Review Film After School Horror (2014)

Agak sulit menemukan film horor lokal di tahun 2018-2019 yang punya kualitas cerita dan elemen seram yang seimbang. Ada yang unggul dalam cerita tapi cemen dalam jump scare. Ada yang jago menakut-nakuti tapi alurnya dangkal. Kebanyakan malah ambyar di kedua aspek tersebut. Yang benar-benar layak diacungi jempol mungkin bisa dihitung dengan jari tangan. Saya jadi penasaran, sebenarnya seperti apa sih film horor kita di tahun-tahun sebelumnya? Nah, mumpung lagi banyak waktu lowong di rumah, saya coba untuk menonton beberapa di antaranya. Dimulai dari “After School Horror”-nya Nayato Fio. Seperti apa? Simak yuk sinopsis dan review singkatnya di bawah.

Sinopsis Singkat

Review Film After School Horror (2014)

Dalam acara Jurit Malam calon pengurus OSIS, Andi (diperankan oleh Chris Laurent), Rino (diperankan oleh Maxime), dan Vina (diperankan oleh Pamela Bowie) sebagai pengurus lama, meminta Sinta (diperankan oleh Indah Permatasari) mewakili teman-temannya untuk membuka pintu kamar mandi sekolah yang telah lama terkunci. Tanpa disangka, sejak itu gangguan gaib mulai mereka alami. Bahkan Arum (diperankan oleh Marissa Nasution), juga ikut terkena imbasnya. Benarkah urban legend yang beredar selama ini bahwa toilet tersebut berhantu benar adanya? Bersama-sama mereka harus mencari jawabannya dan membebaskan diri dari teror yang terus menghantui.

Tanggal Rilis: 22 Mei 2014
Durasi: 77 menit
Sutradara: Nayato Fio Nuala
Produser: K Chainani
Penulis Naskah: Baskoro Adi Wuryanto, Nana R Praptini
Produksi: MD Pictures
Pemain: Indah Permatasari, Maxime Bouttier, Christ Laurent, Pamela Bowie, Yova Gracia, Marissa Nasution, Fiona Fachru Nisa

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Kisah dalam “After School Horror” diadaptasi dari novel karya Nana R. Praptini bertajuk sama. Dari judulnya memang sudah bisa ditebak bahwa setting latarnya adalah sekolahan dengan karakter yang mayoritas anak sekolah. Dan memang benar adanya. Sayangnya, belum apa-apa sudah terlihat kejanggalan dari latar yang digunakan dimana sama sekal tidak terlihat adanya guru di sekolah tersebut. Bahkan hingga film usai, hanya ada satu orang guru saja yang eksis. Itu pun dari flashback.

Penakanan budget juga terlihat dari tidak adanya anggota keluarga dari keempat orang tokoh utama, selain kakak Sinta, Arum. Film terlalu memaksakan menggunakan rumah-rumah mewah sebagai lokasi syutingnya. Padahal, dari beberapa rumah yang dipakai, sebagian besar hanya menggunakan area kamar tidur saja.

Dari segi cerita sebenarnya sederhana. Namun saya pribadi menyukainya. Terasa fresh jika dibandingkan dengan tema film-film horor lokal belakangan yang itu itu saja.

Sayangnya, tidak dari sisi horornya sendiri. Seram tidaknya memang relatif, tapi beberapa bagian terlihat tidak konsisten dengan arwah yang diangkat dalam cerita. Tidak ada hubungannya dan terasa random. Bahkan ada satu hantu anak kecil yang hingga akhir tidak ada konklusi.

Dan yang paling menggelikan justru penampakan si hantu utama, Asih (diperankan oleh Fiona Fachru Nisa). Entah siapa yang mengarahkan, ia selalu muncul dengan cara berjalan ala model yang sedang berlenggak lenggok di catwalk. Asli, pantas untuk dinobatkan sebagai penampakan hantu paling gaul sepanjang satu dekade ini.

Di luar itu, untuk karakter dan akting pemain lain buat saya tidak ada masalah. Tidak ada yang mengganggu atau membuat tidak nyaman menonton. Karakter Tita yang dimainkan oleh Yova Gracia juga lumayan berhasil menghadirkan beberapa titik tawa. Pun begitu dengan dialog antar pemain. Rata-rata masih bisa diterima dengan baik.

Penutup

“After School Horror” ternyata tidak jauh berbeda dengan film horor lokal kebanyakan. Walau ide ceritanya sederhana, namun secara keseluruhan bisa dinikmati. Sayangnya, tidak diimbangi dengan elemen horror yang berkualitas. Repetitif juga terlalu memaksa sehingga kentara ketidakkonsistenannya. 5/10 deh skornya.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply