Sinopsis Man Living At My House Episode 10 & Preview Episode 11 (22 November 2016)

Di sinopsis Man Living At My House episode sebelumnya, Bae Byung-Woo (Park Sang-Myeon) dan Kim Wan-Sik (Woo Do-Hwan) sukses menghasut Shin Jung-Nam (Kim Ha-Kyun) sehingga berbalik memusuhi Go Nan-Gil (Kim Young-Kwang). Ia tiba-tiba mendatangi rumah Hong Na-Ri (Soo-Ae) dan memberitahu Na-Ri untuk meninggalkan Nan-Gil sembari memaki-maki Nan-Gil. Do Yeo-Joo (Jo Bo-Ah) yang kebetulan sedang menginap di sana sedikit mencuri dengar pembicaraan mereka bertiga dan jadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang kira-kira bakal terjadi selanjutnya di sinopsis drama korea Sweet Stranger And Me episode 10 ini?

Dok. gambar dan video © KBS2 of Korea Selatan

Sinopsis Episode 10

Jung-Nam berjalan hingga ke ujung gang dimana sudah ada Wan-Sik menanti. Mereka segera masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan Jung-Nam sudah melakukan sesuai yang ia perintahkan, Wan-Sik tersenyum puas. Sementara itu, Na-Ri menanyakan apakah memang benar masih ada hal yang disembunyikan Nan-Gil darinya.

“Da Da membuat paman mengambil pembatalan pernikahan,” ujar Nan-Gil, “Selain itu, mereka mengklaim ayahmu telah mati.”

“Ia bilang ia sudah melihat sertifikat kematiannya,” respon Na-Ri.

“Da Da bisa dengan mudah memalsukan dokumen seperti itu. Aku akan memeriksanya sendiri. Aku akan mencarinya,” janji Nan-Gil.

“Tidak perlu. Pamanku pernah bilang bahwa tahun kemarin ia melihat ayah. Apapun yang ia katakan, jangan dimasukkan hati.”

“Apa yang dikatakan anggota keluarga biasanya benar,” ujar Nan-Gil, lantas berlalu pergi dengan alasan mengaduk adonan.

1

Kwon Duk-Bong (Lee Soo-Hyuk) masuk ke kamar Kwon Duk-Sim (Shin Se-Hwui). Tidak seperti biasanya, Duk-Sim tidak mengomelinya. Ia mengaku sudah menganggap Duk-Bong tidak ada.

“Duk-Shim, kamu tahu caranya berkelahi?” tanya Duk-Bong.

“Apa yang kamu katakan?” tanya Duk-Sim heran.

“Apa yang kamu lakukan hingga bisa merobek…”

“Dia bilang itu aku?” potong Duk-Sim dengan kesal. “Aku bilang kepadamu, ia pastinya tukang bully di sekolahnya dulu. Ia melemparkan aku ke tembok lalu memelintir tanganku. Itu adalah tehnik yang digunakan pembully di sekolah.”

“Pembully sekolah? Bagaimana kamu tahu itu?” tanya Duk-Bong.

Duk-Sim berpura-pura cuek dan mengenakan headsetnya. Duk-Bong melepaskannya kembali lalu bertanya, “Apa ada yang terjadi di sekolah?”

“Apa kamu sungguh suka Na-Ri dan bukan dia?”

“Ayolah, jangan ubah pembicaraan.”

“Dia mirip sepertinya. Cinta pertamamu yang menusukmu. Jangan khawatir, aku tidak sedang menjagamu. Ia menyebalkan, tapi aku ada di pihak Na-Ri. Semoga beruntung.”

“Berkemaslah,” ujar Duk-Bong, yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Duk-Sim.

2

Na-Ri menghampiri Nan-Gil yang sedang membuat adonan, menanyakan mengapa Nan-Gil tidak memberitahunya tentang gugatan itu. Nan-Gil mengaku bahwa ia masih memikirkan bagaimana caranya memberitahu Na-Ri tentang hal itu.

“Aku harus menang di pengadilan. Untuk bisa melakukan itu, testimonimu sangat penting. Berat bagiku untuk memintamu menjadi saksiku,” jawab Nan-Gil.

“Aku tidak punya rencana untuk menjadi saksimu,” respon Na-Ri. “Apa kamu lupa? Kita sedang berkencan sekarang. Kamu membuatku kembali dan kamu menyatakan cintamu kepadaku. Ia akan membatalkan pernikahan. Pertimbangkan itu sebagai sebuah kesempatan.”

“Kamu menanyakan apa arti tempat ini bagiku. Aku akan mengingatkanmu. Ini lebih penting bagiku daripada kamu. Itu sebabnya aku tidak bisa menyerahkan tempat ini.”

“Kamu mengatakan kamu akan selamanya menjadi ayah tiriku? Aku tidak menginginkannya. Aku tidak akan melakukannya. Kita mungkin putus suatu hari nanti. Cinta kita mungkin akan mati. Bagaimanapun, aku tidak bisa terus seperti ini denganmu. Aku tidak akan berdiri menjadi saksi.”

“Na-Ri…”

“Jangan sebut namaku. Jangan katakan apapun. Aku bahkan tidak tahu kenapa kita berkelahi. Aku tidak mengerti dan ini tidak masuk akal. Hentikan. Aku tidak ingin berteriak atau menyakitimu. Kita berdua harus memikirkan ini,” ujar Na-Ri panjang lebar sebelum akhirnya pergi meninggalkan Nan-Gil.

3

Pagi-pagi Lee Yong-Kyoo (Ji Yoon-Ho) yang sedang menyiapkan restoran dikagetkan dengan kedatangan 3 kru acara “Top Three Eating King” yang sudah standby di depan restoran dengan membawakan kopi panas. Yong-Kyoo segera memanggil Nan-Gil untuk memberitahukan tentang mereka. Ketiganya mengaku tidak akan berhenti datang ke restoran hingga tujuan mereka tercapai.

4

Tak lama kemudian Na-Ri keluar dari rumah dan melihat ketiga kru TV dan Yong-Kyoo sedang asyik tertawa-tawa sementara Nan-Gil hanya terdiam berdiri di sana. Melihat Na-Ri yang ternyata keluar sambil membawa sekop, Nan-Gil jadi penasaran.

Duk-Bong menanyakan pada Kwon Soon-Rye (Jung Kyung-Soon) kenapa kakeknya memberikan tanahnya pada orang berusia 15 tahun. Soon-Rye seperti biasa menutup mulutnya. Duk-Bong pun melanjutkan, meminta Soon-Rye untuk menyelidiki rahasia kotor apa yang sebenarnya dimiliki keluarganya.

“Bagaimana aku bisa mencari tahu apa yang terjadi di tahun 1975?” tanya Soon-Rye.

“Gosh, bagaimana kamu tahu itu terjadi di tahun 1975?” tanya Duk-Bong balik.

“Aku punya ingatan fotografis yang nyaris sempurna,” dalih Soon-Rye.

“Shin Jung-Im saat itu berusia 15 tahun. Kamu pasti mengenalnya dengan baik karena ia adalah teman baikmu,” balas Duk-Bong. “Kalau kamu tidak bisa menemukan apapun, cobalah untuk kembali ke ingatanmu.”

5

Duk-Bong lantas mengenakan jasnya dan turun dari kantornya. Tanpa diduga ada Yeo-Joo sudah menunggunya di bawah tangga.

“Kwon Duk-Bong, apakah kamu ingin membuat perjanjian denganku?” tanya Yeo-Joo.

Nan-Gil menanyakan pada Lee Mi-sun (Lee Mi-Do), si PD acara “Top Three Eating King”, bagaimana proses syuting mereka. PD menjawab bahwa ia hanya perlu bekerja seperti biasanya. Nantinya mereka akan merekam cara Nan-Gil membuat pangsit, dan komentar dari para tamu mengenai pangsit tersebut. Kang Han-Yi (Jung Ji-Hwan) tiba-tiba menimpali bahwa Nan-Gil sudah pasti tidak akan mau ikut disyuting. Park Joon (Lee Kang-Min) mengamini. Mi-Sun tidak ambil pusing, bahkan sudah membayangkan betapa kerennya jika Joon dan Han-Yi yang menjadi chef menggantikan posisi Nan-Gil di saat syuting.

“Aku punya syarat,” ujar Nan-Gil, “Kami ingin mencari pemilik asli dari tempat ini.”

“Makin banyak cerita, makin bagus,” respon Mi-Sun. “Apakah ini artinya pemilik asli menghilang? Bagaimana kamu ingin menceritakan kisahnya?”

“Telpon aku setelah kamu memastikan tanggalnya,” jawab Nan-Gil.

6

Tanpa buang waktu, dengan sigap Mi-Sun lantas memerintahkan kedua asistenya untuk mempersiapkan segala sesuatunya hari itu juga. Yong-Kyoo yang melihatnya jadi tidak percaya sendiri kalau Nan-Gil benar-benar menyetujuinya.

“Pemilik berhati dingin seperti dia biasanya gampang berubah pikiran,” ujar Mi-Sun pada Yong-Kyoo.

Nan-Gil keluar ke halaman belakang dan mendapati Na-Ri sedang menggali lubang. Saat ditanya, Na-Ri mengaku sedang belajar berkebun dan hendak menyuburkan tanah kering di halaman.

“Ini wilayahku. Kenapa kamu tidak mendiskusikannya denganku?” tanya Nan-Gil.

“Seperti kamu pernah menanyakan padaku saja. Kamu selalu menyembunyikan segala sesuatunya dan memutuskannya sendiri,” jawab Na-Ri.

“Apa yang kamu bilang?”

“Apa kamu tidak mendengarku? Kamu punya pendengaran yang buruk.”

“Aku sudah memikirkannya semalaman dan aku berada di pihak pamanku. Pernikahan harus dibatalkan. Kamu tidak akan bisa menang. Aku sudah cukup dengan cinta tanpa harapan.”

7

Nan-Gil merespon dengan mengambil sekop Na-R. Melihat tangan Na-Ri yang lecet, ia menggenggamnya dan memijatnya.

“Lakukan dimana ada sinar matahari dan tanahnya lembut,” ujarnya. “Jika kamu menggali seperti itu, kamu akan melukai tanahnya. Lain kali pastikan untuk menggunakan sarung tangan.”

Na-Ri menarik tangannya dari genggaman Nan-Gil dan lanjut menggali sembari berkata, “Orang lemah sepertimu bisa menggunakan sarung tangan.”

Nan-Gil menghela nafasnya melihat kelakuan Na-Ri.

Duk-Bong menanyakan perjanjian macam apa yang ditawarkan Yeo-Joo.

“Aku membantumu untuk bisa bersama dengan Na-Ri. Aku dengar Go Nan-Gil adalah ayah tirinya,” ujar Yeo-Joo.

“Dan?” tanya Duk-Bong.

“Itu sebabnya keduanya tidak bisa bersama,” lanjut Yeo-Joo. “Pamannya datang semalam dan situasinya kacau. Ini kesempatanmu. Aku akan membantumu.”

“Kita berdua bukan tipe yang saling membantu.”

“Ini akan menguntungkan kita berdua. Well, aku mengatakan ini sebagai teman. Seberat apapun aku bekerja, situasi keluargaku tidak bisa berbalik. Itu sebabnya aku harus menikah dengan baik.”

“Kamu terlalu jujur,” respon Duk-Bong.

“Aku membantumu agar bisa bersama dengan Na-Ri, dan kamu bisa membantuku bertemu dengan teman-temanmu. Kita juga bisa memberi saran satu sama lain.” jelas Yeo-Joo.

“Kamu meminta kepadaku untuk mengenalkanmu dengan temanku?” tanya Duk-Bong.

“Itu gunanya teman, bukan?”

8

Nan-Gil mengenakan sarung tangan serta syal pada Na-Ri. Ia lalu memberitahunya bahwa ia akan melakukan show TV yang diminta pada hari itu juga.

“Seulgi-ri akan dipenuhi dengan tawa. Aku rasa kamu akan sering melihat mereka setelah ini,” respon Na-Ri.

“Aku melakukan ini untuk mencari ayahmu,” balas Nan-Gil.

“Itu maksudku. Jika kamu mencarinya, kamu tidak bisa menjadi ayah tiriku. Aku akan berada di pihak pamanku di pengadilan. Kamu tidak akan bisa menang. Lalu kita menjadi orang asing, kita berkencan, lantas menikah dan punya bayi.”

9

Tanpa disangka Yong-Kyoo tiba-tiba muncul. Na-Ri jadi salah tingkah. Yong-Kyoo sendiri pura-pura tidak mendengar apa-apa, hanya memberitahu Nan-Gil bahwa Mi-Sun ingin bicara dengannya. Selain itu juga akan ada selebriti yang datang sebagai tamu acara. Nan-Gil pun mau tidak mau mengikuti Yong-Kyoo masuk ke restoran. Na-Ri meliriknya dengan kesal.

Nan-Gil mendadak menghentikan langkahnya. Ia menghampiri Na-Ri, menggenggam tangannya, dan berkata, “Ada suatu tempat yang harus kita datangi.”

Nan-Gil lantas membawanya ke hutan.

“Kenapa kita di sini?” tanya Na-Ri heran.

“Aku harus bicara denganmu,” jawab Nan-Gil.

“Kamu masih punya sesuatu untuk diceritakan kepadaku?”

“Ini adalah cerita lama yang menyakitkan. Ibumu ingin menyimpannya sebagai rahasia.”

Adegan flashback muncul, saat dulu Shin Jung-Im (Kim Mi-Sook) menerima surat penggusuran tanah. Ia ingin melindungi tanah itu karena ingin bertanggung jawab terhadap perbuatan ayahnya dulu, yang mentelantarkan Soon-Rye (yang ternyata sempat tinggal di panti asuhan milik orang tua Jung-Im) begitu saja setelah panti asuhan itu terbakar. Juga agar orang-orang selalu ingat kepada anak-anak panti asuhan yang menjadi korban kebakaran tersebut.

10

“Apakah itu sebabnya ia selalu datang kemari?” tanya Na-Ri, “Ini pasti berat bagi ibu dan Soon-Rye. Aku mengerti sekarang. Aku mengerti, tapi aku masih sedih. Ibu hanya mengatakan padaku bahwa ia tumbuh besar di panti asuhan. Aku juga punya kakek ternyata.”

“Ibumu ingin menebus apa yang dilakukan orang tuanya,” jawab Nan-Gil.

“Ia seharusnya menceritakan kepadaku. Aku seharusnya tahu.”

“Ia hanya menceritakan kepadaku karena masalah properti. Ia minta padaku untuk merahasiakannya.”

“Lalu kenapa kamu memberitahukanku?”

“Kamu sudah tahu kenapa.”

“Apakah itu sebabnya kamu ingin melindungi tempat ini? Untuk ibu? Itu benar sepertimu. Aku bisa melihat kenapa ia begitu mempercayaimu,” ujar Na-Ri sambil melangkah meninggalkan Nan-Gil.

Yeo-Joo berada dalam mobil Duk-Bong, membeberkan strateginya agar Duk-Bong dan Na-Ri bisa bersama. Dimulai dengan memastikan agar Na-Ri melihat Duk-Bong dan Yeo-Joo berduaan. Tujuannya untuk mengetes seberapa besar perhatian Na-Ri pada Duk-Bong.

Tiba di restoran, mereka kaget melihat kondisi restoran yang ramai. Di dalam restoran sendiri, Mi-Sun mempertanyakan keberadaan Nan-Gil pada Yong-Kyoo dan meminta asistennya untuk mencarinya sebelum PD datang. Karena tidak tahu harus mencari kemana, asisten Mi-Sun ganti meminta Yong-Kyoo untuk mencari bosnya. Dengan segera Yong-Kyoo berlari keluar untuk mencari Nan-Gil.

Tepat di saat ia keluar, Nan-Gil dan Na-Ri datang. Yong-Kyoo langsung menarik Nan-Gil ke dalam restoran, sementara Na-Ri masuk ke dalam rumah tanpa berkata apa-apa pada Yeo-Joo yang menyapanya.

“Kamu lihat tatapan itu?” tanya Yeo-Joo pada Duk-Bong. “Itu game over.”

11

Menyusul ke dalam, Yeo-Joo dan Duk-Bong mendapati Na-Ri sedang melanjutkan berkebun. Yeo-Joo memberi semangat pada Duk-Bong untuk beraksi sedangkan ia sendiri masuk ke dalam rumah. Perlahan Duk-Bong menghampiri Na-Ri dan berbasa-basi membuka percakapan. Karena Na-Ri tidak menghiraukannya, Duk-Bong mengambil sekop dan ikut membantu Na-Ri menyiapkan tanah untuk berkebun. Usahanya kali ini berhasil karena Na-Ri jadi menghentikan kerjanya dan menoleh ke arah Duk-Bong.

Duk-Bong langsung berniat mempraktekan apa yang sudah diajarkan oleh Yeo-Joo kepadanya: menatap dalam-dalam, melangkah mendekat, dan memegang lengannya. Di saat yang sama, Yeo-Joo, yang sedang men-touch up make-upnya di kamar, ternyata kepikiran dengan saat dimana ia mengajarkan hal tersebut pada Duk-Bong dan tanpa disadari membuat hatinya deg-degan.

“Ia tidak mungkin menjadi milikku. Sadarlah,” ujar Yeo-Joo pada dirinya sendiri, “Jangan buang waktu lagi.”

Kembali ke Duk-Bong, ia mulai mendekati Na-Ri. Saat hendak menyentuhnya dengan berpura-pura ada sesuatu di rambut Na-Ri, secara reflek Na-Ri menangis tangan Duk-Bong. Duk-Bong sadar diri dan kembali menjauh.

“Pamanku mengajukan pembatalan pernikahan,” ujar Na-Ri.

“Pamanmu punya hak untuk itu,” respon Duk-Bong.

“Kamu sebelumnya ingin mengajukan. Respon macam apa itu?”

Duk-Bong hanya mengangkat bahunya. Ia lalu bertanya apa yang dikatakan oleh Nan-Gil tentang hal itu.

“Kamu tahu egonya. Ia bilang ia akan menang di pengadilan,” jawab Na-Ri.

“Kenapa kamu berhenti? Kamu sungguh ingin berkebun di sini?” tanya Duk-Bong.

“Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tahu kenapa aku memberitahumu. Abaikan saja aku.”

“Melampiaskan pada kebun tidak akan membantu,” balas Duk-Bong. “Aku akan memberitahumu apa yang harus dilakukan, jadi ayo kita pergi ke Seoul.”

12

Duk-Bong keluar bersama Na-Ri yang sudah berganti pakaian. Yeo-Joo menunggu mereka di samping mobil. Saat Duk-Bong membukakan pintu mobil untuk Na-Ri di bagian depan, Na-Ri malah meminta Yeo-Joo untuk duduk di sana, sedang ia akan duduk di belakang. Ia lalu minta ijin untuk pergi sebentar, meninggalkan Yeo-Joo yang kebingungan.

Di dalam restoran, Nan-Gil sedang duduk bersama Mi-Sun dan dua asistennya, yang sibuk membahas mengenai detil show. Na-Ri masuk dan memberi tanda agar Nan-Gil menemuinya di dalam. Nan-Gil pun beralasan hendak berganti pakaian pada Mi-Sun, yang berpesan agar Nan-Gil mengenakan pakaian yang sedikit terbuka.

Di kamar Nan-Gil, Na-Ri menyerahkan ponsel ibunya.

“Kenapa kamu mengembalikan ini?” tanya Nan-Gil.

“Aku merasa seperti kamu tidak akan mengirim pesan atau menelpon lagi. Jika aku butuh bicara kepadamu, aku akan menghubungi telpon ibuku,” jawab Na-Ri. “Aku akan pergi ke Seoul. Kamu mungkin sudah stress, maaf aku menambahkan. Kita berdua butuh waktu untuk berpikir. Semoga sukses dengan shownya.”

“Aku punya pertanyaan,” ujar Duk-Bong pada Yeo-Joo. “Apa yang terjadi di antara kamu dengan Na-Ri?”

“Aku selingkuh dengan kekasihnya yang sudah 9 tahun berpacaran,” jawab Yeo-Joo jujur.

“Kenapa kamu melakukan itu?” tanya Duk-Bong.

Sekilas adegan flashback muncul. Beberapa waktu lalu, saat di pesawat, Yoo Shi-Eun (Wang Bit-na) menceritakan tentang pesta ultah Yeo-Joo yang tidak seheboh yang ia gembar-gemborkan. Na-Ri membelanya dan meminta rekannya untuk tidak membicarakan Yeo-Joo di belakangnya. Yeo-Joo ternyata saat itu tidak sengaja mendengarnya.

“Aku tahu Na-Ri ada di pihakku, tapi itu lebih membuatku sedih ketimbang mereka yang mengataiku. Sejak saat itu, aku menjadi perhatian terhadapnya, berkompetisi dengannya, dan cemburu kepadanya. Itu sangat rumit,” jelas Yeo-Joo.

“Itu sebabnya kamu mencuri pacar sembilan tahunnya?” tanya Duk-Bong lagi.

“Sejujurnya, aku berpikir pria seperti apa yang ia kencani selama 9 tahun. Lalu, well, aku hanyalah gadis jahat. Aku tidak tahu kenapa aku harus sejujur ini.”

“Wow, setelah melalui sesuatu seperti itu, tidakkah seharusnya berat bagi Na-Ri bahkan untuk sekedar melihatmu?”

“Dia bukanlah gadis biasa,” jawab Yeo-Joo sembari tersenyum.

13

Sesaat kemudian Na-Ri keluar dari restoran dan melangkah menuju mobil. Duk-Bong kembali membukakan pintu depan untuk Na-Ri, tapi Na-Ri memilih untuk duduk di belakang seperti yang sudah ia bilang sebelumnya. Duk-Bong jadi bete melihatnya.

Syuting acara “Top Three Eating King” dimulai dengan bintang tamu girl group ‘Nine By Nine’ yang anggotanya doyan makan pangsit. Namun gara-gara ulang Yong-Kyoo yang melirik ke arah kamera, proses syuting sempat harus diulangi lagi.

Na-Ri hanya diam membisu dalam perjalanan menuju Seoul. Duk-Bong menawarkan untuk berhenti di rest area, Na-Ri menolak karena tahu Duk-Bong tidak suka rest area. Yeo-Joo berbisik menyemangati Duk-Bong dan menasehatinya agar berusaha untuk suka rest area untuk menarik hati Na-Ri.

“Yeo-Joo, kamu tahu kursi apa itu?” tanya Na-Ri yang melihat Yeo-Joo berbisik-bisik dengan Duk-Bong.

“Kursi ini?” tanya Yeo-Joo heran.

“Itu tempat dimana kamu memastikan sopir tidak mengantuk,” jawab Na-Ri.

Yeo-Joo kembali berbisik pada Duk-Bong, “Katakan, ‘Aku tidak akan mengantuk bersamamu di dalam mobil’.”

Duk-Bong enggan melakukannya, sementara Na-Ri mengatakan bahwa ia akan diam saja dan mempersilahkan mereka untuk bicara sesukanya. Duk-Bong diam-diam memperhatikan Na-Ri melalui kaca spion.

14

Proses syuting kembali berlanjut. Kali ini masuk pada acara pencicipan pangsit oleh tiga anggota Nine By Nine. Ketiganya menyukainya. Mi-Sun lantas meminta salah satu dari ketiganya untuk mulai membacakan cerita mengenai asal mula Hong Dumplings.

Pengacara Da Da Finance meyakinkan Jung-Nam bahwa mereka bakal menang di sidang dengan bekal testimoni dari Jung-Nam dan juga Na-Ri. Jung-Nam tidak yakin karena ia tahu bagaimana sifat Na-Ri. Mendengarnya, Byung-Woo melirik tajam ke arah Jung-Nam, yang langsung menghentikan ucapannya dan mengiyakan perkataan si pengacara.

Wan-Sik tiba-tiba masuk dan memberitahu Byung-Woo bahwa pengacara Nan-Gil adalah anak dari Chairman Greenland, Kwon Duk-Bong. Raut muka Byung-Woo langsung berubah.

“Ia tidak lagi berpraktek, jadi butuh waktu untuk mengetahuinya,” lanjut Wan-Sik.

15

Ponsel Na-Ri berbunyi. Mengira itu Nan-Gil, ia bergegas mengangkatnya. Ternyata yang menelpon adalah Jung-Nam, memastikan bahwa Na-Ri akan bersaksi untuknya. Na-Ri tidak menjawab, namun karena takut dimarahi oleh Byung-Woo, Jung-Nam berpura-pura seolah Na-Ri mengiyakan.

Duk-Bong mendatangi Nan-Gil di rumahnya.

“Aku melihat tanggal sidang sudah ditetapkan. Apakah kamu tidak berniat untuk minta bantuan?” tanyanya.

“Buat apa aku menyewa pengacara yang sedang mengejar tanahku?” jawab Nan-Gil. “Sudah jelas aku bakal kalah.”

“Itukah yang kamu percaya? Kamu hanya tahu bagaimana perasaanmu terhadap Na-Ri dan menyepelekan perasaanku terhadapnya,” respon Duk-Bong. “Kamu seharusnya gugup. Ini pertama kalinya bagiku bertindak perlahan dan berhati-hati untuk berjaga seandainya aku mengacaukan sesuatu dengan gadis itu.”

“Aku tidak menyepelekan perasaan orang lain.”

“Mari kita menangkan sidang ini terlebih dahulu. Mari kita menangkan dan tetap menjadi ayah tiri dan putri tiri. Aku akan pergi ke Seoul besok untuk meminta Na-Ri bersaksi.”

16

Nan-Gil tidak menjawab dan meninggalkan Duk-Bong begitu saja. Di dalam restoran, Joon dan Han-Yi menghampirinya, mengatakan bahwa mereka sudah memeriksa rumah sakit yang diminta oleh Nan-Gil dan memang ada catatan kematian Hong Sung Kyu. Nan-Gil masih belum bisa mempercayainya dan hendak pergi sendiri untuk menanyakan secara langsung.

Yong-Kyoo tiba-tiba datang. Ketiganya langsung terdiam. Sadar diri bahwa ia menganggu, Yong-Kyoo lalu berpamitan pergi. Nan-Gil hanya bisa menghela nafas melihat ulahnya.

Duk-Bong sedang bersama dengan Na-Ri di sebuah coffee shop.

“Apakah kamu masih berpikir hendak mengencaniku atau tidak?” tanya Duk-Bong.

“Aku tidak mengatakan akan memikirkannya,” jawab Na-Ri.

“Ingatanmu baik-baik saja, begitu pula keyakinanmu,” respon Duk-Bong. “Aku sudah memikirkannya dan ku rasa kamu sudah keliru tentangku.”

“Tentang apa?”

“Aku hanya mencoba untuk terlihat percaya diri, tapi aku bisa saja terlihat arogan. Aku hanya mencoba untuk jujur, tapi aku bisa saja terdengar sinis. Aku bekerja keras tapi kamu mungkin berpikir aku hidup dari orang tuaku. Aku memintamu untuk mengencaniku karena aku sungguh menyukaimu, tapi aku mungkin terlihat impulsif dan tidak memikirkannya.”

“Aku tidak salah paham terhadapmu.”

“Aku senang,” balas Duk-Bong. “Kalau begitu pertimbangkan untuk mengencaniku.”

Na-Ri hanya terdiam.

17

“Oke, kita bisa berhenti di sini,” lanjut Duk-Bong, “Aku ke sini sebagai pengacara Go Nan-Gil. Ia ingin kamu untuk bersaksi untuknya.”

“Apakah ia sunggu mengatakan itu?” tanya Na-Ri.

“Tidak, ia tidak mengatakannya, tapi aku rasa ia ingin seperti itu. Pihak yang kamu pilih akan menang. Kesaksianmu adalah yang paling penting, jadi kamu memilih pihak mana yang akan kamu ambil.”

“Bagaimana jika aku tidak memilih pihak mana pun?”

“Maka klienku, Go Nan-Gil, akan lebih mungkin untuk menang. Tanah akan terlindungi, tapi kalian tetap menjadi ayah dan anak.”

Na-Ri terdiam memikirkan hal tersebut.

Nan-Gil pergi bersama Joon dan Han-Yi, menemui seorang wanita yang sebelumnya dikatakan oleh Wan-Sik dapat mengkonfirmasi kematian Sung Kyu. Wanita yang dimaksud ternyata adalah seorang penjahit bernama Kim Jung Sook.

“Apakah kau kenal Hong Sung Kyu?” tanya Nan-Gil.

Raut muka Jung Sook berubah dan dengan terbata ia menjawab, “Buat apa kamu menanyakan seseorang yang sudah lama mati?”

“Bolehkah kita bertanya kapan ia meninggal?” tanya Joon.

“Itu mungkin sekitar 5 tahun lalu,” jawab Jung-Sook.

“Kamu punya fotonya?” tanya Han-Yi.

“Siapa yang menyimpan foto orang yang sudah mati?” respon Jung-Sook.

Nan-Gil lantas pergi begitu saja. Joon dan Han-Yi berterima kasih pada Jung-Sook, lalu menyusul bos mereka.

18

Setelah melangkah beberapa saat, Nan-Gil berhenti. Ia tidak percaya bahwa ternyata ayah Na-Ri benar sudah meninggal. Joon mencoba menghiburnya, mengatakan bahwa yang terjadi adalah kecelakaan, bukan salah Nan-Gil. Nan-Gil tidak meresponnya, dan melanjutkan langkahnya kembali.

Nan-Gil berdiam diri termenung di kamarnya. Ia meneteskan air mata, terbayang telah membuat ayah Na-Ri meninggal. Saat itu kebetulan Na-Ri menelponnya.

“Besok mungkin adalah penerbangan terakhirku,” ujar Na-Ri. “Ibu dan aku berjanji untuk terbang bersama di penerbangan terakhirku. Gantikan posisi ibu.”

“Oke,” jawab Nan-Gil.

“Itu akan menjadi penerbangan terakhirku dan pertamamu,” lanjut Na-Ri. “Sebenarnya, aku sudah mem-booking penerbangannya. Mari kita pergi ke tempat terjauh yang kita bisa sebelum sidang.”

Nan-Gil terdiam, berusaha menahan tangisnya. Sejenak kemudian ia berkata, “Oke, ayo kita pergi.”

19

Setelah menutup telponnya, Nan-Gil membuka brankasnya dan mengambil sebuah flashdisk dari dalam brankas.

Nan-Gil tiba di bandara dan duduk di ruang tunggu. Karena sudah mulai merasa panik, ia hendak meminum obatnya. Tapi teringat perkataan Na-Ri bahwa itu adalah penerbangan pertama dan terakhir, maka ia membatalkan niatnya.

Sementara itu, Duk-Sim menanyakan kemana perginya Nan-Gil pada Yong-Kyoo yang mengaku tidak tahu menahu. Yong-Kyoo lantas meminta Duk-Sim agar tetap giat bekerja meski bos mereka tidak ada di restoran. Bukannya bersemangat, Duk-Sim malah menangis.

Di pesawat, Na-Ri ternyata sengaja mem-booking kursi untuk Nan-Gil di dekat pintu darurat. Sesaat setelah Nan-Gil duduk dan memakai sabuk pengaman, Na-Ri muncul dan menjelaskan mengenai prosedur keadaan darurat pada Nan-Gil, yang tersenyum-senyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarnya.

20

Setibanya di tempat tujuan, Nan-Gil menunggu Na-Ri di pintu keluar. Saat Na-Ri datang, Nan-Gil mengaku kalau terbang sangat menakutkan.

“Go Nan-Gil yang legendaris tidak mungkin takut terbang,” sindir Na-Ri.

Dengan menggunakan taksi mereka pun menuju ke kota. Na-Ri senang melihat laut yang dilewati dalam perjalanan mereka.

21

Ponsel Duk-Bong berdering. Yeo-Joo yang menelpon, memberitahu bahwa hari ini adalah penerbangan Na-Ri yang terakhir.

“Ia berbagi penerbangan terakhirnya dengan Go Nan-Gil,” ujar Yeo-Joo. “Mungkin perjalanan semalam.”

Mendengarnya, Duk-Bong menutup telponnya begitu saja.

“Ia mungkin tampak seperti dunia sudah berakhir lagi,” gumam Yeo-Joo.

Na-Ri dan Nan-Gil berjalan-jalan di pantai. Nan-Gil berterima kasih atas penerbangan pertamanya. Na-Ri memintanya tidak usah bicara macam-macam agar tidak melewatkan pemandangan indah yang ada di sana.

“Mereka bilang orang Eskimo punya beberapa istilah untuk salju. Untukku, aku punya banyak istilah yang berarti ‘Hong Na Ri’ karena aku selalu memperhatikanmu dan memikirkanmu,” ujar Nan-Gil.

“Katakan padaku apa artinya ‘Hong Na Ri’,” pinta Na-Ri.

“Berpura-pura tidak merasa sakit saat terkena ketapel, membaca sambil berjalan, mengejar bel penjual tofu, meniup bunga dandelion, menari bersama kupu-kupu…”

“Kamu melihatku menari bersama kupu-kupu?” potong Na-Ri.

“Aku melihatmu berbicara dengan pohon juga.”

“Apa yang tidak kamu lakukan saat kamu muda?”

“Kamu masih di kampus, setelah minum-minum di sore hari.”

“Kamu mengawasiku saat aku kuliah juga?”

“Kamu mengatai pohon juga. ‘Minggir! Kenapa kamu selalu berdiri di sini?'”

Na-Ri tertawa dan mendorong Nan-Gil dengan gemas. Nan-Gil lantas menggendongnya dan hendak menjatuhkannya ke air. Keduanya pun akhirnya asyik bermain bersama.

Melamun sambil memandangi awan, kehilangan rumah masa kecilmu, menggali tanah beku, hal terindah yang ada di dunia. Hong Na Ri.

22

Yeo-Joo sedang berkencan buta dengan pria kenalan Duk-Bong. Pria tersebut ternyata blak-blakan dalam berbicara. Setelah tahu kencan mereka diatur oleh Duk-Bong karena Yeo-Joo membantunya, dengan terang-terangan ia mengatakan bahwa ia mengatakan bahwa wajah Yeo-Joo mirip dengan seseorang.

Sambil duduk menghadap laut di sebuah cafe, Na-Ri mengatakan bahwa ia ingat pernah mengatai pohon.

“Kamu harus mati, kamu tahu terlalu banyak tentangku,” ujar Na-Ri pura-pura mengancam.

“Hanya orang yang mencintai seseorang tanpa harapan yang mengenal dengan baik orang itu. Aku mencintaimu tanpa harapan dalam waktu yang sangat lama, jadi aku mengenalmu cukup baik,” respon Nan-Gil.

“Mengapa kamu memilih cinta seperti itu?”

“Karena aku tidak punya apa-apa. Karena itu sedikit menyakiti. Tidak ada yang aku harapkan atau inginkan darimu. Aku bahagia dengan kita yang sekarang ini.”

“Aku tidak. Aku akan bersaksi untuk pamanku. Aku ingin kita menjadi pasangan biasa yang berkencan, mencintai, dan merencanakan untuk menikah. Perjalanan ini adalah awal, jadi kita bisa melakukan apa saja hari ini,” balas Na-Ri sembari merebahkan kepalanya ke bahu Nan-Gil.

Pihak kejaksaan mendatangi kantor Da Da Finance dengan membawa surat pengeledahan atas tuduhan pinjaman ilegal. Kim Do Suk, pengacara Da Da Finance, tidak bisa mencegah mereka. Satu demi satu dokumen yang ada di kantor Da Da Finance dibawa oleh petugas kejaksaan.

Sementara mereka melakukannya, Do Suk menemui Byung-Woo yang sedang mengawasi kejadian tersebut melalui ruang kontrol. Do Suk mengaku bisa mengatasinya tuduhan yang ada. Wan-Sik menimpali bahwa pasti Nan-Gil yang melakukannya, sebagai balasan atas sidang pengadilan.

“Aku meninggalkannya sendiri, sehingga ia mengira aku sudah menjadi tua,” respon Byung-Woo. “Aku tidak tahu kenapa orang mengira kamu akan menjadi lunak di usia tersebut.”

Duk-Sim tergopoh-gopoh masuk ke kamar Duk-Bong dan memberitahunya bahwa Na-Ri dan Nan-Gil bepergian bersama. Tahu bahwa adiknya sedang patah hati, Duk-Bong menasehatinya agar tidak perlu panik, karena bepergian bersama bukan selalu berarti sebuah awal, tapi juga bisa berarti sebuah akhir hubungan. Meski tidak mengatakan apa-apa, wajah Duk-Sim menjadi lebih tenang setelah mendengarnya.

“Apakah kita akan berpegangan tangan saat kita tidur?” tanya Na-Ri.

“Kenapa kita harus berpegangan tangan? Ada dua kamar,” jawab Nan-Gil.

Mendengarnya, Na-Ri langsung berpura-pura tidur. Nan-Gil mengatainya bakal jadi sapi kalau langsung tidur setelah makan.

24

“Kamu akan mendengar semuanya tentang aku di sidang,” ujar Nan-Gil.

“Haruskah aku tidak pergi?” tanya Na-Ri.

“Tidak. Pergi dan dengarkan semua. Ada satu hal lagi. Aku pernah di penjara.”

Adegan flashback muncul. Jung-Im ternyata pernah menjenguk Nan-Gil di penjara. Saat itu Nan-Gil berjanji akan pulang ke tempat Jung-Im begitu keluar dari penjara. Terlihat juga ada Wan Sik di sana, sepertinya ia yang mengantarkan Jung-Im.

“Aku minta maaf karena mencintaimu. Aku minta maaf memintamu untuk menunggu,” lanjut Nan-Gil.

“Hentikan. Jangan katakan apa-apa lagi,” respon Na-Ri sembari melangkah keluar menuju balkon.

Nan-Gil lantas menyusul Na-Ri.

“Kita berjalan dan memandangi laut bersama, tapi hati kita terlalu berbeda,” ucap Na-Ri. “Apa yang kamu ingin aku lakukan?”

“Aku punya keyakinan bahwa kamu akan mengambil keputusan yang benar.”

“Kamu tahu kenapa aku ingin menemukan ayahku? Ia akan membuktikan bahwa kamu dan aku tidak punya hubungan. Aku sudah melupakannya bertahun-tahun. Bagaimana bisa aku membutuhkan ayahku karena orang yang aku cintai? Tapi itulah aku sekarang. Aku tidak bisa bijaksana.”

“Aku akan memutuskan untukmu. Tanah itu milik ibu, jadi itu sekarang milikmu. Mari kita tidak kehilangan itu pada siapapun.”

Na-Ri tidak berkata apa-apa dan melangkah pergi meninggalkan Nan-Gil.

“Na-Ri,” panggil Nan-Gil.

Na-Ri menghentikan langkahnya.

“Aku mencintaimu,” lanjut Nan-Gil. “Bahkan jika aku tidak bisa mengatakannya lagi, aku akan mencintaimu.”

Na-Ri hanya diam terpaku menatap Nan-Gil.

25

Hari berganti. Persidangan pun dimulai. Na-Ri dipanggil ke depan untuk mulai memberikan kesaksian. Pengacara Do Suk maju dan menanyakan apakah ibunya pernah menceritakan tentang Go Nan-Gil. Setelah dijawab tidak oleh Na-Ri, Do-Suk lanjut bertanya apakah ibunya pernah menceritakan bahwa ia menikah serta mengalihkan kepemilikan tanah dan restorannya. Na-Ri kembali tidak.

“Apakah kamu mendengar tentang hutang ayahmu?” lanjut Do-Suk.

“Tidak,” jawab Na-Ri.

“Apa kamu pikir pernikahan ini palsu?” tanya Do-Suk.

Na-Ri terdiam dan menatap ke arah Nan-Gil.

Preview Episode 11

Berikut ini adalah video preview episode 11 dari drakor Man Living At My House / Sweet Stranger And Me:

» Sinopsis eps 11 selengkapnya

Reply