Review Komik You Are Obsolete #2 (Aftershock, 2019)

Di cerita sebelumnya, reporter Lyla Wilton yang karirnya sedang anjlok mendapat tawaran misterius dari seseorang bernama Tulevik. Ia diminta untuk datang ke sebuah desa terpencil dan meliput kisah yang dialami oleh Tulevik di sana. Sesampainya di sana, Lyla heran mendapati desa tersebut ternyata dikuasai oleh para anak kecil. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapakah sebenarnya Tulevik? Simak kelanjutan kisahnya dalam sinopsis komik You Are Obsolete #2 berikut ini. Cekidot!

Sinopsis Komik *SPOILER*

Review Komik You Are Obsolete #2 (Aftershock, 2019)

Death seems to be everywhere when, after arriving on a quaint but eerie Eastern European island, a disgraced journalist following up on a peculiar story meets the leader of a group of odd, tech-obsessed children who evidently have a strange power over the frightened adults of the village.

Story: Mathew Klickstein
Art: Evgeniy Bornyakov
Color: Lauren Affe
Letter: Simon Bowland
Judul Edisi: Planned Obsolescence
Tanggal Rilis: 23 Oktober 2019

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Lyla terbangun dari tidurnya dan kaget mendapati seorang pria ada di sampingnya, sedang terlelap. Akibat pengaruh alkohol, semalam ternyata dirinya sempat berhubungan badan dengan pria tersebut. Setelah ingat apa yang terjadi, dengan tenang Lyla mengenakan kembali pakaiannya, meninggalkan secarik pesan di samping pria tersebut, lantas pergi meninggalkannya.

Beberapa waktu sebelumnya, seperti yang diceritakan di penghujung halaman edisi sebelumnya, Lyla akhirnya bertemu dengan para anak kecil. Salah seorang di antaranya, Martina, yang sepertinya adalah pemimpin mereka, menyambut Lyla. Lyla sendiri masih kaget mendapati kenyataan bahwa selama ini gerak-geriknya diawasi oleh mereka. Bahkan termasuk apa yang ia lakukan di dalam kamar mandi sekali pun.

Dengan geram Lyla meminta Martina menjelaskan tujuan mereka mengundang Lyla ke Muhu. Alih-alih menjawab, Martina yang melihat kacamata Lyla rusak akibat Lyla menahan emosi dan menggenggam keras kacamata tersebut malah berkirim pesan melalui ponsel ke salah seorang anak laki-laki yang juga ada di ruangan tersebut. Anak laki-laki tersebut kemudian dengan sigap merebut kacamata Lyla dan membuangnya begitu saja.

Martina lalu memberitahu Lyla bahwa dengan cara itulah para anak kecil berkomunikasi. Hampir tidak ada yang saling bercakapan secara verbal. Martina juga mengkonfirmasi pertanyaan Lyla dan memastikan bahwa mereka adalah Tulevik, pihak yang mengundang Lyla datang.

Saat Lyla menanyakan mengenai keberadaan guru mereka, Martina kemudian mengajaknya Lyla untuk ikut bersama mereka ke pemakaman. Tempat yang dituju ternyata adalah kuburan Vilma Agan, guru sekolah di Muhu. Dengan wajah yang tampak creepy, beberapa anak menyatakan bahwa memang sudah waktunya Vilma untuk mati. Pun begitu dengan orang-orang dewasa di desa tersebut. Salah satunya adalah Maarja, wanita pemain biola yang sempat ditemui Lyla sebelumnya. Walau untuk kasus Maarja, Martina menyatakan bahwa kematiannya lebih disebabkan karena ulah Maarja sendiri yang berpotensi menimbulkan masalah.

Beralasan akan latihan untuk acara pertunjukan bakat, Martina berpamitan. Ia mempersilahkan Lyla untuk mencari informasi dari para penduduk desa sebagai bekal laporannya nanti. Suka tidak suka, Lyla memutuskan untuk melakukan apa yang diminta oleh para anak kecil itu. Terlebih setelah ia tahu bahwa layanan ferri di pulau Muhu telah dihentikan sementara waktu oleh Martina dkk.

Dalam penyelidikannya, Lyla kembali mendapati petunjuk mengenai ketergantungan anak-anak terhadap gadget. Bahkan yang masih bayi sekali pun. Di saat itulah ia berkenalan dengan seorang pria bernama Kadunud alias Kad. Kad menawarkan diri untuk memandu Lyla berkeliling desa guna membuat laporan.

Dari Kad, Lyla mendapat informasi bahwa para anak kecil lebih suka belajar via online dan tidak lagi merasa membutuhkan guru maupun orang dewasa untuk membimbing mereka. Kad juga memberitahu bahwa semua anak kecil tersebut menuruti apa pun yang diperintahkan oleh Martina. Termasuk lompat ke jurang jika diminta.

Waktu berlalu dan cerita berlanjut pada saat Lyla terbangun di samping Kad. Keluar dari kamar, Lyla kaget mendapati sudah ada Martina dan 3 orang anak kecil lain menunggunya. Dengan tersenyum Martina berharap bahwa Lyla baru saja mengalami malam yang menyenangkan karena masa liburan Lyla sudah berakhir.


Sedikit demi sedikit misteri di pulau Muhu mulai terungkap. Pun begitu, masih belum jelas kenapa orang dewasa sampai setakut itu pada kelompok Martina. Kalau pun mungkin disebabkan pengetahuan mereka yang cukup luas akibat belajar secara online, rasanya kok ya tidak masuk akal. Memangnya para orang dewasa di sana tidak bisa melakukan hal yang sama. Semoga saja bakal ada penjelasan yang logis untuk misteri yang satu itu.

Dari segi creepy, edisi kali ini satu level di atas edisi pembuka sebelumnya. Bakal seru sih kayaknya kalau diangkat jadi film layar lebar. Asal bisa nemu artis cilik yang cocok buat memerankan Martina.

Bagaimana menurut teman-teman?

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply