Review Film Arumi (2018)

“Arumi” adalah karya kedua terakhir dari sutradara Nayato Fio yang terkenal sebagai rajanya film horor di Indonesia. Film ini dirilis pada awal tahun 2018 lalu dengan Ardina Rasti sebagai pemeran utamanya. Setelah menyaksikan sebagian besar portofolio beliau, khususnya yang bergenre horor, penasaran juga bagaimana hasil besutannya di tahun 2018. Apakah ada perkembangan? Atau masih begitu-begitu saja? Simak deh sinopsis dan review singkatnya di bawah.

Sinopsis Singkat

Review Film Arumi (2018)

Rasty (diperankan oleh Ardina Rasti) mengajak empat sahabatnya — Merry (diperankan oleh Melvionita), Widi (diperankan oleh Nadira Maharani), Rino (diperankan oleh Aditya Suryo), dan Dika (diperankan oleh Panji Saputra) — untuk berlibur di villa keluarganya yang sudah lama tidak dihuni. Villa itu juga meninggalkan luka mendalam baginya, mengingat 15 tahun yang lalu terjadi peristiwa pembunuhan yang menewaskan ayah, ibu, dan kakaknya.

Di tengah jalan, mereka hampir menabrak seorang gadis kecil bernama Lili (diperankan oleh Rizka Maharani) yang tengah dikejar warga. Tahu warga hendak membunuhnya, mereka tidak tega membiarkan itu terjadi sehingga memutuskan untuk membawa Lili ke villa.

Anehnya, keberadaan Lili di villa ternyata membawa keanehan demi keanehan. Apalagi Lili mengaku berteman dengan seseorang bernama Arumi (diperankan oleh Rebecca Tamara) yang tidak pernah ditemui oleh Rasty dkk. Pada akhirnya Rasty mengetahui bahwa Arumi adalah makhluk gaib yang ada di sekitar villa dan menjadi sumber insiden pembunuhan keluarganya dahulu.

Tanggal Rilis: 11 Januari 2018
Durasi: 1 jam 24 menit
Sutradara: Nayato Fio Nuala
Produser: A Valis Akbar
Penulis Naskah: Bon Astravita AS
Produksi: Rapi Films & Flying Stars Pictures.
Pemain: Rebecca Tamara, Aditya Suryo, Ardina Rasti, Nadira Maharani, Panji Saputra, Rizka Maharani, Melvionita, Vannie Hasan, Amara Sophie

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Adegan dibuka dengan efek CGI ledakan yang menggelikan. Lucunya, 15 menit kemudian, ada adegan serupa namun minus efek CGI. Dan hasilnya jauh lebih bagus. Sepertinya ada sisa budget yang sayang kalau tidak dialokasikan sehingga lahirlah efek CGI di awal.

Secara keseluruhan, sutradara Nayato Fio mencoba menghadirkan sesuatu yang berbeda dengan karya-karyanya selama ini. Alih-alih gencar menakut-nakuti penonton dengan jump scare yang tidak menyeramkan, “Arumi” mampu menahan diri untuk hanya menyuguhkan penampakan di momen-momen yang seharusnya. Tata suara yang mengiringi pun tidak segambreng biasanya, masih manusiawi.

Saya belum menuntaskan seluruh film horor besutan Nayato sehingga tidak bisa memastikan apakah ini karya perdana beliau yang menekankan pada pembangunan atmosfer mencekam. Yang pasti, hasilnya tidak jelek walau masih jauh dari sempurna. Sumber permasalahannya serupa dengan kebanyakan filmnya yang lain. Ada di dialog yang cringe (dan acap berulang) serta akting pemain yang tidak meyakinkan.

Seperti saat Merry dan Widi memutuskan untuk sesegera mungkin meninggalkan villa misalnya. Dari yang awalnya bersemangat, ujung-ujungnya batal dan ditunda keesokan harinya karena malas dan merasa saat itu sudah malam dan yang lainnya sudah tidur. Halah.

Adegan-adegan tak logis tetap saja bisa ditemui. Seperti Dika yang sempat-sempatnya mencuci mobil sehari setelah tiba di villa; Rino yang melihat sendiri bagaimana Lili — yang baru saja ditinggal di tengah hutan — bisa tiba-tiba ada di rumah namun tetap berpihak kepadanya gara-gara Dika menggores lengan Lili hingga berdarah; Rasty yang seperti cenayang, bisa mengira-ngira sebuah kejadian hanya berdasarkan yang ia lihat sekilas; hingga Rasty yang reaksi pertamanya saat melihat lampu villa berkedip-kedip adalah mengambil pistol.

Film ini ditutup dengan banyak pertanyaan. Entah karena penulis naskah yang malas memberi jawaban misteri, atau disengaja agar otak kita sebagai penonton bekerja keras. Mungkin saja Arumi adalah sosok kuntilanak yang banyak tinggal di hutan sekitar villa. Mungkin saja kuntilanak itu menghantui keluarga Rasty sehingga membuat ayahnya berhalusinasi dan tidak sengaja membunuh ibu dan kakak Rasty sebelum akhirnya ia bunuh diri. Mungkin saja Rasty melakukan hal yang sama, tanpa sengaja membunuh empat orang temannya dengan pistol yang ia bawa.

Di luar itu, adegan penutupnya saya suka banget. Yaitu saat Lili memanggil Arumi (yang ternyata jumlahnya lebih dari satu) dan satu persatu sepasang mata menyala dari balik kegelapan. Keren parah sih bagian ini.

Penutup

Jujur, saya tidak menikmati film ini. Terlalu banyak kejanggalan dan ketidaklogisan di dalamnya. Tapi, saya mengakui usaha Nayato Fio dalam membuat sebuah karya yang berbeda dengan yang biasa ia buat selama ini. Keputusannya untuk tidak menghadirkan jump scare dalam jumlah masif serta efek suara yang merusak gendang telinga juga saya apresiasi. Endingnya bagai pisau bermata dua. Bisa bernilai positif (membuat penonton menerka-nerka), bisa bernilai negatif (gak ada kejelasan). 4/10.

Catatan: rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply