Review Film Affliction (Netflix, 2021)

Diproduksi pada tahun 2020 lalu, “Affliction” a.k.a “Pulang” baru bisa dirilis secara resmi ke publik tiga hari yang lalu. Itu pun melalui layanan video streaming Netflix, bukan melalui jaringan bioskop di Indonesia. Hadirnya film horor lokal baru ini setidaknya mengobati kerinduan saya yang kebetulan tinggal di wilayah dimana bioskop belum boleh beroperasi secara normal karena pandemi. Lalu seperti apakah ceritanya? Layakkah untuk ditonton? Simak sinopsis dan review singkatnya di bawah ini, ges.

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Sinopsis Singkat

Review Film Affliction (Netflix, 2021)

Sejak ibunya meninggal, Nina (diperankan oleh Raihaanun) sedikit terpukul. Ia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak berbuat apa-apa meski mendapat firasat berupa penampakan ibunya, sehari sebelum kematiannya. Suatu hari, seorang wanita bernama Narsih (diperankan oleh Dea Panendra) mendatanginya. Ia mengaku sebagai orang yang mengurusi Bunda (diperankan oleh Tutie Kirana), ibu mertuanya, yang menderita alzheimer. Narsih menyatakan ingin berhenti karena sudah tidak kuat lagi menghadapi Bunda yang seringkali berperilaku aneh.

Hasan (diperankan oleh Ibnu Jamil), suami Nina, awalnya enggan untuk pulang ke kampung halamannya. Namun Nina berhasil meyakinkannya untuk pulang sejenak dan membujuk ibunya agar mau tinggal bersama mereka di Jakarta.

Tak lama setelah tiba di rumah Bunda, yang kebetulan berada di hutan dan jauh dari pemukiman warga, Hasan harus kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tinggallah Nina bersama kedua anaknya, Rian (diperankan oleh Abiyyu Barakbah) dan Tasha (diperankan oleh Tasya Putri), yang menemani Bunda.

Ternyata benar, banyak kejadian aneh yang terjadi di rumah tersebut. Termasuk juga kelakukan Bunda yang seringkali tidak masuk akal. Belum ditambah dengan Nina yang tanpa sengaja melihat Narsih dan mendapati adanya kasus anak hilang berpuluh-puluh tahun lalu. Pada akhirnya terungkap bahwa kasus tersebut ada hubungannya dengan masa lalu Bunda dan juga Hasan.

Tanggal Rilis: 21 January 2021
Durasi: 1 jam 30 menit
Sutradara: Teddy Soeriaatmadja
Produser: Uwie Balfas, Teddy Soeriaatmadja
Penulis Naskah: Teddy Soeriaatmadja
Produksi: Karuna Pictures
Pemain: Raihaanun, Tutie Kirana, Ibnu Jamil, Abiyyu Barakbah, Tasya Putri

Review Singkat

Sebagai sebuah karya debut dari sutradara Teddy Soeriaatmadja yang sekaligus rangkap tugas jadi penulis naskah, “Affliction” terbilang cukup mengecewakan. Banyak elemennya yang merupakan template dari film-film horor yang sudah ada sebelumnya.

Rumah terpencil jauh dari pemukiman warga? Checked.
Pasangan suami istri dimana salah satunya tidak percaya mistis? Checked.
Lalu yang tidak percaya mistis diceritakan meninggalkan yang percaya mistis selama beberapa waktu? Checked.
Munculnya orang misterius di depan rumah pada malam hari yang cuma berdiri diam? Checked.
Menjemur pakaian dan sprei dalam jumlah banyak? Checked.
Pintu dalam rumah yang tidak boleh dibuka atau selalu terkunci? Checked.
Bola yang menggelinding secara misterius? Checked.
Adegan yang tidak masuk logika? Checked.

Saya sebenarnya jarang membanding-bandingkan film yang saya review dengan judul lain yang sudah ada. Namun jika kesamaannya benar-benar masif seperti di atas, sulit untuk mengabaikannya begitu saja. “Pulang” seolah ingin sekedar nyemplung saja ke kolam genre film horor lokal yang *biasanya* banyak peminatnya, tanpa mau bersusah payah menciptakan sesuatu yang baru dan menyegarkan.

Ceritanya sendiri tidak sulit untuk ditebak. Saya sempat terkecoh mengira kata ‘ari kiba’ memiliki makna yang lain selain ‘arah kiblat’. Ternyata tidak. Maknanya sudah benar-benar jelas sejak babak pertama film.

Dibandingkan kebanyakan film horor, “Affliction” terbilang sudah berusaha untuk tampil rapi dan tidak menyisakan lubang-lubang kebodohan dalam cerita. Sayangnya, ada satu yang tertinggal, yang sebenarnya bersumber dari naskah yang terlalu mendramatisir. Yaitu tentang pemukiman warga yang diklaim berjarak satu jam perjalanan dengan mobil dari rumah Bunda.

Siapa yang kemudian tidak heran ketika Nina, Rian, dan Tasha bisa dengan santainya berjalan kaki menuju TKP tanpa sama sekali terlihat capek atau berkeringat.

Juga bagaimana bisa Narsih yang tinggal di pemukiman warga bisa tiba-tiba muncul di rumah Bunda di saat genting. Walau yang ini mungkin masih bisa dibantah, yaitu dengan ‘kebiasaan’ ibu gila (yang selalu bersama Narsih) mendatangi rumah Bunda di malam hari. Tapi tetap saja terasa random dan tidak masuk akal.

Padahal, bagi saya pribadi akting ketiga tokoh utamanya (Raihanuun, Ibnu Jamil, dan Tutie Kirana) lumayan berkualitas. Terutama yang disebut belakangan. Meyakinkan sekali aktingnya. Sayang jadi tersia-siakan akibat naskah yang B aja.

Penutup

Dengan banyaknya film horor lokal yang tidak berkualitas, film “Affliction” / “Pulang” seolah tidak mau ambil pusing dan ikut-ikutan bergabung dalam klub mereka. Sama sekali tidak terlihat usaha dalam membuat naskah yang bagus, terbukti dengan penggunaan berbagai elemen film horor yang asal dicomot dan dikombinasikan begitu saja. Adegan menjemur pakaian misalnya. Eksis tanpa ada maknanya. Disingkirkan pun tidak mempengaruhi jalan cerita. Akting sebagian pemeran yang berkualitas jadi terbuang percuma. 2/10.

Catatan: rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , , ,

Reply