Sinopsis Solomon’s Perjury Episode 2 & Preview Episode 3 (17 Desember 2016)

Di sinopsis Solomon’s Perjury episode sebelumnya, kematian Lee So-Woo (Seo Young-Joo) ditetapkan sebagai bunuh diri. Tanpa disangka, beberapa waktu kemudian, sebuah surat pernyataan dikirimkan kepada Ko Seo-Yeon (Kim Hyun-Soo). Isinya adalah pernyataan seorang saksi mata atas _pembunuhan_ terhadap So-Woo yang dilakukan oleh Choi Woo-Hyuk (Back Cheol-Min), Lee Sung-Min (Lee Do-Gyeom), dan Kim Dong-Hyun (Hak Jin). Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama korea Solromonui Wijeung episode 2 kali ini?

Dok. gambar dan video © JTBC of Korea Selatan

Sinopsis Episode 2

“Joo-Ri, kita melakukan hal yang benar,” ujar Park Cho-Rong (Seo Shin-Ae) pada Lee Joo-Ri (Shin Se-Hwui) dalam sebuah bus.

Joo-Ri mengangguk, namun wajahnya tampak gelisah. Keduanya lantas terdiam. Flashback muncul dan ternyata mereka berdualah yang telah diam-diam meninggalkan surat dakwaan pada Seo-Yeon.

“Ini diletakkan di depan rumah kita?” tanya Ko Sang-Joong, ayah Seo-Yeon.

“Mulanya ku pikir ini lelucon, tapi bagaimana jika seseorang tahu bahwa kamu polisi dan sengaja meninggalkan ini di sini karena sudah putus asa? Lihatlah, wajahnya begitu pucat,” ujar ibu Seo-Yeon (Kim Yeo-Jin) khawatir.

“Tidak,” sanggah Seo-Yeon, “Aku hanya mencoba untuk membuat semua ini masuk akal. Engkau akan menginvestigasinya, kan? Akankah engkau akan mengatakan ke sekolah? Apa yang harus aku lakukan?”

“Jangan lakukan apa-apa,” larang ayahnya, “Aku akan mengurusnya.”

“Ya, janganlah terlalu memikirkannya,” pinta ibu Seo-Yeon.

“Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya? Surat dakwaan ini ditujukan padaku. Lee So-Woo dan Choi Woo-Hyuk adalah teman sekelasku.” ujar Seo-Yeon.

Ibu Seo-Yeon mengajaknya masuk ke kamar agar tidak lagi membahasnya. Namun Seo-Yeon kembali melanjutkan pendapatnya.

“Ini sudah diangkat sebelumnya di blog komunitas sekolah. Mungkin kita bisa melacak IP-nya.”

“Seo-Yeon,” sergah Sang-Joong.

“Atau mungkin aku melewatkan sesuatu saat aku menemukannya,” lanjut Seo-Yeon.

“Ko Seo-Yeon. Jangan simpan ini di dalam pikiranmu lagi,” perintah Sang-Joong tegas.

“Benar. Kamu percaya orang tuamu, bukan?” timpal ibunya.

Seo-Yeon mengiyakan. Ia pun akhirnya mau untuk masuk ke kamarnya lagi. Di dalam kamar, ia mengambil ponselnya dan sekali lagi mengecek komentar di blog komunitas sekolah mengenai kematian So-Woo.

Woo-Hyuk ingin membunuhnya, tapi gagal. Mungkin kali ini ia melakukannya.

“Kenapa surat itu ditujukan kepadaku?” tanya Seo-Yeon heran.

Sang-Joong menuju SMA Jeong-Guk dan menunjukkan surat dakwaan tersebut pada kepala sekolah (Yoo Ha-Bok), yang mengaku sudah mengetahui tentang beredarnya gosip tersebut di blog komunitas mereka. Wakil kepala sekolah (Ryu Tae-Ho) yang juga berada di sana mengatakan bahwa mereka sengaja membiarkannya karena menganggap itu hanyalah cara siswa-siswa melampiaskan stress mereka terkait kematian teman mereka.

“Aku minta maaf atas syok yang diterima putrimu dari surat ini,” ujar kepala sekolah.

Tak lama pintu diketuk. Detektif Oh (Shim Yi-Young) yang hadir, atas perintah dari Sang-Joong. Ia kemudian memastikan akan membuka kembali kasus tersebut dengan adanya surat dakwaan sebagai barang bukti baru

Sang-Joong memberitahu Seo-Yeon bahwa kepolisian akan mengadakan konseling untuk murid-murid di kelas Seo-Yeon.

“Apakah itu konseling psikologi sungguhan atau engkau hanya mencoba untuk mengambil informasi dari para murid?” tanya Seo-Yeon.

“Hanya mencari detilnya,” jawab ayahnya.

“Apa ada yang salah?” tanya ibunya, “Kamu tidak suka yang terjadi sekarang setelah kamu meminta ayahmu untuk kembali bekerja? Haruskah aku memintanya untuk melupakannya?”

“Tidak,” jawab Seo-Yeon, “Aku pikir mereka akan segera memulai investigasi secara menyeluruh. Tidak ada lagi yang menerima surat itu? Apakah hanya aku?”

“Sejauh ini,” jawab Sang-Joong.

“Kenapa itu hanya dikirimkan kepadaku?” tanya Seo-Yeon penasaran.

“Mungkin karena aku detektif,” jawab ayahnya. “Berapa orang yang tahu?”

“Aku hanya mengatakan pada teman terdekatku. Tapi sehari setelah pertemuan orang tua dan guru, beredar rumor bahwa aku adalah putri polisi,” jawab Seo-Yeon.

“Ada orang yang kamu curigai? Mungkin seseorang yang tidak akur dengan Choi Woo-Hyuk?” tanya ayahnya.

“Terlalu banyak. Nama panggilan Woo-Hyuk adalah ‘tiran’. Tidak ada yang menyukainya di sekolah. Tapi kenapa? Kamu berpikir seseorang yang tidak menyukainya yang mengirimkan surat itu?”

“No comment,” jawab Sang-Joong sembari tersenyum.

Saat Sang-Joong beranjak untuk masuk ke kamarnya, Seo-Yeon memanggilnya.

“Tapi, jika surat dakwaan itu hanya dikirimkan kepadaku, tidakkah itu berarti orang itu mempercayaiku dan meminta bantuanku? Untuk mengungkap kebenaran?” tanya Seo-Yeon.

“Seo-Yeon,” balas ayahnya sembari menepuk pundak Seo-Yeon, “Itu adalah untuk orang dewasa yang menangani. Itu (pekerjaan) untuk polisi. Mengerti?”

“Aku mengerti,” jawab Seo-Yeon.

Seseorang memberikan kepada reporter Park (Heo Jung-Do) dua lembar kertas yang baru saja dikirimkan kepada mereka di News Adventure secara anonymous. Salah satunya adalah surat dakwaan yang serupa dengan yang diterima Seo-Yeon, namun terlihat sudah diselotip karena bekas disobek-sobek.

Seo-Yeon berangkat ke sekolah. Tanpa disangka, Bae Joon-Young (Seo Ji-Hoon) sudah menunggunya di balik tembok. Ia berdalih hanya kebetulan mampir saja. Mereka pun akhirnya berangkat sekolah bersama-sama.

Di sekolah, sesi konseling psikologi dimulai. Satu demi satu murid dipanggil untuk menemui detektif Oh yang bertindak sebagai konselor. Giliran Cho-Rong yang dipanggil. Saat ia hendak menuju ruang yang digunakan untuk konseling, Joo-Ri memegang tangannya.

“Kamu mengerti, kan?” tanyanya.

Cho-Rong mengiyakan.Di ruang konseling, setelah berbasa-basi dengan membahas soal toko bakery langganan Cho-Rong, dengan bersemangat Cho-Rong menceritakan tentang Joo-Ri, temannya yang ia anggap punya kemampuan jauh di atasnya.

“Ia bisa berpikir ke depan, ia sungguh bisa melihat melalui segala sesuatunya, ia juga sangat bijaksana,” puji Cho-Rong.

“Kamu pasti teman yang sangat baik baginya. Kamu berpikir sangat tinggi terhadapnya,” respon detektif Oh.

“Ia teman yang lebih baik daripadaku,” jawab Cho-Rong sembari menggeleng.

Joo-Ri mencegat Cho-Rong yang hendak kembali ke kelas dan menanyakan apa saja yang tadi dibicarakan di ruang konseling. Cho-Rong memberitahunya agar tidak perlu khawatir karena detektif yang menanyainya orangnya baik. Mendengar hal itu Joo-Ri justru makin khawatir.

“Apakah ia detektif yang menangani kasus Lee So-Woo?” tanya Joo-Ri. “Orang yang datang ke sekolah saat ia meninggal?”

“Entahlah. Aku tidak begitu bagus soal wajah,” jawab Cho-Rong sembari mengangkat bahunya.

“Apa bagusnya kamu?” sergah Joo-Ri kesal.

Detektif Oh tiba-tiba keluar dari ruang konseling. Melihat ada Joo-Ri di sana, ia pun memanggilnya untuk masuk ke dalam.

“Kamu sering memikirkan tentang Lee So-Woo?” tanya detektif Oh pada Joo-Ri.

“Ya, mungkin karena itu kecelakaan yang tak wajar,” jawab Joo-Ri. “Aku mengalami masa yang berat karena aku terus berpikir tentang itu meski aku tidak ingin. Aku merasa lega saat aku mendengar konseling psikologi akan diberikan.”

“Kecelakaan yang tidak wajar? Yang seperti apa?” tanya detektif Oh.

“Aku tidak bisa menjelaskannya dengan pasti, hanya merasa seperti itu. Aku tidak terlalu dekat dengannya, tapi ia seperti orang yang berpikir dalam bertindak dan berhati-hati. Aku dengar ia tidak meninggalkan pesan, bukan? Tidak masuk akal orang seperti So-Woo bakal melompat dari gedung tanpa memikirkan apa-apa. Benar, kan?”

“Lalu apa yang akan tampak seperti insiden alami? Ia jatuh dengan tidak sengaja? Atau.. seseorang mendorongnya?”

“Tidak yakin tentang itu. Aku belum berpikir sejauh itu. Bagaimana menurutmu, detektif?”

“Aku di sini sebagai konselor, bukan sebagai polisi,” respon detektif Oh, “Aku di sini hanya untuk mendengarkan.”

“Sungguh? Lalu kenapa kamu memutuskan untuk datang sendiri? Kita punya konselor sekolah. Konseling bukanlah tugas polisi.”

Detektif Oh terdiam. Alarm kemudian berbunyi, menandakan sesi konseling sudah berakhir. Saat Joo-Ri hendak pergi, detektif Oh menahannya dan memintanya menjawab satu pertanyaan yang terlewat.

“Ada lagi yang kamu ingat tentang So-Woo? Siapa yang dekat dengannya, atau seseorang yang pernah berkelahi dengannya?” tanya detektif Oh.

“Aku tidak tahu apa-apa,” jawab Joo-Ri, “Aku tidak begitu peduli dengan siswa lain.”

Pulang sekolah, Cho-Rong mengajak Joo-Ri mampir ke rumahnya dan makan kue bersama. Tanpa diduga mereka bertemu dengan Woo-Hyuk dkk yang sedang memalak dua orang pelajar. Cho-Rong dan Joo-Ri segera berbalik arah, namun apes, mereka melihatnya dan langsung memanggilnya. Dengan memasang tampang dingin plus tatapan tajam, Joo-Ri membalikkan badan dan menatap mereka. Cho-Rong berbisik mengajaknya pergi saja, tapi Joo-Ri tidak bergeming. Hal tersebut membuat Woo-Hyuk kesal. Ia merebut tas Joo-Ri dan membuang isinya ke tanah. Tidak itu saja, ia lantas melemparkan tas tersebut ke muka Joo-Ri hingga wajahnya tergores. Cho-Rong panik melihatnya.

“Oh, tidak! Ini mungkin meninggalkan bekas luka!” ujarnya.

“Sedikit bekas luka tidak masalah. Lagian kamu selalu terlihat kotor,” timpal Woo-Hyuk seraya meludah di hadapan Joo-Ri yang masih terus menatapnya tanpa berkedip.

Setelah mereka pergi, Joo-Ri mulai terisak menahan emosi, sementara Cho-Rong membantu memasukkan barang-barang Joo-Ri kembali ke dalam tas dengan tak kalah kesalnya. Seseorang tiba-tiba mengulurkan sapu tangan kepada Joo-Ri. Ia adalah reporter Park.

Reporter Park kemudian ikut membantu membereskan barang-barang Joo-Ri. Saat ditanya oleh Cho-Rong siapa namanya, ia memberikan kartu namanya pada mereka.

Seo-Yeon masuk ke ruang konseling sembari membawa segelas kopi untuk detektif Oh. Karena detektif Oh sedang tidak ada di sana, Seo-Yeon yang penasaran melirik ke arah catatan konseling milik detektif Oh. Di sana tertulis nama Lee Joo-Ri dan Park Cho-Rong sebagai ‘tersangka’ utama.

Sesaat kemudian detektif Oh masuk. Setelah menyerahkan gelas kopi tersebut, Seo-Yeon berpamitan keluar.

“Oh, Seo-Yeon. Kamu tidak melihat ini, bukan?” tanya detektif Oh seraya menunjuk ke arah catatannya.

“Aku tidak akan melakukannya,” jawab Seo-Yeon berbohong.

Keluar dari ruang konseling Seo-Yeon mulai kepikiran tentang Cho-Rong dan Joo-Ri. Ia pun menelpon Cho-Rong dan mengajaknya bertemu.

Tak lama Cho-Rong dan Joo-Ri menemui Seo-Yeon di sebuah cafe. Seo-Yeon beralasan hendak mengembalikan sebuah buku yang ada di meja Cho-Rong.

“Tidak, aku tidak pernah melihatnya sebelumnya,” ujar Cho-Rong.

“Sungguh, itu ada di mejamu,” balas Seo-Yeon.

Raut muka Joo-Ri mulai berubah. Ia terlihat sedang berpikir.

“Milik orang lain kalau begitu, maaf,” lanjut Seo-Yeon. “Ini pertama kali kita bertiga jalan bareng. Ayo ngobrol.”

Cho-Rong mengangguk mengiyakan. Seo-Yeon lantas menanyakan tentang kegiatan Cho-Rong di saat natal kemarin. Saat Cho-Rong bercerita dengan penuh semangat, Joo-Ri mulai gelisah.

“Joo-Ri, apa yang kamu lakukan di saat natal?” tanya Seo-Yeon.

“Kamu pikir kamu dekat denganku?” respon Joo-Ri kasar, “Kamu merasa kita cukup dekat hingga kamu bisa menginterogasiku?”

“Interogasi? Ini hanya obrolan kecil,” balas Seo-Yeon yang heran melihat perubahan sikap Joo-Ri.

“Tapi normalnya kita tidak melakukan itu,” dalih Joo-Ri, “Lalu kenapa kamu begitu penasaran tentang apa yang aku lakukan di hari natal?”

“Baiklah, aku tidak tahu itu adalah topik yang sensitif, kesalahanku,” ujar Seo-Yeon.

“Kamu adalah anak paling cerdas di sekolah, itu sebuah kesalahan?” tanya Joo-Ri tidak percaya.

“Aku minta maaf aku memanggilmu untuk berkumpul tanpa alasan,” ucap Seo-Yeon sembari bersiap untuk pergi, “Sampai bertemu di sekolah.”

“Di situlah seharusnya kamu berada,” sergah Joo-Ri. “Kamu merasa kamu begitu mengagumkan karena semua murid dan guru memujimu? Kamu bukan apa-apa di luar sekolah. Lihatlah dirimu. Kamu melarikan diri hanya karena aku mengucapkan beberapa kata!”

“Lee Joo-Ri,” balas Seo-Yeon, “Kalau ini tentang insiden…”

“Diam!” bentak Joo-Ri tiba-tiba dengan suara lantang.

Ia lantas mengajak Cho-Rong untuk pergi. Cho-Rong yang merasa tidak enak juga ikut kena damprat olehnya. Mau tidak mau ia pun mengikuti Joo-Ri. Di luar cafe, Joo-Ri segera mengeluarkan ponselnya dan berniat untuk menelpon reporter Park.

“Aku tidak tahu bagaimana ia menemukan, tapi Ko Seo-Yeon mencurigai kita,” ujar Joo-Ri. “Aku yakin ia akan mengatakan pada semua orang tentang ini. Aku harus membuat langkahku terlebih dahulu.”

Tanpa mempedulikan Cho-Rong yang berusaha mencegahnya dan memintanya untuk tenang, Joo-Ri menghubungi reporter Park dan mengatakan bahwa ia bersedia untuk diwawancara.

Reporter Park sendiri saat itu sedang berada di depan kantor CEO Choi (Choi Joon-Yong). Ia mencegat CEO Choi yang hendak masuk ke mobilnya dan meminta pendapatnya tentang anaknya yang dituduh telah membunuh Lee So-Woo. Dengan emosi CEO Choi mencengkeram kerah baju reporter Park dan mengancam akan menghancurkannya apabila ia berani muncul lagi di hadapannya. Setelah melemparkan reporter Park ke jalan, ia pun kembali masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan reporter Park. Tanpa ia sadari, dari balik semak-semak kameramen reporter Park telah diam-diam merekam kejadian tersebut.

Kepala sekolah menghubungi Han Kyung-Moon (Cho Jae-Hyun) dan memberitahunya mengenai beredarnya rumor Woo-Hyuk sebagai tersangka pembunuh So-Woo. Dengan kesal ia menginstruksikan kepsek untuk menerima permohonan interview dan nanti melaporkan hasilnya kepadanya. Usai menutup telponnya, Kyung-Moon berpikir sejenak, lantas menelpon seseorang dan mengajaknya membicarakan sesuatu.

Seo-Yeon ngobrol bareng kedua sahabatnya, Lee Yoo-Jin (Ahn Sol-Bin) dan Kim Soo-Hee (Kim So-Hee). Saat Seo-Yeon menyinggung soal kedekatan Cho-Rong dan Joo-Ri, Soo-Hee langsung merespon.

“Mereka selalu bersama. Joo-Ri berpikir ia adalah ratu lebah, dan Cho-Rong terlalu baik hingga ia menerimanya,” ujar Soo-Hee.

“Jangan seperti itu, aku merasa tidak enak juga pada Joo-Ri,” timpal Yoo-Jin.

“Ada apa dengannya?” tanya Seo-Yeon heran.

“Oh, kamu sedang tidak ada di sana. Choi Woo-Hyuk meludahi rambut Joo-Ri dan ia lari sambil menangis,” jawab Yoo-Jin.

“Dan Choi Woo-Hyuk memposting hal-hal buruk tentang Joo-Ri, hingga ia berhenti menggunakan sosmed,” tambah Soo-Hee.

“Aku tidak tahu itu begitu buruk,” respon Seo-Yeon.

“Itu karena kamu selalu belajar di kelas advanced, melihat pertanyaan ujian dan materi belajar,” ujar Soo-Hee.

Yoo-Jin menghentikan makannya dan mengaku jadi hilang selera karena membicarakan masalah itu. Ia memilih untuk refreshing dengan melihat foto-foto Ji-Hoon di ponselnya.

Reporter Park bersama kameramennya datang menemui kepala sekolah yang ditemani oleh wakilnya dan juga bu dekan (Oh Yoon-Hong). Pak kepsek mempersilahkan reporter Park untuk mewawancarai siapa saja yang ia mau, merekam kegiatan di sekolah, bahkan melihat catatan atau dokumen apa pun yang dimiliki oleh sekolah.

“Itu terdengar seolah kamu sudah bersiap untuk hari ini,” sindir reporter Park.

Pak kepsek tidak menjawabnya.

“Kalau begitu,” lanjut reporter Park, “Bisakah aku mewawancaraimu, pak kepsek?”

“Ya, bisa saja, tapi aku sudah mengatakan semua yang aku tahu,” jawab pak kepsek sembari tertawa, “Itu mungkin tidak akan terlalu membantu.”

“Oh aku yakin itu bakal membantu,” balas reporter Park, “Aku punya pertanyaan penting untuk ditanyakan kepadamu.”

Kameramen mulai menyalakan kameranya untuk merekam.

“Kenapa kamu merobek dan membuang surat tuduhan?” tanya reporter Park. “Itu yang ingin aku tanyakan padamu.”

Pak kepsek terkejut mendengarnya.

“Apa yang kamu maksud ia merobek dan membuang surat tuduhan?” tanya bu dekan heran.

“Oh kamu tidak tahu?” respon reporter Park. “Surat tuduhan atau dakwaan ini tidak datang begitu saja padaku. Pertama, ini menuju ke pak kepsek di sini, tapi ia membuangnya. Lalu seseorang menemukannya dan memberikannya padaku. Surat ini menjelaskan apa yang terjadi secara detil.”

Pak Wakasek dan bu dekan membaca surat yang dimaksud reporter Park. Pak kepsek yang terlihat kebingungan merebutnya dan ikut membacanya.

“Apa ini… Bagaimana ini…” gumamnya bingung.

“Seorang pelajar membunuh teman sekelasnya, sekolah membungkam akun saksi mata, dan polisi mengubur kasusnya. Tidakkah ini harmoni yang terlalu sempurna?” tanya reporter Park tanpa basa-basi. “Terima kasih kepadamu, ini jadi menyenangkan bagiku.”

“Ini kebohongan total! Aku tidak pernah menerima surat itu!” respon kepsek.

“Wow, kamu sungguh bisa diprediksi,” balas reporter Park, “Tidak ada alasan lain yang bisa diberikan? Kalau kamu mabuk atau kamu sedang sakit?”

“Aku tidak pernah menerimanya, tidak ada alasan untuk diberikan!” bantah pak kepsek.

Han Ji-Hoon (Jang Dong-Yoon) berdiri termenung di salah satu sudut halaman sekolah di tengah derasnya hujan. Di tempat lain, di dalam gedung sekolah, Seo-Yeon menatap nanar ke arah halaman. Ia kemudian membuka ponselnya dan mengecek akun sosmed Jeong-Guk Watchman, yang belakangan ini tidak aktif. Seo-Yeon membuka kembali bagian percakapan dengan Jeong-Guk Watchman, dan terlihat bahwa selama ini ia sering berkomunikasi dengannya hingga akhirnya Jeong-Guk Watchman tidak lagi membalas pesan-pesan Seo-Yeon. Setelah terdiam sejenak, Seo-Yeon lantas sekali lagi mengirim pesan pada orang tersebut.

Di luar sekolah, ponsel Ji-Hoon tiba-tiba berbunyi. Sebuah pesan masuk berasal dari Seo-Yeon.

Kenapa Lee So-Woo meninggal?

Dengan sedikit menahan tangis, Ji-Hoon, yang ternyata adalah sosok di balik akun Jeong-Guk Watchman, memasukkan kembali ponselnya ke saku bajunya.

“Itu juga yang ingin aku ketahui,” jawabnya dalam hati.

Tiba di rumah, Kyung-Moon, ayah Ji-Hoon, mengajak Ji-Hoon untuk berjalan-jalan di luar. Ji-Hoon memberitahunya bahwa sekarang sedang hujan deras. Kyung-Moon kemudian mengajaknya untuk makan di luar bersamanya sebagai gantinya. Ji-Hoon kembali menolak, kali ini dengan dalih sudah makan bersama temannya.

Di dalam kamar, Ji-Hoon segera menghidupkan layar televisi. Ia ternyata memang hendak menyimak acara investigasi News Adventure yang dibawakan oleh reporter Park.

Tidak hanya ia saja yang menonton acara tersebut. Seo-Yeon dan keluarganya pun melakukan hal yang sama. Kedua orang tuanya terus melirik ke arah Seo-Yeon, khawatir apa yang dibahas oleh reporter Park bakal mempengaruhi Seo-Yeon. Sementara itu, di sebuah tempat bermain bilyard, Woo-Hyuk yang melihatnya tiba-tiba pergi meninggalkan tempat tersebut dengan kesal begitu mendengar dirinyalah yang kini menjadi tersangka atas kematian Lee So-Woo.

Di rumahnya, Joo-Ri menyimak streaming acara tersebut di ponsenya dengan gembira. Sebagai penulis surat dakwaan, ia dengan gamblang mengikuti pembacaan isi surat dakwaan yang sedang dilakukan oleh reporter Park. Ia menutupnya dengan tertawa puas. Sesaat kemudian tawanya terhenti karena ada telpon masuk dari Cho-Rong yang mengajaknya bertemu. Di saat yang hampir bersamaan, Seo-Yeon mencoba menghubungi Cho-Rong, namun telponnya tidak diangkat. Ia pun lantas mengirimkan pesan dan meminta agar Cho-Rong nanti menghubunginya.

Bertemu Joo-Ri, Cho-Rong sambil menangis menanyakan apakah Joo-Ri benar-benar melihat kejadian tersebut seperti yang diceritakan kepadanya. Dengan kesal Joo-Ri mengiyakan. Cho-Rong lalu mengajak Joo-Ri untuk pergi ke kantor polisi dan terang-terangan menceritakan saja semuanya pada pihak kepolisian.

“Ayo pergi ke polisi dan ceritakan semua. Fakta bahwa kita menulis surat tersebut. Mari ceritakan pada mereka dan bersaksi dengan bangga,” pinta Cho-Rong.

“Kenapa baru di saat ini?” tanya Joo-Ri.

“Kamu melihatnya di TV barusan, bukan? Lihat apa yang terjadi karena surat yang sudah kita tulis! Itu semua ada di internet. Dan ibuku mengatakan kepala sekolah dan detektif mungkin bakal dipecat. Itu tidak baik!” jelas Cho-Rong.

“Bicaralah dengan jelas!” bentak Joo-Ri, “Itu bukan karena kita, tapi karena Choi Woo-Hyuk membunuh So-Woo! Jika mereka memang melakukan kesalahan, mereka seharusnya dipecat. Mengapa sekedar saksi belaka harus bertanggungjawab?”

“Tidak, kamu salah kali ini. Kita bertingkah seperti pengecut di balik rasa takut. Sekarang sudah ada korban karena tindakan kita. Jadi setidaknya sekarang mari kita pergi ke kantor polisi. Mari ceritakan pada mereka apa yang terjadi.”

“Oke, katakanlah kita pergi ke polisi dan bersaksi. Tidak, bukan itu. Kita menulis surat bersama tapi hanya aku yang melihat kejadian tersebut. Lalu apa selanjutnya? Kamu pikir Choi Woo-Hyuk akan membiarkan pergi setelah mengetahui hal itu? Ia akan langsung membunuhnya, sama seperti bagaimana ia membunuh Lee So-Woo!”

Cho-Rong tetap meminta Joo-Ri untuk pergi ke kantor polisi dan memastikan polisi akan melindunginya.

“Dunia macam apa yang kamu pikir kamu tinggali sekarang?” sergah Joo-Ri. “Kamu pikir dunia ini tempat yang indah karena aku baik padamu meski kamu bodoh dan gendut? Kamu pikir semuanya polos dan baik? Dengar baik-baik, Park Cho-Rong. Tahukah kamu bagaimana orang-orang menertawakanmu? Semua anak laki-laki menertawakanmu saat kamu berlari. Mereka melihat perutmu naik turun dan memanggilmu ‘pegulat’. Mantel pink yang kamu suka itu, mereka memanggilmu ‘babi merah muda’ setiap kali kamu memakainya. Seperti itulah manusia. Mereka tersenyum tapi sepenuhnya hipokrit. Mereka suka untuk menginjak, menindas, dan membenci siapapun yang kurang dari mereka! Kamu pikir kamu bisa melindungiku di dunia seperti ini? Siapa kamu pikir dirimu?”

“Aku temanmu, itu sebabnya,” jawab Cho-Rong yang sudah mulai meneteskan air mata.

“Kamu tahu sesuatu? Aku tidak pernah menganggap idiot sepertimu sebagai temanku. Bahkan jika kamu mati di depan mataku sekarang, aku tidak akan meneteskan air mata.”

Cho-Rong tidak tahan lagi mendengarnya. Setelah mendorong Joo-Ri hingga terjatuh, ia berlari meninggalkannya sembari menangis. Joo-Ri lantas mengejarnya. Malang bagi Cho-Rong, saat melintas di jalan, tiba-tiba sebuah truk pengangkut sampah menabraknya hingga ia terpental dan tak sadarkan diri. Sementara petugas sampah menghubungi ambulans, Joo-Ri yang kaget melihatnya dari kejauhan akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.

Hari berlalu. Di lorong sekolah, saat Woo-Hyuk dan Sung-Min melintas, diam-diam sebagian siswa yang ada di sana memotret dan merekam Woo-Hyuk. Begitu mengetahuinya, Woo-Hyuk marah dan menanyakan siapa yang tadi memotretnya. Tidak ada satu pun yang mengaku. Sung-Min kemudian mengajak Woo-Hyuk untuk pergi saja dari sana.

Sementara itu, pihak sekolah dan kepolisian mengadakan pertemuan dengan orang tua murid. Para orang tua marah karena pihak sekolah terlihat melindungi Woo-Hyuk dan tidak menyerahkannya pada pihak berwajib.

“Yang kami lakukan hanyalah melindungi para murid,” pak wakasek coba menjelaskan, “Tidak ada hubungan spesial antara murid dengan sekolah.”

“Bagaimana bisa kami percaya pada pihak sekolah? Kepala sekolah sendiri bahkan membuang surat dari saksi mata!” balas seorang wali murid.

Karena keadaan semakin memanas, Sang-Joong dan detektif Oh mengambil alih dan mencoba menjelaskan bahwa sebenarnya surat yang sama sudah mereka terima sebelumnya dan diam-diam penyelidikan sedang dilakukan sebelum acara semalam tayang. Detektif Oh bahkan menunjukkan bukti forensik bahwa tidak ada tanda-tanda So-Woo mengalami tindak kekerasan di tubuhnya. Namun demikian, para orang tua yang sudah terlanjur emosi tetap saja marah dan meneriaki mereka.

Yoo-Jin dan Soo-Hee memberitahu Seo-Yeon bahwa Cho-Rong semalam tertabrak mobil dan kini berada dalam kondisi koma.

“Itu terjadi di saat ia pergi menemui Joo-Ri,” tambah Yoo-Jin, “Apa yang bakal terjadi pada Cho-Rong?”

Seo-Yeon menemui Joo-Ri yang sedang berada di ruang UKS.

“Katakan dengan jujur. Itu kamu, bukan?” tanya Seo-Yeon.

“Tidakkah kamu lihat aku sedang beristirahat? Keluarlah!” respon Joo-Ri.

“Kamu menulis surat itu!” balas Seo-Yeon.

“Bukan aku, itu Cho-Rong!” jawab Joo-Ri. “Ia menulisnya dan mengirimkannya. Sendirian. Aku tidak punya urusan dengan itu. Jadi tinggalkan aku sendiri.”

“Kamu tidak berpikir itu membuatmu seperti pengecut dengan menyalahkan pada temanmu yang sedang koma?”

“Bagaimana denganmu? Kamu tidak berpikir itu membuatmu seperti pengecut dengan baru tertarik sekarang setelah acara ditayangkan? Kenapa kamu tidak maju sebelumnya? Tahukah kamu betapa takutnya Cho-Rong saat kamu menghiraukan surat itu?”

“Apa maksudmu?” tanya Seo-Yeon yang mulai percaya omongan Joo-Ri.

“Sekolah, polisi, tidak ada yang berada di pihaknya. Bahkan teman yang ia percaya bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Bagai hipokrit. Ia pastinya sangat ketakutan. Itu sebabnya ia bahkan melompat di depan mobil.”

“Jangan berbohong,” respon Seo-Yeon dengan gemetar.

“Kamu seorang hipokrit. Itu yang dikatakan Cho-Rong. Ia memanggilmu hipokrit,” ujar Joo-Ri yang lantas tertawa terbahak-bahak.

Dengan tidak menghiraukan adanya dua orang siswi yang menguping dari balik pintu UKS, Seo-Yeon terus melangkahkan kakinya ke luar sekolah. Ia sempat berpapasan dengan Joon-Young.

“Jangan ikuti aku,” pinta Seo-Yeon tanpa basa-basi.

Hal tersebut membuat Joon-Young malah mengikuti Seo-Yeon dari belakang. Seo-Yeon-nya sendiri terus berjalan dengan pikiran bercampur aduk membayangkan semua yang telah terjadi, termasuk bayangan bahwa Joo-Ri lah yang telah sengaja mendorong Cho-Rong hingga tertabrak mobil.

Di tempat yang jauh dari gedung sekolah, Seo-Yeon jatuh terduduk sambil menangis.

“Ko Seo-Yeon, apa yang terjadi?” tanya Joon-Young khawatir.

“Aku bilan gpadamu untuk tidak mengikuti, pergilah,” balas Seo-Yeon, “Tinggalkan aku sendiri. Atau tutupi aku.”

Dan Joon-Young melakukan permintaan Seo-Yeon yang terakhir. Ia melepas mantelnya, lantas menutupi tubuh Seo-Yeon yang terus menangis agar tidak terlihat oleh orang yang lalu lalang di sana.

Beberapa saat kemudian, ponsel hampir semua murid SMA Jeong-Guk berbunyi. Muncul status baru dari akun Jeong-Guk Watchman yang sudah lama tidak aktif.

Kertas biru yang tertutupi debu masih tetap berwarna biru. Sebanyak apapun debu tidak akan bisa merubah warnanya.

Status tersebut langsung menjadi perbincangan di kalangan para murid. Dengan asal, Choi Seung-Hyun (Ahn Seung-Kyoon) menebak bahwa itu ada kaitannya dengan Jeong-Guk Watchman yang sedang jatuh cinta. Yoo-Jin percaya dengan pendapat Seung-Hyun karena terdengar meyakinkan. Kim Min-Suk (Woo Ki-Hoon) tiba-tiba menimpali dan memberitahu mereka bahwa kalimat pada status Watchman adalah bagian terakhir dari puisi karangan Gi Hyeong-do.

Yoo-Jin kemudian mempertanyakan pada Soo-Hee kenapa Seo-Yeon masih belum juga kembali dari UKS. Joon-Young kebetulan baru saja masuk memberitahunya bahwa Seo-Yeon sudah pulang karena tidak enak badan.

Khawatir dengan kondisi Seo-Yeon, kedua sahabatnya mendatanginya di rumah sepulang sekolah. Tahu bahwa Seo-Yeon tidak apa-apa, mereka bertiga lantas mengobrol masalah Watchman. Sebagian besar percaya bahwa sosok Watchman adalah penyelamat di akhir jaman, sedang sebagian lainnya menduga ia hanyalah pelajar biasa seperti mereka.

“Tapi meski kita tidak tahu apapun tentangnya, tidakkah kamu merasa berterima kasih padanya?” ujar Seo-Yeon dengan wajah berseri-seri, “Fakta bahwa ada seseorang sepertinya di sekolah…”

“Cieeeee,” respon Yoo-Jin dan Soo-Hee kompak.

“Kenapa? Ada apa?” tanya Seo-Yeon heran.

“Kamu sedang jatuh cinta pada Jeong-Guk Watchman!” jawab Soo-Hee.

“Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak tahu orangnya,” bantah Seo-Yeon.

“Tidak, matamu mengatakan segalanya. Ini seperti kamu sedang berada di film romantis,” balas Yoo-Jin.

Kepala stasiun JTBS tempat reporter Park bekerja memanggilnya dan mempertemukannya dengan Kyung-Moon. Ia meminta agar reporter Park membongkar siapa orang yang memberitahunya mengenai surat dakwaan. Reporter Park menolak melakukan hal itu.

“Aku sungguh memandang rendah orang yang mencoba untuk mencampuri investigasiku dengan pergi ke (pihak di) atasku,” ujar reporter Park tenang. “Tipe orang yang memperlakukan jurnalisme seperti obrolan di grup.”

Tanpa mempedulikan atasannya, reporter Park berpamitan keluar ruangan.

“Kamu mungkin akan mendapat masalah,” ujar Kyung-Moon dengan tersenyum.

Reporter Park menghentikan langkahnya lalu menatap tajam ke arah Kyung-Moon tanpa berkata apa-apa.

Seseorang diam-diam masuk menemui Cho-Rong yang berada dalam keadaan koma. Ternyata Joo-Ri yang datang, meminta maaf sembari menangis di sampingnya.

“Aku minta maaf, Cho-Rong, tapi bisakah kamu tidak usah bangun lagi?” ujarnya, “Tetaplah seperti ini dan tanggung bebannya. Kamu harus mati agar aku tetap hidup. Maukah kamu membiarkan aku hidup? Selamatkan aku, Cho-Rong!”

Joo-Ri hendak pulang dari sekolah saat segerombolan siswi mencegatnya. Mendapat info dari dua orang yang menguping di UKS, mereka yakin bukan Cho-Rong yang menulis surat tersebut, melainkan Joo-Ri. Mereka pun menuduh Joo-Ri melakukan sesuatu terhadap Cho-Rong hingga Cho-Rong koma seperti sekarang. Karena Joo-Ri hanya diam saja, mereka lantas mengerumuninya dan mendorongnya hingga terjatuh, lalu meneriakinya meminta jawaban apa yang sebenarnya terjadi pada Cho-Rong. Entah kenapa, Joo-Ri tiba-tiba tersedak dan terlihat kehabisan nafas sambil memegangi tenggorokannya. Seo-Yeon yang kebetulan tiba di sana segera menghampirinya.

Bu dekan memberitahu kelas 2-1 bahwa wali kelas mereka sedang sakit dan untuk sementara ia yang akan menggantikannya.

“Wali kelas kita sakit?” tanya Yoo-Jin heran.

“Lihatlah kelas ini,” respon Seung-Hyun, “Bakalan aneh kalau dia merasa normal.”

Bu dekan kemudian meminta mereka untuk tetap berkonsentrasi pada pelajaran karena sebentar lagi mereka akan menjadi senior (kelas tiga). Sebelum ia pergi, Seo-Yeon menanyakan kondisi Joo-Ri, yang dijawab bahwa Joo-Ri akan tidak masuk beberapa hari karena sakit.

Saat istirahat, Joon-Young mengajak Seo-Yeon untuk minum minuman bersamanya.

“Lupakan sepenuhnya bahwa aku menangis di depanmu, itu tidak pernah terjadi. Oke?” pinta Seo-Yeon.

“Kenapa?” tanya Joon-Young.

“Apa maksudmu ‘kenapa’? Kamu harus menerima permintaan dari orang itu sendiri!” balas Seo-Yeon.

“Kamu orang yang menerima surat dakwaan itu, bukan?” tanya Joon-Young tiba-tiba. “Jangan khawatir, aku tidak akan mengatakan pada siapapun.”

“Bagaimana kamu mengetahuinya?” tanya Seo-Yeon.

“Hari dimana kamu menangis, aku rasa itu sungguh janggal. Lalu ayahku memberitahuku setelah pertemuan guru dan orang tua murid, bahwa ada pelajar lain yang menerima surat tersebut. Aku langsung tahu. ‘Itu pasti Ko Seo-Yeon. Pasti itu sebabnya ia mengalami masa yang berat…'”

“Aku tidak pernah mengalami masa yang berat,” potong Seo-Yeon. “Apakah aku terlihat selemah itu?”

“Bukan itu,” jawab Joon-Young sembari tersenyum, “Hanya.. Aku hanya merasa sepertinya aku mengerti. Kamu tidak melakukan hal yang salah. Kamu hanya berusaha bertahan. Tapi perasaan seperti semua yang ada di sekitarmu runtuh dan kamu merasa sesak bernafas, aku pikir kamu mungkin merasa seperti itu.”

“Apakah itu berarti kita sungguh tidak bersalah?” tanya Seo-Yeon.

Joon-Young tidak menjawabnya.

Reporter Park menemui Seo-Yeon yang sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Ia mengajaknya ngobrol berdua di taman. Karena Seo-Yeon memintanya untuk langsung berbicara to-the-point, reporter Park memberitahunya bahwa ia akan melakukan investigasi lanjutan.

“Kamu tahu apa yang sudah terjadi sudah penayangan itu?” tanya Seo-Yeon.

“Tentu saja aku tahu. Satu pelajar yang menulis surat tuduhan tersebut kini koma, dan yang satunya tidak bisa berbicara lagi karena trauma,” jawab reporter Park santai.

“Kamu tidak merasa bersalah sama sekali?”

“Itu menyedihkan, tapi kenapa aku harus merasa bersalah? Kamu berpikir aku menyebabkan semua ini?”

“Kamu bertanggung jawab. Lihat apa yang terjadi pada Cho-Rong karena tayangan itu.”

“Bagaimana bisa?” potong reporter Park, “Katakan padaku apa yang mendasari tuduhanmu itu. Apa yang dikatakan oleh anak-anak lain, bukan? Cho-Rong melompat di depan mobil karena ia takut setelah melihat tayangan TV. Atau Lee Joo-Ri mendorongnya? Ayah Choi Woo-Hyuk menyewa seseorang untuk membunuhnya. Tapi, kamu tidak seharusnya percaya pada rumor. Kamu bisa melewatkan semua faktor penting dari kenyataan apabila seperti itu.”

“Apa faktor penting dari kenyataan?” tanya Seo-Yeon.

“‘Kenapa Lee So-Woo meninggal?’ Itu yang aku katakan selama tayangan 60 menit di TV. Tapi lihat anak-anak di sekolahmu sekarang. Mereka tidak peduli tentang kenapa So-Woo meninggal. Mereka hanya peduli dengan siapa yang meninggal surat atau apakah Woo-Hyuk melakukan balas dendam. Apakah kamu pikir kamu punya hak untuk mengataiku bertanggung jawab, sementara aku hanya mencoba menemukan kebenaran?”

Seo-Yeon terdiam sejenak, lantas beranjak dari kursi taman untuk berpamitan pulang.

“Jeong-Guk Watchman! Ia adalah fokus utama dari investigasi lanjutan. Itu cerita yang menarik. Di SMA ini, yang penuh dengan anak orang kaya, ada karakter sosmed tidak dikenal yang mengekspos hipokritisme dan kesombongan, sembari melindungi keadilan,” ujar reporter Park.

“Itu tidak menarik sama sekali,” bantah Seo-Yeon, “Jangan ambil ketertarikan padanya dan jangan menginvestigasinya.”

“Seo-Yeon, kenapa kamu menjadi begitu emosional? Aku ada di pihakmu.”

“Kamu tidak pernah berada di pihak kami.”

“Lalu, kamu pikir polisi atau pihak sekolah yang berada di pihakmu?”

“Tidak. Pihak sekolah, polisi, dan media, mereka semua melakukan segala sesuatu untuk kepentingan mereka sendiri. Upacara peringatan, konseling, interview, tidak ada satupun yang ditujukan bagi kami.”

“Tentu saja! Seperti itulah manusia. Melakukan apa yang menguntungkan bagi mereka.”

“Lalu kenapa, kenapa kami diminta untuk tetap diam?”

“Karena itu yang menguntungkan bagimu. Junior di SMA. Tidakkah itu masa dimana kamu membutuhkan perlindungan dan pertolongan orang dewasa? Apa yang bisa kamu lakukan tanpa bantuan orang dewasa?”

“Di kelasku, sekarang ada empat meja kosong,” jawab Seo-Yeon, “Itukah perlindungan dan pertolongan orang dewasa? Kalau begitu aku tidak akan menerimanya. Aku tidak membutuhkannya.”

“Aku tahu. Aku merasa seperti aku tahu segalanya dan bisa melakukan segalanya saat aku ada di usiamu. Tapi itu kesalahan sempurna untuk dibuat di usiamu. Ya, seperti yang kamu bilang, sekolah, polisi, media, mereka semua melakukan apa yang menguntungkan mereka. Seperti itulah segala kebohongan, kesalahpahaman, spekulasi, semua hal kotor menumpuk di atas kebenaran, seperti debu. Aku mengerti itu membuat frustrasi untuk saat ini. Tapi itu tidak berarti kamu bisa mengesampingkan orang dewasa seolah mereka semuanya idiot. Semua yang kamu tahu adalah belajar, membicarakan orang di belakang, menekan tombol ‘like’. Tidakkah itu semua yang kamu tahu?”

“Kenapa.. kenapa kamu berpikir bahwa itu semua yang kami tahu? Kami bisa melakukan hal yang sama. Kami bisa melakukan apa yang kamu lakukan, apa yang orang dewasa lakukan.”

“Seperti apa?”

“Kamu bilang kamu hanya mencoba untuk mencari kebenaran, bukan? Kami bisa melakukannya. Alasan Lee So-Woo meninggal, kami bisa menemukannya!” tegas Seo-Yeon.

Preview Episode 3

Berikut adalah video preview episode 3 dari drakor Solomon’s Perjury:

=== belum tersedia ===

» Sinopsis Episode 3 selengkapnya

Reply