Review Film Get Lost: Urban Legend di Benteng Pendem (2018)

Saya baru tahu bahwa Pafindo (Persatuan Artis Film Indonesia) pernah bekerjasama dengan sebuah rumah produksi untuk mengeluarkan film horor berjudul “Get Lost: Urban Legend di Benteng Pendem” di tahun 2018 lalu. Film tersebut sebenarnya sudah usai diproduksi pada tahun 2015 dengan tajuk “Bayangan Setan (Kisah Nyata di Benteng Pendem)”. Entah kenapa mengalami penundaan hingga 3 tahun lamanya plus pergantian judul. Bagaimanakah hasilnya? Simak sinopsis dan review singkatnya berikut ini.

Sinopsis Singkat

Review Film Get Lost: Urban Legend di Benteng Pendem (2018)

Lima orang sahabat — Ringgo (diperankan oleh Maxime Bouttier), Nadia (diperankan oleh Agatha Valleri), Vina (diperankan oleh Angelica Simpeler), Anton (diperankan oleh Aga Dirgantara), dan Bombom (diperankan oleh Indra Kharisma) — memutuskan untuk cabut dari sekolah dan pergi berlibur ke Yogyakarta dengan menggunakan mobil Ringgo. Di tengah perjalanan, adanya razia polisi membuat mereka mengambil jalan lain yang tidak mereka ketahui. Setelah sebuah insiden membuat mobil mereka hilang secara misterius, kelima orang tersebut lantas menginap di sebuah bangunan tua yang merupakan benteng peninggalan Belanda. Yang tidak mereka ketahui, benteng tersebut menyimpan tragedi pedih di masa lalu, yang masih terbawa hingga sekarang.

Tanggal Rilis: 15 Maret 2018
Durasi: 1 jam 21 menit
Sutradara: Chiska Doppert
Produser: HRM Bagiono
Penulis Naskah: Baskara, Joshua Sinaga, Hartawan Triguna
Produksi: Multi Cahaya Dimensi, Pilar Kreatif Media
Pemain: Maxime Bouttier, Angelica Simperler, Aga Dirgantara, Indra Charisma, Agatha Valleri, Sury Meilani

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Adanya kerjasama dengan Pafindo sebenarnya membuat saya berharap banyak. Apalagi lokasinya adalah Benteng Pendem, salah satu bangunan tua bersejarah di pulau Jawa, tepatnya di daerah Cilacap. Saya demen banget tempat-tempat seperti itu.

Apa mau dikata, pada akhirnya “Get Lost: Urban Legend di Benteng Pendem” hanyalah sebuah film horor murahan sekelas FTV yang menenuhi persyaratan 3B. Berantakan, Bising, dan Bodoh.

Alur ceritanya berantakan. Membingungkan. Ada bagian-bagian yang dimaksudkan sebagai flashback ke masa lalu namun diselipkan begitu saja dengan kasar ke adegan di masa sekarang. Sebagian juga terus diulang begitu saja.

Saat kuliah dulu, hampir setiap minggu saya dan beberapa orang teman pergi ke Malang untuk refreshing. Kondisinya memang tidak sama dengan yang ada di film. Tapi logikanya, jika ingin pergi ke luar kota dan tidak langsung pulang di hari yang sama, yang sewajarnya dilakukan adalah bolos sekolah, bukan cabut dari kelas. Saya pun demikian dulu. Sekalian menyelesaikan seluruh jadwal kuliah di hari itu baru cuss keluar kota, atau hanya mengikuti satu dua mata kuliah di awal dan bolos sisanya. Bukan masuk dulu terus kabur.

Situasi berantakan juga terjadi pada CGI maupun kondisi heboh. Sekedar membuat boneka jailangkung melayang saja pakai CGI yang terlihat jelas kalau tempelan. Padahal bisa dengan mudah digantung dengan benang dan didorong sehingga terlihat bagai melayang. Adegan karakter Nadia terjerat selendang plus Vina tertarik secara misterius pun tidak meyakinkan sama sekali.

Secara suara, film ini bising. Tidak nyaman didengarkan di telinga. Mulai dari penampakan dan jump scare yang dibarengi suara keras yang tidak jernih hingga karakter yang panik lantas berlari sembari berteriak kencang. Udah tau lagi dikejar kok malah teriak-teriak.

Logika-logika bodoh banyak menempel dalam film ini. Lihat bagaimana Ringgo dkk bisa dengan mudahnya tertipu oleh dua pemuda tambal ban yang sudah jelas-jelas mencurigakan. Bahkan mau-maunya disuruh pergi ke air terjun meninggalkan mobil begitu saja. Adegan mereka dikejar mobil lebih ajaib lagi. Bukannya menghindar ke kiri atau ke kanan, malah terus saja berlari lurus. Ya itu dua di antaranya. Masih ada yang lain, tidak tega saya menuliskan semuanya.

Elemen horornya? Tidak lebih baik dari yang sudah sudah. Bahkan di bawah rata-rata. Setannya tidak konsisten pula. Paling gemas kalau nemu film yang seperti itu. Yang suka asal saja menyematkan berbagai macam penampakan tanpa ada asal usul yang sesuai dengan cerita.

Penutup

1/10. Maaf, Pafindo. Bisa jadi penghinaan bagi film-film horor lain yang lebih ‘niat’ jika nilainya lebih dari itu. Dari naskah hingga eksekusi semuanya berantakan. Yang seharusnya mencekam dan bikin tahan nafas justru bikin ketawa. Alasannya bukan gara-gara lucu, melainkan saking buruknya. 1 poin itu pun cuma karena saya suka dengan lokasinya. Tidak lebih.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply