Sinopsis Solomon’s Perjury Episode 1 & Preview Episode 2 (16 Desember 2016)

Gara-gara gak terlalu demen dengan serial drakor “My Wife’s Having an Affair This Week” saya sampai gak ngeh kalau minggu kemarin drama korea tersebut sudah tamat dan penggantinya minggu ini keren bingits. Judulnya “Solomon’s Perjury”, yang merupakan adaptasi dari novel Jepang “Solomon no Gisho” karangan Miyuki Miyabe. Sebelumnya, novel tersebut juga sudah diadaptasi ke dalam film layar lebar dalam dua jilid, yaitu “Solomon’s Perjury 1: Suspicion” (Solomon no Gisho Zenpen Jiken) dan “Solomon’s Perjury 2: Judgment” (Solomon no Gisho Kohen Saiban). Cerita utamanya adalah tentang seorang siswa SMP yang diketemukan tewas di sekolah. Polisi dan pihak sekolah menganggapnya sebagai kasus bunuh diri, padahal yang terjadi sebenarnya bukanlah seperti itu. Penasaran, kan? Yuk, simak sinopsis drama korea Solromonui Wijeung episode 1 berikut ini.

Dok. gambar dan video © JTBC of Korea Selatan

Sinopsis Episode 1

Suatu sidang sedang berlangsung di sebuah sekolah. Penuntut, Ko Seo-Yeon (Kim Hyun-Soo), membacakan dakwaannya terhadap Choi Woo-Hyuk (Back Cheol-Min) atas kejahatan pembunuhan terhadap Lee So-Woo (Seo Young-Joo). Pembela tersangka, Han Ji-Hoon (Jang Dong-Yoon), maju dan mengajukan keberatan dengan dalih penuntut sedang berkhayal.

“Surat dakwaan didasarkan pada kesaksian saksi dari adegan pembunuhan!” tegas Seo-Yeon.

“Terdakwa tidak menyembunyikan rasa dendamnya terhadap Lee So-Woo, jelas tidak cukup untuk menuntutnya,” balas Ji-Hoon.

“Pada malam itu, apa kau bisa membuktikan alibi terdakwa?” tanya Seo-Yeon pada teman-teman terdakwa.

“Keberatan!” sergah pembela.

Jaksa penuntut tidak menghiraukan dan lanjut bertanya pada Kim Dong-Hyun (Hak Jin), salah satu dari teman terdakwa, “25 desember, tengah malam, dimana dan apa yang dia lakukan? Siapa saksinya? Apa ada rekaman untuk membuktikannya? Silahkan jelaskan pada kami sesuai yang kau ingat.”

Dong-Hyun terdiam sejenak lalu menjawab dengan lantang, “Saya tidak tahu. Alibi palsu! Mereka menyuruhku untuk mengatakan kalau aku bersamanya. Mereka menyuruhku tutup mulut dan melakukan apa yang mereka katakan!”

Semua yang ada di sana menjadi heboh dan saling berbisik-bisik. Sesosok gadis berbaju dan topi hitam, Lee Joo-Ri (Shin Se-Hwui), dari belakang kerumunan menyaksikan persidangan tersebut. Keadaan menjadi makin rusuh saat salah seorang siswa tidak terima dengan tuduhan tersebut dan maju untuk menghajar Dong-Hyun. Teman-temannya yang lain mencegahnya, sementara Dong-Hyun sendiri pergi meninggalkan ruangan dan Seo-Yeon hanya bisa terdiam terpaku melihat kejadian tersebut.

Dua bulan sebelumnya. Ruang kelas hening karena masing-masing sibuk mengerjakan tugas, termasuk Seo-Yeon. Karena tangannya terasa pegal, ia pun mengambil perban dan membalut sendiri tangannya. So-Woo yang duduk tidak jauh di belakangnya tertawa melihatnya, lantas pergi meninggalkan ruang kelas begitu saja.

Saat jam istirahat, tiba-tiba terdengar suara kaca pecah. Seo-Yeon yang sedang merenggangkan badannya segera menuju sumber suara tersebut, bersama dengan murid-murid yang lain. Tanpa diduga, penyebabnya adalah So-Woo yang sedang berkelahi melawan Woo-Hyuk di ruang laboratorium sains. Woo-Hyuk terus menerus memukulinya, bahkan sempat mencekiknya. So-Woo yang tak berdaya menatap ke arah Seo-Yeon, yang menonton dari balik kaca yang pecah tanpa berbuat apa-apa. Untunglah sesaat kemudian dua orang guru datang dan memisahkan mereka berdua.

Wakil kepala sekolah (Ryu Tae-Ho) mempertemukan So-Woo dengan Han Kyung-Moon (Cho Jae-Hyun), kepala LBH Yayasan Jeong-Guk.

“So-Woo, kenapa kau melakukan itu? Bukan dengan siswa lainnya, tapi dengan Choi Woo-Hyuk,” ujar Kyung-Moon. “Kau berakal sehat, kan? Kejadian ini cukup serius.”

So-Woo hanya diam membisu.

Kyung-Moon melanjutkan kata-katanya, “Ayah Woo-Hyuk kepala Komite Pencegahan Kekerasan Sekolah di SMA Jeong-Guk. Ketika penyelidikan dimulai, dia akan melakukan segala upaya agar kau mendapat hukuman maksimal. Maka dari itu akan sulit bagiku membantumu.”

“Ahjussi, aku mengerti maksudmu,” respon So-Woo, yang sepertinya kenal dengan Kyung-Moon. “Apa yang ada dalam pikiran ahjussi, aku bisa mengerti semuanya.”

“Kalau mengerti, sudahilah, jangan bertindak lebih jauh. Bukan hanya kau yang terluka, pikirkanlah orang tuamu,” balas Kyung-Moon.

Kyung-Moon lantas menawarkan agar So-Woo berpindah sekolah dan melupakan segala permasalahan yang terjadi dengan Woo-Hyuk.

“Ahjussi, kau boleh menghapus semua file dalam komputer, dan kau boleh menghapus apa yang tertulis dalam laptop, tapi bagaimana bisa kau menghapus kenangan dalam pikiran seseorang? Apa menurutmu itu akan berakhir hanya dengan aku meninggalkan sekolah ini?” respon So-Woo, seraya beranjak pergi.

“Apa Ji-Hoon juga tahu?” tanya Kyung-Moon.

So-Woo menghentikan langkahnya, namun kembali berjalan tanpa menjawab pertanyaan Kyung-Moon.

Lee Yoo-Jin (Ahn Sol-Bin) menanyakan pada Seo-Yeon apakah benar So-Woo yang kurus dan pendiam yang ada di kelas mereka yang berkelahi dengan Woo-Hyuk. Seo-Yeon mengangguk mengiyakan. Teman mereka yang satu lagi, Kim Soo-Hee (Kim So-Hee), meyakini riwayat So-Woo sudah tamat, karena sudah pernah ada kasus serupa tahun lalu dan yang dipukuli oleh Woo-Hyuk justru dianggap sebagai penyerang dan dikeluarkan dari sekolah. Tidak itu saja, yang menjadi saksi juga bakal mendapat mimpi buruk selama berada di sekolah. Diam-diam Joo-Ri yang duduk di belakang mereka menguping pembicaraan tersebut dengan wajah gelisah.

Sesaat kemudian Guru Kim (Shin Eun-Jung) masuk ke kelas. Ia menanyakan apakah ada yang berada di lorong depan laboratorium sains kemarin karena akan diminta untuk menjadi saksi kasus So-Woo. Tidak ada satu pun yang berani mengangkat tangan, termasuk Seo-Yeon. Dengan pasrah, guru Kim lalu meminta Seo-Yeon selaku ketua kelas untuk datang ke ruang guru dan mengambil PR.

“Seo-Yeon, kau benar-benar tidak melihatnya?” tanya guru Kim saat Seo-Yeon datang mengambil PR. “Perkelahian antara So-Woo dan Woo-Hyuk?”

Seo-Yeon terdiam, bimbang untuk menjawabnya.

“Aku tidak bermaksud menekanmu,” lanjut guru Kim, “hanya saja tak ada seorang pun yang memberikan kesaksian.”

“Tidak, aku tidak melihatnya,” jawab Seo-Yeon.

“Baiklah, pergilah,” ujar guru Kim.

Saat hendak meninggalkan ruang guru, Seo-Yeon berpapasan dengan So-Woo. Ia terdiam menatap wajah So-Woo.

“Kau juga sama,” ujar So-Woo tanpa ekspresi saat Seo-Yeon hendak melewatinya.

Seo-Yeon kembali terpaku dengan perasaan bersalah.

Pembahasan mengenai So-Woo kembali berlanjut di dunia maya. Murid-murid sibuk menggosipkan nasib So-Woo selanjutnya. Setelah membacanya, Seo-Yeon akhirnya memutuskan untuk membuat surat pernyataan saksi.

Hari demi hari berlalu. Tanpa diduga, sidang komite kekerasan sekolah dimajukan dalam waktu tiga hari, tidak dua atau tiga minggu seperti seharusnya.

Pada saat sidang komite berlangsung — yang seperti sudah bisa ditebak bahwa So-Woo diposisikan sebagai penyerang — So-Woo yang seharusnya datang ke ruang sidang memilih untuk mengambil barang-barangnya yang ada di loker kelas dan pergi meninggalkan sekolah. Di halaman ia sempat berhenti dan menoleh ke arah orang-orang yang melihatnya dari balik jendela sekolah. Entah ditujukan pada siapa, ia lantas mengacungkan dua jari tengahya ke arah mereka, sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan sekolah.

Dua minggu kemudian, tepatnya pada tanggal 26 Desember, Seo-Yeon berangkat menuju sekolah dengan hati riang menikmati salju yang sudah mulai turun. Sementara itu, di tempat lain, Bae Joon-Young (Seo Ji-Hoon) terdiam membisu di kamarnya mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya. Dari perkataan mereka, ibunya sepertinya menyalahkan Joon-Young atas kondisinya saat ini. Tidak tahan lagi, sejenak kemudian Joon-Young memutuskan untuk berangkat ke sekolah.

Sesampainya di sekolah dan memarkir sepedanya, Joon-Young melihat ada seorang siswa yang sepertinya sedang menangis (Ji-Hoon?). Namun begitu menyadari keberadaan Joon-Young, ia pun pergi begitu saja. Joon-Young tidak terlalu memikirkannya dan melangkah menuju gedung sekolah. Saat melewati taman, ia melihat ada sesuatu yang tertutup salju. Penasaran, ia mendekatinya dan sedikit menyibaknya. Ternyata itu adalah tangan manusia!

Perlahan Joon-Young kembali mendekati tumpukan salju tersebut dan menyapu sedikit demi sedikit salju yang ada dengan tangannya. Ia langsung syok begitu mendapati wajah manusia di balik salju tersebut dan itu adalah wajah So-Woo. Dan di saat yang sama, Seo-Yeon tiba di sana.

Petugas medis dan juga kepolisian datang untuk melakukan evakuasi serta penyelidikan. Pun begitu dengan pihak sekolah. Pihak kepolisian yang diwakili oleh detektif Oh (Shim Yi-Young) dan rekannya langsung mengecek atap gedung sekolah yang diduga sebagai titik awal jatuhnya korban. Sementara itu, para guru sibuk menerima telpon, baik dari media maupun orang tua murid, untuk merespon kejadian tersebut.

Di ujung ruang guru, kepala sekolah (Yoo Ha-Bok) melampiaskan kekesalannya pada penjaga sekolah karena membiarkan semua itu bisa terjadi. Ia pun meminta penjaga sekolah untuk bertanggungjawab dengan cara mengundurkan diri dari pekerjaannya, namun penjaga sekolah meminta agar pak kepsek tidak melakukan itu karena akan sulit baginya untuk mencari pekerjaan lain dengan kondisinya yang sekarang ini. Pak kepsek tidak peduli dan keukeuh menuntut penjaga sekolah untuk membereskan mejanya.

Tidak tahan lagi, guru Kim mencoba membela penjaga sekolah dan meminta kepala sekolah untuk tidak bertindak sejauh itu. Belum selesai urusan mereka, wakil kepala sekolah memberitahu bahwa dewan direksi sedang dalam perjalanan. Kepala sekolah akhirnya meminta guru Kim untuk menyelesaikan urusan dengan penjaga sekolah, sementara ia pergi menemui dewan direksi.

Ketua dewan direksi (Lee Ho-Jae) datang bersama Kyung-Moon dan anggota dewan direksi lainnya. Kepsek dan wakilnya menyambut mereka. Sementara itu, berita kematian So-Woo yang diduga bunuh diri masih menjadi topik hangat di kalangan siswa sekolah.

“Kenapa sekolah kesulitan kalau ternyata bunuh diri?” tanya Yoo-Jin.

“Kalau murid bunuh diri, itu artinya lingkungan sekolah tidak baik,” jelas Soo-Hee. “Lalu yang mendaftar ke sekolah kita tahun depan akan berkurang, lalu sekolah dipaksa untuk menerima siswa yang tidak memenuhi syarat. Tiga tahun kemudian, mereka akan masuk ke perguruan tinggi yang jelek. SMA Jeong-guk terkenal akan ketenaran dan standar yang tinggi. Hancur sudah bila standarnya jatuh.”

“Wah, kau memikirkan hal-hal itu saat datang ke sekolah?” tanya Yoo-Jin kagum.

Soo-Hee jadi kesal kepadanya. Kim Min-Suk (Woo Ki-Hoon) yang duduk di bangku sebelah mereka ikut nimbrung dan meminta Soo-Hee membiarkan saja, karena nanti Yoo-Jin akan mengerti sendiri kalau sudah jatuh tiga kali.

“Berisik, jelek,” sergah Yoo-Jin kesal.

Wali kelas 1 (Ji E-Suu) menjelaskan pada dewan direksi bahwa So-Woo adalah murid di kelasnya. Meski keluarganya berada pada tingkat 5, namun nilai pelajarannya cukup baik. Ia menambahkan bahwa belakangan So-Woo menunjukkan tanda-tanda depresi.

“Dia berkelahi dengan siswa lain dua minggu lalu dan berhenti masuk sekolah sejak saat itu,” ujar bu wali kelas.

“Apa kau berbicara dengan siswa kenapa ia menolak masuk sekolah?” tanya Kyung-Moon.

“Tidak,” jawab ibu wali kelas.

Wakil kepala sekolah lantas mempersilahkan ibu wali kelas untuk meninggalkan mereka.

Adanya informasi tanda-tanda depresi membuat beberapa anggota dewan direksi mengamini bahwa kematian So-Woo adalah bunuh diri. Namun sebaliknya, Kyung-Moon meminta agar mereka tidak terburu-buru memutuskan karena kasus serupa pernah beberapa kali terjadi beberapa tahun sebelumnya. Sambil menunggu kepastian, Kyung-Moon menginstruksikan pihak sekolah untuk tidak berbicara dengan media serta memberikan dana duka pada pihak keluarga So-Woo agar mereka tidak mempermasalahkan kasus ini di kemudian hari.

Anggota dewan direksi lalu menyarankan agar mereka sekalian saja mengawasi akun sosmed siswa. Ketua dewan direksi dengan dingin menolaknya, menyatakan bahwa tindakan tersebut justru akan membawa masalah yang lebih besar bagi mereka sendiri.

“Publik mungkin salah paham jika kita ikut campur dengan situs jaringan sosial,” jelas Kyung-Moon, “Mari kita fokus pada orang tua dan guru agar mereka tidak menduga hal yang aneh-aneh. Dan juga, singkirkan semua dokumen tidak resmi tentang Lee So Woo.”

Joon-Young dan Seo-Yeon menunggu di salah satu ruangan hingga masuklah detektif Oh bersama Ko Sang-Joong (Ahn Nae-Sang), ayah Seo-Yeon yang sekaligus adalah detektif senior di kepolisian. Detektif Oh meminta agar mereka berdua menceritakan kembali apa yang mereka lihat sebelumnya.

“Apa kau melihat sesuatu yang aneh pada So-Woo belakangan ini?” tanya detektif Oh setelah Joon-Young menceritakan kejadiannya.

“Sepertinya dia lebih tertekan dari biasanya, lebih marah dari biasanya…” lanjut detektif Oh.

“Itu…” Seo-Yeon hendak mengatakan sesuatu, tapi mulutnya tersekat.

Mengira anaknya masih trauma, Sang-Joong meminta detektif Oh untuk menunda dulu pembicaraan mereka dan melanjutkan lagi nanti. Detektif Oh menyetujuinya.

Keluar dari ruangan, Sang-Joong menanyakan hasil penyelidikan forensik, yang dijawab oleh detektif Oh bahwa perkiraannya adalah bunuh diri.

“Bagaimana dengan polisi sekolah (School Police Officer / SPO)?” tanya Sang-Joong lagi.

“Mereka mengatakan tidak ada yang istimewa,” jawab detektif Oh, “dia tidak pernah meminta konseling atau menyebabkan masalah apapun. Aku rasa dia orang yang sangat pendiam. Tapi sekitar 2 minggu yang lalu, dia berkelahi dengan teman sekelasnya, lalu berhenti masuk sekolah. Dia bahkan mengosongkan lokernya.”

Detektif Oh lantas menambahkan bahwa ia merasa pihak sekolah terlalu terburu-buru meminta kasus segera ditutup dengan dalih agar siswa dapat fokus belajar. Sang-Joong tidak mempermasalahkan hal itu karena wajar bagi pihak sekolah untuk melakukannya.

“Saya yakin lebih baik bagi siswa dan keluarga almarhum mengakhirinya,” ujar Sang-Joong.

Seo-Yeon dan Joon-Young melangkah dengan gontai menuju ruang kelas mereka. Saat masuk ke dalam, melihat kondisinya, Soo-Hee menanyakan apakah Seo-Yeon sedang sakit. Seo-Yeon tidak menjawabnya dan langsung duduk di bangkunya.

“Ibu tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada kalian supaya kalian mengerti,” ujar bu wali kelas yang saat itu ada di depan kelas, “Bahkan bagi ibu, sebagai guru, itu gambaran kosong dan tidak bisa ibu pahami. Ibu butuh waktu lama untuk masuk ke dalam kelas ini. Hari ini…”

Semua mata kompak menoleh ke arah meja So-Woo.

“Hari ini.. teman.. teman sekelas kita, So-Woo…”

Dan bu wali kelas pun tidak lagi bisa menahan tangisnya.

Jam sekolah berakhir. Hampir semua murid dijemput oleh orang tuanya di depan pintu gerbang sekolah. Ibu Seo-Yeon (Kim Yeo-Jin) juga ada di sana. Ia mencoba menghubungi ponsel anaknya, namun tidak diangkat. Seo-Yeon sendiri sedang bersama Yoo-Jin dan Soo-Hee. Soo-Hee menawarkan untuk menemani Seo-Yeon pulang, namun Seo-Yeon menolak karena ibunya akan menjemputnya. Mereka pun kemudian berpisah.

Saat hendak menerima telpon dari ibunya, Seo-Yeon melihat Joon-Young sedang berdiri di depan taman tempat tubuh So-Woo diketemukan. Ia lalu menghampirinya.

“Menurutmu apa orang-orang akan pergi ketika mereka mati?” tanya Joon-Young tiba-tiba. “Apa rasanya mati?”

“Kenapa kau mengatakan hal semacam itu?” tanya Seo-Yeon heran.

“Lee So-Woo, dia terlihat damai. Dia terlihat nyaman.”

“Bae Joon-Young!”

Belum sempat Seo-Yeon melanjutkan perkataannya, ibunya datang menghampiri. Karena juga kenal dengan Joon-Young, ibu Seo-Yeon mengajaknya untuk pulang bersama. Joon-Young menolak, lantas berpamitan pergi.

“Dia masih harus merawat ibunya saat ia pulang dalam keadaan begitu,” ujar ibu Seo-Yeon sembari menatap kepergian Joon-Young.

Malam harinya, ibu Seo-Yeon membuatkan masakan yang banyak agar Seo-Yeon bisa melupakan kejadian hari ini. Di depan kedua orang tuanya Seo-Yeon mencoba bersikap tegar seolah tidak ada apa-apa. Begitu pun saat kedua adik kembarnya mengganggunya, ia masih bisa tersenyum menanggapi mereka.

Di kamarnya, Seo-Yeon membaca kembali surat pernyataan saksi yang ia buat dan belum sempat ia berikan pada komite. Seraya mengingat kembali saat-saat terakhir pertemuannya dengan So-Woo, air mata Seo-Yeon menetes.

Beberapa saat kemudian Seo-Yeon membuka blog SMA Jeong-guk dan membaca komentar-komentar tentang kematian So-Woo. Salah satu komentar membuatnya berpikir.

Kenapa semua orang berpikir kalau itu bunuh diri? Kalian tidak ingat perkelahian itu? Choi Woo-Hyuk hampir membunuhnya. Mungkin dia benar-benar melakukannya kali ini.

Seo-Yeon membayangkan kembali saat Woo-Hyuk mencekik So-Woo sebelum akhirnya dilerai oleh guru.

“Mustahil,” gumam Seo-Yeon.

Park Cho-Rong (Seo Shin-Ae) membeli kue di sebuah bakery. Dengan penuh semangat ia berlari menemui Joo-Ri, yang duduk menunggunya di sebuah taman.

“Apa yang membuatmu datang malam sekali? Kau jauh-jauh datang ke rumahku! Apa kau tahu ini pertama kalinya kau ke sini?” ujar Cho-Rong.

Joo-Ri hanya terdiam. Wajahnya terlihat gelisah. Cho-Rong kemudian menawarkan roti yang baru saja ia beli pada Joo-Ri.

“Cho-Rong,” respon Joo-Ri, “Lee So-Woo, dia tidak bunuh diri. Aku melihatnya. Lee So-Woo tidak bunuh diri. Bukan bunuh diri!”

Detektif Oh mendapat kabar dari polisi sekolah mengenai pembicaraan tentang So-Woo di blog SMA Jeung-Guk yang menyebutkan bahwa ia sempat terlibat perkelahian dengan Woo-Hyuk. Rekannya lantas memberitahunya bahwa Woo-Hyuk adalah seorang berandalan dan pembuat onar. Ayahnya yang kaya pun tidak peduli dengan sikapnya. Kebetulan, saat ini Woo-Hyuk baru saja tertangkap gara-gara ngebut dengan sepeda motor.

Detektif Oh tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menginterogasi Woo-Hyuk.

“25 desember, apa yang kamu lakukan untuk natalan?” tanya detektif.

“Kenapa aku harus memberitahumu?” tanya Woo-Hyuk balik dengan santai.

“Saya hanya butuh beberapa hal untuk diperiksa,” balas detektif Oh.

“Apa yang perlu kau periksa?”

“Yang kau lakukan malam itu.”

“Ahjumma,” ujar Woo-Hyuk, “Apa ini soal kematian Lee So-Woo? Karena kau melihat sesuatu yang seperti itu secara online? Aku membacanya dan aku hanya menertawakannya. Anda terlalu naif untuk seorang detektif kejahatan kekerasan, bukan?”

“Apa itu yang tidak ingin kau beritahukan padaku? Atau kau tidak bisa?” tanya detektif Oh.

“Bagaimana kalau saya tidak mau? Kau ingin menyiksaku?” respon Woo-Hyuk sembari tertawa mengejek.

Ponsel Woo-Hyuk tiba-tiba berbunyi. Ayahnya yang menelpon. Dengan santai Woo-Hyuk mengadu bahwa urusan motornya sudah selesai, tapi ia tidak bisa pulang karena ada detektif yang menginterogasinya dengan tuduhan membunuh Lee So-Woo.

“Ayahku ingin bicara padamu,” ujar Woo-Hyuk sembari menyerahkan ponselnya pada detektif Oh.

Begitu detektif Oh mengucapkan halo, tanpa basa-basi ayah Woo-Hyuk, CEO Choi (Choi Joon-Yong), langsung menanyakan nama dan departemen tempat detektif Oh bertugas dengan kasar. Tidak berhenti sampai di situ, saat ia datang menjemput Woo-Hyuk bersama Kyung-Moon, CEO Choi lanjut terang-terangan mengancam bakal ‘membuat keributan’ apabila detektif Oh berani melakukan hal itu lagi.

“Mau ku tunjukkan apa yang akan terjadi kalau kau mengacak-acak keluargaku?” bentak CEO Choi.

Kyung-Moon memberi tanda agar CEO Choi menghentikan amarahnya. Ia pun lantas pergi bersama dengan Woo-Hyuk. Kyung-Moon kemudian memberikan kartu namanya pada detektif Oh dan mengenalkan dirinya sebagai ketua LBH Yayasan Jeong-Guk.

“Bisakah kau menyampaikan ini pada wali Woo-Hyuk? Dia seharusnya tidak terlalu bersemangat,” sindir detektif Oh, “Aku hanya ingin memastikannya sebelum menutup penyelidikan.”

“Saya mengerti maksud Anda. Tetapi jika sesuatu seperti ini terjadi lagi pada Choi Woo Hyuk, kami secara resmi akan membuat keributan,” respon Kyung-Moon.

Detektif Oh terpaku, tidak menyangka Kyung-Moon bakal bersikap seperti itu. Ia kemudian menyusul Kyung-Moon yang sudah berpamitan pergi dan mempertanyakan apakah normal ketua LBH sebuah yayasan datang jauh-jauh ke kantor polisi hanya untuk mempertanyakan seorang siswa, bahkan memberi peringatan agar tidak menyentuhnya lebih jauh. Dengan tenang Kyung-Moon membalas dengan balik mengancam secara halus bakal melaporkan detektif Oh atas interogasi ilegal yang sudah ia lakukan. Sadar bahwa yang ia lakukan tadi memang salah, detektif Oh tidak lagi bisa berkata apa-apa.

“Tutup kasus ini besok, seperti yang sudah direncanakan,” ujar Kyung-Moon sembari melangkah pergi.

Kepala sekolah mengumumkan pada semua guru bahwa polisi telah menutup penyelidikan dan menyatakan bahwa kematian So-Woo adalah bunuh diri. Ia meminta agar para guru menormalkan kembali keadaan di sekolah sembari mempersiapkan upacara perpisahan bagi mendiang So-Woo. Guru Kim dan ibu wali kelas terlihat tidak percaya mendengar keputusan itu.

Seo-Yeon sedang melangkah keluar ruang kelas bersama Yoo-Jin dan Soo-Hee. Langkah mereka terhenti begitu melihat Woo-Hyuk lewat bersama dengan dua anak buahnya, Dong-Hyun dan Lee Sung-Min (Lee Do-Gyeom), dengan gaya angkuh.

“Aku tidak tahu apa itu karena aku membaca komentar online, tapi dia lebih menakutkan dari biasanya,” ujar Yoo-Jin setelah mereka berlalu dari pandangan.

“Kenapa? Apa seseorang mengatakan sesuatu?” tanya Soo-Hee penasaran.

“Tidak, hanya komentar aneh saja. Seseorang mengatakan mungkin Choi Woo-Hyuk yang membunuh Lee So-Woo,” jawab Yoo-Jin sambil berbisik.

“Choi Woo-Hyuk melakukan apa pada So-Woo?” respon Soo-Hee spontan dengan keras.

Yoo-Jin segera menutup mulut Soo-Hee, takut terdengar oleh Woo-Hyuk dkk. Apes bagi mereka, yang mendengar ternyata bu dekan (Oh Yoon-Hong) yang kebetulan sedang berada di kelas sebelah. Ia langsung menjitak mereka satu persatu dan meminta mereka tidak berbicara omong kosong seperti itu lagi.

Setelah bu dekan pergi, Yoo-Jin mengeluarkan sebuah amplop berisi voucher makan di restoran Korea mahal yang baru dibuka di dekat sekolah. Ia mengajak kedua sahabatnya untuk ikut makan bersamanya sepulang sekolah nanti.

Joon-Young membeli obat untuk ibunya di sebuah apotek. Apoteker yang melayani memberitahunya bahwa kondisi ibunya sepertinya semakin memburuk karena resep antibiotik yang diberikan bertambah banyak.

“Lain kali, katakan padanya untuk pergi ke rumah sakit,” pesan apoteker, “bagaimanapun, kaulah yang paling tahu kondisi ibumu.”

Joon-Young mengiyakan. Tak lama kemudian ia tiba di rumah. Perlahan ia meletakkan bungkusan obat tersebut di meja agar tidak mengganggu ibunya. Tanpa disangka ibunya (Lee Gyung-Sim) keluar dan langsung mengomelinya tanpa alasan yang jelas. Puas mengomel, ibu Joon-Young memintanya untuk bersiap karena ayahnya (Kang In-Ki) mengajak makan bersama di luar.

Joon-Young makan bersama kedua orang tuanya di sebuah restoran yang terlihat mewah. Saat tahu telah terjadi bunuh diri di sekolah Joon-Young dan selama ini Joon-Young mendaftarkan ponsel ayahnya ke pihak sekolah sebagai nomer darurat, ibu Joon-Young kembali menjadi emosi pada Joon-Young dan bersikap seolah-olah sakit parah.

“Aku benar-benar benci kalian,” bentak ibunya, “Aku hanya harus mati! Aku hanya harus menderita dan mati!”

Joon-Young menatap ayahnya, yang juga tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi istrinya. Tidak mau ibunya bertambah marah, Joon-Young akhirnya meminta maaf kepadanya, meski sebenarnya ia sama sekali tidak salah. Melihat istrinya yang masih menatap ke arah Joon-Young dengan penuh kebencian sembari memegangi dadanya, entah benar-benar sakit atau hanya berpura-pura, ayah Joon-Young lantas membawa istrinya keluar.

Sebelum pergi, Joon-Young mengeluarkan ponselnya, memotret hidangan yang masih belum termakan di meja, lalu mempostingnya di media sosial.

Sudah lama tidak makan bersama. Aku ingin melakukan ini lagi.

Tanpa disadari Joon-Young, restoran yang ia datangi adalah restoran yang sama yang didatangi oleh Seo-Yeon dkk. Bahkan mereka mendapat ruangan tepat di samping ruangan yang ditempati keluarga Joon-Young, sehingga mereka bisa mendengar semua keributan yang terjadi barusan. Saat Joon-Young melangkah keluar, kebetulan pelayan mengantarkan pesanan untuk Seo-Yeon dan teman-temannya. Mereka pun kaget dan terdiam begitu mengetahui Joon-Young yang ada di ruang sebelah.

“Kami baru saja sampai jadi tidak mendengar apa-apa,” dalih Seo-Yeon, melihat Joon-Young yang tampak tidak nyaman.

“Sekarang kau mengerti?” respon Joon-Young, “Kenapa aku mengatakan hal semacam itu?”

Tanpa berkata apa-apa lagi Joon-Young pergi meninggalkan mereka.

“Wah, sesuai dugaan, ibunya Joon-Young bukan main!” ujar Soo-Hee.

“Kasihan. Kalau itu terjadi padaku, aku tidak akan pernah bisa hidup,” timpal Yoo-Jin.

Seo-Yeon lantas meminta pelayan untuk menghidangkan makanan mereka agar tidak lagi membahas soal Joon-Young.

Waktu berlalu. Upacara perpisahan So-Woo kini sedang berlangsung. Saat pembacaan puisi, Joon-Young yang matanya terlihat berkaca-kaca tiba-tiba pergi meninggalkan ruangan. Melihatnya, Seo-Yeon mengirimkan pesan teks padanya dan menanyakan hendak kemana Joon-Young pergi.

Acara berikutnya adalah penampilan dari orkestra sekolah. Salah satu anggotanya, yang memainkan cello bass, adalah Ji-Hoon, cowok yang dianggap paling cute di sekolah. Diam-diam beberapa siswi mengeluarkan ponselnya dan memotret Ji-Hoon.

Ji-Hoon sendiri tiba-tiba terpaku saat melihat sebagian yang hadir di sana, terutama keluarga So-Woo, menangisi kepergian So-Woo. Ingatannya kembali. Ternyata Ji-Hoon adalah sahabat baik So-Woo. Banyak hal yang telah mereka lakukan bersama. Tangannya mendadak gemetar dan busur biolanya terjatuh. Ia segera mengambilnya kembali dan menenangkan dirinya sebelum akhirnya mulai memainkan alat musiknya bersama dengan rekan-rekannya.

Sementara itu, karena tidak kunjung mendapat balasan dari Joon-Young, Seo-Yeon menyusul keluar dari ruangan dan mencoba menghubunginya. Karena Joon-Young juga tidak mengangkatnya, Seo-Yeon jadi teringat ucapan Joon-Young yang secara tidak langsung menyatakan bahwa ia ingin bunuh diri. Bergegas Seo-Yeon mencari Joon-Young di sekolah, namun tidak kunjung ia temui. Tiba-tiba muncul status baru dari akun sosmed Joon-Young, sebuah foto bangunan dengan tulisan status “Selamat Tinggal”.

Makin yakin dengan niat Joon-Young, Seo-Yeon segera berlari menuju bangunan yang sekiranya merupakan tempat Joon-Young berada saat itu, sembari mengirimkan pesan meminta agar Joon-Young mau berbicara terlebih dahulu dengannya semenit saja. Joon-Young sendiri saat itu sudah berdiri di pinggir atap bangunan dan terlihat sedikit ragu untuk melanjutkan keinginannya.

Tak lama kemudian Seo-Yeon tiba di tempat Joon-Young tadi berdiri. Ia mendapati Joon-Young sedang duduk meringkuk di sana.

“Kau bodoh? Bagaimana bisa kau berpikir untuk melakukan ini?” ujar Seo-Yeon sembari menangis. “Kau melihatnya! Bukankah itu membuatmu takut? Bagaimana bisa seseorang mati seperti itu? Itu sangat menakutkan dan menyedihkan. Kalau itu terjadi persis padamu juga, kau ingin aku bagaimana?”

Joon-Young hanya terdiam dan menundukkan kepalanya.

“Aku tahu itu sulit,” lanjut Seo-Yeon, “Aku tahu mungkin kau berpikir itu akan terus menyulitkanmu. Aku yakin kau berpikir ‘Apa gunanya terus hidup? Tidak ada apapun lagi untuk dilihat. Akan lebih nyaman mati seperti Lee So-Woo.’. Aku tahu kau berpikir seperti itu. Tapi kau benar-benar salah. Kau tidak tahu apa-apa. Tidak seperti kau mengerjakan soal hanya dari melihat beberapa soal pertama. Maka dari itu kita tidak tahu bagaimana sesuatu akan berubah. Kita tidak tahu kita akan dapat kelas berpada dalam hidup kita. Kita tetap tidak tahu. Tapi kenapa… Kita baru berusia 18 tahun. Kenapa memilih untuk mati?”

Joon-Young membenamkan kepalanya di balik kedua tangannya dan mulai menangis. Seo-Yeon perlahan melangkah mendekatinya dan memegang lengannya.

“Bae Joon-Young, tidak ingin hidup bukan berarti kau harus mengakhirinya. Cukup percaya saja kalau semuanya akan membaik. Tidak apa-apa. Akan baik-baik saja. Percayalah.”

Joon-Young pulang ke rumah dengan diikuti oleh Seo-Yeon.

“Jangan membuntutiku,” ujar Joon-Young.

“Aku juga pulang lewat sini,” balas Seo-Yeon.

Mendengarnya, Joon-Young lantas berbalik arah.

“Mau kemana?” tanya Seo-Yeon.

Joon-Young menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Seo-Yeon.

“Bae Joon-Young, tidak lama lagi kita akan jadi senior. Jangan memikirkan hal-hal buruk lagi. Dan satu lagi. Mulai sekarang, ayo kita berangkat sekolah sama-sama. Datanglah ke rumahku 20 menit sebelum sekolah dimulai. Lagian aku tahu kau harus melewati rumahku. Makanlah di dekatku selagi makan siang. Setidaknya pamitanlah ketika pulang dari sekolah. Dan di akhir pekan, sms aku di pagi dan di malam hari,” pinta Seo-Yeon panjang lebar.

“Kau akan mengawasiku supaya aku tidak melakukan hal bodoh?” respon Joon-Young. “Kau tidak perlu melakukannya. Aku baik-baik saja.”

“Ayo kita berteman,” potong Seo-Yeon. “Ku bilang ayo kita berteman.”

Joon-Young kaget mendengarnya.

“Kalau tidak mau ya sudah, aku pergi,” ujar Seo-Yeon seraya meninggalkan Joon-Young yang masih tetap terdiam tidak percaya dengan kata-kata Seo-Yeon barusan.

Kyung-Moon ternyata adalah ayah Ji-Hoon. Untuk merayakan malam tahun baru, ia memasak steak untuk mereka berdua. Saat makan, Kyung-Moon menanyakan apakah Ji-Hoon hendak kembali ke Amerika. Ji-Hoon menolak. Kyung-Moon kembali menawarkan apakah Ji-Hoon lebih ingin ke Eropa saja.

“Aku tidak ingin kemana-mana,” tegas Ji-Hoon.

“Baiklah,” ujar ayahnya.

Merasa tidak nyaman dengan pertanyaan ayahnya barusan, Ji-Hoon memilih untuk masuk ke kamar dengan alasan perutnya merasa tidak enak.

“Ji-Hoon,” panggil ayahnya, “Selamat tahun baru.”

“Ayah juga,” balas Ji-Hoon sembari tersenyum, lantas melanjutkan langkahnya.

Seo-Yeon melalui tahun baru bersama keluarganya. Ia minta didoakan agar bisa melalui ujian perguruan tinggi dengan baik. Ayahnya menolak dan lebih ingin mendoakan Seo-Yeon sehat agar pikiran dan tubuhnya juga sehat. Seo-Yeon menyetujuinya. Setelah kedua orang tuanya masuk ke kamar, sebelum tidur Seo-Yeon kembali berdoa agar bisa lulus ujian dengan hasil sempurna serta mendoakan So-Woo agar bahagia di sana.

Penjaga sekolah pergi meninggalkan ruangannya dengan membawa barang-barangnya. Saat melewati ruang kepala sekolah, ia menendang pintunya dengan kesal. Tiba-tiba sebuah amplop terjatuh dari pintu. Mengetahui tidak ada orang lain di sana, ia pun membawa amplop tersebut bersamanya.

Bel berbunyi di rumah Seo-Yeon. Saat dilihat, tidak ada siapapun di luar. Karena penasaran, Seo-Yeon mengecek ke luar rumah. Tetap tidak ada seorang pun di depan rumahnya. Sebagai gantinya, ia menemukan sebuah amplop yang dialamatkan untuk dirinya. Saat dibuka, isinya adalah selembar kertas yang menyatakan bahwa Lee So-Woo tidak bunuh diri.

Adegan flashback muncul. Di malam natal ternyata So-Woo sedang dibully di atas atap gedung oleh Woo-Hyuk, Sung-Min, dan Dong-Hyun. Dan tepat saat So-Woo berdiri di pinggir gedung, So-Woo dengan sengaja mendorongnya dengan tongkat hingga ia pun terjatuh. Dari balik pintu, Joo-Ri melihat semua kejadian tersebut.

Lee So-Woo dari SMA Jeong-Guk tidak bunuh diri. Choi Woo-Hyuk mendorong Lee So-Woo dan membuatnya jatuh. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Akulah saksi dari kejadian itu. Lee So-Woo telah dibunuh oleh Choi Woo-Hyuk.

Seo-Yeon terkejut setengah mati membacanya.

Preview Episode 2

Berikut adalah video preview episode 2 dari drakor Solomon’s Perjury:

=== belum tersedia ===

» Sinopsis Episode 2 selengkapnya

Reply