Review Film 12:06 Rumah Kucing (2017)

Tahun 2017 bisa dikatakan sebagai titik balik perfilman Indonesia, khususnya untuk genre horor. Banyak judul yang mampu menghadirkan perpaduan antara cerita yang berkualitas dengan elemen horor yang kental, tanpa melulu mengandalkan jump scare dengan volume suara yang tiba-tiba mengencang. Remake dari “Pengabdi Setan” yang dibuat oleh Joko Anwar bahkan berhasil merajai box office dengan torehan penonton sejumlah 4.2jt orang. Bisa diterima jika pada akhirnya 10 besar film lokal berpenghasilan terbesar di tahun tersebut sebagian di antaranya dikuasai oleh genre horor. Sebut saja “Danur: I Can See Ghost”, “Jailangkung”, “Mata Batin”, dan “The Doll 2”.

Yang bakal dibahas kali ini bukan salah satu di antara yang saya sebut barusan. Pun begitu, film layar lebar ini juga hadir di tahun 2017. Dan sebagai pecinta kucing, sejak awal saya sudah langsung penasaran dengan tajuknya, “12:06 Rumah Kucing”. Seperti apakah ceritanya? Apakah cukup layak untuk bersaing dengan judul-judul di atas? Simak sinopsis dan review singkatnya di bawah, ges.

Sinopsis Singkat

Review Film 12:06 Rumah Kucing (2017)

Suatu malam, Rasti (diperankan oleh Cathy Fakandi) dan adiknya menemukan seekor kucing di depan rumah mereka. Mereka lantas memutuskan untuk merawat kucing tersebut. Tengah malam, tepatnya pada pukul 12.06, lantai gudang rumah mereka tiba-tiba terbelah dengan sendirinya. Sejak itu, kejadian-kejadian misterius mulai dialami oleh keluarga mereka, termasuk Radit (diperankan oleh Endy Arfian), kakak Rasti, serta Rosa (diperankan oleh Masayu Anastasia), ibu Rasti. Hanya Randy (diperankan oleh Adi Nugraha), sang ayah, yang tidak mempercayai adanya hal-hal gaib dan lebih fokus pada pekerjaannya. Hingga suatu ketika Rasti mulai bersikap aneh. Apa yang sebenarnya terjadi?

Tanggal Rilis: 10 Agustus 2017
Durasi: 78 menit
Sutradara: Chiska Doppert
Produser: HM Firman Bintang
Penulis Naskah: Hotnidah Harahap
Produksi: BIC Pictures
Pemain: Masayu Anastasia, Adi Nugroho, Endy Arfian, Cathy Fakandi, Luna Fathia, Christian Loho, Anton Andreas, Michella Adlen, Tegar Satrya, Nicho Bryant, Ega Olivia

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Di babak pertama, film “12:06 Rumah Kucing” menyajikan beberapa elemen cerita yang sebenarnya bakal sangat berpotensi apabila diolah dengan baik. Mulai dari bullying di sekolah, keakraban adik dan kakak, sosok kakak tertua yang meski suka keluyuran tapi sayang dengan keluarganya, hingga kehadiran kucing misterius yang kemudian menjadi bagian dari keluarga tersebut. Sayangnya, semakin ke belakang, film semakin hilang arah dan berjalan sesuka hati. Hanya urusan horor saja yang diurusi, sementara yang lain dibiarkan terlupakan begitu saja.

Padahal, dari segi eksistensi kucing sebagai perantara elemen horor saja sebenarnya film ini sudah punya keunggulan tersendiri. Setahu saya belum ada film horor lokal yang melakukannya. Saat itu kebanyakan masih terpaku pada boneka, mencoba mengekor kesuksesan “The Doll” dan “Sabrina”.

Alih-alih memanfaatkan dengan baik keunggulan yang sudah digenggam di tangan, film ini lebih memilih untuk membuat jump scare-jump scare murahan dengan efek CGI yang nyaris semuanya menggelikan. Sampai penampakan sejumlah kucing di layar saja pakai efek CGI. Apa susahnya menyewa belasan kucing dari kolektor atau peternak yang saya yakin tidak akan membengkakkan budget mengingat hadirnya di layar tidak lebih dari 1 menit.

Tapi biar fair, ada satu jump scare yang benar-benar ngagetin. Yaitu saat karakter mencuci piring di dapur, di samping korden tipis putih, dan tiba-tiba di belakangnya, tepatnya di balik korden tipis putih tersebut, muncul penampakan yang berwarna putih juga. Itu keren.

Pun begitu dengan kamera CCTV yang tetiba melayang sendiri. Lucu sekaligus tidak terduga. Walau kamera tersebut sempat menyisakan sebuah tanya karena bisa tiba-tiba dimiliki Radit di saat hari sudah menjelang tengah malam.

Di luar itu, tidak ada jump scare yang worth to see. Beberapa malah membuang-buang durasi. Seperti lemari yang terbuka sendiri lantas beberapa detik kemudian ada wajah seram muncul menghadap penonton. Tidak ada karakter lain di sana. Ngapain coba?

Oh ya, masih soal kucing, ini entah efek pencahayaan, mata saya yang sudah ngantuk, atau apa, tapi kucing tidak bernama yang dipelihara oleh Rasti dan adiknya (mbuh siapa, lupa namanya) terlihat berbeda di beberapa adegan. Tidak hanya warnanya saja yang berbeda, wajahnya pun terlihat tidak sama.

Tidak hanya efek CGI, properti yang digunakan pun tidak dipersiapkan dengan serius. Pohon yang tumbang di depan mobil yang dikendarai Randy misalnya, terlihat jelas dari bentuknya bahwa itu adalah pohon buatan. Mulai dari batangnya hingga ranting yang tampak seperti ditancapkan begitu saja di batang buatan tersebut. Sutradara juga tidak berusaha untuk mengganti suara gedebuknya dengan suara pohon tumbang sungguhan.

Di luar banyak hal yang tidak dituntaskan, cerita secara keseluruhan tidak buruk-buruk amat. Aspek misterinya tidak ala kadarnya. Deret angka 12:06 yang punya dua arti — jam 12 lewat 6 menit dan tanggal 12 bulan 6 — patut diberi acungan jempol. Sayang penyebabnya tidak masuk akal. Orang tua mana yang bakal memasung anaknya hanya gara-gara sang anak menggigit lengan teman sekolahnya. Tidak logis.

Sutradara juga mengajak penonton untuk pada akhirnya menerka-nerka sendiri keterkaitan Rosa dengan semua misteri yang terjadi. Yang jeli mungkin tidak kesulitan. Entah dengan penonton kebanyakan, yang mungkin sudah lelah mengikuti ke-absurd-an yang ada di sepanjang durasi.

Penutup

Sebagai pecinta kucing, saya berusaha untuk menyukai “12:06 Rumah Kucing” ini. Sayangnya, alih-alih memanfaatkan sesuatu yang sesuai dengan judulnya, film malah memilih untuk menghadirkan hal-hal yang biasa saja dan cenderung membosankan. Memang banyak judul lain yang secara keseluruhan lebih hancur daripada ini, namun dengan premis yang sebenarnya menjanjikan, belum pernah saya se-kecewa ini dengan sebuah film horor lokal.

3/10.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply