Review Film 23:59 (2011)

Pertama menemukan “23:59” di Netflix saya langsung penasaran untuk menonton. Walau sudah dirilis hampir satu dekade yang lalu, tepatnya pada bulan November 2011 silam, tapi film yang berasal dari negara tetangga kita, Singapura, ini menawarkan sesuatu yang jarang ada. Yaitu kisah horor yang menggunakan latar tentara. Ada pula kelanjutannya yang tayang di tahun 2018. “23:59 The Haunting Hour” judulnya. Sayang tidak tersedia di layanan video streaming yang sama. So eniwei, untuk saat ini, yuk kita simak dulu sinopsis dan review singkat dari “23:59”. Cekidot!

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Sinopsis Singkat

Satu peleton tentara muda tengah menjalani pelatihan dasar di sebuah pulau. Di tempat tersebut beredar mitos adanya seorang wanita yang meninggal tepat pada pukul 23.59. Sejak itu, digosipkan setiap pukul 23.59 arwahnya akan bergentayangan di kamp. Tan (diperankan oleh Tedd Chan), salah seorang kadet, mengaku melihat sosok hantu wanita yang dimaksud. Beberapa hari kemudian, Tan diketemukan meninggal di hutan.

Jeremy (diperankan oleh Henley Hii), sahabat Tan, terpukul dengan kejadian tersebut. Apalagi, ia kemudian bermimpi melihat Chester (diperankan oleh Josh Lai), meninggal. Esok harinya Chester kerasukan, namun bisa disembuhkan oleh seorang dukun.

Chester kemudian memberitahu Jeremy bahwa sebelum Tan meninggal, saat keduanya berpatroli di hutan, Tan sempat melihat si hantu wanita dan diserang olehnya. Chester membantunya dan memukuli hantu wanita tersebut. Pun begitu, ia tidak hapal wajahnya karena panik.

Chester lalu menunjukkan pada Jeremy lokasi kejadian. Penasaran, mereka bertanya pada warga lokal mengenai mitos tersebut, yang ternyata berhubungan dengan putri wanita yang meninggal di mitos. Karena terlahir cacat, anak tersebut jadi dikucilkan oleh warga. Anehnya, beberapa anak yang mengganggunya meninggal tanpa sebab. Anak itu sendiri saat ini tidak jelas keberadaannya.

Setelah mengetahui rumah wanita yang ada dalam mitos, Jeremy dan Chester kembali ke kamp untuk mengambil perlengkapan. Chester mendadak bersikap aneh dan pergi ke hutan. Jeremy menyusulnya dan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Chester mematahkan sendiri tangan dan lehernya hingga ia tewas. Kejadian tersebut disusul dengan munculnya si hantu wanita.

Ketakutan, Jeremy berlari meninggalkan TKP dan tanpa sadar tiba di rumah si wanita itu. Di sana, hantu wanita memberitahu bahwa pelaku pembunuhan sebenarnya bukanlah dirinya, melainkan putrinya. Ia dulu tega membunuh putrinya karena tidak tega melihat penderitaannya. Arwah putrinya menjadi tidak tenang dan bergentayangan di pulau. Arwah si wanita lantas masuk ke tubuh Jeremy dan meminta maaf pada arwah putrinya.

Tak lama beberapa rekan Jeremy datang dan membawanya pergi meninggalkan rumah tersebut.

Tanggal Rilis: 3 November 2011
Durasi: 78 menit
Sutradara: Gilbert Chan
Produser: Gary Goh, Lim Teck, Tengku Ietas Tengku Alaudin, Melvin Ang
Penulis Naskah: Gilbert Chan, Ng Say Yong
Produksi: Gorylah Pictures, Clover Films, Grand Brilliance, mm2 Entertainment
Pemain: Mark Lee, Henley Hii, Josh Lai, Tedd Chan, Lawrence Koh

Review Singkat

Punya modal latar yang menarik tidak serta merta menjadikan “23:59” sebuah tontonan yang berkualitas. Sebagai sebuah film horor, misinya untuk menakut-nakuti jelas gagal total. Saya tidak menemukan satu pun momen yang menyeramkan di dalamnya. Sumber permasalahan sepertinya ada pada penyematan beberapa elemen ekstra yang tidak ada hubungannya dengan cerita utama.

Seperti cerita tentang kuntilanak yang datang bersama anaknya di awal. Atau tentang kadet yang bunuh diri karena di-bully. Alih-alih bikin menegangkan, yang ada justru mengecewakan. Wong gak penting banget buat disampaikan di layar.

Cerita hantu utamanya sendiri sebenarnya tidak buruk. Mungkin tidak istimewa, tapi masih oke. Sayang diakhiri dengan adegan puncak yang gak banget. Buat apa hantu ibunya susah payah merasuki Jeremy. Toh sedari awal dia sudah tahu anaknya berada di rumahnya. Sesama hantu juga bisa langsung berkomunikasi. Kecuali jika mereka sama-sama tidak saling tahu keberadaannya.

Untungnya, film bisa menjelaskan dengan baik kenapa hanya Tan dan Chester yang menjadi korban. Ada hubungannya dengan hantu anak kecil yang dulu sering di-bully anak-anak warga lokal. Setidaknya tidak menambah beban pikiran orang yang menonton.

Saya juga suka dengan pengambilan-pengambilan gambar di hutan pada malam hari yang masih cukup nyaman untuk dilihat. Di kebanyakan film bergenre serupa, kombinasi malam hari dan hutan acap menghasilkan gambar yang gelap dan tidak jelas. Alias terlalu gelap.

Penutup

Sama seperti kebanyakan film horor, “23:59” ternyata gagal memanfaatkan latar unik yang ia miliki. Ia bahkan hadir dengan tensi yang datar, tanpa ada usaha keras untuk menakut-nakuti penonton. Naskah seadanya, jump scare seadanya, ending pun seadanya. Mau tidak mau skor review juga seadanya: 1/10.

Catatan: rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

gambar #23293

Leave a Reply