Sinopsis Man Living At My House Episode 5 & Preview Episode 6 (7 November 2016)

Di sinopsis Man Living At My House episode sebelumnya, Hong Na-Ri (Soo-Ae) diam-diam menemukan sapu tangan bersulam nama Ko Nan-Gil (Kim Young-Kwang) dan kelas 1-3. Pun begitu, ia masih belum mengingat apa-apa tentang Nan-Gil. Sementara itu, Kwon Duk-Bong (Lee Soo-Hyuk) nekat mendaftarkan gugatan terhadap Nan-Gil meski belum sepenuhnya disetujui oleh Na-Ri. Sedangkan Na-Ri sendiri akhirnya mengetahui bahwa yang berhutang selama ini adalah ayahnya, bukan pamannya, Shin Jung-Nam (Kim Ha-Kyun). Pihak Da Da Finance, yang mengejar-ngejar pamannya selama ini, kini mulai mengalihkan pengejaran mereka pada Na-Ri. Dan tanpa Na-Ri ketahui, pemilik Da Da Finance adalah Bae Byung-Woo (Park Sang-Myeon), ayah angkat Nan-Gil. Apa yang kira-kira bakal terjadi selanjutnya di sinopsis drama korea Sweet Stranger And Me episode 5 ini?

Dok. gambar dan video © KBS2 of Korea Selatan

Sinopsis Episode 5

Saat Nan-Gil terjatuh, adegan flashback muncul.

Nan-Gil kecil duduk menyendiri di halaman sekolah. Ia dijauhi oleh teman-temannya karena tidak punya ibu. Ibu Na-Ri, Shin Jung-Im (Kim Mi-Sook), yang melihatnya lantas mengajaknya ngobrol.

“Lain kali, kalau mereka menggodamu lagi, katakan ‘Aku juga memiliki seorang ibu’,” pinta Jung-Im.

“Tapi kau ibunya Na-Ri,” respon Nan-Gil kecil.

“Aku juga ibumu,” jawab Jung-Im.

Nan-Gil kemudian jadi iri pada Na-Ri yang merupakan anak kandung Jung-Im. Namun ia juga tidak suka apabila ada orang lainya yang mengganggu Na-Ri. Diam-diam ia suka membantunya atau membalas perbuatan orang yang mengganggu Na-Ri, tanpa diketahui oleh Na-Ri. Sejak itulah Nan-Gil kecil bercita-cita untuk menikahi Na-Ri agar ibunya juga bisa menjadi miliknya.

Saat Na-Ri lulus sekolah dan masuk ke perguruan tinggi, Nan-Gil mulai menyadari bahwa Na-Ri adalah cinta pertamanya. Tak lama kemudian, Nan-Gil diadopsi oleh Byung-Woo. Saat mobil Byung-Woo membawanya pergi, Nan-Gil sempat melihat Jung-Im mengejarnya. Raut wajahnya terlihat sedih.

Nan-Gil ternyata bukan satu-satunya anak yang diadopsi oleh Byung-Woo. Ada setidaknya 7 anak lainnya yang juga diadopsi olehnya. Kesemuanya dibesarkan ala geng dan dibuat agar saling membenci. Salah satunya adalah Kim Wan-Sik (Woo Do-Hwan), ketua mafia yang sebelumnya mendatangi rumah paman Na-Ri dan juga baru saja menemui Na-Ri bersama pengacara Da Da Finance. Didikan tersebut membuat Nan-Gil menjadi tangguh dan kuat, bahkan termasuk yang paling jago di antara yang lain.

Meski hidup di lingkungan yang keras, Nan-Gil tidak lupa untuk selalu memperhatikan Na-Ri. Tidak hanya selama ia kuliah, bahkan hingga ia lulus dan menjadi pramugari.

Cinta lamaku sedang berjalan. Aku hidup di dunia yang gelap, jadi aku bahkan tidak bisa melihat dia lagi.

Entah apa yang terjadi, beberapa waktu kemudian Nan-Gil terlihat baru dibebaskan dari penjara. Dalam narasinya disebutkan bahwa itu adalah harga mahal yang harus ia bayar untuk bisa kembali pada ibu Na-Ri. Ibu Na-Ri pun gembira melihatnya lagi.

Nan-Gil kemudian mengetahui tentang hutang-hutang Jung-Im (limpahan dari suaminya) pada pihak Da Da Finance, milik Byung-Woo.

“Ibu, kau percaya kepadaku, bukan? Aku harus menjadi kepala keluarga,” ujar Nan-Gil pada Jung-Im.

Yang dimaksud Nan-Gil ternyata adalah mendaftarkan pernikahan atas nama mereka berdua demi melindungi harta Jung-Im. Jung-Im sempat menolak dan menyarankan agar Nan-Gil menjadi anak angkatnya saja, namun Nan-Gil menjelaskan bahwa hal itu akan lebih menyulitkan Jung-Im nanti secara hukum.

“Semua ini akan jadi milikku. Aku akan melindunginya,” janji Nan-Gil.

Pada akhirnya, Jung-Im menyetujui saran Nan-Gil. Foto mereka berdua yang sebelumnya sempat dilihat oleh Na-Ri (episode 2) ternyata diambil oleh pamannya, Jung-Nam. Namun siapa sangka, beberapa waktu kemudian Jung-Im meninggal karena kecelakaan.

Tidak ada yang bisa diprediksi dalam hidup. Saat aku kehilangan ibu, aku berjanji untuk melindungi Na-Ri. Seiring dengan janji itu, cinta jangka panjangku berakhir.

Na-Ri panik melihat Nan-Gil yang terjatuh dan tidak merespon panggilannya. Ia meminta Kim Ran-Sook (Jeon Se-Hyun) untuk menelpon ambulans. Namun sesaat kemudian, Nan-Gil mulai tersadar. Ia memegang tangan Na-Ri dan memintanya untuk tidak usah memanggil ambulans karena ia baik-baik saja.

Nan-Gil berdiri tak lama kemudian. Na-Ri meminta Ran-Sook untuk mengambil mobil. Ia juga meminta Nan-Gil untuk pergi ke rumah sakit, tapi Nan-Gil menolak.

“Aku alergi terhadap sinar matahari, itu sebabnya,” dalih Nan-Gil.

“Aku tidak percaya padamu,” respon Na-Ri.

“Ingat dengan siapa kau berbicara,” balas Nan-Gil, “Aku harus mengaduk adonan, aku sibuk.”

Na-Ri tiba-tiba memegang lengan Nan-Gil saat Nan-Gil hendak berlalu. Ia berkata, “Jangan sampai sakit. Aku egois dan mengatakan itu demi aku sendiri. Jangan pernah sakit. Aku tidak memiliki siapapun dan aku bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Jadi kau tidak boleh sakit.”

“Aku tidak sakit,” ujar Nan-Gil, “Sedikit memalukan untuk pamer, tapi aku terlalu sehat. Aku bahkan tidak tahu kapan aku terakhir sakit.”

Na-Ri tertawa mendengarnya.

Nan-Gil melanjutkan, “Selain itu, kau tidak perlu tahu apa yang terjadi. Jangan terlalu khawatir. Hati-hati. Jaga dirimu sendiri.”

“Kesimpulannya, seharusnya aku tidak berpikir tentang pulang ke rumah dan sebaiknya aku hidup sendiri saja,” respon Na-Ri.

“Apa yang kau bicarakan?” tanya Nan-Gil bingung. “Kenapa kau menanggapi semuanya secara ekstrim? Pikiran negatif hanya membawa pemikiran yang negatif. Lalu kau jadi stres.”

“Dan aku mendapatkan keriput. Baiklah,” ujar Na-Ri kesal.

Mobil Ran-Sook tiba. Na-Ri segera melangkah menuju mobil. Sebelum masuk, ia menoleh ke arah Nan-Gil dan berkata, “Aku akan membiarkanmu pergi dan mengaduk adonanmu. Jangan sampai jatuh di jalan. Sampai jumpa.”

Ia pun lantas masuk ke mobil. Seiring dengan laju mobil yang meninggalkan Nan-Gil, Na-Ri melirik ke arah kaca spion dan berkata, “Dia pasti gelisah karena berpikir bahwa aku membiarkan dia dengan semudah itu. Dia pasti merasa cemas.”

“Hong Na-Ri,” respon Ran-Sook dengan raut muka penuh curiga.

Byung-Woo memeriksa isi flashdisk yang diberikan oleh Nan-Gil sebelumnya. Ia kaget melihat isinya — semacam daftar transaksi keuangan — dan mendadak emosi lantas membanting laptopnya serta menjatuhkan semua yang ada di atas mejanya. Anak buahnya yang lain bergegas masuk mendengar suara laptop yang terbanting, sementara Wan-Sik yang sedari tadi ada di sana terlihat berdiri dengan tenang tanpa ekspresi.

“Nan-Gil menyadari sejumlah uang yang masuk dan keluar melalui rekening pinjaman termasuk yang baru-baru ini. Kalau daftar itu sampai keluar, habislah kita. Tidak ada yang tahu tentang daftar itu kecuali kita. Tapi siapa yang mungkin bisa membantu Nan-Gil?” tanya Byung-Woo sembari menoleh tajam ke arah Wan-Sik.

Dalam perjalanannya, Ran-Sook mengatakan bahwa tingkah Na-Ri dan Nan-Gil tidak ubahnya sepasang kekasih. Na-Ri tidak mau mengakuinya.

“Apa kau sangat membutuhkan seorang pria untuk bisa merelakan perpisahanmu?” tanya Ran-Sook. “Bagaimanapun bukan dia orangnya. Kau perlu melaporkan dia ke polisi.”

“Tenanglah. Kalau tidak, kau tidak akan bisa tidur dan mendapatkan keriput,” respon Na-Ri, meniru kata-kata Nan-Gil.

Ran-Sook jadi kesal mendengarnya dan meraba-raba wajahnya sendiri.

“Aku mungkin kalah dalam pertempuran ini, tapi akan memenangkan perang,” ujar Na-Ri sok bijak, “Aku Hong Na Ri. Aku akan menanyakan segala macam pertanyaan kepadanya. aku akan memastikan bahwa dia menjawab semuanya secara menyeluruh.”

Di rumah, tanpa disadarinya Na-Ri terus kepikiran Nan-Gil. Sambil menggigit ketimun, ia membayangkan saat Nan-Gil menggandeng tangannya dan mengajaknya keluar dari gedung Da Da Finance.

“Baiklah, itu keren, hatiku berdebar” ujar Na-Ri pada dirinya sendiri.

Ia kembali terus-terusan membayangkan Nan-Gil hingga tiba-tiba Duk-Bong menelponnya, menanyakan mengapa ia tidak mengabarinya.

“Aku harus memberitahumu secara langsung,” ujar Na-Ri.

“Secara langsung?” tanya Duk-Bong.

“Ini cukup rumit.”

“Dimana kita harus bertemu?”

“Nanti saja. Sampai jumpa,” ujar Na-Ri lantas menutup telponnya.

Duk-Bong pun kesal karena lagi-lagi Na-Ri menutup telponnya begitu. Namun ia tersenyum-senyum sendiri mengingat Na-Ri tadi mengatakan hendak memberitahunya secara langsung, ge-er mengira Na-Ri memang ingin bertemu dengannya. Sesaat kemudian ia kaget begitu menyadari Kwon Duk-Sim (Shin Se-Hwui) ternyata ada di dekatnya, sedang berdiri terpaku melihatnya dengan tatapan aneh.

“Buatlah semacam suara saat kau berjalan,” bentak Nan-Gil.

Tanpa berkata apa-apa Duk-Sim berlalu dan sengaja mengeras-ngeraskan bunyi langkah kakinya.

Do Yeo-Joo (Jo Bo-Ah) janjian dengan Jo Dong-Jin (Kim Ji-Hoon) di sebuah salon kecantikan. Yeo-Joo memberitahu Dong-Jin bahwa beredar gosip di kantor mereka mengenai Na-Ri yang terlilit hutang bank. Dengan gaya sok perhatian, Yeo-Joo mengatakan bahwa ia merasa tidak enak dengan hal itu.

“Kalau kau merasa benar-benar tidak enak, kau seharusnya tidak berbicara tentang hal itu dengan semudah ini,” respon Dong-Jin.

Yeo-Joo kesal dengan respon Dong-Jin yang masih terlihat perhatian kepada Na-Ri. Namun ia menutupi kekesalannya dan berdalih, “Maksudku, aku tidak ingin membicarakannya. Aku hanya berpikir kalau kau harus tahu.”

Tanpa disangka, beberapa saat kemudian Na-Ri bersama rekan-rekan pramugari yang lain tiba di salon tersebut. Yoo Shi-Eun (Wang Bit-Na) yang melihat Yeo-Joo bersama Dong-Jin berusaha untuk membuat Na-Ri tidak melihat mereka, namun Na-Ri sudah terlanjur melakukannya. Melihat respon Na-Ri yang biasa-biasa aja, Shi-Eun jadi kaget sendiri mengetahui Na-Ri sudah tahu tentang Yeo-Joo dan Dong-Jin. Shi-Eun lantas hendak menghajar Yeo-Joo, tapi Na-Ri mengajaknya pergi ke tempat lain saja.

“Kenapa kita harus pergi?” ujar Shi-Eun penuh emosi.

Ia kemudian mendatangi Dong-Jin dan berkata, “Dong-Jin. Kita sering datang ke sini karena diskon kelompok kita.”

Dong-Jin kaget dan menoleh ke arah Yeo-Joo. Yeo-Joo menggeleng dan berdalih dengan sok imut, “Ini hanya sebuah kebetulan.”

“Sebuah kebetulan?” respon Shi-Eun dengan nada tinggi.

Na-Ri bergegas mendatangi Shi-Eun dan menenangkannya.

“Kenapa kau bisa tenang seperti ini? Aku akan melemparkan dia dari pesawat,” balas Shi-Eun kesal.

“Kita harus bicara,” ujar Dong-Jin pada Na-Ri.

“Bicara? Aku tidak perlu mengatakan apapun kepadamu,” jawab Na-Ri.

Dong-Jin tidak menghiraukannya dan menarik Na-Ri keluar mengikutinya.

“Ya Tuhan, apa yang membuatnya begitu percaya diri?” ujar Shi-Eun melihat ulah Dong-Jin.

Ia lantas mendekati Yeo-Joo dan berkata, “Kau melihat itu, bukan? sembilan tahun tidak akan hilang begitu saja.”

“Berhenti berbciara tentang berapa lama mereka berkencan. Itu tidak ada artinya. Tidak termasuk saat dia bergabung di militer dan berada di luar negeri. sembilan tahun mereka tidak terlalu lama.” respon Yeo-Joo.

Shi-Eun bengong tidak percaya dengan kata-kata Yeo-Joo barusan.

Di luar, Dong-Jin meminta maaf pada Na-Ri karena ia tidak tahu Na-Ri sering datang ke tempat itu.

“Jangan meminta maaf. Kau bebas pergi kemana pun kau mau. Tapi karena kalian berdua tidak tahu apapun tentang sopan santun, aku agak malu.” jawab Na-Ri.

Dong-Jin kembali meminta maaf, lalu menyinggung soal keuangan yang tadi diberitahu oleh Yeo-Joo. Dong-Jin lantas menanyakan siapa yang memberikan pinjaman kepadanya dan berupa jumlahnya. Na-Ri tidak menjawabnya dan berbalik menanyakan apakah ia mau melunasinya.

“Kau tidak bisa menangani rentenir,” ujar Dong-Jin. “Dapatkan rumah itu dari si penipu itu dan jual saja.”

“Siapa yang kau sebut penipu? Apa yang kau tahu?” tanya Na-Ri dengan nada tinggi. “Kalau bukan karena dia, aku… Tidak. Aku tidak ingin berbicara denganmu tentang dia.”

Yeo-Joo menghampiri mereka dan mengatakan bahwa ia tidak akan datang ke sana lagi. Na-Ri tidak mempedulikannya dan melangkah masuk ke dalam. Namun begitu melihat tas yang dibawa Yeo-Joo ia langsung menghentikan langkahnya. Ternyata itu adalah tas pemberian Dong-Jin dan sebelumnya Dong-Jin juga pernah membelikan tas yang serupa dengan itu, yang saat ini sedang dipakai Na-Ri. Na-Ri lantas mengeluarkan semua isi tasnya dan memberikan tas itu pada Dong-Jin. Yeo-Joo menatap Dong-Jin dengan wajah kesal.

Na-Ri mendatangi Hong Dumplings dengan membawa koper besar. Nan-Gil kaget melihatnya dan menanyakan mengapa ia membawa koper sebesar itu. Na-Ri menjawab bahwa ia baru saja dipecat karena gosip tentang dirinya yang terlilit utang dianggap sudah mencemarkan nama perusahaan. Nan-Gil jadi emosi dan hendak menemui orang yang memecat Na-Ri. Ternyata Na-Ri berbohong dan mengatakan bahwa ia hanya sedang mengambil cuti.

Na-Ri mengatur barang-barang yang ia bawa di kamarnya sementara Nan-Gil berdiri memperhatikannya. Nan-Gil lantas mempertanyakan keputusan Na-Ri untuk cuti, yang dijawab oleh Na-Ri bahwa ia ingin mencari tahu bagaimana bisa ayahnya memiliki hutang 1 juta dolar dan mengapa Nan-Gil berniat untuk melunasinya. Nan-Gil pun meninggalkannya dengan kesal karena lagi-lagi Na-Ri tidak mempercayainya.

Na-Ri menemui Duk-Bong di kantornya. Saat melihat-lihat maket rencana pengembangan resort, Na-Ri menanyakan mengapa tidak ada danau di sana. Duk-Bong beralasan bahwa danau tersebut memang sengaja tidak disertakan di dalam maket.

“Tolong tarik kembali aduan pembatalan pernikahan,” pinta Na-Ri tanpa basa-basi.

“Gugatan itu sudah diajukan. Sekarang apa?” respon Duk-Bong.

“Apa kau tahu Da Da Finance?” tanya Na-Ri. “Ayahku berhutang kepada mereka dengan tanah sebagai agunannya. Mereka mengatakan kalau itu adalah hutangku sekarang.”

“Ayahmu? Ayah apa? Pemilik Hong Dumplings itu mengerikan,” ujar Duk-Bong, mengira ayah yang dimaksud adalah Nan-Gil. “Tapi kenapa kau akan menarik pengaduanmu? Masukkan dia ke penjara.”

“Bukan ayah yang itu. Ini adalah hutang ayah kandungku. Ayah yang ditinggalkan ibuku dan aku 20 tahun yang lalu. Hidup memang menyebalkan, bukan?”

“Tidak. Tunggu dulu. Jadi… Bagaimana kau begitu tidak seberuntung ini dengan ayah?”

Na-Ri menoleh dengan tatapan kesal ke arah Duk-Bong.

“Da Da Finance terlihat sah pada permukaannya, tapi metode mereka menagih hutang adalah ilegal. Setelah mereka mendapatkanmu, kau tidak bisa keluar,” jelas Duk-Bong. “Tidak, kau memiliki seorang ayah tiri. Rahasiakan hutang itu dari Nan-Gil. Masalah terkait Da Da terjadi di masa lalu. Dan sekarang karena kau memiliki ayah tiri, kita bisa menyatakan bahwa kau bukan yang bertanggung jawab.”

“Nan-Gil tahu tetang hutang itu,” jawab Na-Ri. “Dia mengatakan itu sebabnya dia menjadi ayah tiriku. Ini hanya di atas kertas.”

“Apa artinya?” tanya Duk-Bong heran.

“Jadi, maksudku, dia satu-satunya orang yang bisa aku percaya sekarang.”

“Aku akan memeriksanya. Jangan percaya begitu saja. Ini terlalu cepat. Belum lama ini kau menyebutnya penipu. Kita harus memeriksanya dari berbagai sudut.”

Na-Ri tidak menjawabnya, hanya tersenyum.

Nan-Gil sedang menyiapkan pesanan pangsit bersama karyawannya. Tiba-tiba pesan teks dari Na-Ri masuk ke ponselnya, meminta Nan-Gil untuk menemuinya di taman bermain saat itu juga. Ia pun menuju ke sana setelah berganti baju.

“Apa kau tahu kenapa aku memanggilmu ke sini?” tanya Na-Ri.

“Katakan saja,” respon Nan-Gil.

“Atap setelah kelas. Taman bermain setelah kelas. Kau tahu apa yang ku maksud, bukan?”

“Jangan menggangguku dan katakan saja.”

“Aku ingin berduel di sini,” tantang Na-Ri.

“Aku bosan berbicara tentang hal yang sama, tapi kita tidak benar-benar…”

“Ko Nan-Gil, bicara dengan sopan kepadaku mulai dari sekarang. Dan aku ingin kau menjawab pertanyaanku dengan jujur.”

“Kenapa aku harus melakukan itu?” tanya Nan-Gil.

“Semuanya sudah jelas. Kenyataan bahwa kau sedang berpura-pura menjadi ayah tiriku. Saat aku menyebutmu penipu dan penggali emas, kau bisa saja mengatakan bahwa kau berpura-pura.”

“Kenapa? Ini hanya akan membuatmu bingung. Aku ingin kau merasa nyaman.”

“Apa kau harus menjadi ayahku?” tanya Na-Ri.

“Aku pikir lebih baik untuk menjadi keluarga dan melindungimu.”

“Ibuku tidak akan pernah setuju dengan kebohongan seperti itu.”

“Dia tahu itu satu-satunya cara untuk memperbaiki ini.”

“Dia mempercayaimu lebih dari putrinya sendiri. Begitu? Apa hubungan kalian? Berapa lama kau mengenalnya?”

Nan-Gil tidak menjawab. Matanya terus menatap ke arah Na-Ri, membuat Na-Ri jadi salah tingkah sendiri. Namun ia berusaha tidak mau kalah dan balik menatap ke arah Nan-Gil.

“Apa kau benar-benar tidak tahu?” tanya Nan-Gil.

“Apa? Apa yang aku tidak tahu?” tanya Na-Ri balik.

“Kau benar-benar tidak tahu. Aku kecewa.” ujar Nan-Gil, lalu berbalik badan, hendak meninggalkan Na-Ri.

Na-Ri mencegahnya dan melangkah menuju ke hadapan Nan-Gil. Ia lantas menunjukkan sapu tangan Nan-Gil yang ia temukan di gudang.

“Berapa lama kau mengenal ibuku?” tanya Na-Ri.

Nan-Gil sekilas tersenyum melihat sapu tangan itu. Ekspresi wajahnya menunjukkan rasa senang. Na-Ri jadi heran sendiri melihatnya. Tanpa berkata apa-apa, Nan-Gil kembali tersenyum lantas duduk di ayunan.

Nan-Gil kemudian menceritakan bahwa ia dibesarkan di Hope Orphanage. Na-Ri mengingatnya sebagai tempat ibunya bekerja sebagai sukarelawan.

“Ibumu datang setiap hari dan merawatku. Aku sangat berhutang budi kepadanya,” cerita Nan-Gil.

“Jadi kalian bertemu di panti asuhan..”

“Itu semua di masa lalu. Jangan kasihani aku hanya karena aku dibesarkan di sebuah panti asuhan. Aku menerima banyak cinta berkat ibu.”

“Aku tidak kasihan kepadamu,” dalih Na-Ri, lalu duduk di ayunan di samping Nan-Gil. Ia melanjutkan, “Restoran kita dulunya adalah sebuah panti asuhan.”

“Aku mendengarnya dari ibu. Dia berkata kalau itu mengingatkannya dengan masa lalu karena itu dia menjadi sukarelawan di tempatku.”

“Aku ingat tempat itu.”

“Kau tidak pernah datang ke sana,” ujar Nan-Gil tidak percaya.

“Bagaimana kau bisa tahu? Apa kau ingat aku dari saat itu?”

“Dia selalu datang sendirian.”

“Aku selalu merasa kesal pada saat itu karena dia selalu pergi untuk menjadi sukarelawan. Aku benar-benar anak nakal, bukan?” aku Na-Ri.

“Aku selalu merasa kesal karena dia selalu pulang dan bukan tetap tinggal bersamaku,” balas Nan-Gil.

“Dia pasti lelah berurusan dengan kita berdua.”

Nan-gil tertawa mendengarnya.

“Sekolah Seulgi, bukan?” tanya Na-Ri. “Sekolah menengah yang mana? Aku jauh lebih tua, bukan?”

“Jangan terpaku pada masa lalu,” ujar Nan-Gil sembari berdiri, “Aku adalah ayah tirimu sekarang. Da Da mungkin akan mengirimkan orangnya setiap saat, jadi mari kita bekerja keras dengan akting kita.”

“Aku tidak bisa melakukan itu. Kalau kau sedekat itu dengan ibuku, kenapa aku tidak mengenalmu? Kenapa aku tidak ingat semua itu?” tanya Na-Ri.

Nan-Gil melangkah mendekatinya dan berkata, “Kau tidak bisa berpura-pura, tapi kau penasaran. Karena penasaran berarti kau tertarik. Apa kau…”

“Apa? Apa aku apa?”

“Aku mengatakan ini karena prihatin. Kau tidak bisa melihatku sebagai seorang laki-laki.”

“Hei!” bentak Na-Ri.

“Kau tidak perlu menjadi begitu kasar,” respon Nan-Gil, “Aku harus mengaduk adonan.”

Na-Ri memegang lengan Nan-Gil, mencegahnya pergi. Ia lalu berkata, “Aku benar-benar tidak dalam posisi untuk bertanya. Aku hanya perlu berterima kasih kepadamu, bukan?”

“Tidak,” jawab Nan-Gil, “Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan, jadi jangan berterima kasih kepadaku. Kalau kau tidak bisa berpura-pura, jangan lakukan. Tapi jangan bicara kepadaku.”

Nan-Gil pun akhirnya berjalan meninggalkan Na-Ri.

“Ia benar-benar tidak ingat apapun,” gumamnya.

Sementara Na-Ri, diam-diam memegang sebuah pulpen. Sepertinya sedari tadi ia diam-diam merekam pembicaraannya dengan Nan-Gil.

Duk-Bong membaca berkas informasi pribadi Nan-Gil dan Na-Ri. Saat membandingkannya, ia tiba-tiba teringat pernyataan Na-Ri bahwa saat ini ia percaya pada Nan-Gil. Duk-Bong lantas menuju ke kamar Duk-Sim dan menanyakan mengapa adiknya itu memilih pergi meninggalkan rumah mereka di Seoul dan tinggal dengan Duk-Bong di sana. Duk-Sim tidak mau menjawabnya, namun saat Duk-Bong menanyakan apakah Duk-Sim melakukan itu karena sebenarnya ia percaya pada Duk-Bong, Duk-Sim tampak mengakuinya.

“Bukan berarti kita menjadi akur,” ujar Duk-Sim.

“Bagaimana dengan Hong Dumplings? Kau bisa mempercayai Nan-Gil?” tanya Duk-Bong.

Duk-Sim tersenyum-senyum sendiri mendengar nama Nan-Gil disebut.

“Melihatmu tersenyum saat ku sebutkan namanya… Apa yang membuatmu percaya pada orang jahat itu?” tanya Duk-Bong.

“Apa?” respon Duk-Sim tidak terima. “Kau yang paling jahat. Beraninya kau menyebutnya seperti itu?”

“Aku? Yang paling jahat? Aku orang yang memberimu uang saku. Dimana sepedamu? Apa kau kehilangan sepedamu lagi? Kau benar-benar sudah gila.”

Tanpa berkata apa-apa Duk-Sim menunjuk ke arah sudut kamarnya. Ternyata sepedanya ada di sana.

“Kenapa itu ada di kamarmu? Karena dia mendapatkannya kembali untukmu?” tanya Duk-Bong.

“Berhenti bersikap menjengkelkan dan keluarlah,” bentak Duk-Sim.

Duk-Bong pun akhirnya keluar dari kamar.

Na-Ri mendengarkan kembali rekaman percakapannya dengan Nan-Gil dan mengetahui bahwa Nan-Gil sempat menggumamkan sesuatu saat ia pergi. Masalahnya, yang ia dengar hanyalah kata ‘apapun’ di akhir gumaman Nan-Gil.

“Apa maksudnya itu? Apa itu tentang aku yang cantik?” tebak Na-Ri pede.

Na-Ri kembali mengulang-ulang bagian itu untuk mengetahui gumaman Nan-Gil seutuhnya, namun tiba-tiba Dong-Jin menelponnya, mengabarkan bahwa ia sudah menutup rekening bersama mereka berdua dan mentransfer seluruh uangnya ke rekening pribadi Na-Ri. Na-Ri tidak menerimanya dan meminta Dong-Jin untuk membagi dua uang tabungan mereka, sekaligus mengurangi $30,000 bagiannya. Dong-Jin akhirnya mengaku bahwa Nan-Gil sudah membayarnya. Bukannya senang, Na-Ri malah jadi emosi mengethau hal itu.

Ia pun hendak menemui Nan-Gil di kamarnya. Saat keluar dari rumah, ternyata Nan-Gil juga keluar dari restoran. Na-Ri segera bersembunyi dan mengawasi Nan-Gil, yang saat itu melangkah pergi meninggalkan rumah menuju ke rumah kaca yang berisi kebun sayuran. Begitu Na-Ri mengikutinya masuk ke dalam, semprotan air menyala dan ia pun kebasahan. Nan-Gil yang melihatnya segera mematikan kembali semprotan air dan memberikan handuk sembari menanyakan mengapa ia bisa berada di sana. Na-Ri kebingunan mencari alasan dan berpura-pura tidak mendengarnya.

Na-Ri pun duduk bersandar di sebuah tong untuk mengeringkan bajunya. Nan-Gil langsung memintanya untuk berdiri karena tong itu berisi pupuk organik. Dengan kaget Na-Ri segera berdiri kembali. Nan-Gil mentertawakannya.

“Aku tidak pernah melihatmu tersenyum sebelumnya,” tanya Na-Ri. “Itu bagus.”

Nan-Gil langsung berhenti tersenyum dan manyun kembali. Ia berkata, “Setidaknya cobalah untuk berpura-pura. Kita seharusnya tidak berkata seperti itu.”

“Apa salahnya mengatakan kau terlihat bagus saat tersenyum?” tanya Na-Ri. Dalihnya, “Kita bisa mengatakan itu kepada seseorang yang baru saja kau temui.”

“Kau benar,” respon Nan-Gil. “Aku menepati janjiku kepada ibu, jadi seolah-olah kita baru saja bertemu. Kita tidak ada hubungan satu sama lain. Jadi kita tidak boleh bicara di sini seperti ini.”

“Ya ampun. Kenapa kau membuat batasan sekarang? Lalu kenapa kau membayar $30,000 kepada Dong-Jin?”

“Pamanmu meminjamnya. Ibu juga pasti ingin aku untuk membayarnya kembali.”

“Itu sebabnya aku merasa seperti aku berhutang kepadamu dan harus berterima kasih. Terima kasih. Aku bersungguh-sungguh. Aku akan segera membayarmu kembali.” janji Na-Ri.

Nan-Gil menanggapinya dengan senyuman. Ia lantas menunjuk ke kebun dan menanyakan apakah Na-Ri tahu bunga strawberry. Ternyata tidak dan mereka berdua kemudian sibuk di kebun, dimana Nan-Gil menceritakan tentang macam-macam tanaman yang ada di sana pada Na-Ri.

“Mungkin kelihatan jelek, tapi lebih menguntungkan,” ujar Nan-Gil, “Itulah yang disebut pertumbuhan.”

“Apa kau memintaku untuk tumbuh?” tanya Na-Ri sensi.

“Apa itu yang kau pikirkan? Bukan itu maksudku.”

“Lalu apa?” tanya Na-Ri yang mulai kembali bete.

“Tidak perlu untuk bangun sepanjang malam, mendapatkan keriput, dan merasa tertekan. Kau bertumbuh. Itu saja.”

“Kau sebut itu menghibur?”

“Kalau kau bersikeras akan membayarku, aku sudah memikirkan penggunaannya. Ku rasa mengambil liburan panjang, kembali ke rumah, dan menjadi tua tidak menguntungkan. Kalau kau membayarku kembali, aku akan mendaftarkanmu kepada mak comblang.”

Na-Ri berdiri dengan muka kesal.

“Apa yang kau katakan bahkan tidak lucu,” ujarnya. “Apa? Seorang mak comblang? Apa kau memintaku untuk menikah dengan sembarang orang?”

Na-Ri tiba-tiba membayangkan bahwa ia menikah. Nan-Gil sebagai ayah mengantarkannya menuju altar. Namun ia sontak berteriak histeris begitu mendapati wajah calon suaminya yang ternyata adalah Nan-Gil sendiri.

48

Tersadar dari lamunannya, Na-Ri jadi stres sendiri membayangkan ia sudah mulai gila. Nan-Gil yang melihatnya meminta Na-Ri untuk berhenti memikirkan yang tidak-tidak dan mengajaknya keluar. Nan-Gil yang kemudian keluar terlebih dahulu memegangi dadanya sembari berkata, “Sadarlah”.

Hari berganti. Esok paginya, Na-Ri bangun dan meminum air yang ada di kulkas langsung dari botolnya. Ia baru sadar bahwa saat itu Nan-Gil beserta tiga karyawannya sedang terbengong menyaksikan ulahnya. Lee Yong-Kyoo (Ji Yoon-Ho), salah satu karyawan Nan-Gil, mengomentari gaya minum Na-Ri yang mengesankan. Dengan malu-malu Na-Ri pun kembali lagi ke kamarnya di lantai atas. Nan-Gil sempat memintanya untuk kembali ke Seoul setelah sarapan, namun Na-Ri justru menjawab bahwa ia akan membereskan meja sarapan mereka mulai dari sekarang.

Duk-Bong datang ke restoran menemui Nan-Gil. Ia memberitahu Nan-Gil bahwa ia sudah tahu tentang masalah hutang ayah Na-Ri dari Na-Ri sendiri. Namun dari hasil penyelidikannya, hutang ayah Na-Ri tidak mungkin sebanyak yang disebutkan oleh Na-Ri. Ia pun menanyakan hutang ayah Na-Ri yang sebenarnya pada Nan-Gil.

“Pergi saja urus urusanmu sendiri,” respon Nan-Gil.

“Aku berpikir keras tentang kenapa kau menjadi ayah tirinya. Wow, kau melakukannya dengan baik. Kalau tidak, Na-Ri akan hidup dalam siksaan. Lalu aku berpikir, pemberi pinjamannya adalah Da Da Finance, yang terburuk dari yang buruk, ahli dalam hal kejahatan. Kau bisa saja menjual tanahnya kepadaku dan membayar mereka. Apa kau mencoba untuk membuat Na-Ri terkesan? Kalau begitu kau sudah melakukan cukup banyak hal sekarang, jadi jual saja.”

“Aku tidak akan menjualnya,” jawab Nan-Gil, “Bukankah itu ilegal kalau terus memintaku untuk menjualnya?”

“Kenapa kau tidak mau menjualnya? Karena kau terus berpisah dengan Na-Ri setelah kau melakukannya? Atau karena kau akan kehilangan semua kenanganmu?”

Nan-Gil tidak menjawabnya, hanya terus menatap ke arah Duk-Bong.

Duk-Bong pun melanjutkan, “Na-Ri percaya bahwa kau menjadi ayah tirinya karena hutang. Dia merasa kasihan. Kalau memang hanya karena hutang, kenapa kau harus menjadi ayahnya? Atau ada rahasia yang tidak aku ketahui?”

“Kita tidak cukup dekat untuk berbagi rahasia,” respon Nan-Gil singkat.

“Cinta pertama? Suka? Atau seseorang yang kau kagumi sepanjang hidupmu? Mereka mengatakan cinta mengalahkan segalanya, tapi tidak dengan Da Da.”

Na-Ri tiba-tiba datang menghampiri mereka.

“Ada apa dengan ketegangan ini?” tanyanya.

“Ketegangan apa?” jawab Nan-Gil dan Duk-Bong kompak.

“Kalian tidak terlihat dekat.” ujar Na-Ri.

“Benarkah? Kita tidak terlihat dekat, bukan?” respon Duk-Bong. “Bukankah seharusnya kau bersikap lebih baik kepadaku?”

“Apa kau tahu berapa banyak orang yang datang ke museum kami? Kebanyakan dari mereka mampir ke restoran ini.”

“Benar juga,” gumam Na-Ri.

Na-Ri kemudian berpamitan untuk pergi keluar. Duk-Bong memintanya untuk mampir ke kantornya sebelum Na-Ri pulang ke Seoul karena ada hal penting untuk dibicarakan. Di belakangnya, Nan-Gil diam-diam mengkomat-kamitkan mulutnya menirukan perkataan Duk-Bong. Na-Ri mengiyakan.

“Kenapa kau menceritakan soal hutang itu kepadanya?” tanya Nan-Gil sepeninggal Duk-Bong.

“Karena dia pengacara jadi aku berkonsultasi dengannya,” jawab Na-Ri.

Nan-Gil lantas meminta Na-Ri untuk berbelanja tulang ekor sapi Korea dan membuat sup. Na-Ri menjawab bahwa ia akan membuatkannya sup tulang yang banyak hingga cukup untuk persediaan musim dingin. Nan-Gil jadi kesal mendengarnya.

Yeo-Joo yang sedang nge-gym menelpon Dong-Jin, menanyakan apa yang akan mereka makan malam nanti. Dong-Jin terlihat tidak begitu berminat dan mengatakan bahwa ia merasa tidak enak semenjak beberapa waktu lalu bertemu dengan Na-Ri.

“Mungkin aku merasa bersalah sekarang,” ujar Dong-Jin.

Meski kesal, Yeo-Joo seperti biasa menutupinya dan berpura-pura mendukungnya.

“Aku mengerti. Kau adalah orang yang baik dan hangat. Kau ingin sendirian, bukan? Kau tidak ingin melihatku…” respon Yeo-Joo.

“Bukan begitu.. Tentu. Aku membutuhkan waktu untuk sendirian.”

Dengan menahan emosinya Yeo-Joo mengiyakan.

“Masuklah ke kamarmu sendiri dan muncullah dengan kemenangan,” ujar Yeo-Joo.

Dong-Jin berterima kasih lantas menutup telponnya. Yeo-Joo kemudian melampiaskan kekesalannya dengan berlari sekencang mungkin di treadmill, sampai-sampai hampir terjatuh saking kencangnya.

Na-Ri membantu seorang nenek mengupas jeruk. Nenek itu ternyata mengenalinya sebagai putri Jung-Im. Ia memberitahu Na-Ri bahwa Jung-Im sering menggambarkan Na-Ri sebagai serangga, karena terlihat tenang namun bisa tiba-tiba menyengat. Na-Ri tidak terima dan mengatakan bahwa ia sebenarnya sangat lembut. Nenek tersebut tertawa menanggapinya.

Na-Ri menyiapkan sup sembari mendengarkan rekaman perbincangannya dengan orang-orang di sekitar. Banyak dari mereka yang mengenali Nan-Gil sebagai sosok pria yang baik.

Tak lama, dengan ramah Na-Ri menghidangkan sup tersebut pada Nan-Gil dan karyawannya. Nan-Gil sampai heran sendiri melihat sikap Na-Ri. Dan seperti janji Na-Ri sebelumnya, setiap hari ia selalu menghidangkan sup sapi.

Seperti hari-hari sebelumnya, Na-Ri pergi keluar dari rumah. Nan-Gil menyusulnya keluar dan menanyakan kemana ia pergi setiap harinya.

“Kau berkata kalau aku perlu tumbuh. Apa kau tahu bunga memiliki makna? Coba tebak makna dari bunga terong” tanya Na-Ri.

Nan-Gil terdiam.

“Kebenaran. Aku suka maknanya,” jawab Na-Ri. “Kita jujur saja.”

“Kurasa… aku harus membersihkan rumah sebelum menjadi dingin.”

“Kenapa tidak memperbaiki seluruh rumah?”

“Tepat sekali. Lupakan semua ini dan hidup dengan nyaman di Seoul.”

“Huh,” dengus Na-Ri sambil berlalu.

Duk-Sim sedang duduk di tangga museum kakaknya saat ia melihat Na-Ri datang ke sana. Ia segera membuntutinya. Na-Ri sendiri menemui sekretaris Duk-Bong, Kwon Soon-Rye (Jung Kyung-Soon) karena mendapat info dari warga sekitar untuk menemui Soon-Rye apabila ingin tahu tentang Hope Orphanage. Soon-Rye menolaknya dan beralasan tidak punya waktu untuk itu.

“Kenapa kau sangat membenci ibuku?” tanya Na-Ri tiba-tiba.

“Kenapa? Apa aku tidak boleh? Apa semua orang harus menyukainya?” tanpa diduga Soon-Rye merespon dengan penuh emosi.

“Tidak, kau boleh membencinya. Tapi sepertinya kau memiliki alasan,” ujar Na-Ri.

“Aku hanya tidak suka kepadanya. Kadang-kadang kau hanya tidak suka pada seseorang. Ini adalah tempat kerja. Silahkan pergi.”

“Kau juga tidak suka kepadaku,” dari atas tangga Duk-Bong menimpali.

Soon-Rye jadi makin kesal dan pergi meninggalkan mereka berdua.

“Aku mengerti bahwa dia membencimu, tapi ibuku benar-benar baik,” ujar Na-Ri.

“Apa yang kau tahu sampai dia membenciku?” tanya Duk-Bong.

“Cukup sulit untuk mengatakannya secara langsung kepadamu,” balas Na-Ri.

“Tidak masalah. Katakan kepadaku.”

“Anggap saja kau tidak disukai,” jawab Na-Ri.

“Aku rasa kau juga semakin tua. Anggap saja aku tidak disukai? Orang-orang sekarang ini menyebutnya menjadi imut. Aku menarik dengan cara seperti itu.”

Duk-Bong kemudian memberitahunya bahwa ia sudah menarik aduan pembatalan pernikahan. Duk-Sim yang menguping jadi kepo dengan hal itu.

Duk-Bong dan Na-Ri lantas mengobrol di taman.

“Aku rasa aku tahu kenapa ia menjadi ayah tirimu,” ujar Duk-Bong.

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu apa aku harus memberitahumu… Baiklah. Kau dan Nan-Gil dibesarkan di sini. Kalian adalah teman dari sekolah dasar.”

“Aku tahu itu,” potong Na-Ri.

“Kau tahu?” tanya Duk-Bong heran.

Na-Ri mengiyakan.

“Apa kau tidak merasakan apapun?” tanya Duk-Bong.

“Tidak,” jawab Na-Ri.

“Baiklah. Mereka mengatakan bahwa reuni sekolah dasar cukup populer di seluruh dunia. Kau tahu kenapa? Itu karena apa yang kau lihat dan rasakan sebagai seorang anak tidak akan pernah terlupakan. Katakanlah seseorang melakukan sesuatu yang begitu mengejutkan sampai tidak ada seorang pun di dunia ini bisa mengerti dia. Menurutmu apa alasannya?”

“Apa dia menjadi ayah tiriku begitu mengejutkan?”

“Dia begitu muda, tapi ia mendaftarkan pernikahannya. Kau tidak bisa membatalkannya.”

“Kau tidak bisa membatalkannya?”

“Tentu saja tidak,” jawab Duk-Bong. “Dan dia bersikeras menanggung semua tanggung jawab dan hidup seperti seorang biksu, membuat pangsit. Dan dia harus melawan Da Da Finance. Mereka secara praktis membunuh orang karena tidak membayar hutangnya. Menurutmu kenapa dia menanggung semua itu? Apa kau tidak mengerti?”

Na-Ri hanya terbengong mendengar penjelasan Duk-Bong.

Nan-Gil sedang sibuk di restoran saat Na-Ri memintanya untuk menemuinya di danau. Nan-Gil membaca pesan tersebut dengan kesal.

Na-Ri duduk di bangku di pinggir danau menunggu kedatangan Nan-Gil. Ia teringat pesan ibunya tentang orang yang sering melakukan kebohongan, baik pada orang lain maupun pada dirinya sendiri, saat dulu mereka duduk di tempat yang sama.

“Itu sebabnya kau butuh tempat untuk menghadapi kenyataan,” ujar Jung Im pada saat itu. Tambahnya, “Mereka tidak bisa berbohong di sini. Ini akan menjadi tempat yang paling damai dan merdeka. Kau akan damai dan bebas di sini.”

Tak lama kemudian Nan-Gil datang.

“Kau juga tahu tempat ini,” ujar Na-Ri, “Kalau begitu kau juga pasti tahu bahwa kau tidak bisa berbohong di sini.”

“Itu sebabnya aku ingin memberimu ponsel milik ibu. Aku belum membuangnya,” ujar Nan-Gil sembari menyodorkan sebuah kotak putih. “Mereka mencoba untuk menghubunginya, tidak tahu kalau dia sudah meninggal. Aku tidak bisa memberikannya kepadamu, berjaga-jaga jangan sampai kau menerimanya. Lagipula ini adalah milik ibumu.”

“Baiklah, aku akan mengurusnya.”

Nan-Gil lantas duduk di samping Na-Ri.

“Aku mendengar kalau Da Da Finance berbahaya,” ujar Na-Ri, “Aku tidak tahu janji apa yang kau buat dengan ibu, tapi dia tidak ada di sini, jadi kau tidak perlu melakukan ini.”

“Aku berjanji pada ibu saat pemakaman, untuk melindungi tempat ini.”

“Dan apa arti dari tempat ini baginya?”

“Bukankah itu yang sudah kau cari-cari?”

“Bagaimanapun kau memarahiku untuk tidak pergi ke Seoul.”

“Aku tidak marah. Sebenarnya iya. Karena kita tidak bisa berbohong di sini. Cari tahu sendiri apa arti tempat ini bagi ibu. Apa kau menemukan sesuatu?”

“Nama panggilanku,” jawab Na-Ri.

“Nama panggilan?”

“Ibuku memanggil ‘anak anjing’ di depanku, tapi dia mengatakan kepada orang lain kalau aku menyengat seperti serangga. Aku tidak percaya dia berbicara di belakangku.” ucap Na-Ri.

“Dia menyebutmu sebagai kutu babai kepadaku. Dia pikir kau tajam dan menakutkan”

“Dia berbicara macam-macam di belakangku. Aku harus mencoba untuk mengetahui lebih lanjut tentang ibu.”

Na-Ri lantas terdiam sejenak, lalu menoleh menatap Nan-Gil dan berkata, “Kalau begitu kau juga harus berjanji kepadaku. Kalau Da Da mengancammu, kau akan berhenti.”

“Baiklah,” jawab Nan-Gil.

“Satu hal lagi. Kalau suatu hari kau merasa membuat pangsit seperti biksu bukanlah hal yang seharusnya kau lakukan, kau boleh pergi.”

“Seorang biksu?”

“Seseorang berkata kau hidup seperti seorang biksu saat kau masih muda. Apa kau punya pacar? Apa kau pernah punya pacar? Apa kau pernah berkencan? Aku rasa tidak,” ujar Na-Ri.

Nan-Gil tidak menjawabnya dan malah kabur.

Di kamarnya, Na-Ri membuka kotak pemberian Nan-GIl. Ia mengambil ponsel ibunya dan tersenyum bahagia melihat foto-foto yang ada di galeri ponsel tersebut.

Esok harinya, Na-Ri kembali berkeliling kota dan bergaul bersama warga sekitar. Tanpa disangka Wan-Sik datang dan melihatnya. Na-Ri lantas menemuinya dan mengajaknya ngobrol, tidak lupa mengaktifkan alat perekamnya terlebih dahulu.

“Legenda apa itu?” tanya Na-Ri.

“Permisi?” respon Wan-Sik heran.

“Ko Nan Gil yang legendaris. Jadi legenda apa itu?”

Duk-Sim makan di restoran Hong Dumplings sambil mengintip-intip Nan-Gil. Melihat mobil Wan-Sik berhenti di depan restoran, Nan-Gil segera keluar dan menemuinya di dalam mobilnya.

“Ayah mengatakan terima kasih atas hadiahnya,” ujar Wan-Sik. “Apa yang kau lakukan sekarang?”

“Sudah ku katakan kepadamu. Aku tidak ada rencana lain. Aku akan terus membuat pangsit di sini.” jawab Nan-Gil.

“Ayah pikir seseorang sudah membantumu karena kau menghapus dirimu sendiri dari daftar keluarga.”

“Itu berarti dia mencurigaimu. Jangan terlalu sering menemuiku. Hati-hati agar dia tidak mencurigaimu.” respon Nan-Gil sembari membuka pintu untuk keluar.

“Oh benar, aku bertemu Na-Ri dalam perjalanan ke sini.” ujar Wan-Sik.

Nan-Gil kembali menutup pintu.

“Dia bertanya apa legenda tentang dirimu.” lanjut Wan-Sik.

Na-Ri duduk terdiam sembari memikirkan semua yang telah terjadi. Tiba-tiba ia berdiri dan berlari.

“Sudah aku katakan kalau aku tidak pernah bertemu dengan Na-Ri,” ujar Nan-Gil pada Wan-Sik.

“Kau selalu menjadi tegang kalau itu tentang dia. Tentu saja aku tidak menyuruhmu untuk pergi ke penjara.”

Nan-Gil memegang bahu Wan-Sik dan berkata, “Aku akan menganggap itu sebagai penolakan terhadap bantuanku. Tunggu dan lihat saja apa yang akan terjadi.”

“Aku benar-benar tidak mengatakan apapun kepadanya,” balas Wan-Sik. “Dia bertanya lebih dulu tentang hal itu kepadaku.”

Nan-Gil tidak menghiraukannya dan keluar dari mobil begitu saja. Wan-Sik pun pergi meninggalkannya. Tiba-tiba Na-Ri datang dan langsung memeluk Nan-Gil sembari berkata dalam hati, “Maaf kalau aku tidak mengingatmu selama ini, Ko Nan Gil.”

Nan-Gil kebingungan sendiri dengan sikap Na-Ri yang berubah drastis.

Preview Episode 6

Berikut ini adalah video preview episode 6 dari drakor Man Living At My House / Sweet Stranger And Me:

» Sinopsis eps 6 selengkapnya

Reply