Review Manga Region (2007)

Beberapa bulan setelah menamatkan “Metro Survive“, mangaka Yuki Fujisawa mempublikasikan karya terbarunya yang berjudul “Region”. Temanya masih sama, tentang survival atau bertahan hidup. Dan lagi-lagi Yuki mampu memutarbalikkan elemen membosankan yang sudah terlalu sering dipakai dalam manga sejenis menjadi sesuatu yang benar-benar menarik dan terasa berbeda. Penasaran kan seperti apa? Cekidot langsung lah setelah pesan-pesan berikut, hehehe.

Sinopsis Singkat

Review Manga Region (2007)

Kanon adalah seorang siswi SMP. Ibunya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Ia tinggal bersama ayah dan adiknya, Ryutto. Ayah Kanon sering bepergian untuk urusan pekerjaan. Ia sekarang dekat dengan seorang wanita yang merupakan rekan kerjanya. Kanon yang mengetahuinya tidak terlalu suka dengan hubungan mereka. Sementara itu, Ryutto, siswa SD, adalah anak yang pendiam dan berhati baik. Ia sering dibully oleh teman-teman sekelasnya.

Suatu hari, sebuah insiden misterius terjadi. Serangga-serangga mendadak mati dimana-mana. Dampaknya, wabah tikus yang kelaparan dan mencari sumber makanan baru bermunculan. Dan itulah awal dari rentetan bencana yang mengerikan.

Penulis: Yuki Fujisawa
Artis: Yuki Fujisawa
Publikasi: 2007
Penerbit: –
Genre: Tragedi, Drama, Horor
Status: Tamat (24 chapter / 3 volume)

Review Singkat

Karakter utama dalam manga ini adalah Kanon (siswi SMP), Ryoota (adik Kanon, kelas 4 SD), dan Togakushi (ayah Kanon dan Ryoota). Meski tokoh utamanya remaja sekolah, saya happy begitu tahu di sepanjang cerita keduanya bertingkah seperti remaja sekolah di usianya. Tidak ada yang sok tahu atau sok pemberani secara berlebihan.

Yah, kecuali saat di beberapa kesempatan di awal dimana Ryoota yang masih polos selalu berniat untuk menyelamatkan teman-temannya dan memberitahu keberadaan mereka pada sang ayah tanpa peduli adanya bahaya. Namun semua itu beralasan. Di titik tersebut Ryoota masih belum melihat sendiri keganasan wabah tikus yang melanda. Untungnya, sikapnya berubah setelah sebuah insiden memaksanya melihat gerombolan tikus tersebut beraksi. Realistis.

Pun begitu dengan Kanon. Seperti layaknya remaja wanita yang masih muda, ia sadar diri bahwa dirinya lemah dan tidak punya kemampuan lebih untuk menghadapi apa yang terjadi. Dengan demikian ia tidak melakuka hal-hal yang berbahaya atau berpotensi mencelakakan dirinya sendiri, Ryoota, maupun orang-orang lain dalam kelompoknya.

Karakter tambahan yang menyebalkan? Tentu saja ada. Dan sepertinya sudah kebiasaan bagi Yuki untuk menggambarkan karakter-karakter yang punya moral buruk dengan wajah yang setara. Jadi sedari awal kita sudah bisa menerka-nerka siapa saja yang bakal bikin masalah bagi yang lain.

Dari segi cerita, manga “Region” menghadirkan unsur kejutan yang hilang dalam “Metro Survive”. Bagi saya pribadi sebenarnya wabah serangan masal tikus sudah cukup untuk memberikan efek merinding. Tapi ini masih ditambah dengan hadirnya wabah nyamuk, wharf roach (semacam kutu parasit yang hidup di pesisir pantai), ubur-ubur, gagak, dan semut!

Khusus untuk binatang yang disebut terakhir, sebagai pecinta serial TV MacGyver, saya sudah tahu persis bahayanya main-main dengan semut. Simak deh tayangan Episode 6 Season 1-nya dengan judul “Trumbo’s World”. Atau bisa dicari di Youtube. Banyak cuplikan adegan saat dia bertarung melawan serbuan semut merah ganas.

Selain nyamuk, kehadiran hewan-hewan lain dideskripsikan dengan baik alasan ilmiahnya. Jadi bukan hanya sekedar gimmick belaka.

Yuki bagi saya menutup manga ini dengan indah. Dengan rentetan bencana banjir, tanah longsor, dan badai salju. Kehadiran wabah tikus ditengarai disebabkan oleh ulah manusia yang tidak peduli akan alam dan juga global warning. Pada akhirnya, alam pula lah yang menyelesaikan segala permasalahan yang timbul. Dari alam kembali ke alam.


Satu lagi manga survival yang benar-benar berkualitas, baik dari segi cerita maupun visual. WAJIB BACA!

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply