Rekap Sinopsis The Legend Of The Blue Sea Episode 19 & Preview Episode 20 (19 Januari 2017)

Di rekap sinopsis The Legend Of The Blue Sea (TLOTBS) episode sebelumnya, dengan bantuan Jo Nam-Doo (Lee Hee-Joon) yang berpura-pura mau bekerjasama dengan Heo Chi-Hyun (Lee Ji-Hoon), Heo Joon-Jae (Lee Min-Ho) dan detektif Hong Dong-Pyo (Park Hae-Soo) akhirnya bisa menangkah basah Chi-Hyun dan juga ibunya, Kang Ji-Hyun alias Kang Seo-Hee (Hwang Shin-Hye). Namun saat hendak digelandang oleh polisi, Chi-Hyun dapat melepaskan diri, merebut pistol mereka, lantas menembakkannya ke arah Joon-Jae. Sesaat sebelumnya, Sim Chung (Jun Ji-Hyun) yang melihat itu secara sigap memeluk tubuh Joon-Jae untuk melindunginya dari peluru. Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama Korea Remember the Blue Sea episode 19 kali ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 19

Tembakan Chi-Hyun tepat mengenai tubuh Sim Chung. Ia terjatuh ke pelukan Joon-Jae, sedang Chi-Hyun langsung diringkus kembali oleh beberapa orang polisi. Sesaat sebelum tak sadarkan diri, sambil menatap wajah Joon-Jae, suara hati Sim Chung berbicara.

“Heo Joon-Jae, sebelumnya aku takut kamu akan melindungiku lagi, tapi sekarang aku bahagia. Endingnya telah berubah. Kali ini, aku yang melindungimu.”

Beberapa saat kemudian mobil ambulans datang. Dengan dibantu oleh Nam-Doo dan petugas medis, Joon-Jae membawa tubuh Sim Chung ke dalam mobil. Ia juga ikut menemani Sim Chung menuju ke rumah sakit. Dalam perjalanan, tak henti Joon-Jae menggenggam tangan Sim Chung sembari menangis.

Berita mengenai tertangkapnya Seo-Hee dan Chi-Hyun serta insiden penembakan terhadap Sim Chung mulai tersebar luar. Mo Yoo-Ran (Na Young-Hee) yang kebetulan sedang menonton TV bersama dengan Ahn Jin-Joo (Moon So-Ri) dan Cha Dong-Sik (Lee Jae-Won) syok mendengarnya.

Sementara itu, dalam perjalanan menuju kantor polisi, Chi-Hyun teringat tentang ampul injeksi berisi racun yang ia miliki. Ia juga sempat memberikan satu pada Nam-Doo saat berada di rumah sakit, memintanya untuk menggunakannya apabila misi mereka gagal.

Chi-Hyun lantas minta ijin untuk mampir ke kamar kecil. Mobil polisi yang membawanya menuruti permintaannya dan mereka pun berhenti di sebuah kamar mandi umum. Di dalam salah satu bilik, Chi-Hyun menangis sembari memegang ampil injeksi racun miliknya.

Dan ternyata ia memang benar-benar meminumnya, karena beberapa saat kemudian, saat sedang diinterogasi di kantor polisi, Chi-Hyun tiba-tiba terjatuh dan nafasnya terengah-engah. Tak lama, detektif yang tadi memeriksa Chi-Hyun memberitahu detektif Hong yang sedang menginterogasi Seo-Hee di ruang sebelah mengenai kejadian tersebut. Dengan panik Seo-Hee bergegas menuju ruang tempat Chi-Hyun diinterogasi dan mendapati tubuh anaknya yang terbaring di lantai.

“Aku… sudah bertahan sebisa mungkin..,” ujar Chi-Hyun terbata-bata, “Aku sudah mengulur waktu…”

“Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu melakukan ini, Chi-Hyun?” teriak Seo-Hee histeris.

“Ibu… ibu.. bahwa kamu ibuku… itu adalah kutukan bagiku…”

Dan Chi-Hyun pun menghembuskan nafas terakhirnya usai mengatakan hal tersebut.

Joon-Jae, Nam-Doo, dan Tae-O (Shin Won-Ho) menunggu dengan cemas kabar Sim Chung yang sedang menjalani operasi di ruang UGD. Beberapa saat kemudian Nam-Doo memberitahu Joon-Jae bahwa ia mendapat kabar dari detektif Hong mengenai kematian Chi-Hyun. Joon-Jae kaget mendengarnya.

“Dia sebenarnya memberikan padaku dua dosis racun,” cerita Nam-Doo, “Tapi aku bilang aku tidak membutuhkannya dan aku menukar ampul yang aku ambil. Sepertinya Heo Chi-Hyun membawa satu lagi yang tersisa dan meminumnya. Itu benar-benar ampuh jika diminum secara langsung, meski butuh waktu lebih lama, tapi tetap fatal akibatnya.”

“Dia tidak bertanggung jawab hingga akhir,” respon Joon-Jae.

Petugas medis memindahkan Sim Chung ke kamar inap. Dokter yang mengoperasinya kemudian memberitahu Joon-Jae bahwa yang terjadi pada Sim Chung adalah sebuah keajaiban karena ia tidak apa-apa meski peluru menembus bilik jantung kiri hingga keluar melalui bilik jantung kanan. Kondisi tubuhnya juga membaik dengan cepat di luar batas normal.

“Tapi pasien ini normalnya tida memakan sesuatu yang aneh, bukan?” tanya dokter tersebut sebelum meninggalkan ruangan.

“Ketimbang makan makanan yang aneh, ia justru banyak sekali makan,” jawab Nam-Doo sambil tersenyum.

Dokter pun pergi sembari mengernyitkan kening karena masih kebingungan dengan kasus pasien Sim Chung.

Cha Si-A (Shin Hye-Sun) bermimpi tentang leluhurnya yang ternyata adalah istri yang ditinggalkan oleh Dam Ryung demi Sae Hwa. Tak lama ia terbangun dengan kesal karena harus memimpikan hal yang serupa dengan yang barusan ia alami.

Sementara itu, di bawah, Jin-Joo menanyakan pada Dong-Sik apakah ia berani menerima peluru demi melindungi Jin-Joo.

“Aku akan melakukan maksimal dilempari batu,” jawab Dong-Sik.

“Aku sudah tahu,” balas Jin-Joo kesal.

“Bagaimana denganmu?” tanya Dong-Sik balik sambil tersenyum lebar.

“Aku harus mengurus anak. Jika aku tertembak, siapa yang akan membesarkan mereka?” jawab Jin-Joo.

Sesaat kemudian Si-A datang dan menanyakan kenapa mereka membahas soal pistol. Jin-Joo pun menceritakan apa yang sudah terjadi Joon-Jae dan Sim Chung. Si-A terkejut mendengarnya.

Sim Chung belum juga sadarkan diri. Yoo-Ran yang sedang menjenguk memberitahu Joon-Jae bahwa beberapa waktu lalu Sim Chung sempat menanyakan tentang kisah putri duyung yang berakhir tragis. Saat itu, Yoo-Ran menjawab dengan menceritakan kisah putri duyung yang berakhir bahagia. Joon-Jae jadi penasaran dan menanyakan apakah memang benar ada kisah putri duyung seperti itu. Ternyata Joon-Jae lupa bahwa pada waktu kecil ibunya sering menceritakan kisah itu pada Joon-Jae setiap kali ia tidak bisa tidur.

“Akan bagus seandainya (kisah) itu benar,” respon Joon-Jae.

Yoo-Ran lantas meminta Joon-Jae untuk memberikan bingkisan yang ia bawa pada istri sekretaris Nam. Joon-Jae mengiyakan. Dalam perjalanan menuju kamar sekretaris Nam, ia sempat bertemu dengan Nam-Doo, yang akhirnya ikut menemaninya.

Setibanya di sana, setelah berkenalan dengan istri sekretaris Nam, Nam-Doo yang melihat wajah sekretaris Nam merasa seperti pernah melihatnya. Di saat yang sama, sekretaris Nam bermimpi tentang leluhurnya, Park Moo, yang didatangi oleh leluhur Nam-Doo, yang ternyata justru membantunya meloloskan diri dari leluhur Chi-Hyun.

Dan tiba-tiba sekretaris Nam membuka matanya.

“Park Moo,” ucap sekretaris Nam begitu melihat wajah Nam-Doo yang tepat berada di hadapannya.

Istri sekretaris Nam segera keluar untuk memanggil dokter, sementara Nam-Doo kebingungan karena sekretaris Nam terus-terusan memanggilnya Park Moo. Ia juga sempat memanggil Joon-Jae dengan nama ‘Dam Ryung’, sebelumnya akhirnya tersadar bahwa yang ada di sebelahnya adalah Joon-Jae.

“Aku bermimpi sebuah mimpi yang sangat panjang,” ujar sekretaris Nam.

“Baguslah engkau sudah sadar,” respon Joon-Jae, “Di masa lalu dan juga sekarang, terima kasih telah menjadi temanku.”

“Apakah ada sesuatu yang benar-benar berbeda dengan kita, secara neurologis atau sejenisnya?” tanya Nam-Doo pada Joon-Jae saat mereka berdua menunggui Sim Chung di kamarnya.

“Apa yang kamu katakan?” tanya Joon-Jae heran.

“Sejujurnya aku mendengar pembicaraan kalian berdua. Bahwa kamu dan Chung.. tentang putri duyung dan hal semacam itu,” jawab Nam-Doo.

“Hah! Itu hanya bercanda. Apa kamu percaya itu? Kamu bercanda?” respon Joon-Jae.

“Itu dia. Rumah kita bahkan bukanlah taman kartun atau semacamnya. Aku tidak tahu kenapa aku mempercayai ini, tapi aku mempercayainya. Chung tidak sama dengan kita. Dia adalah putri duyung.”

Joon-Jae terdiam dan terlihat berpikir.

“Hei, jangan khawatir. Kamu pikir aku akan melakukan sesuatu pada kekasihmu?” lanjut Nam-Doo.

“Ya, kamu bisa melakukan lebih dari itu,” jawab Joon-Jae, masih dengan wajah khawatir.

“Hei, memang benar bahwa aku mungkin adalah pria yang matanya dibutakan oleh uang. Tapi aku menjaga dengan baik dua prinsip. Aku, tanpa pernah gagal, membalas musuhku. Aku membayar hutangku jika memungkinkan. Meski Chung tidak menyelamatkanku, tapi ia melindungi Joon-Jae-ku. Joon-Jae-ku. Jadi akankah aku melakukan sesuatu terhadap Chung?”

“Apa maksudmu dengan ‘Joon-Jae-ku’? Kamu gila? Kamu mengatakan hal yang memalukan. Beneran membuat jijik.”

“Hei, itu tadi tulus, tapi setelah mengatakannya aku juga merasa jijik,” balas Nam-Doo.

“Heo Joon-Jae adalah Joon-Jae-ku. Jangan mengganggunya,” tiba-tiba Sim Chung menimpali.

Mereka berdua pun kaget mengetahui Sim Chung sudah sadarkan diri. Keduanya lantas menghampiri Sim Chung.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Joon-Jae.

Sim Chung mengangguk lemah.

“Jika kamu tidak bangun, aku sungguh akan mengikutimu,” ujar Joon-Jae.

“Kenapa? Kamu bilang kamu akan menemui wanita yang lebih cantik dan hidup serta makan dengan baik,” tanya Sim Chung.

“Tidak ada yang lebih cantik darimu seberapun aku mencari,” jawab Joon-Jae. “Aku memikirkan tentang itu dan menyadari hidup itu pendek. Aku merasa cintaku akan lebih panjang daripada hidupku. Jadi itu sebabnya di kehidupan ini, cintaku tidak akan berakhir. Terima kasih karena sudah kembali.”

“Siapa yang mengatakan hal yang menjijikkan,” gumam Nam-Doo menyindir Joon-Jae sembari pergi meninggalkan Joon-Jae dan Sim Chung dengan tersenyum.

Joon-Jae terus berada di samping Sim Chung hingga tertidur. Namun Sim Chung sendiri terlihat gelisah dan tidak nyaman.

Seo-Hee hendak dibawa dari kantor polisi menuju ke penjara. Di luar kantor polisi, sudah banyak orang menunggunya, mengata-ngatainya sebagai pembunuh. Yoo-Ran ada di antara mereka, menatap tajam ke arah Seo-Hee tanpa berkata apa-apa.

Melihat sosok Yoo-Ran, Seo-Hee sempat emosi. Namun petugas polisi yang mengawalnya segera menyeretnya kembali masuk ke dalam bus. Sementara itu, dari suatu tempat, Ma Dae-Young (Sung Dong-Il) melihat siaran langsung kejadian tersebut. Ia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi profesor Jin Kyung-Won.

Profesor Jin memberitahu Joon-Jae bahwa Dae-Young akan datang ke tempatnya. Joon-Jae berjanji akan secepatnya menuju ke sana. Sebelum berangkat, ia juga menghubungi Nam-Doo dan memintanya untuk memberitahu detektif Hong.

Di tempat profesor Jin, Dae-Young minta agar ingatannya dikembalikan melalui hipnotis. Profesor Jin melakukannya dan satu demi satu ingatan Dae-Young kembali, termasuk yang berhubungan dengan leluhurnya dulu, Mr. Yang (Sung Dong-Il). Tanpa diduga, leluhur Nam-Doo, Park Moo, ternyata adalah anak dari pelaut yang dibunuh oleh Mr. Yang, dan pada akhirnya ia jugalah yang membunuh Mr. Yang dan selirnya, dengan disaksikan oleh leluhur sekretaris Nam.

Sesaat sebelum mati, Mr. Yang mengucapkan janjinya.

“Aku pasti akan terlahir kembali. Aku akan terlahir kembali dan apapun yang tidak aku dapatkan di dunia ini, aku pasti akan mendapatkan semuanya nanti.”

“Silahkan saja,” balas Park Moo, “Tidak peduli berapa kali engkau berreinkarnasi, aku akan terus membalas dendam.”

Dae-Young terbangun dari hipnotisnya.

“Aku mengingat semua,” ujarnya. “Di kehidupan sebelumnya, aku, Dam Ryung, putri duyung, dan kamu. Kamu selalu tahu. Sama halnya dengan bagaimana aku menerima hukuman di kehidupan ini, takdir yang harus aku penuhi. Kamu berada di sekitarku dan hanya melihat? Di pihak siapa kamu?”

“Dulu kamu seperti itu, dan sekarang kamu juga seperti itu. Aku hanya seseorang yang mengamati takdir. Aku tidak ada di pihak siapapun,” jawab profesor Jin.

Dae-Young beranjak dari tempat duduknya lalu perlahan menghampiri profesor Jin lantas mencekiknya. Untunglah sesaat kemudian Joon-Jae datang. Dae-Young melepaskan cekikannya, kemudian melangkah mendekati Joon-Jae sembari tertawa terkekeh. Setelah mengambil sesuatu dari sakunya, Dae-Young mengayunkan tangannya ke arah Joon-Jae.

Kali ini giliran detektif Hong yang masuk, disusul oleh dua orang anak buahnya dan juga Nam-Doo. Sekali lagi Dae-Young terpaksa menghentikan perbuatannya. Yang ia pegang ternyata sebuah pisau lipat. Ia sempat mengeluarkan pisau itu, namun kemudian menjatuhkannya. Anak buah detektif Hong dengan segera meringkusnya.

Saat dibawa keluar, Dae-Young kaget melihat Nam-Doo. Nam-Doo sendiri jadi ketakutan karena dilihat oleh Dae-Young.

“Kenapa ia memandangiku? Ini pertama kali kita bertemu,” respon Nam-Doo ketakutan.

Si-A mendatangi Sim Chung di rumah sakit dan mendapati Sim Chung tertidur. Saat ia meletakkan bunganya di tempat tidur, mata Sim Chung tiba-tiba terbuka. Si-A kaget setengah mati melihatnya. Setelah berbasa-basi, Si-A dengan penasaran menanyakan bagaimana rasanya tertembak.

“Sepertinya kamu menikmatinya?” tanya Sim Chung.

“Tidak. Aku memang tidak terlalu menyukaimu, tapi aku juga tidak membencimu sampai-sampai merasa senang kamu tertembak,” jawab Si-A.

“Kalau begitu, kamu menyukaiku?” tanya Sim Chung lagi.

“Aku sudah bilang. Aku bukannya sepenuhnya menyukaimu.”

“Walau begitu aku menyukaimu.”

“Oh, kamu cukup terus terang,” respon Si-A. “Tapi kenapa?”

“Aku selalu ingin menjadi sepertimu,” jawab Sim Chung.

“Ah, tidak mudah memang menjadi sepertiku. Tapi kenapa?”

“Kamu bisa hidup hingga tua dengan orang yang kamu sukai.”

“Kamu mengatakan aku tua? Aku terlihat muda untuk seumuranku. Aku bukan tipe yang tumbuh tua dengan seseorang.”

“Bukan itu, tapi aku iri. Kamu bisa menghabiskan banyak waktu dengan orang yang kamu suka.”

“Apa yang bisa aku lakukan kalau memang aku punya banyak waktu? Orang yang aku ingin menghabiskan waktu bersama hanya melihatmu. Ah, kamu memimpikan hal yang kecil. Aku cemburu kepadamu.”

“Orang yang ditakdirkan untukmu akan muncul,” balas Sim Chung lirih.

“Apa kamu dirasuki oleh arwah setelah tertembak? Ada apa dengamu?” tanya Si-A heran.

“Aku telah menunggu lama dan mereka muncul. Jadi takdirmu juga akan muncul.”

“Kamu mengatakan padaku untuk menjauhi Joon-Jae, bukan?” respon Si-A salah paham. “Aku juga akan melakukan itu tanpa kamu harus memberitahuku. Kamu bahkan tertembak demi Heo Joon-Jae. Bagaimana aku bisa mengalahkan itu? Lekas sembuh.”

Si-A lalu pergi meninggalkan Sim Chung. Dalam perjalanan pulang, salju mendadak turun. Di saat itu pula Tae-O tiba-tiba muncul menjemputnya dengan membawa payung. Saat melangkah bersama, Tae-O hendak berfoto selfie. Si-A merebut ponsel Tae-O lalu memotret dirinya sendiri.

“Aku sedang berbaik hati,” ujarnya. “Kamu harus punya foto yang layak. Kamu selalu mengambil fotoku dengan sembunyi-sembunyi.”

Usai mengatakan hal itu, tanpa sengaja Si-A membuka galeri foto di ponsel Tae-O. Ia pun kaget begitu mengetahui selama ini Tae-O sebenarnya memotret Sim Chung, bukan dirinya. Ia juga akhirnya menyadari bahwa Tae-O kala itu tidak sungguh-sungguh menyatakan cinta padanya. Dengan kesal Si-A berlalu meninggalkan Tae-O.

Tak lama berjalan, Si-A merasa ada orang yang mengikutinya. Mengira itu Tae-O, ia membalikkan badan dan meminta agar Tae-O tidak mengikutinya. Tanpa disangka, yang ada di hadapannya bukanlah Tae-O, melainkan penguntit mesum yang merespon dengan membuka pakaiannya. Untunglah saat si penguntit mesum itu hendak mengejar Si-A, Tae-O muncul dan menghajar si penguntit mesum tersebut hingga ia kabur.

Tae-O menghampiri Si-A yang syok dan menangis di bangku taman. Sambil meminta maaf, Tae-O memeluknya. Tidak itu saja, ia kemudian menghapus air mata Si-A lalu menciumnya.

Joon-Jae tidak sengaja mencuri dengar dokter dan perawat yang membicarakan mengenai keanehan di tubuh Sim Chung. Kepala rumah sakit bahkan hendak melaporkan kasus tersebut ke pemerintah dan mempublikasikannya ke media. Untuk mencegahnya, Joon-Jae mencuri kartu identitas salah seorang dokter, menyamar menjadi dokter, lalu menghapus catatan medis Sim Chung di rumah sakit tersebut. Terakhir, ia membangunkan Sim Chung dan mengajaknya pulang ke rumah.

Dengan alasan nantinya mereka akan tidur bersama apabila ibu Joon-Jae pindah ke rumah, Joon-Jae mengajak untuk tidur bersama di kamar Sim Chung. Sim Chung menolak. Joon-Jae pun jadi heran sekaligus kesal karena biasanya justru Sim Chung yang ingin turun dan bersamanya.

Setelah menutup pintu kamar, Sim Chung menyetel musik keras-keras, lalu meringkuk lesu. Joon-Jae jadi bertambah heran mendengarnya.

Jin-Joo mengantarkan Yoo-Ran ke rumah Joon-Jae sekaligus membawakan kopernya. Tidak sadar Jin-Joo sedang berusaha menjilat, dengan santai Yoo-Ran masuk ke dalam tanpa mengajak Jin-Joo masuk. Sesampainya di rumah, Dong-Sik memberitahu Jin-Joo bahwa sepasang sepatu Yoo-Ran ketinggalan. Dengan girang Jin-Joo mengajak suaminya untuk ikut serta menuju rumah Yoo-Ran untuk menyerahkan sepatu itu.

Agar tidak lagi disuruh pulang begitu saja, kali ini Jin-Joo beralasan hendak buang air kecil, sementara Dong-Sik berdalih tenggorokannya kering. Mau tidak mau Yoo-Ran mempersilahkan mereka berdua masuk.

Di dalam, Jin-Joo dan Dong-Sik bertemu dengan Joon-Jae, Nam-Doo, dan Sim Chung. Ia pun kaget dan bingung mendapati mereka bertiga ada di sana. Sebelum terjadi apa-apa, Sim Chung mengajak Jin-Joo dan Dong-Sik ke kamar dengan alasan ada sesuatu yang ingin dibicarakan.

Bersamaan dengan Yoo-Ran yang kembali ke ruang tengah setelah sebelumnya membuatkan minuman untuk Jin-Joo dan suaminya, Sim Chung kembali dengan diikuti oleh keduanya, yang ingatannya tentang kejadian sebelumnya saat Joon-Jae dkk hendak menipunya sudah dihapus oleh Sim Chung. Jin-Joo sempat teringat tentang Dubai, tapi untungnya ia tidak terlalu memikirkannya.

“Pikirkan baik-baik,” ujar Nam-Doo. “Chung tidak dibuat untuk show putri duyung. Ia menghapus memorinya! Kamu menghapus memoriku juga pada waktu itu. Dan itu sebabnya Joon-Jae bertingkah laku aneh sepulangnya dari Spanyol.”

“Coba saja untuk membicarakan ini dengan keras di luar sana,” ancam Joon-Jae.

“Chung, ayo kita bekerjasama. Jika kamu bisa menggunakan keahlian menghapus memori ini dengan baik, kita bisa menjadi milyarder.” lanjut Nam-Doo.

“Sudahlah. Aku tidak akan melakukan hal-hal yang membuatku sibuk tanpa alasan,” respon Sim Chung. “Jika aku sibuk, aku tidak akan punya waktu untuk melihat Heo Joon-Jae.”

“Chung, aku mengatakan ini dengan tulus. Jika kamu putus dengan Joon-Jae, kamu harus datang kepadaku. Aku jadi nomer 2, oke?” pinta Nam-Doo.

Nam-Doo terus menggoda Sim Chung, bahkan berpura-pura hendak memeluknya. Joon-Jae pun menanggapi dan berusaha mencegahnya. Tanpa disangka, tiba-tiba Sim Chung memegangi dadanya.

Hari berlalu. Mendapati keadaan rumah yang sepi, Sim Chung menanyakan pada Joon-Jae dimana yang lainnya berada.

“Aku mengirim mereka keluar,” jawab Joon-Jae.

“Kenapa?” tanya Sim Chung.

“Karena aku ingin makan bersamamu sendirian,” jawab Joon-Jae. Terdiam sejenak, ia lalu melanjutkan kata-katanya, “Karena kondisimu sedang tidak baik, jangan pergi kemana-mana. Mari kita adakan pesta sendiri di sini. Gantilah bajumu.”

Sim Chung kemudian berganti baju dan berdandan dengan anggunnya. Setelah itu, ia dan Joon-Jae makan malam bersama.

“Haruskah kita minum?” tanya Sim Chung.

“Tidak,” jawab Joon-Jae, “Kalau aku minum, aku rasa aku akan memintamu untuk tinggal. Jika ada jalan lain, beritahu aku.”

Sim Chung terdiam.

“Ku mohon. Beritahuku aku jika ada,” lanjut Joon-Jae lirih. “Setelah operasimu, kamu jarang makan. Kamu tidak bisa tidur dan kamu menahan rasa sakitmu. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku hanya bisa melihatmu mati?”

Joon-Jae memakaikan gelang giok hijau ke tangan kiri Sim Chung.

“Jika kamu kembali ke laut, akankah kamu baik-baik saja?” tanya Joon-Jae. “Akankah kamu sehat?”

Joon-Jae memeluk Sim Chung dari belakang. Keduanya berada di pinggir kolam renang, sama-sama menatap ke arah Namsan Tower.

“Berjanjilah padaku satu hal,” pinta Joon-Jae, “Pada saat kamu pergi, kamu tidak akan menghapus ingatanku.”

“Kenapa?” tanya Sim Chung.

“Kamu juga begitu. Kamu bilang kamu lebih baik mencintai dan merasa sakit daripada tidak mengingat dan tidak bisa mencintai. Karena mereka adalah memori untuk dikenang, aku bisa mengirimmu pergi.”

“Maka kamu akan menjadi menyedihkan. Aku bisa selamanya tidak akan kembali lagi. Dengan begitu kamu bahkan juga tidak akan tahu apakah aku masih hidup atau sudah mati. Kamu hanya bisa menunggu.”

“Jika kamu tidak kembali selamanya, aku akan terlahir kembali. Kamu pun begitu. Aku sudah bilang kepadamu. Cintaku lebih panjang daripada waktuku.”

“Aku berharap kamu menjadi nyaman.”

“Jika kita saling mengingat satu sama lain, kita tidak akan lupa jalan untuk kembali. Jadi, kita akan bertemu lagi. Baiklah. Kalau begitu pilihlah. Apakah kamu akan menghapusnya atau pergi. Kamu bisa memilih.”

Sim Chung terdiam. Ia terus menatap dalam ke arah Joon-Jae.

“Aku sudah mengambil keputusan,” ujarnya.

Dan perlahan Sim Chung membelai wajah Joon-Jae, lalu menciumnya.

Preview Episode 20

Berikut ini adalah preview eps 20 dari drakor Legend Blue Sea:

=== belum tersedia ===

» Sinopsis Episode 20 Selengkapnya

Tema artikel yang berhubungan: , , ,

Reply