Rekap Sinopsis Circle Episode 4 (30 Mei 2017)

Di sinopsis Circle: Two Worlds Connected episode sebelumnya, Kim Woo-Jin (Yeo Jin-goo) dan Han Jung-yeon (Gong Seung-yeon) menemukan seekor serangga berwarna biru yang keluar dari hidung pelaku bunuh diri yang baru saja terjadi. Woo-Jin jadi curiga jangan-jangan yang dimaksud oleh kakaknya, Kim Beom-Gyoon (Ahn Woo-yeon) bukanlah ‘blue bird’, melainkan ‘blue bug’. Lebih mengagetkan lagi, serangga tersebut ternyata adalah sebuah robot. Di saat Woo-Jin sudah hampir sepenuhnya percaya pada Jung-yeon, ia tiba-tiba menyadari bahwa alamat email Jung-yeon mengandung kata ‘bluebird’ dan di kamar Jung-yeon ditemukan pula serangga biru yang sama di dalam sebuah pot. Sementara itu, di tahun 2037, Lee Dong-Soo (Oh Ui-sik) berhasil melacak lokasi Bluebird. Namun saat Kim Joon-Hyuk (Kim Kang-woo) berusaha mengejarnya, listrik di apartemen Dong-Soo tiba-tiba mati. Tanpa disangka, Lee Ho-Soo (Lee Gi-kwang), yang sebelum itu baru saja mendapatkan kembali sebagian ingatannya yang disembunyikan oleh Human B, pelaku pemadaman listrik tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi? Simak kelanjutan ceritanya di sinopsis Circle episode 4 berikut ini.

Dok. gambar dan video © tvN of Korea Selatan

Sinopsis Episode 4 Part 1

Judul: BETA Project

Tahun 2007. Kim Woo-Jin kecil (Jung Ji-hoon) sedang mengerjakan PR-nya di lantai saat wanita alien melangkah memasuki ruangan dan tanpa sengaja menginjak tugas Woo-Jin. Woo-Jin sempat menanyakan asal si wanita alien sambil menunjuk ke arah gambar planet Mars dan Jupiter yang ada di depannya, tapi si wanita alien hanya terdiam. Sesaat kemudian Kim Beom-Gyoon kecil (Kim Ye-joon) memanggil Woo-Jin untuk menantangnya bermain rubik. Setelah Woo-Jin memenangkan permainan, ia dan Beom-Gyoon kembali ke ruang tengah. Mereka terkejut melihat si wanita alien sedang membuat sesuatu di hadapan mereka.

“Lihat, kan? Aku benar!” ujar Woo-Jin pada Beom-Gyoon. “Dia pasti dari luar angkasa!”

Tahun 2017. Jung-yeon sedang berdiri di depan bangunan Rumah Sakit Jiwa Eunsung yang sudah tidak digunakan. Woo-Jin tiba-tiba menghubunginya dan menyatakan bahwa ia akan segera ke sana. Setelah menutup telponnya, Jung-yeon mulai melangkah memasuki gedung tersebut.

Saat sedang berjalan di sebuah lorong yang minim pencahayaan, seseorang tiba-tiba sudah ada di hadapannya.

“Mau apa kau? Siapa kau?” tanya Jung-yeon.

Alih-alih menjawab, orang tersebut merespon dengan menyerang Jung-yeon. Ia terlihat hendak melumpuhkan Jung-yeon dengan taser yang ia bawa. Di saat terdesak, Woo-Jin muncul dan langsung menerjang orang tersebut. Orang itu pun bergegas kabur meninggalkan TKP. Jung-yeon segera meminta Woo-Jin untuk mengejarnya. Sayangnya, orang tersebut akhirnya berhasil lolos dari kejaran Woo-Jin.

Woo-Jin bertemu kembali dengan Jung-yeon di depan bangunan rumah sakit.

“Dia wanita?” tanya Woo-Jin.

“Ya, aku mendengar suaranya,” jawab Jung-yeon. “Kau kehilangan jejak dia? Dia dimana sekarang?”

“Han Jung-Yeon,” respon Woo-Jin, “Kau kenapa? Kenapa kau datang kemari? Dan siapa itu? Apa yang terjadi?”

Jung-yeon mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah pesan yang meminta agar dirinya datang ke rumah sakit tersebut pukul 2 siang tadi. Jung-yeon lalu mengajak Woo-Jin untuk melaporkan hal tersebut ke polisi agar wanita tadi bisa segera ditangkap.

“Sebelum kita ke sana, jelaskan ini padaku dulu,” ujar Woo-Jin sembari menunjukkan serangga biru yang ia temukan di kamar Jung-yeon.

“Serangga itu keluar dari tubuh So-Yoon,” jelas Jung-yeon setelah terdiam sejenak, “Aku tak tahu serangga apa itu sekeras apa aku mencarinya, jadi aku menyimpannya. Dan kini aku tahu kalau rupanya serangga itu robot, berkat kau.”

“Tapi kenapa kau merahasiakannya? Kenapa kau tidak cerita kepadaku?”

“Karena kakakmu.”

“Kau masih saja mencurigai dia sambil pura-pura mempercayaiku?”

“Ya. Aku juga tidak bisa mempercayaimu. Tapi aku sekarang mempercayaimu. Kita juga melihat sendiri pelakunya.”

“Kalau kakakku? Kau juga percaya dengannya?” tanya Woo-Jin.

“Mempercayai apa? Kalau dia bukan pelakunya? Atau kalau kejadian ini karena ulah alien? Kau sungguh mempercayainya?” cecar Jung-yeon.

“Aku juga tidak percaya apa kata kakakku. Tapi kakakku bukan pelakunya.”

“Baiklah,” ujar Jung-yeon. “Akan ku anggap begitu.”

Di kantor polisi, Woo-Jin menceritakan ciri-ciri wanita yang mereka temui di rumah sakit kepada detektif Hong Jin-Hong (Seo Hyun-cheol). Meski tidak terlalu detil, Jin-Hong ternyata mampu membuat sketsa wajah yang cukup akurat. Ia menyombongkan diri bahwa itu berkat indra keenam yang ia miliki, padahal sebenarnya, siang tadi ia sempat melihat rekaman CCTV di asrama kampus yang menampilkan video wanita tersebut saat mendatangi kamar Kim Nan-Hee sebelum ia bunuh diri. Woo-Jin kemudian menambahkan bahwa kakaknya sempat memberitahunya bahwa pelakunya adalah Bluebird.

Keluar dari kantor polisi, tanpa basa-basi Jung-yeon menempeleng kepala Woo-Jin.

“Jadi selama ini kau memang mencurigaiku,” ujarnya. “Apa karena alamat emailku namanya ‘bluebird’? Makanya kau mengacak-acak kamarku?”

“Aneh rasanya kalau itu hanya kebetulan saja,” dalih Woo-Jin.

“Itu tidak masuk akal. Kakakmu saja tahu namaku, jadi kenapa dia bilang kalau pelakunya itu ‘bluebird’? Dia sama saja bilang kalau Han Jung-Yeon itu pelakunya.”

Menyadari kesalahannya, Woo-Jin hanya menundukkan kepalanya tanpa berkata apa-apa.

“Mungkin wanita yang tadi itu yang dimaksud olehnya, ‘Bluebird’,” lanjut Jung-yeon.

“Kenapa Bluebird?” tanya Woo-Jin.

“Bagaimanapun juga, ucapan kakakmu itulah kunci utamanya. Sekarang kita harus mencaritahu itu,” jawab Jung-yeon.

Woo-Jin lantas mengajak Jung-yeon untuk pergi ke rumah sakit terlebih dahulu untuk mengobati kakinya yang terluka. Jung-yeon sempat berdalih bahwa itu hanya luka kecil, namun saat diobati di rumah sakit oleh dokter, ia meringis kesakitan.

Woo-jin kemudian meninggalkan Jung-yeon untuk membelikan minum. Di depan lift ia bertemu dengan profesor Han Yong-woo (Song Young-gyu) yang mengaku hendak anaknya yang terluka. Ia pun kaget saat kembali ke tempat Jung-yeon dan mendapati bahwa profesor Han ternyata adalah ayahnya. Setelah memberikan kaleng minuman pada Jung-yeon, Woo-Jin pamit untuk pulang terlebih dahulu.

Sebelum pergi, Woo-Jin sempat menguping pembicaraan profesor Han dengan Jung-yeon.

“Apa hubunganmu dengan Woo-Jin?” tanya profesor Han. “Pacaran? Makanya kau jarang ikut ambil perawatan sama dokter?”

“Bukan begitu,” jawab Jung-yeon sambil tertawa. “Cuma… ceritanya panjang.”

“Seperti ada yang mencurigakan,” respon profesor Han.

“Bukan begitu, ayah,” balas Jung-yeon.

Woo-Jin tersenyum mendengar keakraban keduanya, lantas melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah sakit. Di jalan, saat lewat di depan bakery tempat Beom-Gyoon bekerja, ia teringat kembali akan kakaknya.

Di salah satu ruangan di bangunan bekas Rumah Sakit Jiwa Eunsung, Beom-Gyoon yang sedang kebingungan dengan apa yang terjadi pada dirinya, mendengar langkah seseorang mendekati ruangan tempatnya disekap. Ia segera naik ke tempat tidur dan berpura-pura terlelap. Sementara itu, di bagian lain dari bangunan rumah sakit, Jin-Hong dan rekannya sedang menyelidiki tempat tersebut. Rekan Jin-Hong yakin tidak ada apa-apa di sana dan mengajak Jin-Hong untuk pulang saja.

Kembali ke ruangan Beom-Gyoon, seseorang datang dengan membawa sebuah alat suntik. Ia menghampiri Beom-Gyoon dan hendak menyuntikkan entah cairan apa yang di dalam alat suntik tersebut ke leher Beom-Gyoon. Beom-Gyoon sempat memberontak dan menggigit tangan kanan orang tersebut hingga ia berteriak kencang. Namun sesaat kemudian, orang tersebut berhasil mendorong Beom-Gyoon dan menyuntik lehernya. Hal tersebut membuat Beom-Gyoon tak sadarkan diri. Perlahan, orang tadi kemudian mengeluarkan serangga biru dan memasukkannya ke hidung Beom-Gyoon.

Jin-Hong sendiri sempat mendengar teriakan orang tersebut saat Beom-Gyoon menggigitnya. Ia mengajak rekannya untuk kembali menyisir bangunan rumah sakit, namun sepertinya tidak membuahkan hasil.

Hari berganti. Jung-yeon datang ke kamar kos Woo-Jin untuk membahas mengenai kasus hilangnya Beom-Gyoon. Sementara itu, di laboratorium kampus, Sunbae Lee (Shin Joo-hwan) minta agar profesor Park Dong-gun (Han Sang-jin) memberitahu profesor Han agar mencoret Woo-Jin dari tim penelitian mereka. Profesor Park menuruti permintaan Lee dan segera membicarakan mengenai hal tersebut begitu profesor Han tiba di laboratorium.

“Tidak bisakah Anda mempertimbangkan lagi Woo-Jin sebagai bagian dari tim peneliti?” tanya profesor Park.

“Kenapa?” tanya profesor Han heran.

“Ku rasa para anggota tim lain keberatan,” jawab profesor Park.

“Orang yang pintar biasanya memang musuh publik,” respon profesor Han sambil tersenyum. “Bukan begitu?”

“Terus terang, kalau dia gabung tim peneliti, aku juga takkan nyaman,” tambah profesor Park. “Menurutku dia terlalu egois.”

“Aku butuh dia,” balas profesor Han. “Bukannya aku ini kepala peneliti di sini?”

Kata-kata profesor Han membuat profesor Park tidak berkutik dan tidak lagi melanjutkan percakapannya.

Jung-yeon menggoda Woo-Jin yang serius mempelajari catatan-catatan Beom-Gyoon dengan mengatakan bahwa dirinya terlihat cantik di salah satu foto yang diambil oleh Beom-Gyoon. Woo-Jin tersenyum keki mendengarnya.

“Kau harus tersenyum seperti itu lagi. Kenapa kau terus kaku begitu?” ujar Jung-yeon.

“Tidak mudah bagiku tersenyum dalam situasi seperti ini,” balas Woo-Jin.

“Kita bisa menemukannya,” ucap Jung-yeon menguatkannya.

Tiba-tiba ponsel Woo-Jin berdering. Terlihat nama Beom-Gyoon yang menghubunginya. Saat diangkat, suara yang terdengar adalah dari wanita yang mereka temui sebelumnya di rumah sakit. Ia meminta agar Woo-Jin datang sendirian ke Taman Geulrin jam 2 siang nanti.

Bersama Jung-yeon, Woo-Jin tiba di Taman Geulrin. Ia berpesan agar Jung-yeon segera menghubungi polisi apabila terjadi sesuatu. Ia lantas menunggu kedatangan wanita yang menelponnya tadi, sementara Jung-yeon mengawasi sambil bersembunyi di balik semak-semak tidak jauh dari tempat Woo-Jin berdiri.

30 menit lebih berlalu sejak waktu yang dijanjikan. Tanpa disangka, wanita tersebut justru diam-diam menghampiri Jung-yeon dan menyerangnya dengan senjata taser andalannya. Mendengar teriakan Jung-yeon, Woo-Jin segera menghampiri mereka dan menjauhkan wanita tersebut dari Jung-yeon.

“Kenapa kau bersama dia? Aku sudah menyuruhmu datang sendiri!” ujar wanita tersebut pada Woo-Jin. “Kenapa kau bersamanya? Kenapa kau tidak percaya padaku?”

“Ponsel itu! Darimana kau mendapatkannya? Kakakku dimana?” balas Woo-jin sembari memegangi tangan wanita tersebut agar tidak kabur.

“Kau ingin tahu?” jawab wanita tersebut. “Suruh perempuan itu pergi dulu. Aku tidak akan mengatakan sepatah kata pun kalau ada dia!”

Woo-Jin menyetujuinya dan meminta agar Jung-yeon menjauh sebentar dari mereka. Dengan berat hati Jung-yeon melakukannya.

“Katakan sekarang. Kakakku dimana?” tanya Woo-Jin.

“Kenapa kau bergaul sama perempuan itu?” balas wanita tersebut. “Han Jung-Yeon itu alien!”

“Kau kenal kakakku. Jadi dimana dia?”

“Kenapa kau tanya padaku? Kau harusnya tanya alien itu.”

“Kau sakit?”

“Aku tidak gila. Bukannya kau yang gila? Anak-anak di kampusmu meninggal karena alien itu!”

“Kau tahu atau tidak dimana kakakku Kim Beom-Gyoon?”

“Sudah ku bilang, alien itu yang tahu!”

“Yang ku tanya itu kau. Kau tahu tidak? Jawab saja pertanyaanku!” bentak Woo-Jin kesal.

“Orang yang lebih tahu itu ada di sana,” jawab wanita tersebut.

“Dia bukan seperti yang kau kira.”

“Beom-Gyoon pasti kesulitan karenamu,” respon wanita tersebut. “Kau sudah dibodohi karena alien itu! Sadarlah, ini bukan saatnya bertingkah seperti ini. Bagaimanapun juga, pasti ada hal buruk yang akan terjadi pada Beom-Gyoon. Kita harus cepat cari dia dulu. Jadi sadarkan dirimu!”

“Tidak, kau itu yang harusnya sadar,” balas Woo-Jin, “Alien itu tidak ada!”

Wanita tersebut kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto pada Woo-Jin sembari berkata bahwa itu adalah bukti kalau alien itu ada. Foto yang ditunjukkan adalah foto Jung-yeon sedang membawa koper. Di koper tersebut, tergantung sebuah boneka kuning berbentuk bintang. Boneka yang sama dengan yang ada di koper milik si wanita alien saat dulu ia dan ayah Woo-Jin pergi meninggalkan Woo-Jin dan Beom-Gyoon.

Dengan langkah gontai Woo-Jin datang menghampiri Jung-yeon.

“Kenapa kau sendirian? Dia lolos lagi?” tanya Jung-yeon.

Woo-Jin berdiam diri. Ingatannya kembali saat ia dan Beom-Gyoon mendapati si wanita alien sedang menggambar planet-planet di luar angkasa, lengkap beserta jalur lintasan masing-masing.

Tidak kunjung mendapat jawaban membuat Jung-yeon kesal dan hendak pergi meninggalkan Woo-Jin. Woo-Jin tiba-tiba memegang tangannya dan menunjukkan foto koper dengan boneka bintang kuning.

“Darimana kau dapat ini?” tanya Woo-Jin.

“Itu selalu ada bersamaku…”

“Sejak kapan?” potong Woo-Jin. “Kau membelinya? Kau mengambilnya? Atau pemberian seseorang?”

“Kenapa aku harus memberitahumu?” tanya Jung-yeon heran.

“Karena aku memberikan itu padamu,” jawab Woo-Jin.

Dan memang benar, dulu, setelah melihat gambar luar angkasa yang dibuat oleh wanita alien, Woo-Jin memberikan boneka bintang kuning tersebut kepada si wanita alien. Tidak itu saja, saat itu, Woo-Jin kecil juga menamai si wanita alien dengan nama ‘Byul’ yang berarti ‘bintang’.

“Byul,” lanjut Woo-Jin, “Namamu Byul.”

Air mata menetes di pipi Woo-Jin. Ia kemudian mengambil foto dirinya dan Beom-Gyoon yang sedang berpose bersama si wanita alien dan menunjukkannya pada Jung-yeon. Jung-yeon kaget melihatnya.

“Kaulah orang itu,” ucap Woo-Jin. “Dan orang di sebelahmu itu aku.”

“Apa ini?” tanya Jung-yeon bingung.

“Itu kau. Kau itu Byul,” jawab Woo-Jin sembari mencengkeram kedua lengan Jung-yeon.

“Aku tidak tahu, aku juga tidak tahu siapa diriku,” jawab Jung-yeon terbata-bata. “Aku.. tidak ingat apapun. Sebelum usiaku 18 tahun, aku tidak ingat apa-apa.”

Sementara itu, di ruang laboratorium kampus, profesor Han sedang mengobati luka bekas gigitan di tangan kanannya. Ponselnya tiba-tiba berdering. Seseorang mengabarkan bahwa Jung-yeon kembali bolos perawatan pada hari itu.

“Pasti cukup sulit bagi dia untuk mencobanya,” ujar orang tersebut. “Kalau seperti ini, aku tidak tahu apa kita bisa memulihkan ingatannya.”

“Baiklah, nanti aku bicarakan dengannya,” respon profesor Han sembari menatap layar monitor di depannya yang sedang menayangkan video CCTV yang ada di ruangan tempat Beom-Gyoon disekap.


Sinopsis Episode 4 Part 2

Judul: Brave New World

Tahun 2037. Joon-Hyuk memberitahu Ho-Soo bahwa ia tidak mengingat siapa dirinya sebenarnya. Yang ia tahu, 10 tahun lalu, Jin-Hong memberinya nama “Kim Joon-Hyuk” sambil menunjukan rekam ingatan dari si kembar Woo-Jin dan Beom-Gyoon. Setelah mencuri dengar pembicaraan Jin-Hong dengan dokter In Young dan mengetahui bahwa si kembar belum mati, Jin-Hong memberikan sebuah rekam ingatan pada Joon-Hyuk.

“Semuanya ada di sini,” ujar Jin-Hong pada waktu itu. “Inilah masa lalumu. Inilah rekaman ingatan yang ditinggalkan oleh kembaranmu. Terserah kau, mau kau tonton atau tidak.”

“Jika kau menonton ini, kau mungkin selamanya tetap terjebak di masa lalu,” ucap In Young coba mencegah Joon-Hyuk. “Jadi, kau tetap masih ingin menontonnya?”

Pada akhirnya, Joon-Hyuk tetap melakukannya. Dan ternyata ia memiliki ingatan sebagai Beom-Gyoon.

Kembali ke tahun 2037.

“Kenangan pahit juga merupakan bagian dari kehidupan,” ujar Joon-Hyuk pada Ho-Soo. “Entah betapa menjengkelkan, kejam, dan mengerikannya itu, kenangan itu masih merupakan bagian dari dirimu. Karena itu kau harus menerimanya. Aku pun melakukannya.”

“Tapi bukan itu satu-satunya pilihan. Pilihan yang kau putuskan bukanlah jawaban yang tepat,” respon Ho-Soo yang lantas pergi meninggalkan Joon-Hyuk.

Kembali ke rumahnya, semalaman Ho-Soo meratapi kenangannya bersama kekasihnya dulu, Soo-Bin. Terlebih setelah ia menyadari bahwa dasi yang ia gunakan sehari-hari adalah pemberian dari Soo-Bin.

Hari berganti. Dong-Soo masih belum berhasil melacak kembali keberadaan Bluebird. Sementara itu, Ho-Soo datang menemui Lee Hyun-seok (Min Sung-uk) di divisi Human B untuk membicarakan mengenai blokir ingatan yang dilakukan Human B. Hyun-seok sempat membantahnya, namun ia terdiam begitu Ho-Soo menyebutkan nama Bluebird.

“Apa Anda menyuruh Bluebird memblokir ingatan warga kita?” tanya Ho-Soo.

“Apa maksudmu?” respon Hyun-seok.

“Apa Anda sungguh menghalangi ingatan mereka? Apa Anda akan menyangkalnya? Apa harus ku katakan apa yang ku tahu? Apa harus ku pastikan apa ini secara teknis memang mustahil di hadapan awak media?”

“Terus kenapa kau mendatangiku, bukannya awak media?”

“Karena ada hal yang ku inginkan,” jawab Ho-Soo. “Tolong halangi ingatanku lagi.”

Hyun-seok terkejut mendengarnya. Namun sebelum ia sempat merespon, sekretaris Shin (Lee Yooyoung) datang dan memberitahunya ada sesuatu yang sedang terjadi. Hyun-seok lantas mengajak Ho-Soo untuk ikut dengan mereka. Sementara itu, di tempat Dong-Soo, Park Jin-Gyu tersadar. Mendapatkan kembali ingatannya tentang penculikan Kim Min-Ji membuat Jin-Gyu panik dan syok. Ternyata memang benar bahwa dulu Jin-Gyu adalah kaki tangan dalam penculikan Min-Ji.

“Tapi bukankah itu aneh?” tanya Dong-Soo. “Aku mengerti kenapa Smart District memblokir ingatan warganya. Tapi kenapa ingatan Kim Min-Ji dan Park Jin-Gyu yang hilang muncul lagi? Kenapa efek pemblokiran ingatan itu memudar?”

“Sistemnya pasti rusak,” timpal detektif Oh (Kwon Hyuk-soo).

“Mana mungkin,” bantah Dong-Soo. “Supercomputer bisa rusak, maksudmu?”

“Mungkin saja,” balas detektif Oh.

“Kalau bisa, luar biasa sekali itu,” respon Dong-Soo.

“Yang kita tahu pasti adalah ada yang terjadi di otaknya Park Jin-Gyu,” ujar In Young.

“Kita sambungkan lagi saja, chipnya Park Jin-Gyu,” usul Joon-Hyuk.

“Bahaya. Chip itu terhubung dengan sarafnya,” tolak In Young. “Pertama kalinya saja sudah bahaya, tapi kau mau melakukannya sekali lagi?”

“Hanya itu cara buat memastikannya,” balas Joon-Hyuk.

“Kalau terjadi kesalahan bagaimana? Tidak, aku tak bisa melakukannya,” ujar In-Young.

“Kita lakukan saja,” ucap Jin-Gyu yang tiba-tiba muncul. “Aku juga ingin tahu yang sebenarnya. Aku sangat bingung.”

Joon-Hyuk dkk lantas melakukan prosedur yang sama seperti sebelumnya mereka menghubungkan chip Stable Care Jin-Gyu dengan server Dong-Soo. Saat memori Jin-Gyu di tanggal penculikan Min-Ji dibuka kembali, ternyata muncul ingatan lain di sana.

“Apa pemblokiran ingatannya memudar lagi? Kan yang bagian ini tak kita lihat kemarin,” respon Jin-Hong heran.

“Makanya itu. Kenapa mendadak pemblokirannya berhenti semua?” balas Dong-soo.

Tiba-tiba muncul logo Bluebird di layar monitor Dong-Soo disusul dengan tulisan “Unlock”. Sesaat kemudian, ingatan lain Jin-Gyu atas penculikan Min-Ji tampil di layar.

“Bluebird tidak menghalangi ingatan mereka,” simpul Dong-Soo.

“Malah dia memulihkannya,” tambah Joon-Hyuk.

Sementara itu, ruang kontrol Human B dalam keadaan panik. Logo Bluebird muncul di layar mereka, menandakan ia sedang beraksi meretas sistem mereka. Hyun-seok yang tiba bersama Ho-Soo dan sekretaris Shin memarahi anak buahnya yang ia anggap tidak becus menghadapi Bluebird.

“Sampai kapan kita akan membiarkan dia mengendalikan kita seperti ini?” bentak Hyun-seok.

“Bukankah Bluebird itu pegawai Human B?” tanya Ho-Soo pada Hyun-seok di sebuah ruangan.

“Ku rasa ada kesalahpahaman. Bluebird itulah yangn membebaskan ingatan mengerikanmu itu,” jawab Hyun-seok. “Dialah pelaku yang menimbulkan kekacauan di Smart District.”

Hyun-Seok lantas menepuk pundak Ho-Soo dan menambahkan, “Biar ku blokir lagi ingatanmu. Karena kau penduduk Smart District, tentu kau berhak. Tapi sebelum itu…”

“Anda ingin aku menangkap Bluebird?” potong Ho-Soo.

“Kalau itu kami yang akan melakukannya,” ucap Hyun-Seok. “Aku ingin kau melakukan hal lain. Tidak ada rekamn jejak tentnag detektif Kim sebelum dia berusia 30 tahun. Cari tahulah siapa dia. Jika kau berhasil tahu siapa dia, aku akan memblokir ingatan burukmu lagi.”

Sementara itu, di tempat Dong-Soo, Joon-Hyuk meminta agar Jin-Hong mengurus Jin-Gyu, karena ia akan kembali Smart District untuk menangkap Bluebird. Dan di suatu tempat, Bluebird terlihat sedang mengakses ingatan Ho-Soo untuk mengawasi gerak-gerik Joon-Hyuk.

Joon-Hyuk tiba di gateway Smart District tepat di saat Ho-Soo menghubunginya dan mengajaknya pergi bersama ke Smart District. Seorang wanita berpakaian serba hitam tiba-tiba menabrak Joon-Hyuk dan diam-diam memasukkan sebuah ponsel ke saku jasnya. Tak lama ponsel tersebut berbunyi. Begitu Joon-Hyuk mengangkatnya, ia langsung sadar bahwa yang menghubunginya adalah Bluebird.

“Kenapa kau membebaskan ingatan orang-orang?” tanya Joon-Hyuk tanpa basa-basi.

“Kau mau tahu? Maka keluarlah,” jawab Bluebird.

Hubungan langsung terputus setelah itu. Sebagai gantinya, layar ponsel menyajikan sebuah peta dan suatu titik berwarna merah. Meyakini itu adalah lokasi Bluebird, Joon-Hyuk bergegas keluar untuk menuju lokasi yang dimaksud. Ho-Soo yang kebetulan melihatnya diam-diam membuntutinya.

Bluebird ternyata mengarahkan perjalanan Joon-Hyuk ke beberapa lokasi yang berbeda, ke tempat-tempat yang familiar dengan ingatan Beom-Gyoon. Mulai dari Universitas Sains dan Teknologi Handam, kost-kostan Woo-Jin, hingga motel Sejong tempat Beom-Gyoon dulu menginap. Di depan kost-kostan Woo-Jin Bluebird sempat menelponnya.

“Kau… kenal aku, bukan?” tanya Joon-Hyuk.

“Kau juga sepertinya mengenaliku,” balas Bluebird.

“Kaukah itu? Kau sekarang dimana? Kau dimana? Aku akan ke sana,” ujar Joon-Hyuk.

Setibanya di kamar motel Beom-Gyoon, bayangan ingat Beom-Gyoon dan Woo-Jin saat mereka berada di sana tampak nyata di hadapan Joon-Hyuk. Ia bahkan merasa seolah Woo-Jin sedang berbicara langsung di hadapannya. Mengingat Beom-Gyoon yang dulu sibuk mencari alien hingga mengabaikan Woo-Jin, tanpa terasa air mata Joon-Hyuk mulai menetes.

“Maafkan aku, maafkan aku,” ujar Joon-Hyuk pada bayangan Woo-Jin yang ada di depannya. “Aku sungguh minta maaf. Seharusnya aku cerita semuanya padamu. Tidak, seharusnya aku berhenti. Aku sungguh minta maaf.”

Bayangan Woo-Jin tiba-tiba hilang saat Joon-Hyuk berusaha menggapainya.

“Woo-Jin, ini Hyung. Ini Beom-Gyoon,” ucap Joon-Hyuk sambil menangis.

Di suatu tempat, Bluebird yang mengawasi kejadian tersebut melalui kamera tersembunyi yang ada di kamar motel Beom-Gyoon, menjatuhkan rubik yang ia pegang karena terkejut mengetahui Joon-Hyuk adalah Beom-Gyoon.


Ternyata benar bahwa Kim Joon-Hyuk memiliki memori dari salah satu si kembar. Yang agak meleset, sebelumnya saya kira ia memiliki memori dari Woo-Jin, tapi ternyata justru Beom-Gyoon. Setelah satu pertanyaan terjawab, berarti kemungkinan besar Ketua Human B memiliki memori dari Woo-Jin. Yang menjadi pertanyaan, Bluebird siapa ya? Apakah itu Jung-yeon? Jung-yeon sendiri menurut perkiraan saya adalah benar si wanita alien. Hanya saja ia mengalami hilang ingatan seperti yang disebutkan olehnya. Ada yang punya teori atau pendapat lain? Atau malah Bluebird adalah Woo-Jin?

Tema artikel yang berhubungan: , , ,  sinopsis circleadegan cewek buang air.

3 Comments - Add Comment

Reply