Rekap Sinopsis Circle Episode 8 Part 2 (13 Juni 2017)

Di sinopsis drakor Circle: Two Worlds Connected episode sebelumnya, Kim Joon-Hyuk (Kim Kang-Woo) syok begitu Han Jung-Yeon / Bluebird (Kong Seung-Yeon) memberitahunya bahwa kemungkinan besar ketua Human B adalah Kim Woo-Jin (Yeo Jin-Goo) dan ia melakukan hal tersebut karena kecewa melihat Kim Beom-Gyoon (An Woo-Yeon) yang sudah hilang ingatan saat ia berhasil menemuinya dan justru terlihat bahagia dalam kondisi tersebut. Joon-Hyuk sempat berniat untuk mundur dari usahanya mencari keberadaan Woo-Jin dan melanjutkan hidupnya sebagai Joon-Hyuk. Namun dengan diketemukannya Kim Min-Ji (Choi Ji-hun), serta Lee Hoo-So (Lee Gi-Kwang) yang sudah kembali ke jalan yang benar, Joon-Hyuk membulatkan tekadnya untuk melanjutkan pencarian terhadap Woo-Jin dan meminta Lee Hyun-Seok (Min Sung-Wook) untuk mengatur pertemuan antara dirinya, Bluebird, dan ketua Human B. Apa yang akan terjadi selanjutnya di sinopsis Circle episode 8 part 2 berikut ini?

Dok. gambar dan video © tvN of Korea Selatan

Sinopsis Episode 8 Part 2

Judul: Brave New World

Joon-Hyuk menceritakan segalanya tentang dirinya, Bluebird, dan juga Woo-Jin yang menghilang, yang ia curigai berkaitan erat dengan keberadaan Human B, kepada Hoo-So. Sementara itu, Hyun-Seok memberitahu ketua Human B bahwa Joon-Hyuk ingin bertemu dengannya.

Setibanya kembali di ruang penyidikan, Joon-Hyuk dan Hoo-So mendapati ponsel yang ditinggalkan oleh seseorang di samping kubus rubik Joon-Hyuk. Hoo-So sempat mengingatkan Joon-Hyuk untuk tidak memegang ponsel tersebut karena mungkin saja berbahaya, tapi Joon-Hyuk perlahan mengambilnya dan menyalakannya. Begitu melihat wallpaper di layar ponsel tersebut, ia langsung mengenali ponsel tersebut sebagai miliknya.

“20 tahun yang lalu aku pemilik ponsel ini,” ujar Joon-Hyuk, “Tapi Woo-Jin yang terakhir menyimpan ini.”

Setelah melihat pesan yang ada di ponsel tersebut, yang meminta Joon-Hyuk untuk mendatangi sebuah rooftop, Hoo-So curiga jangan-jangan itu adalah jebakan.

“Kenapa?” tanya Joon-Hyuk.

“Ini cuma firasatku saja,” jawab Hoo-So.

“Karena chipmu sudah tak ada lagi, kau sekarang bisa berfirasat?” sindir Joon-Hyuk.

Joon-Hyuk menemui Jin-Hong dan menunjukkan foto Woo-Jin yang berada di depan sebuah lukisan.

“Tapi ini Woo-Jin,” respon Jin-Hong kaget.

“Ini ruangan ketua Human B,” jelas Joon-Hyuk.

“Apa? Buat apa Woo-Jin ada di ruangan ketua? Jangan bilang…”

“Entah Woo-Jin ketua atau bukan, itu tak jadi masalah,” potong Joon-Hyuk. “Aku tetap akan pergi.”

“Hei, ini bisa jadi jebakan.”

“Kalau begitu, kau bersiaplah di terminal sambil mengajak petugas lainnya. Jika terjadi sesuatu,m aku akan menyuruh Jung-yeon menggantikanku. Lindungi dia.”

“Kenapa kau bicara seakan ada apa-apa yang akan terjadi padamu?”

“Jika ada apa-apa. Jika,” balas Joon-Hyuk sembari memegang kedua lengan Jin-Hong. “Aku percaya hyungnim.”

Saat melangkah meninggalkan Jin-Hong, ponsel Joon-Hyuk berbunyi. Menteri Park Dong-Gun (Han Sang-Jin) yang menghubungi. Tak lama kemudian, Joon-Hyuk sudah bersama dengannya dan juga walikota Yoon Hak-Jo (Nam Myung-ryul).

“Inilah daftar peserta dari sesi rapat investasi Smart District,” ujar menteri Park. “Jika ketua berada di sana, para peserta pasti melihatnya. Maka ketua pasti berada dalam ingatan peserta. Ya, aku memang seorang menteri. Aku seorang pejabat publik. Karena itulah, inilah yang bisa ku lakukan untukmu sekarang. Sisanya ku serahkan padamu.”

“Apa maksudnya Anda menyuruhku meretas ingatan peserta?” tanya Joon-hyuk memastikan.

“Aku tak pernah bilang begitu. Ku bilang itu terserah kau,” jawab menteri Park.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Joon-hyuk mengambil flashdisk berisi daftar yang dimaksud, lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Ia lantas menemui Hoo-So dan memintanya untuk menyerahkan flashdisk tersebut pada Jung-yeon, sembari mewanti-wantinya untuk pergi ke terminal dan menemui Jin-Hong jika terjadi sesuatu.

“Apa maksudmu itu tentang sesi rapat investasi bulan Januari 2022 lalu?” tanya walikota Yoon pada menteri Park.

“Ya. Kau tahu darimana? Padahal sesi rapat itu kan rahasia besar,” jawab menteri Park.

“Aku dulu seorang reporter. Aku dikabari kalau Ketua G.E.E. Brown ingin ke Korea. Dan setelah itu, aku tahu dia berada di Saerim Hotel. Setelahnya, kami jadi tahu ada sesi rapat investasi yang diadakan di sana,” jelas walikota Yoon.

“Ya. Aku juga kebetulan dengar kabar itu setelah aku menjadi menteri,” respon menteri Park.

Sepeninggal menteri Park, raut wajah walikota Yoon berubah dan ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

Di kantor polisi, Jin-Hong memandangi foto Woo-Jin yang diberikan oleh Joon-Hyuk dengan seksama. Ada sesuatu yang ia rasa mencurigakan di foto tersebut, khususnya pada lukisan yang ada di belakang Woo-Jin. Sementara itu, walikota Yoon tiba-tiba teringat sesuatu dan membuka kembali arsip catatan reporternya yang lama, saat ia meliput sesi rapat investasi. Ia pun kaget begitu membaca catatannya, bahwa salah satu peserta rapat adalah Park Dong-Gun.

Dengan segera, walikota Yoon meminta tim keamanan untuk berjaga di luar kantor dan sekaligus memanggil menteri Park kembali ke ruangannya.

“Darimana kau dapat daftar peserta sesi rapat investasi?” tanya walikota Yoon saat menteri Park tiba.

“Buat apa kau bertanya?” tanya menteri Park balik.

“Aku hanya penasaran saja.”

“Tapi tidak ada alasan aku harus memberitahumu, kan? Sebagai mantan reporter, kau harusnya tahu…”

“Karena kau ada di sana saat itu.”

“Apa? Aku?”

“Aku tahu kau hadir dalam sesi rapat investasi,” ucap walikota Yoon tegas.

“Jika aku ada di sana, aku pasti sudah melihat ketua,” dalih menteri Park. “Terus buat apa aku melakukan ini? Bahaya bagiku.”

“Itulah maksudku. Kenapa kau melakukannya?”

Menteri Park meresponnya dengan tertawa. Walikota Yoon lantas menunjukkan foto-foto menteri Park yang ia potret di rapat tersebut. Raut wajah menteri Park langsung berubah.

“Aku yang memotretnya,” ujar walikota Yoon. “Jika kau memang ingin membantu detektif Kim, seharusnya kau memberitahuku yang sebenarnya. Kenapa kau melakukan tindakan ini? Ini berbahaya. Menteri Park, apa hubunganmu dengan ketua Human B?”

“Jika kau sejauh ini, aku tidak bisa menolak memberitahumu,” jawab menteri Park sambil tersenyum. “Bagaimana aku menjelaskannya, ya?”

“Soal Human B yang ingin memasukkan chip secara paksa ke kepala Kim Joon-Hyuk, menurutmu kenapa alasannya? Berbahaya menculik seseorang di Smart District,” lanjut menteri Park.

“Jangan ubah topik pembicaraan. Ku tanya apa hubunganmu dengan Human B,” respon walikota Yoon.

“Itulah yang ingin ku jelaskan. Kenapa menurutmu Human B menculiknya untuk memasukkan sebuah chip?”

“Untuk menghentikan detektif Kim agar tidak buka mulut.”

“Betul. Jadi, apa cara termudah untuk melakukannya? Menurutmu apa? Memblokir ingatannya. Tapi tidak ada chip di kepalanya Joon-Hyuk,” jawab menteri Park.

Terlihat di balik punggungnya ia menyalakan ponselnya agar seseorang di ujung telpon mendengar pembicaraannya dengan walikota Yoon.

“Apa maksudmu ini?” tanya walikota Yoon bingung.

“Jadi, karena tak ada chip di kepalanya Joon-Hyuk, mereka secara paksa menculiknya dan mencoba memasukkan chip. Tapi, tak ada gunanya melakukan itu ke seseorang yang di kepalanya sudah ada chip.”

“Jangan bilang…”

“Senang bertemu denganmu, walikota Yoon. Aku Ketua Human B, Park Dong-Gun,” ujar menteri Park tenang seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

Walikota Yoon kaget mendengarnya. Dari kilas balik, terlihat bahwa penggerebekan aksi Hyun-Seok saat hendak mengoperasi Joon-Hyuk adalah bagian dari rencana menteri Park agar bisa mendekati Joon-Hyuk.

“Kenapa kau kaget begitu? Ku kira kau mau bertemu denganku,” lanjut menteri Park.

“Kenapa ini bisa terjadi?” respon walikota Yoon masih tidak percaya.

“Walikota Yoon, tahukah kau mana emosi yang paling berbahaya? Rasa ingin tahu,” ucap menteri Park.

“Ini ilegal. Akan ku laporkan ke polisi.”

“Aku ketua Human B. Dan ada chip buatanku di kepalamu.”

Menteri Park lantas memberitahu Hyun-Seok yang ada di ujung telpon, dan memintanya untuk menghapus ingatan walikota Yoon. Hal tersebut membuat walikota Yoon terjatuh tak sadarkan diri. Agar tidak ketahuan, menteri Park lalu berpura-pura kaget melihat kondisi walikota Yoon dan memanggil anak buah walikota Yoon yang berjaga di luar untuk mencari bantuan.

Jin-Hong tiba-tiba teringat akan sesuatu. Ia membongkar isi sebuah kardus miliknya dan membuka lembaran buku ilustrasi yang pernah ia buat. Sementara itu, Joon-Hyuk tiba di rooftop tempat ketua Human B memintanya untuk bertemu, sedangkan Jung-yeon, dari informasi yang ada di flashdisk yang diberikan oleh Hoo-So, mendapatkan beberapa alamat yang ia yakini sebagai alamat chip perlindungan milik para peserta rapat. Ia berharap dengan alamat-alamat tersebut mereka bisa mendapatkan rekaman ingatan mereka.

Sesuai rencana menteri Park, Hyun-Seok melaporkan pada dewan direksi Smart District bahwa apa yang terjadi pada walikota Yoon adalah serangan peretasan yang dilakukan oleh Bluebird. Para anggota dewan kaget mendengarnya, termasuk menteri Park yang berpura-pura terkejut.

“Bluebird menghapus semua ingatan walikota Yoon. Walaupun dia sadarkan diri, kondisinya takkan berfungsi normal,” tambah Hyun-Seok.

Setelah ‘berakting’ sejenak, menteri Park mulai angkat bicara.

“Situasinya sudah jelas. Smart District berada dalam serangan teror. Dan tujuan kita sudah jelas. Kita harus menangkap penyerang kekerasan yang agresif ini. Kita berkewajiban untuk menjaga Smart District tetap aman dan stabil. Pasal 2, ayat 17, UU Smart District menyatakan jika Smart District tidak dapat beroperasi di bawah pemerintahan maka Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi akan mengambil alih. Mulai sekarang, balai kota dan Human B akan memulai misi kita menangkap Bluebird,” ucap menteri Park panjang lebar.

Para anggota dewan mengangguk tanda setuju.

Salah satu lembaran ilustrasi yang pernah dibuat oleh Jin-Hong ternyata memiliki motif yang sama dengan lukisan di foto Woo-Jin. Ia pun ingat pernah iseng menggambar lukisan yang ada di ruang laboratorium Universitas Handam saat sedang menunggu kedatangan profesor Park Dong-Gun 20 tahun lalu.

Sementara itu, Jung-yeon baru menyadari bahwa data pada daftar yang ia proses sebenarnya adalah jebakan. Alih-alih mendapatkan rekam ingatan para peserta rapat, lokasi keberadaannya justru terkirim ke server milik Human B. Jung-yeon buru-buru mematikan seluruh komputernya dan mengajak Hoo-So meninggalkan tempat tersebut.

Hyun-Seok memberitahu menteri Park bahwa mereka sudah mendapatkan lokasi Bluebird. Menteri Park menyadari Bluebird sudah lebih dulu tahu ia akan terperangkap dan kabur, sehingga ia merespon dengan meminta Hyun-Seok untuk mematikan jaringan komunikasi di area tempat Bluebird berada. Keputusannya itu sukses membuat Jin-Hong dan Jung-yeon yang berusaha menghubungi Joon-Hyuk kebingungan. Untungnya, Jung-yeon dan Hoo-So sendiri masih bisa menghindar dari kejaran para penjaga Smart District yang hendak menangkap mereka.

“Mereka kehilangan jejak Bluebird,” lapor Hyun-Seok pada menteri Park. “Bagaimana sekarang?”

“Ada satu cara lagi,” balas menteri Park.

Joon-Hyuk baru saja menutup telponnya saat menteri Park tiba-tiba muncul di rooftop.

“Joon-Hyuk, kau sudah bertemu dengan ketua?” tanya menteri Park.

“Belum. Tidak ada orang yang datang,” jawab Joon-Hyuk.

“Jung-yeon bagaimana? Dia aman?” tanya menteri Park lagi.

“Kenapa Anda bertanya?”

“Sepertinya lokasi dia sudah terdeteksi. Kita perlu waspada. Tim keamanan sedang mengejarnya. Walikota Yoon rupanya bekerjasama dengan Human B. Kita harus temukan Jung-yeon!”

“Aku sudah janji bertemu Jung-yeon di suatu tempat,” ujar Joon-hyuk.

Beberapa saat kemudian, Joon-Hyuk, menteri Park, dan seorang anak buah menteri Park tiba di sebuah tanah lapang. Tanpa basa-basi, Joon-Hyuk kemudian menunjukkan foto Woo-Jin pada menteri Park.

“Bukankah kau mengenali lukisan ini?” tanyanya.

Jin-Hong ternyata berhasil menghubungi Joon-Hyuk sesaat sebelum menteri Park menemuinya di rooftop. Ia memberitahu Joon-Hyuk mengenai keterkaitan lukisan tersebut dengan menteri Park.

“Ku dengar lukisan ini milikmu,” lanjut Joon-Hyuk. “Kenapa lukisan Ketua Human B berasal dari Universitas Handam?”

“Mungkin saja ada banyak salinan dari lukisan itu,” dalih menteri Park.

“Apa kau Ketua?” tanya Joon-Hyuk.

“Ini salah paham,” bantah menteri Park.

Joon-Hyuk memasukkan kembali ponselnya lalu melangkah menghampiri menteri Park. Bodyguard menteri Park merespon dengan menodongkan senjatanya ke arah kepala Joon-Hyuk. Dengan tenang, Joon-Hyuk menepis senjata tersebut dan melumpuhkan si bodyguard, lantas berbalik menodongkan senjata tersebut ke arah menteri Park dan langsung menekan pelatuknya. Pun begitu, Joon-Hyuk sengaja membuat tembakannya meleset karena ingin melihat reaksi menteri Park, yang ternyata tidak memasang chip di kepalanya.

“Aku tidak lihat ada lampu yang menyala, meski kau kaget begini. Sepertinya tak ada chip di kepalamu. Pasal 1 ayat 1 UU Smart District, barang siapa yang tanpa chip perlindungan tidak diperbolehkan masuk Smart District.” ucap Joon-Hyuk. “Kenapa kau tidak ada chip? Kau siapa? Kaukah ketua?”

“Jung-yeon memang orang yang cerdas. Seperti biasanya,” balas menteri Park. “Aku datang ke sini sendiri karena Jung-yeon sudah ketahuan dan kabur. Baiklah, Jung-yeon dimana? Kau pasti tahu dia dimana.”

“Kaukah ketua Human B?” tanya Joon-Hyuk untuk kedua kalinya.

“Ini aku. Setelah kau ingin sekali bertemu denganku, di sinilah kita bertemu,” jawab menteri Park tenang. “Bagaimana perasaanmu?”

Dari kilas balik, saat profesor Park mengetahui rencana profesor Han dari rekaman video yang ada di kamera Jung-yeon, terlihat raut wajahnya berubah menjadi ambisius.

“Woo-Jin dimana? Adikku ada dimana?” bentak Joon-Hyuk.


Nah, kannnn, Park Dong-Gun yang jahatttt 😀

» Bersambung ke Episode 9

Tema artikel yang berhubungan: , , ,  sinopsis circle ep 8.

Reply