Review Film Horror House (2015)

Nayato Fio merilis tiga film horor sekaligus di tahun 2015 lalu. Ada “Takut: Tujuh Hari Bersama Setan”, “Hantu Kuburan Tua”, dan yang satu lagi, “Horror House”. Yang disebut terakhir adalah debut perdana Bertrand Antolin sebagai pemeran utama setelah sebelumnya hanya mendapat peran minor. Ia beradu akting dengan Stuart Collin (yang tampil lumayan meyakinkan dalam “Disini Ada Yang Mati”), Masayu Anastasia, dan Tatiek Siviana. Seperti apa filmnya? Simak sinopsis dan review singkatnya berikut ya.

Sinopsis Singkat

Review Film Horror House (2015)

Nadine, wanita karir, akan menikah dengan Terry. Bagi Nadine pernikahan harus berlangsung sempurna. Nadine mendambakan rumah tangga yang tenang, damai dan tentram. Ia percaya, Terry adalah lelaki terbaik yang akan setia mendampinginya selamanya. Persiapan pernikahan dikerjakan mereka berdua.

Nadine tinggal di rumah besar dan mewah hasil jerih payahnya sendiri. Di tengah persiapan menjelang pernikahan, kejadian aneh dan mengerikan mengusik ketenangan Nadine. Nadine kerap merasakan diawasi oleh sesuatu yang tak kasatmata. Sesuatu yang sulit dicerna akal sehat namun nyata terlihat di alam sadarnya.

Sementara itu di sebuah apartemen, fotografer Yudha berkenalan dengan Pratiwi, gadis yang dingin dan misterius. Selama di apartemen itu, Yudha kerap mengalami kejadian-kejadian aneh. Satu hari Yudha didatangi Nadine. Nadine ingin minta tolong Yudha mempersiapkan foto preweddingnya. Di sinilah, Nadine mulai mencurigai adanya hubungan rahasia antara Samara dan Terry. Ia menemukan foto Terry dan Pratiwi tengah bermesraan.

Sementara itu Terry mendapat teror arwah gentayangan, yang selama ini menggentayangi Nadine. Arwah gentayangan menuntut kematian Terry.

Tanggal Rilis: 12 Maret 2015
Durasi: 79 menit
Sutradara: Nayato Fio Nuala
Produser: Nayato Fio Nuala
Penulis Naskah: Ery Sofid
Produksi: MD Pictures
Pemain: Betrand Antolin, Masayu Anastasia, Sturt Collin, Tatiana Sivek, Kamberly Ryder

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Mau bikin banyak film horor dalam jangka waktu berdekatan? Gampang, ikuti saja formula dari Nayato Fio. Siapkah naskah seadanya, syuting sekenanya, lalu bubuhkan banyak-banyak jump scare di dalamnya. Jadi deh.

Contohnya ya film ini. Juga “Takut: Tujuh Hari Bersama Setan”. Keduanya menerapkan resep yang sama dengan yang baru saja disebutkan di paragraf pertama. Malah lebih parah dengan petunjuk twist yang amat sangat banyak. Seolah ngarep sekali penontonnya menebak dan mengagumi misteri yang dihadirkan.

Secara kuantitas, jump scare-nya memang tidak sebanyak “Takut”. Yah, sekitar 80%-nya lah. Tapi bukan berarti tidak mengganggu. Wong efek genjreng-genjrengnya lebih menyakitkan telinga. Nayato juga sepertinya sudah kehabisan ide jump scare karena tidak ada yang baru di sini. Begitu begitu saja polanya.

Dengan alur cerita yang sudah tertebak sedari babak pertama, pengalaman menonton tidak lagi diperoleh. Terasa hampa hingga akhir. Kalau pun saya tetap menyimak sampai penghujung film, lebih karena keperluan menulis review ini saja. Siapa tahu ada sesuatu yang layak diberi acungan jempol.

Sayangnya tidak.

Penutup

Secara psikologis, rasa takut akan menimbulkan kecemasan. Rasa cemas sendiri bisa membuat seseorang kurang aware terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Mungkin ini yang dipegang teguh oleh Nayato Fio dalam menciptakan karya-karyanya. Bagus jeleknya cerita urusan kedua. Yang penting ditakut-takuti dulu biar penonton tidak fokus pada alur cerita yang ada. Saya pernah duduk di samping orang yang benar-benar gampang takut oleh jump scare (dan setelah menonton menurutnya film tersebut bagus, padahal menurut saya, yang tidak ketakutan, tidak sama sekali), jadi saya bisa mengkonfirmasi formula psikologis itu. Apapun itu, dengan cerita yang ala kadarnya, twist yang tidak ada usaha untuk ditutup-tutupi, judul yang tidak sesuai, serta ending yang dipaksakan, tanpa sungkan saya memberi skor 1/10.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply