Rekap Sinopsis The Legend Of The Blue Sea Episode 12 & Preview Episode 13 (22 Desember 2016)

Di sinopsis The Legend Of The Blue Sea (TLOTBS) episode sebelumnya, Heo Joon-Jae (Lee Min-Ho) berhasil nemenukan sekaligus mengajak Sim Chung (Jun Ji-Hyun) kembali ke rumah. Sebelum pulang, Joon-Jae mengajak Sim Chung untuk melihat hiasan pohon natal raksasa. Ia lantas meminta Sim Chung untuk menunggu di sana dan diam-diam mengambil boneka gurita merah di mesin UFO Catcher yang diidam-idamkan oleh Sim Chung. Tanpa disangka, hanya beberapa langkah sebelum menghampiri Sim Chung, detektif Hong Dong-Pyo (Park Hae-Soo) menangkapnya. Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama Korea Remember the Blue Sea episode 12 kali ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 12

Masa Joseon. Tepat sebelum pedang Dam Ryung (Lee Min-Ho) mengenai leher Mr. Yang (Sung Dong-Il), seorang prajurit kerajaan datang dengan membawa surat perintah dari raja, menyatakan bahwa ia telah gagal menjalankan tugasnya dan harus menjalani tahanan rumah di Geoje, provinsi Gyeongsang. Mr. Yang tersenyum senang mendengarnya.

Masa sekarang. Karena Joon-Jae tidak kunjung tiba, Sim Chung mencoba menelponnya. Joon-Jae yang saat itu sudah berada di dalam mobil bersama detektif Dong-Pyo tidak diperkenankan untuk mengangkat telponnya. Tak lama rekan detektif Dong-Pyo, detektif Jang, tiba.

“Apa yang kamu lakukan di sini? Setelah mengirim begitu banyak orang untuk menangkap Ma Dae-Young?” tanyanya.

“Ini Heo Joon-Jae, preman yang berkeliaran dengan menggunakan namaku,” jawab detektif Dong-Pyo.

“Oh, penipu itu,” timpal detektif Jang.

Joon-Jae kemudian menyadari mereka hendak menangkap Dae-Young dan Dae-Young berada di daerah itu. Ia pun memaksa detektif Dong-Pyo untuk melepaskannya karena Dae-Young saat ini sedang mengejarnya.

“Kenapa orang itu mengejarmu?” tanya detektif Dong-Pyo.

“Aku juga tidak tahu. Tapi jika Ma Dae-Young sungguh berada dekat sini berarti ia sedang mengikutiku,” jawab Joon-Jae. “Tapi wanita itu sendirian sekarang. Lekas berikan ponselku.”

Melihat Joon-Jae bersungguh-sungguh, detektif Dong-Pyo akhirnya menghubungkan Joon-Jae dengan Sim Chung. Joon-Jae segera meminta Sim Chung untuk pulang ke rumah terlebih dahulu, beralasan ia ada urusan mendadak. Sim Chung mengiyakan dan masuk ke salah satu taksi yang ada di sana. Namun tanpa disadari, ia masuk ke taksi yang dikemudikan oleh Dae-Young.

Sim Chung tiba-tiba terdiam, membuat Joon-Jae mulai panik.

“Kamu menggunakan topi juga hari ini?” terdengar suara Sim Chung di seberang telpon.

Joon-Jae langsung teringat Sim Chung yang pernah menceritakan tentang Dae-Young yang biasa memakai topi (untuk menyamar). Ia segera menanyakan jalanan yang dilihat Sim Chung supaya bisa mengira-ngira lokasinya. Sim Chung hanya menjawab tempat mereka berjanji untuk bertemu sebelumnya kini terlihat semakin besar dan semakin besar. Jawaban Sim Chung mengingatkan Joon-Jae pada Namsan Tower, tempat mereka berjanji bertemu saat salju pertama turun.

Sambungan telpon Sim Chung tiba-tiba terputus dan tidak bisa dihubungi kembali.

“Namsan. Mereka pergi ke arah Namsan,” ujar Joon-Jae. “Ma Dae-Young menyamar sebagai sopir taksi dan ia menyetir. Pergilah ke arah Namsan juga, cepat.”

Setelah memikirkannya sejenik, detektif Dong-Pyo lantas mengikuti perintah Joon-Jae.

“Jika ini ternyata scam, aku sungguh akan membunuhmu sampai mati dan pergi ke penjara,” ancam detektif Dong-Pyo.

“Jika sampai terjadi sesuatu pada wanita itu, aku akan membunuhmu hingga mati juga,” respon Joon-Jae.

Detektif Dong-Pyo kemudian melepaskan borgol Joon-Jae dan memberi instruksi pada patroli lokal untuk melakukan razia dan pengecekan di jalan yang menuju Namsan Tower. Joon-Jae lalu menambahkan agar detektif Dong-Pyo juga mengajukan pengecekan terhadap laporan taksi yang hilang. Dengan sedikit keki karena terus diperintah oleh Joon-Jae, detektif Dong-Pyo menurutinya.

Semakin dekat dengan Namsan Tower, razia polisi masih belum memberikan hasil. Joon-Jae jadi curiga Dae-Young berbelok arah dan masuk ke jalur yang menuju terowongan. Ia pun segera meminta detektif Jang untuk menuju ke sana.

“Ambil jalan itu?” tanya detektif Jang pada Dong-Pyo.

“Itu satu-satunya jalan keluar dari Seoul yang tidak melewati titik pemeriksaan,” jelas Joon-Jae.

“Hei, ambil saja. Preman ini ahli dalam penipuan dan juga melarikan diri,” detektif Dong-Pyo mengkonfirmasi.

“Kamu tidak tahu jalanan Seoul sebaik aku,” respon Joon-Jae pede.

“Itu memang sesuatu yang patut dibanggakan,” sindir detektif Dong-Pyo.

Mobil terus melaju. Joon-Jae berdoa dalam hati berharap Sim Chung menghubunginya, namun Sim Chung yang telah dibius oleh Dae-Young jelas tidak bisa melakukannya. Anehnya, justru detektif Dong-Pyo yang tiba-tiba menoleh ke arah Joon-Jae, seolah mendengar suara hati Joon-Jae.

Mobil yang dikendarai Dae-Young tiba di sebuah bangunan rumah sakit yang sudah tidak terpakai. Ia lalu membawa Sim Chung ke sebuah ruang operasi. Tak lama Sim Chung tersadar dan ia melihat Dae-Young sedang mengisi sebuah bak dengan air. Ia berusaha bergerak namun kakinya sama sekali tidak bisa digerakkan, sepertinya pengaruh dari bius Dae-Young sebelumnya.

Melihat Sim Chung terbangun, Dae-Young tersenyum dan dengan santai melambaikan tangan kepadanya.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Sim Chung.

“Jangan mencoba untuk berdiri. Lagian kamu tidak akan bisa bergerak,” respon Dae-Young sembari melangkah menghampiri Sim Chung. “Aku tidak punya niat untuk melakukan sesuatu terhadapmu. Hanya saja kepribadianku membuatku tidak bisa menahan diri untuk tidak penasaran, jadi aku mencoba untuk mengkonfirmasi sesuatu.”

“Apa yang kamu konfirmasi?”

“Aku terus memimpikan mimpi-mimpi yang aneh. Awalnya aku pikir itu hanya mimpi tapi dari mimpi-mimpi itu aku mendapat feeling bahwa mereka mungkin saja nyata.”

“Kenapa kamu mengkonfirmasi mimpimu denganku?”

“Karena mereka berhubungan denganmu.”

“Mimpi yang berhubungan denganku?”

“Itu tidak pasti tapi di dalam mimpi sepertinya kamu adalah seorang putri duyung,” jawab Dae-Young sembari tersenyum. “Saat kamu berada di dalam air kamu adalah putri duyung, dan saat kamu berada di darat kamu berpenampilan seperti manusia. Dan air mimpi yang diteteskan oleh putri duyung berubah jadi mutiara. Well, jika aku melemparkanmu ke dalam air, itu akan mengkonfirmasinya.”

Joon-Jae, detektif Dong-Pyo, dan detektif Jang akhirnya tiba juga di rumah sakit. Di dalam, mereka berpencar untuk mencari keberadaan Dae-Young.

Sementara itu, melihat air di bak yang sudah penuh, Dae-Young mengulurkan tangannya untuk mengangkat tubuh Sim Chung.

“Aku tidak tahu mimpi apa yang kamu alami, tapi jika aku adalah putri duyung di dalamnya, apakah aku memberikan semacam peringatan?” ujar Sim Chung tiba-tiba. “Putri duyung tidak membiarkan begitu saja manusia yang telah menyentuh tubuhnya. Putri duyung bisa menghapus memori apapun yang ia inginkan.”

Ingatan Mr. Yang di masa lalu muncul di pikiran Dae-Young, tentang Mr. Yang yang diperingatkan untuk tidak menyentuh putri duyung karena bisa berakibat seperti yang baru saja disampaikan Sim Chung. Ia pun mulai meragu.

“Saat kamu meletakkan tanganmu ke tubuhku, kamu akan kehilangan semua memorimu. Itu cara putri duyung melindungi diri mereka dari manusia,” ancam Sim Chung lagi seraya mengulurkan tangannya pada Dae-Young. “Konfirmasilah.”

Dae-Young melangkah mundur. Mendengar ada seseorang yang mendekati ruang operasi, ia akhirnya memilih untuk kabur dan meninggalkan Sim Chung. Tak lama kemudian Joon-Jae tiba di sana. Melihat Sim Chung, ia segera menghampiri dan memeluknya.

“Maafkan aku datang terlambat,” ucap Joon-Jae.

Beberapa saat kemudian mobil Dae-Young terlihat pergi meninggalkan rumah sakit. Detektif Dong-Pyo yang menyusul keluar jadi kesal karena lagi-lagi ia gagal menangkap Dae-Young.

Joon-Jae dan Sim Chung tiba di rumah. Jo Nam-Doo (Lee Hee-Joon) yang sedang menonton TV memberitahunya bahwa sedang ada pencarian dan razia untuk menangkap Ma Dae-Young.

“Hei, dan kamu tahu siapa detektif yang bertugas menangkap Ma Dae-Young? Jangan kaget, oke? Itu adalah Mi Mi Hong Dong Pyo,” ujar Nam-Doo.

Sesaat kemudian detektif Dong-Pyo muncul dari balik pintu bersama detektif Jang. Nam-Doo dan Tae-O (Shin Won-Ho) kaget melihatnya.

“Ku rasa akulah Mi Mi Hong Dong Pyo,” responnya. “Apa kepanjangan Mi Mi?”

“Michin Misery (gila dan menyedihkan),” jawab Nam-Doo perlahan.

Sementara Joon-Jae mengantar Sim Chung ke kamarnya, dengan canggung Nam-Doo mempersilahkan detektif Dong-Pyo untuk duduk.

“Dari sebelumnya, jika aku bertemu denganmu, aku selalu ingin mengatakan kepadamu, saat aku mati aku berpikir untuk mendonasikan semua yang ku punya pada masyarakat,” ujar Nam-Doo basa-basi.

Detektif Dong-Pyo hanya tertawa sinis mendengarnya.

“Apakah kamu akan menangkap kami?” tanya Nam-Doo lagi.

Joon-Jae membaringkan Sim Chung di tempat tidurnya dan menutupkan selimut ke tubuh Sim Chung. Saat Sim Chung hendak membicarakan tentang Dae-Young, Joon-Jae memintanya untuk beristirahat dulu dan membicarakan tentang ini nanti.

“Tidurlah di sini malam ini. Aku akan tidur di ruang loteng,” tambah Joon-Jae.

“Mereka bilang kamu menderita saat meninggalkan rumah. Ini terasa begitu nyaman saat pulang ke rumah,” ujar Sim Chung.

“Itu benar. Jadi jangan pergi ke luar dengan serampangan dan tetaplah tinggal di sini,” respon Joon-Jae.

“Selamanya?”

“Tidak bisa selamanya.”

“Kenapa?”

“Sewa rumah ini untuk dua tahun. Masih banyak waktu yang tersisa, sekitar satu setengah tahun?”

“Sewa rumah?”

“Ya. Sejujurnya, aku katakan bahwa rumah ini bukan milikku. Yang memang punyaku adalah mebel dan koper. Nanti kita harus memindahkan semuanya.”

“Siapa?”

“Kamu harus memindahkan semuanya… karena kamu akan pergi denganku.”

“Bersama?”

Joon-Jae mebelai rambut Sim Chung dan memintanya untuk segera beristirahat.

Untuk membuktikan bahwa Dae-Young benar-benar mengincarnya, Joon-Jae menunjukkan rekaman CCTV saat Dae-Young menyamar jadi petugas kebersihan dan berkeliaran di depan rumahnya. Ia juga menunjukkan pesan dari Dae-Young yang dikirim melalui ponsel sekretaris Nam dan menceritakan apa yang terjadi pada saat itu.

“Apa kamu pernah menipu Dae-Young atau kenalannya?” tanya detektif Dong-Pyo.

“Tidak,” jawab Joon-Jae.

“Jangan terlalu yakin, kita tidak pernah tahu,” timpal Nam-Doo.

“Eniwei, Ma Dae-Young adalah satu hal tapi kalian semua…”

“Namun begitu, tidak akan mudah untuk menangkap kita atas penipuan,” potong Joon-Jae, “Tidak ada satu pun dari korban kita yang melapor.”

“Mereka mungkin tidak bisa karena uangnya juga tidak bersih,” kembali Nam-Doo menimpali.

“Itu bukan kejahatan kalau mereka tidak melapor?” sergah detektif Dong-Pyo kesal. “Dan kamu, kamu selalu pergi ke suatu tempat dan berpura-pura menjadi aku.”

“Itu tidak seperti aku berpura-pura menjadi polisi dan melakukan pencurian,” jawab Joon-Jae. “Aku tidak pernah melukai seorang pun. Dan untuk berpura-pura menjadi seorang pejabat sipul, bukankah aku hanya harus membayar denda?”

Meski kesal, detektif Dong-Pyo akhirnya setuju untuk tidak menangkap Joon-Jae dkk terlebih dahulu dan fokus untuk menangkap Dae-Young.

Sim Chung tidak bisa tidur gara-gara memikirkan perkataan Joon-Jae, terutama tentang pindah bersamanya. Bukannya sadar kalau maksud Joon-Jae adalah agar Sim Chung tinggal bersamanya, ia malah berpikir Joon-Jae membutuhkannya untuk membantu angkat-angkat barang. Joon-Jae yang menguping suara hati Sim Chung dari loteng tertawa geli mendengarnya.

Namun senyum Joon-Jae lama-kelamaan hilang karena Sim Chung terus saja berpikir tentang perkataan Joon-Jae dan tidak kunjung tidur. Sim Chung bahkan mulai memikirkan hubungan antara pindahan dengan piyama warna hijau yang digunakan Joon-Jae saat ini. Joon-Jae jadi ikut tidak bisa tidur karena terus mendengar suara hati Sim Chung di kepalanya.

“Hei, ayo pergi tidur, ku mohon!” bentak Joon-Jae dari atas loteng pada Sim Chung tanpa sadar.

“Ya, Heo Joon-Jae?” tanya Sim Chung bingung.

Baru ingat bahwa Sim Chung tidak tahu ia bisa mendengar suara hati Sim Chung, Joon-Jae urung mengomel dan meminta Sim Chung untuk tidur dengan baik-baik. Apes bagi Joon-Jae, baru sejenak merebahkan diri ke tempat tidur, Sim Chung kembali berpikir tentang Joon-Jae.

Ahn Jin-Joo (Moon So-Ri) mencoba menghubungi Nam-doo namun telponnya tidak diangkat. Ia dan suaminya akhirnya memutuskan untuk kembali mengejar CEO Heo Gil-Joong (Choi Jung-Woo) melalui Kang Seo-Hee (Hwang Shin-Hye). Ia pun lantas menelpon Seo-Hee dan mengajaknya makan malam.

Seo-Hee sendiri saat itu sedang menyiapkan obat milik Gil-Joong. Diam-diam ternyata ia mengganti obat mata Gil-Joong dengan obat lainnya. Heo Chi-Hyun (Lee Ji-Hoon) yang tanpa sengaja melihatnya segera mengambil obat tersebut saat ibunya pergi.

“Apa kalian berdua tidak tidur? Wajah kalian terlihat lesu,” tanya Nam-Doo pada Joon-Jae dan Sim Chung.

“Ya, karena aku punya banyak hal untuk dipikirkan,” jawab Sim Chung.

“Ya, karena ia punya banyak hal untuk dipikirkan,” jawab Joon-Jae.

Baik Sim Chung dan Nam-Doo jadi heran mendengar jawaban Joon-Jae yang seolah tahu pikiran Sim Chung. Joon-Jae segera berdalih bahwa Sim Chung bergerak ke sana kemari sehingga ia jadi tidak bisa tidur.

Ucapan Joon-Jae jadi bumerang bagi dirinya sendiri karena menambah beban pikiran Sim Chung dan ia kembali bertanya-tanya dalam hati.

“Tidak, bukan itu,” bentak Joon-Jae kesal.

Yang lain jadi bingung melihat ulah Joon-Jae. Sadar yang lain kebingungan, Joon-Jae kembali berdalih bahwa maksudnya adalah Sim Chung tidak bergerak ke sana kemari.

Melihat kolam renang, Joon-Jae kemudian beralasan mengajak Nam-Doo dan Tae-O untuk membeli pohon natal agar Sim Chung bisa berenang di sana dengan bebas sebagai putri duyung. Mendengarnya, Sim Chung malah ingin ikut pergi bersama mereka. Joon-Jae berkeras melarangnya, hingga Sim Chung berpikir Joon-Jae sengaja menyuruhnya tinggal untuk bersih-bersih rumah.

“Tidak, bukan bersih-bersih rumah atau sejenisnya,” jawab Joon-Jae merespon suara hati Sim Chung sembari mencubit pipi Sim Chung dengan gemas, “Hal yang bisa membuat relaks dan nyaman. Lakukan hal-hal seperti itu.”

“Apa yang kamu lakukan?” sergah Tae-O.

“Hei, sepertinya itu sakit. Kenapa kamu mencubit pipinya seperti itu?” tanya Nam-Doo.

“Anehnya, aku ingin,” jawab Joon-Jae seraya beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Sim Chung yang memegangi pipinya.

“Kenapa wajahku terasa panas? Apa karena ia mencubitnya? Tidak, ini terasa panas meski ia tidak mencubitnya,” ucap Sim Chung dalam hati.

Nam-Doo menyarankan agar mereka mengadakan pesta perayaan natal sederhana di rumah Joon-Jae dengan mengundang Si-A. Joon-Jae menyetujuinya.

Saat Nam-Doo dan Tae-O kemudian bersiap-siap, Sim Chung datang menghampiri, masih sambil memegangi pipinya.

“Ini sangat sakit. Untuk alasan yang tidak jelas, aku menyukainya. Perasaan apa ini? Apa aku jadi gila?” ucapnya dalam hati.

Joon-Jae tersenyum sendiri mendengarnya.

“Aku tidak bisa jadi satu-satunya yang merasa enak seperti ini. Aku mau Heo Joon-Jae merasakannya juga,” lanjut Sim Chung, masih dalam hati.

Mendengarnya, Joon-Jae segera berdiri. Sim Chung menghampirinya dan berniat untuk mencubit pipi Joon-Jae. Secara reflek, Joon-Jae menangkap tangannya dan mendorong Sim Chung ke tembok. Keduanya pun saling berhadapan dengan canggung.

“Pada saat kamu sendirian, lakukan apa yang kamu inginkan,” ujar Joon-Jae.

“Apa ini sekarang? Aku tidak dapat memikirkan apa-apa untuk sesaat,” ucap Sim Chung dalam hati.

Mendengar suara hati Sim Chung, Joon-Jae segera melepas pegangannya dan pergi sembari memegangi kepalanya.

Pengacara Gil-Joon memberitahu proses legalisasi surat wasiat yang hendak dilakukan Gil-Joong. Ia lalu menanyakan alasan Gil-Jong mempercepat proses formalisasi wasiat tersebut. Sebelum Gil-Joong menjawab, Chi-Hyun masuk ke dalam ruangan. Ia memberi sinyal pada pengacara agar diam-diam saja.

“Tentang anakku Joon-Jae, aku ingin memberikannya semua harta kekayaanku,” jawab Gil-Joong.

Baik pengacara maupun Chi-Hyun terkejut mendengarnya. Pengacara lantas menyarankan agar tetap memberikan bagian pada istri dan juga anak tiri Gil-Joong agar tidak terjadi masalah secara hukum. Gil-Joong menyetujui untuk memberikan bagian minimal yang diperlukan pada mereka.

Jin-Joo makan bersama dengan Seo-Hee. Ia mengajak Seo-Hee untuk minum anggur cina. Meski menyambut sulangan Jin-Joo, Seo-Hee memilih untuk tidak meminumnya. Sambil makan, Jin-Joo mulai melancarkan misi pedekatenya. Namun belum ia mulai berbicara, ponsel Seo-Hee berbunyi. Apesnya lagi, setelah itu Jin-Joo justru mabuk dan tanpa sadar mengata-ngatai Seo-Hee, yang akhirnya pergi meninggalkannya dengan emosi.

Joon-Jae tersenyum-senyum sendiri sambil menyiapkan meja saat mendengar suara hati Sim Chung yang sedang berdandan dan sibuk memilih-milih baju yang cocok dan disukai Joon-Jae. Tae-O keheranan melihat tingkah Joon-Jae. Tak lama Sim Chung turun dan Nam-Doo tanpa basa-basi memuji penampilannya. Dan seperti sebelumnya, Tae-O dengan sigap memotret Sim Chung dengan ponselnya. Joon-Jae yang mengetahuinya segera mengejarnya, sementara Si-A yang ada di samping Tae-O mengira Tae-O baru saja memotretnya.

“Kamu datang lagi?” tanya Si-A saat tanpa sengaja berpapasan dengan Sim Chung.

“Ya, Cha Si-A. Ini rumahku, jadi aku pergi keluar dan datang lagi,” jawab Sim Chung santai. “Tentu saja aku akan pindah bersamanya saat Joon-Jae memindahkan sewanya setelah satu setengah tahun.”

“Apa? Apa kamu akan menikahi Heo Joon-Jae?”

“Meskipun dia belum mengatakannya secara pasti, tapi dia ada rencana seperti itu di antara kita.”

“Rencana? Rencana apa?”

“Rencana bagi Heo Joon-Jae untuk menyukaiku.”

“Joon-Jae mengatakan itu?”

“Ya,” jawab Sim Chung singkat.

“Sepertinya Joon-Jae melakukannya lagi,” respon Si-A, “Ia biasa mengatakan itu. Kamu selalu mengatakan ini dalam hati, bukan? ‘Oh? Apakah ia menyukaiku? Tatapannya adalah tatapan ia menyukaiku. Apakah ia memperlakukanku dengan baik?’ Tapi apa artinya baginya untuk membuat rencana menyukainya? ‘Apa ia menyukaiku? Tapi kenapa ia belum juga mengajak berkencan? Apa ia tidak menyukaiku?'”

“Apakah kamu bisa mendengar sesuatu dari dalam hatiku?” tanya Sim Chung heran, mengira Si-A bisa mendengar suara hatinya.

“Bukan berarti aku bisa mendengar suara hatimu. Ini yang dinamakan ‘mengelola akuarium’ (mengelola pelamar potensial),” jawab Si-A.

“Mengelola akuarium?”

“Mereka melemparkan umpan, menjaganya agar tetap berada dalam jaring, lalu membuat mereka menjaga ekspektasi yang tinggi. Kamu tidak bisa menangani Heo Joon-Jae. Aku punya kemampuan untuk tidak tersingkir oleh itu dan bisa berada di samping Joon-Jae. Tepat seperti itulah kamu. Ikan yang tertangkap di dalam akuarium.”

“Aku bukan ikan.”

“Tidak. Kamu ikan. Sudah cukup kamu berada di sini sekian lama. Sekarang kembalilah ke tempat asalmu, tidak peduli itu sungai atau lautan.”

Sim Chung terdiam. Ia benar-benar mengira Si-A mengerti siapa dirinya sebenarnya.

Dae-Young meringkuk di kamarnya. Seo-Hee menelponnya, tapi ia tidak mau mengangkatnya. Tak lama Chi-Hyun datang menghampiri ibunya dan menanyakan siapa sebenarnya ayah biologisnya. Tanpa menjawabnya dengan jelas, Seo-Hee hanya memberitahunya bahwa ayahnya mencintai dirinya dengan caranya sendiri tanpa harus berada di hadapan Chi-Hyun.

“Fakta yang harus kamu tahu adalah fakta bahwa satu-satunya orang yang bisa dipercaya di dunia ini adalah dirimu dan diriku, hanya kita berdua,” ujar Seo-Hee sembari menggenggam tangan Chi-Hyun.

“Ya, ibu. Sepertinya itu benar,” respon Chi-Hyun.

Si-A sedang minum-minum di warung pinggir jalan. Tae-O datang tak lama kemudian. Setelah basa-basi sejenak, Si-A memberikan fotonya pada Tae-O.

“Untuk apa ini?” tanya Tae-O heran.

“Anak bodoh. Jika kamu ingin memiliki fotoku, yang perlu kamu lakukan hanyalah meminta. Kenapa kamu diam-diam memotretku di tempat yang ramai?” jawab Si-A.

Tae-O mencoba menjelaskan, namun Si-A memotongnya, dan tetap percaya bahwa Tae-O sungguh memotongnya.

“Aku sudah bilang kepadamu. Meski aku tidak bisa menerima perasaanmu, tapi jangan remehkan cintamu,” ujar Si-A. “Jangan melakukan sesuatu sembunyi-sembunyi, tapi ceritakan kepadaku rasa sakitmu.”

“Aku tidak sakit. Aku mengatakan ini karena aku sungguh tidak merasa terluka,” Tae-O mencoba menjelaskan.

Si-A tidak menghiraukannya dan malah curhat tentang rasa cintanya pada Joon-Jae yang bertahan selama 7 tahun dan belum juga hilang meski Joon-Jae belum menanggapinya.

Beberapa saat kemudian, Si-A mulai mabuk dan ia pun menelpon Joon-Jae untuk mengungkapkan perasaannya. Joon-Jae tidak terlalu menanggapi dan memintanya untuk pulang dengan diantar oleh Tae-O.

Joon-Jae masuk ke kamar dan mendapati Sim Chung berbaring di tempat tidurnya dengan posisi melintang. Ia pun meminta Sim Chung untuk naik ke kamarnya di loteng. Hal tersebut membuat Sim Chung kembali bertanya-tanya. Khawatir Sim Chung bakal kepikiran semalam suntuk seperti hari sebelumnya, Joon-Jae akhirnya mempersilahkan Sim Chung untuk kembali tidur di bawah dan ia sendiri yang naik ke loteng. Apes bagi Joon-Jae, Sim Chung sudah terlanjur kepikiran dan Joon-Jae kembali tidak bisa tidur.

Jin-Joo terbangun di kamar tidurnya. Suaminya menanyakan apa yang terjadi sampai-sampai ia bisa seperti itu. Ia pun teringat akan apa yang sudah ia katakan.

“Ini mimpi, bukan?” tanyanya pada suaminya. “Tolong katakan ini adalah mimpi. Seriusan. Katakan ini adalah mimpi, mimpi!”

Sementara itu, di ruang tengah, hal yang sama terjadi pada Si-A yang baru saja terbangun. Ia hanya bisa meratapi menyesali kebodohannya begitu melihat beberapa kali ia menelpon Joon-Jae semalam saat ia mabuk.

Mo Yoo-Ran (Na Young-Hee) yang kebetulan turun memberitahu Jin-Joo bahwa ia hendak pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah. Jin-Joo yang masih mual dan stress mempersilahkannya tanpa bertanya-tanya, sementara Si-A masih terus berteriak-teriak meratap. Yoo-Ran hanya bisa melihatnya dengan pandangan aneh.

Jin-Joo mendatangi Seo-Hee yang sedang berada di salon untuk meminta maaf. Masih kesal dengannya, Seo-Hee merespon dengan menyindirnya.

Sim Chung tiba-tiba menghampiri Tae-O yang sedang main game di komputer. Tidak menyangka, muka Tae-O jadi merah karena malu. Sim Chung lantas minta agar diajari menggunakan komputer karena yang bisa ia pelajari di TV terbatas.

“Mereka bilang kamu bisa menemukan segala macam dengan menggunakan komputer, bukan?” tanya Sim Chung.

Tae-O mengangguk mengiyakan.

“Kalau begitu kamu juga bisa tahu itu?” tanya Sim Chung.

“Apa?” tanya Tae-O heran.

“Jika seseorang sedang terkait,” bisik Sim Chung di telinganya.

Joon-Jae yang kebetulan lewat di bawah berteriak menanyakan apa yang sedang mereka lakukan. Tidak menjawabnya, Sim Chung kembali berbisik di telinga Tae-O.

“Bagaimana untuk tahu apakah kita sudah terkait atau bagaimana untuk tahu apakah seseorang sedang menggoda kita. Semacam itu.”

Joon-Jae jadi sebal melihatnya. Apalagi setelah melihat telinga Tae-O jadi memerah.

“Tae-O hendak mengajariku komputer,” jawab Sim Chung.

“Aku yang akan mengajarkanmu,” respon Joon-Jae.

Sim Chung menolak. Dalam hati ia berkata, “Aku harus cari tahu apakah kamu benar suka padaku atau hanya menggodaku.”

“Hei, haruskah aku mengatakan dengan lantang agar kamu tahu?” tanya Joon-Jae.

“Apa?” tanya Sim Chung heran. “Apa yang barusan kamu bilang?”

“Maksudku, apakah kamu harus mengatakan dengan lantang untuk mengajarimu komputer,” dalih Joon-Jae. “Tidak bisakah kamu belajar hanya dengan melihat dari samping seperti ini beberapa kali? Baiklah, jika kamu mau belajar dari Tae-O, belajarlah dari dia.”

Sepeninggal Joon-Jae, Tae-O mulai mengajari Sim Chung bagaimana caranya mencari informasi di internet.

Di rumah sakit, dokter Kim bingung kenapa penglihatan Gil-Joong justru jadi makin memburuk meski ia sudah meresepkan obat. Seo-Hee berpura-pura khawatir dan menanyakan apa yang sebaiknya mereka lakukan agar sakit katarak Gil-Joong tidak bertambah parah lagi. Dokter Kim menyarankan agar Gil-Joong menjalani operasi, yang disetujui oleh Gil-Joong. Namun begitu, dokter Kim masih heran dengan penyebab sakit Gil-Joong dan memastikan apakah memang Gil-Joong tidak pernah melukai matanya sendiri.

Keluar dari ruang dokter, Seo-hee meminta Gil-Joong untuk menunggu sejenak di kursi tunggu. Beberapa saat setelah Seo-Hee pergi, Yoo-Ran lewat di hadapan Gil-Joong. Ia pun kaget melihat sosok Gil-Joong di hadapannya. Gil-Joong sendiri, meski juga melihat ke arah Yoo-Ran, namun ia tidak menyadarinya karena pandangannya kabur.

Tak lama Seo-Hee kembali dan segera mengajak Gil-Joong pergi meninggalkan rumah sakit. Tidak sadar pandangan Gil-Joong kabur, Yoo-Ran sengaja membalikkan badannya agar mereka tidak melihatnya saat berpapasan.

Yoo-Ran lantas teringat saat dulu Seo-Hee, yang merupakan teman lamanya di sekolah, datang kepadanya untuk menawarkan asuransi. Yoo-Ran mau mengikuti asuransi yang ia tawarkan, bahkan mempersilahkannya untuk menemui Gil-Joong di kantor untuk mengurus asuransi bagi Gil-Joong.

Joon-Jae sedang membaca berita tentang Dae-Young saat tiba-tiba Chi-Hyun menelponnya.

“Ini aku, anak palsu,” ujar Chi-Hyun.

“Kamu pikir kamu sudah jadi dekat denganku?” respon Joon-Jae.

“Mana mungkin. Bagaimana bisa seseorang yang palsu jadi dekat dengan yang asli,” jawab Chi-Hyun.

“Kamu mabuk?” tanya Joon-Jae heran.

“Joon-Jae, aku tidak berpikir aku bakal bisa melindungi ayahmu. Lindungi ayahmu sendiri. Aku akan melindungi ibuku.”

“Apa yang kamu lakukan?”

“Ini peringatan terakhirku, juga hadiah dari yang palsu pada yang asli.”

“Apa?”

Chi-Hyun lantas menutup telponnya begitu saja. Sambil berpikir tentang kata-kata Chi-Hyun, Joon-Jae melangkah masuk ke kamarnya.

“Kamu akan menggunakan ruangan ini mulai dari sekarang?” tanyanya saat melihat Sim Chung berbaring di tempat tidurnya.

“Aku menunggu untuk menanyakan sesuatu kepadamu,” jawab Sim Chung.

“Apa?” tanya Joon-Jae.

“Kamu tahu…”

Sim Chung tidak melanjutkan kata-katanya. Alih-alih, ia berucap dalam hati, “Kenapa kamu mengatakan padaku bahwa kamu berencana untuk menyukaiku? Kenapa kamu datang untuk menyelamatkanku? Kenapa kamu memelukku? Kenapa kamu menyentuh rambutku? Apakah kamu menyukaiku? Atau seperti kata Cha Si-A, kamu hanya menggodaku? Ada banyak hal di internet, tapi meski aku mencari seharian, tidak ada yang berhubungan dengan hatimu. Aku tidak tahu. Apa kamu menyukaiku? Atau tidak?”

“Tidak apa-apa,” kata itu yang akhirnya terucap dari bibir Sim Chung.

“Kenapa kamu tidak bertanya apa yang akan kamu tanyakan?” tanya Joon-Jae, yang sudah mendengar semua suara hati Sim Chung barusan.

“Tidak. Itu belum terpikirkan,” jawab Sim Chung.

“Kamu bukan tipe yang memikirkan. Kamu tipe yang langsung menyampaikan.”

“Tidak, aku ingin memikirkannya dulu sebelum aku mengatakannya. Aku akan memikirkannya malam ini.”

“Kamu akan memikirkannya semalaman?” tanya Joon-Jae khawatir.

“Ya, aku akan memikirkannya semalaman, dan aku akan mengatakan kepadamu setelah aku memikirkan semuanya besok,” jawab Sim Chung.

Joon-Jae jadi lemas mendengarnya, sadar ia akan kembali tidak bisa tidur. Saat Sim Chung hendak naik ke loteng, Joon-Jae lalu mencegahnya.

“Seberapa banyak pemikiran yang kamu rencanakan?” tanya Joon-Jae.

“Hanya semalaman,” jawab Sim Chung lirih.

“Semalaman? Aku tidak tahu pikiran macam apa yang ada di kepalamu. Aku tidak tahu, tapi apapun itu, bisakah kamu tidak melakukannya?”

Ucapan Joon-Jae barusan membuat Sim Chung berpikir dalam hati bahwa Joon-Jae membencinya dan tidak ingin agar ia memikirkannya. Mendengar itu, Joon-Jae merespon dengan menghampiri Sim Chung dan mencium keningnya.

“Sekarang semua tenang,” ujar Joon-Jae. “Mulai dari sekarang, jangan pikirkan apapun dan jangan lakukan apapun.”

Joon-Jae menutup perkataannya dengan mencium bibir Sim Chung.

Preview Episode 13

Berikut ini adalah preview eps 13 dari drakor Legend Blue Sea:

» Sinopsis Episode 13 Selengkapnya

Reply