6 Ciri-Ciri Film Horor Indonesia

Review film horor Indonesia adalah salah satu konten yang hendak saya angkat di Curcol.Co pada tahun 2020 ini. Tidak hanya untuk film yang baru dirilis, melainkan juga film-film horor lawas, khususnya yang beredar pada tahun 2000 hingga 2018. Hadir minimal 1 artikel setiap minggunya, saat artikel ini ditulis, sudah ada stok publikasi review hingga akhir tahun. Jadi bayangkan sendiri sudah berapa judul yang saya tonton, hehehe.

Gara-gara dicekoki oleh berbagai judul film di genre tersebut — sehari minimal 2 — saya jadi bisa menyimpulkan hal-hal apa saja yang kerap dihadirkan di dalam cerita. Kerap / acap / sering di sini berarti di atas rata-rata, ya. Anggaplah minimal 60% dari keseluruhan film horor lokal memiliki ciri-ciri yang sama. Bukan berarti semuanya.

deretan film horor indonesia

Apa saja?

Template Cerita Yang Terus Digunakan

Dunia film horor lokal punya beberapa template cerita yang biasa digunakan. Penulis tinggal memilih salah satu template, kemudian menambahkan atau mengurangi elemen di dalamnya agar terlihat menjadi berbeda.

Beberapa template cerita yang umum:

  • Sekelompok orang (minimal 2) datang ke suatu tempat di alam terbuka. Minimal salah satu di antaranya akan melanggar aturan / berlaku tidak sopan / menemukan dan mengambil barang.

  • Sekelompok orang (minimal 2) datang ke sebuah rumah / vila / penginapan. Ada satu ruangan yang tidak boleh dibuka. Minimal salah satu di antaranya akan dihantui. Opsi lain, ruangan lancang dibuka terlebih dahulu baru setelah itu dihantui.

  • Sekelompok orang (minimal 2) / keluarga mengalami kejadian misterius. Sosok baru tiba-tiba hadir dan ternyata ada hubungannya dengan masa lalu kelompok orang / keluarga tersebut.

Penampakan Hantu Yang Berlebihan

Banyak sutradara dan penulis naskah yang sebenarnya tidak memahami aturan-aturan dunia gaib. Mereka asal membuat film horor dengan hanya satu tujuan, menakut-nakuti penonton. Alhasil, tanpa mempedulikan aturan yang ada, segala macam hantu dengan berbagai jenis penampakan pun dimunculkan di layar. Dari yang tidak sesuai cerita sampai yang jump scare-nya dihadirkan tiap 1 menit sekali.

Perlu diketahui bahwa menampakkan diri pada manusia bukanlah hal yang mudah dilakukan oleh seorang (?) hantu. Butuh energi untuk itu. Apalagi untuk menggerakkan barang (poltergeist). Yang bisa melihat makhluk gaib juga adalah orang-orang tertentu. Ini adalah dua aturan dasar yang sering diabaikan oleh sineas tanah air yang berkecimpung di genre horor.

Penggunaan Efek Suara Untuk Mengagetkan Penonton

Salah satu yang sampai sekarang masih sering ditemui dalam film horor Indonesia adalah jump scare yang dibarengi dengan efek suara (biasanya berupa dentuman atau genjrengan) bervolume keras. Sutradara seolah ingin memastikan penontonnya kaget. Tidak peduli itu kaget karena jump scare atau karena suara yang tiba-tiba. Mereka bahkan tidak peduli bahwa hal ini sangat mengganggu kenyamanan dalam menonton. Walau sudah banyak reviewer yang mengungkapkannya, nyatanya hingga sekarang gimmick ini tetap digunakan.

Logika Bodoh / Alur Berantakan / Tidak Konsisten

Apakah ketakutan dan rasa kaget bisa membuat kita lupa akan hal lain? Pertanyaan ini yang hingga sekarang bikin saya penasaran. Kenapa? Karena kualitas cerita acap tidak dipikirkan oleh pembuat naskah skenario film horor. Mulai dari alur yang berantakan, cerita yang tidak konsisten, hingga bertebarannya adegan-adengan yang tidak masuk logika. Ini dilengkapi dengan sutradara yang sering melewatkan detil tertentu yang tampak jelas di layar.

Bisa jadi jawaban dari pertanyaan di atas adalah “ya”. Dengan demikian, film maker terkait sengaja asal-asalan saja membuat film. Toh penontonnya bakal lupa kalau sudah ditakut-takuti dengan jump scare.

Twist Yang Mudah Tertebak

Masih ada hubungannya dengan poin sebelumnya. Cerita yang tidak berkualitas seringkali dibarengi dengan twist yang mudah tertebak. Jarang ada usaha untuk membuat unsur misteri — yang kental dalam genre horor — jadi rumit dan membuat penontonnya bertanya-tanya, hingga pada saatnya nanti terungkap melalui twist yang tidak dipaksakan.

Yang akhir-akhir ini sering dipakai, twist dari tokoh protagonis biasanya adalah karakter yang terlihat terlalu baik di layar. Bisa muncul di awal, bisa juga di pertengahan cerita. Mudah ditebak.

Akting Pemain Seadanya

Lagi-lagi, masih berhubungan dengan poin cerita yang berantakan di atas. Kalau sutradaranya saja tidak peduli terhadap unsur cerita, kecil kemungkinan dia bakal peduli dengan akting jajaran pemain yang ada. Mau akting bagus ya syukur, kalau jelek ya sudah. Terkadang jadi simpati dengan aktor / aktris senior yang menjalankan tugasnya dengan serius, sementara yang lain, yang bahkan punya porsi peran lebih besar, hanya berakting seadanya.

Penutup

Itu tadi adalah 6 (enam) ciri-ciri film horor Indonesia yang bisa saya simpulkan dari puluhan judul genre tersebut yang sudah saya tonton. Sekali lagi, agar tidak ada salah paham, karakteristik yang saya sebutkan ada di sebagian besar alias lebih dari separuh judul film horor lokal. Bukan semuanya. Tentu saja masih ada banyak karya sineas horor Indonesia yang berkualitas dan layak mendapat acungan dua hingga empat jempol.

Apapun itu, mari tetap kita dukung film-film produksi tanah air.

Selamat menonton!

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply