Review Film 12.00 AM (2005)

Saya belajar banyak tentang dunia perfilman Indonesia sejak rutin menyimak dan mereview film horor lokal. Salah satunya adalah fakta bahwa tidak sedikit aktor dan aktris kita yang memulai karirnya di film bergenre tersebut. Salah satunya adalah Abimana Aryasatya atau yang dulunya masih menggunakan nama Robertino. “12.00 AM” besutan sutradara Koya Pagayo jadi titik awalnya hingga sekarang bisa menjadi aktor papan atas tanah air. Lalu bagaimana dengan filmnya sendiri? Simak deh sinopsis dan review singkatnya di bawah ini.

Sinopsis Singkat

Review Film 12.00 AM (2005)

Inez (diperankan oleh Olga Lidya) memiliki sifat yang posesif terhadap pasangannya. Ia acap curiga dan kesal pada Alvin (diperankan oleh Robertino) yang banyak menghabiskan waktunya untuk menekuni hobi fotografi bersama dengan sahabatnya, Bayu (diperankan oleh Rionaldo Stockhorst). Amel (diperankan oleh Fenita Jayanti), kekasih Bayu, mencoba mengingatkan Inez agar tidak berpikir terlalu berlebihan.

Sejak sebuah insiden di tengah malam, teror gaib mulai menghantui kehidupan Alvin dan Inez. Bahkan merembet pada bayu dan Amel, yang nyaris mati karenanya. Alvin sendiri mulai berkenalan dengan seorang wanita bernama Clara (diperankan oleh Inong Nidya Ayu), yang membuat hubungannya dengan Inez menjadi renggang.

Belakangan terungkap bahwa Clara sebenarnya sudah meninggal. Adalah Inez, sahabatnya, yang membunuhnya dan diam-diam menguburkan mayatnya agar tidak ketahuan pihak berwajib. Penyebabnya klasik, rebutan cowok. Sebelum meninggal, Clara berjanji akan membuat hidup Inez tidak tenang pada saat ia nanti menemukan cinta.

Di akhir, arwah penasaran Clara memang tidak jadi membunuh Inez. Namun teror darinya membuat Inez menjadi trauma dan harus dirawat di rumah sakit, hingga kemudian memutuskan untuk bunuh diri.

Tanggal Rilis: 2 Juni 2005
Durasi: 1 jam 45 menit
Sutradara: Koya Pagayo
Produser: Chand Parwez Servia
Penulis Naskah: Ery Sofid
Produksi: Starvision Plus & Grandiz Media Production
Pemain: Robertino (Abimana Aryasatya), Olga Lydia, Rionaldo Stockhorst, Inong Nidya Ayu, Fenita Jayanti

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Well, this movie has (almost) everything you can expect from Koya Pagayo a.k.a Nayato Fio. Karakter cewek yang model bajunya selalu menampakkan belahan dada dan/atau pinggul; adegan mandi (lantas diganggu setan); jump scare dengan tata suara mengganggu; hingga teror hantu yang melebar kemana-mana. Satu-satunya yang surprisingly tidak saya temukan adalah penampakan makhluk halus yang berlebihan.

Dari segi cerita sebenarnya “12.00 AM” tidak terlalu mengecewakan. Kali ini Ery Sofid mampu meracik naskah dengan baik, setidaknya di atas rata-rata karyanya yang lain. Misteri yang dihadirkan cukup bikin penasaran dan tidak mudah tertebak begitu saja. Twist-nya pun mengejutkan. Sayang di antaranya masih terselip dialog-dialog yang cringe dan tidak nyambung.

Misalnya saja saat Inez meminta Bayu untuk meninggalkan rumah sakit bersama Amel, Bayu dan Amel yang malam sebelumnya sudah diteror oleh makhluk gaib di rumah sakit tersebut justru menanyakan kenapa mereka harus pindah. Orang normal sih rasanya gak perlu menunggu sampai diminta, sudah bakalan maksa pindah dengan sendirinya.

Dari jajaran pemain, perhatian saya malah tercuri oleh totalitas akting Rionaldo Stockhorst yang meyakinkan. Begitu pula dengan Inong Nidya Ayu. Meski tidak banyak mendapat porsi tampil di layar, namun karakternya terasa kuat.

Bagaimana dengan duo pemeran utamanya? Di babak pertama dan kedua, kualitas peran Abimana sebagai tokoh utama tidak terlihat karena karakternya yang memang digambarkan dingin dan tidak ekspresif. Namun di babak ketiga, saat adegan menjadi intens, ia mampu melakukannya dengan baik. Untuk Olga Lidya, aktingnya sebenarnya oke. Saya hanya agak ilfil dengan adegan dimana dirinya kalut (ketika Alvin mengkonfrontasi soal Clara), terlalu over.

Penutup

Sekilas “12.00 AM” tidak jauh berbeda dari film-film lain yang ada dalam portofolio Koya Pagayo / Nayato Fio. Sebagian besar formulanya sama. Untungnya, kali ini Ery Sofid, partner setia sutradara tersebut, cukup serius menggarap naskah skenarionya. Beberapa dialog ajaib mampu tertutupi oleh twist yang mengejutkan serta ending yang layak. To put cherry on top, cast pemain yang dihadirkan nyaris semuanya berhasil memerankan karakter masing-masing dengan kuat dan meyakinkan. Sayang dari segi horornya sendiri justru garing. 6/10.

Catatan: rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply