum membaca thread tersebut secara lengkap. Setidaknya masih bisa bertahan menyimak hingga akhir film. Saya yakin sebagian yang sudah terlebih dahulu membaca kisah Genta di Kaskus bakal tersiksa saat menonton film adaptasinya ini. Penyebab utama adalah alur cerita yang tidak jelas dan tidak konsisten. Benar-benar tak kasat mata pokoknya. Yang menjadi penolong adalah akting pemain yang tidak bikin ilfil. Kalau gak, ya bakal kasat mata juga ratingnya, hehehe.

2/10.

Catatan: rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

Last modified on November 16, 2020 4:22 pm

Share
Cosa Aranda

Cosa Aranda adalah blogger profesional dari kota Surabaya yang sudah berkecimpung di dunia bisnis online sejak tahun 2005. Sempat beberapa kali menjadi pembicara seminar dan mengadakan workshop pada periode tahun 2007-2010. Saat ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggeluti hobi dan passionnya di bidang travelling, hiburan, serta permainan arcade. Bisa ditemui di Facebook jika ingin berkenalan.