Review Komik The Unknown: The Devil Made Flesh (BOOM! Studios, 2009)

Petualangan Catherine Allingham sang detektif wanita ternama berlanjut dalam “The Unknown: The Devil Made Flesh”. Terus terang saya penasaran banget bakal dibawa kenama sekuel cerita tersebut, mengingat kisah pembukanya saja sudah sekelas skenario film layar lebar. Apa masih akan berkutat dengan misteri mistis? Apa masih akan beraksi bersama James Doyle? Kuy deh, sama-sama kita simak kisah selengkapnya dalam sinopsis komik The Unknown: The Devil Made Flesh di bawah ini.

By the way, sama seperti “The Unknown”, berhubung komik ini sudah tamat, maka yang saya tulis di bawah ini adalah sinopsis cerita secara keseluruhan. Bukan spesifik untuk edisi tertentu saja. Harap maklum 🙂

Sinopsis Komik *SPOILER*

Review Komik The Unknown: The Devil Made Flesh (BOOM! Studios, 2009)

The second volume of Mark Waid’s critically acclaimed new miniseries collected for the first time! A year after the mystery that changed everything for Catherine Allingham — the world’s greatest detective returns with a new chilling case. Residents of Mountain Oak are turning up dead with each victim leaving a different death clue at the scene of the crime. Catherine and her new assistant Adrianna are on the case. But why doesn’t Catherine remember her former partner, James Doyle, and with suffering from a brain tumor, how has she overshot her expiration date of six months by a year? Find out in this hair-raising new volume of THE UNKNOWN! Join Mark (KINGDOM COME) Waid and international superstar Minck Oosterveer in this thrilling adventure! In the vein of RUSE!

Story: Mark Waid
Art: Minck Oosterveer
Color: Fellipe Martins
Letter: Marshall Dillon
Tanggal Rilis: September – December 2009

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Di Bomarzo, Itali. James Doyle melamar sebagai petugas kemanan di situs Parco Dei Mostri. Saat manajer siuts tersebut mewawancara Doyle dan menyebutkan bahwa situs tersebut akan dikunjungi oleh detektif swasta ternama Catherine Allingham, Doyle menyatakan ketertarikannya untuk bisa berjumpa dengan Catherine. Melihat respon Doyle, si manajer tidak lagi berpikir panjang dan langsung menolak lamaran Doyle.

Malam harinya, di situs Parco Dei Mostri. Catherine tiba dengan ditemani oleh manajer situs dan seorang wanita bernama Adriana. Doyle diam-diam menyusup ke sana dan memperhatikan mereka dari kejauhan.

Dalam sebulan terakhir ternyata ada kejadian misterius di situs tersebut. Di waktu-waktu tertentu, pengunjung taman melihat penampakan bayangan putih yang mirip dengan hantu. Dan saat ini mereka semua berada di waktu yang disebut-sebut bakal muncul penampakan.

Sesuai dengan laporan, keluarlah 3 bayangan putih dari dalam tanah. Ketiga bayangan tersebut melayang liar di udara sebelum akhirnya menghilang begitu saja. Dengan santai, Catherine membuka peta digital di ponselnya dan mengecek keberadaan bandara baru yang lokasinya tidak jauh dari tempat mereka berada sekarang. Adriana langsung konek dan memahami apa yang dipikirkan Catherine. Bayangan putih yang barusan mereka lihat bukanlah hantu, melainkan efek dari gelombang infrasonik (suara dengan frekuensi yang sangat rendah dan tidak bisa didengar oleh manusia biasa). Gelombang infrasonik itu sendiri bersumber dengan trafik pesawat yang lalu lalang di bandara.

Tahu Adriana bisa mengikuti pola pikirnya, Catherine menyatakan bahwa Adriana diterima sebagai asistennya. Sama seperti saat sebelumnya merekrut Doyle, Catherine mengungkapkan bahwa ia hanya punya waktu 6 bulan lagi untuk hidup.

Saat Catherine dan Adriana melangkah keluar dari area situs, Doyle mencegat mereka. Catherine mengaku sama sekali tidak mengenalinya. Doyle mencoba mengorek ingatan Catherine dengan menyebutkan nama sebuah tempat, Mountain Oak. Catherine tetap merasa asing dengan Doyle.

Doyle menemui Adriana dan mengajaknya berbincang soal Catherine. Mountain Oak yang sebelumnya disinggung oleh Doyle ternyata adalah lokasi kasus terakhir yang ia tangani bersama Catherine hampir setahun yang lalu. Kasus pembunuhan berantai di sebuah kota kecil, dimana semua korban meninggalkan pesan terakhir yang berbeda dan terlihat tidak berkaitan. Saat mereka melakukan investigasi di sebuah gudang peternakan, tiba-tiba muncul cahaya terang yang menyilaukan mata. Dan itulah ingatan terakhir yang dimiliki oleh Doyle karena selanjutnya ia sudah terbangun di Itali.

Tanpa diduga, begitu Doyle menyelesaikan ceritanya, Adriana mengeluarkan sepucuk pistol dari dalam tasnya. Tanpa banyak basa-basi, ia menembak kepala Doyle. Sama seperti para korban pembunuhan di Mountain Oak, sesaat sebelum Doyle menghembus nafas terakhir, ia menulis kata “two” dengan darahnya.

Catherine memberitahu Adriana bahwa ia baru saja menerima pesan dari seorang detektif amatir di Mountain Oak sehingga mereka bakal menuju ke tempat tersebut. Terlihat bahwa Catherine sudah sempat membaca berita mengenai kematian Doyle yang dimuat di surat kabar.

Dalam penerbangan, terungkap fakta bahwa sebenarnya tumor otak yang diderita Catherine bisa saja dioperasi. Kendati demikian, Catherine tidak mau melakukannya karena takut hal itu akan berpengaruh pada kemampuan investigasinya. Ia lebih memilih untuk menghabiskan sisa waktu yang ia miliki untuk menguak misteri kehidupan setelah mati dan bersiap untuk itu.

Di Mountain Oak. Seseorang memberitahu pria bertopi merah bahwa sang detektif telah kembali. Orang yang ada di ujung telpon menyatakan bahwa si detektif yang dimaksud tidak ingat sama sekali dengan kejadian yang pernah ia alami. Ia pun memberi pilihan pada pria bertopi merah: apakah hendak menyingkirkan detektif tersebut sendiri atau dengan bantuannya.

Catherine dan Adriana tiba di kantor sheriff. Yang mereka temui ternyata seorang anak laki-laki bernama Lennis yang dengan gembira menyambutnya. Lennis lah yang menghubungi Catherine sebelumnya. Ia juga telah mencatat informasi seputar kasus pembunuhan berantai, terutama yang terjadi setelah ia melihat kedatangan Catherine di kota tersebut tahun lalu.

Total ada lima kata pesan terakhir yang ditulis oleh para korban. Yaitu “souls”, “are”, “town”, “in”, dan “there”. Catherine masih belum bisa memahami maksud dari kata-kata tersebut.

Adriana lantas menanyakan tentang keberadaan rumah pemotongan kayu di dekat dekat sana. Ia mengaku menemukan catatan dari sheriff bahwa ia sedang melakukan penyelidikan di tempat tersebut. Lennis tahu tempat yang dimaksud dan bisa menunjukkan lokasinya. Saat mereka melangkah ke luar kantor sheriff, terlihat bahwa catatan sheriff yang disinggung Adriana sebenarnya hanyalah bon belanja biasa.

Catherine, Adriana, dan Lennis tiba di rumah pemotongan kayu. Saat melangkah ke dalam, seorang pria dengan kapak langsung menyambut mereka. Atau lebih tepatnya, mencoba menyabet mereka. Dengan sigap Catherine menghindar. Ia bahkan bisa melawan dan membuat pria tersebut kabur meninggalkan kapaknya. Adriana mengatakan bahwa ia akan berusaha mengejar pria tersebut. Catherine memintanya untuk berhati-hati.

Saat sedang memerika ruangan bangunan, Adriana mendadak muncul kembali di hadapan Catherine dan Lennis. Sepucuk pistol ada di tangannya, diarahkan tepat ke kepala Catherine. Tapi yang terjadi berikutnya di luar dugaan Adriana. Pistol tersebut kosong. Diam-diam Catherine sudah mengetahui ada udang di balik batu dari tingkah laku Adriana. Ia bahkan sudah tahu bahwa Adriana-lah yang membunuh Doyle. Sehingga, untuk berjaga-jaga, tanpa sepengetahuan Adriana, Catherine mengeluarkan peluru-peluru dari dalam pistol tersebut.

Sayangnya, pada akhirnya Adriana berhasil kabur. Tak lama setelah kejadian itu, Catherine baru menyadari ada mayat sang sheriff, ayah Lennis, di salah satu ruangan. Terdapat kata “only” di dadanya. Saat mencoba mencari petunjuk lain, Catherine seperti mendapat ide begitu melihat tanda pengenal di dalam dompet milik sheriff tersebut.

Kembali di kota, Catherine mulai menyusun ulang deretan kata yang sudah ia peroleh. Kali ini tebakannya tepat. Kata-kata tersebut baru mulai masuk akal setelah diurutkan sesuai dengan umur korban. Kalimat yang muncul yaitu “There are only two souls in town”.

Dan rentetan misteri pun mulai terjawab. Semua orang yang ada di kota tersebut sebenarnya hasil reinkarnasi dari SATU orang saja. Entah mengapa, saat tubuh mereka meninggal, jiwa mereka bisa bereinkarnasi dalam waktu yang acak. Bisa di masa depan, bisa juga di masa lampau. Itu terjadi berulang-ulang hingga jumlah manusia (hasil reinkarnasi) sudah lebih dari cukup untuk mendiami sebuah kota kecil. Yang lebih mengagetkan lagi, Lennis termasuk di antaranya. Jiwa yang ada di dalam tubuhnya tidak lain dan tidak bukan adalah jiwa Doyle.

Catherine yang syok dengan fakta tersebut sempat berniat bunuh diri. Ia bisa menerima segala halusinasi yang ia alami. Namun tidak dengan reinkarnasi. Untungnya, Lennis bisa mencegahnya. Ia juga mendorong Catherine untuk memecahkan satu misteri lagi mengenai Mountain Oak. Yaitu apa atau siapa sebenarnya yang membuat mereka mengalami hal tersebut.

Setelah berpikir sejenak, Catherine menanyakan siapa satu orang lagi yang bukanlah reinkarnasi para penduduk. Orang tersebut adalah Scott Tilton, seorang pandai besi yang sudah lama menyendiri di Mountain Oak. Salah seorang penduduk menyatakan baru saja melihat Tilton pagi tadi, di sekitar gua-gua tua Indian.

Catherine tiba di gua yang dimaksud. Ada Lennis dan para penduduk kota di belakangnya. Tidak hanya Tilton yang ada di dalam gua, melainkan juga Adriana. Seperti sudah memperkirakan kedatangan mereka, Adriana lantas mengeluarkan sebuah remote dari balik punggungnya dan mengaktifkannya. Sesaat kemudian timbul ledakan yang meruntuhkan mulut gua.

Alkisah, Tilton mengajak sahabatnya, Lew Fenerman, untuk ikut dengannya ke gua tua Indian dengan alasan ada sesuatu yang bercahaya dari balik tembok gua. Hal itu memang benar adanya, tapi alasan utama Tilton mengajak Fenerman adalah untuk membunuhnya, karena sudah berselingkuh dengan kekasihnya di belakangnya. Usai membunuhnya, Tilton menutupi mayat sahabatnya itu dengan bebatuan di sana. Termasuk bebatuan yang ada di tembok.

Saat melakukan hal itu, terlihat cahaya menyilaukan dari balik tembok. Penasaran, Tilton mulai mencari tahu dengan membaca berbagai referensi terkait di perpustakaan. Berminggu-minggu ia habiskan untuk membaca dan membaca. Hingga suatu saat, si wanita penjaga perpustakaan tiba-tiba menyatakan bahwa Tilton telah membunuhnya. Khawatir aibnya ketahuan, Tilton langsung membunuh wanita tersebut.

Kejadian tersebut ternyata terus berulang. Satu demi satu penduduk kota ‘berubah’ menjadi Fenerman. Dan satu demi satu pula Tilton menghabisi mereka. Di luar itu, Tilton juga lanjut membersihkan tembok gua dari bebatuan dan kotoran yang ada.

Saat tembok gua sudah bersih total, yang tampak adalah semacam tembok transparan dengan banyak orang berada di seberang. Salah satunya, seorang wanita, melangkah keluar dari tembok. Ia berjanji akan membantu Tilton menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Wanita itu adalah Adriana.

Misi Adriana sendiri, yang sepertinya merupakan utusan dari dunia akhirat, adalah untuk membawa semua jiwa reinkarnasi Fenerman kembali ke akhirat. Tanpa terkecuali. Itu sebabnya ia meledakkan mulut gua, agar tidak ada satu pun penduduk yang bisa lolos.

Dengan bantuan monster-monster berkuku panjang, satu persatu penduduk kota diambil jiwanya. Catherine yang mencoba melumpuhkan Adriana malah mendapati satu fakta lagi yang mengejutkan. Adriana menyatakan bahwa pada saat sebelumnya Catherine memegang kunci pintu penghubung dunia hidup dan mati di Polandia, ia mendapat sebuah kemampuan baru. Tubuhnya tidak akan pernah bisa mati.

Apesnya, tumor otak yang ia derita tidak serta merta sembuh. Penyakit tersebut semakin lama akan semakin memburuk. Halusinasi yang dialami Catherine juga bakal makin parah.

Ingat bahwa Doyle-lah yang membatalkan niatnya waktu itu untuk membuka pintu gerbang hidup mati, Catherine terlihat mengungkapkan amarahnya dengan merobek-robek tembok transparan sembari berteriak bahwa seharusnya Doyle mati saja. Lennis a.k.a Doyle yang mendengarnya langsung menyadari petunjuk dari Catherine. Ia lantas menggali bebatuan di sana dan menemukan tengkorak seseorang dengan syal yang serupa milik Catherine.

Saat Adriana sedang mencekik Catherine, Lennis tiba-tiba muncul dengan membawa kalung kunci yang mirip dengna kunci pintu gerbang hidup mati. Ia menusukkan kunci tersebut ke punggung Adriana, yang sejurus kemudian musnah bersama para monster berkuku panjang. Tilton yang hendak membalas dendam mengalami nasib tidak jauh berbeda. Para penduduk yang masih hidup tanpa ampun mengeroyoknya hingga tewas.

Di luar gua, Lennis menanyakan apakah Catherine masih membutuhkan bantuannya sebagai asisten. Catherine mengiyakan. Ia juga sudah tahu tujuan mereka berikutnya. Kembali ke St. Barnabus Sanitarium di Polandia untuk menghancurkan kunci pintu gerbang hidup mati yang ada di sana dan menghilangkan kemampuan tidak bisa mati yang ia miliki.

Di St. Barnabus Sanitarium. Gerbang hidup mati perlahan terbuka. Seseorang muncul dari balik pintu. Dan orang itu adalah Kerberos.


Perkembangan cerita ini benar-benar di luar ekspektasi saya. Yang saya kira bakal mengorek masa lalu Doyle, ternyata yang bersangkutan belum apa-apa malah sudah ditewaskan terlebih dahulu karakternya. Buntut-buntutnya ada unsur reinkarnasi satu orang, yang sepertinya belum pernah dibahas di film layar lebar manapun. Asli, keren parah sih ini ceritanya.

Sayangnya, meski sudah membuka ruang untuk sekuel, respon penggemar komik sepertinya tidak begitu baik. Faktanya, setelah 10 tahun berlalu, sama sekali belum ada tanda-tanda kisah petualangan Catherine dan Doyle bakal berlanjut. Semoga saja ada keajaiban, ya, hehehe.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply