Review Komik The Unknown (BOOM! Studios, 2009)

Gak sengaja nemu komik yang satu ini dan kaget ternyata ceritanya bagus banget. Bahkan cukup layak untuk diangkat ke layar lebar kalau menurut saya pribadi. Ditulis oleh Mark Waid (Kingdom Come, 52, Irredeemable, Incorruptible, dan The Traveler), serial ini bercerita tentang seorang detektif swasta bernama Catherine Allingham yang sudah terkenal seantero jagat atas kemampuannya memecahkan misteri. Kini tersisa satu misteri yang belum berhasil ia selesaikan. Mampukah ia melakukannya?

Berhubung serial ini sudah tamat dan hanya terdiri dari 4 edisi saja, sinopsis keseluruhan akan saya sampaikan secara singkat dan tidak terlalu detil. Lagipula sudah ada kelanjutannya yang juga akan menyusul dibahas di artikel terpisah. Jadi, tanpa perlu berpanjang lebar lagi, simak deh sinopsis komik The Unknown berikut ini.

Sinopsis Komik *SPOILER*

Review Komik The Unknown (BOOM! Studios, 2009)

She has solved every mystery known to man. But there is one mystery that remains… Unknown! Revered as the smartest person alive, Catherine Allingham is the world’s most famous private investigator. Follow her adventures as she sets out to solve the one mystery she’s never been able to crack! Join Mark Waid and international superstar Minck Oosterveer as they tell Catherine’s last tale. Or do they?

Story: Mark Waid
Art: Minck Oosterveer
Color: Fellipe Martins
Letter: Marshall Dillon
Tanggal Rilis: Mei – Agustus 2009

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Catherine terbangun dari tidurnya. Di hadapan ada seorang pria bertubuh tinggi besar dengan muka pucat sedang duduk di kursi. Cat bergegas mengambil sebutir obat penenang dan meminumnya. Perlahan sosok pria tersebut menghilang.

Tak lama ponselnya berdering. Detektif Ray Durell dari LAPD yang menelpon, meminta bantuannya untuk menyelesaikan sebuah kasus pembunuhan.

Di TKP, tidak butuh waktu lama bagi Catherine untuk menuntaskan kasus tersebut. Saat hendak kembali ke apartemennya, ia bertemu dengan seorang petugas keamanan club bernama James Doyle. Setelah menganalisa kepribadian dan kemampuan James dengan singkat, tanpa banyak basa basi Catherine memintanya untuk menjadi asistennya selama setidaknya 6 bulan ke depan. Bukan tanpa alasan, karena menurut dokter hanya itu sisa hidup yang dimiliki Catherine.

Esok malamnya, Catherine dan James sudah berada di Vienna, Austria. Catherine diminta untuk menyelidiki kasus hilangnya sebuah kotak dalam kubah yang tertutup rapat dan hanya memiliki satu pintu akses. Kubah tersebut berada dalam sebuah lab penelitian terkait fisika kuantum. Hilangnya kotak tersebut juga kebetulan terjadi saat adanya kecelakaan dalam proses eksperimen, yang menghancurkan banyak perangkat dalam lab. Pimpinan penelitian, Karl dan Lido Faderbauer, meyakini bahwa kotak tersebut telah berteleportasi ke tempat lain.

Pun begitu, sebagai orang yang mengutamakan logika, Catherine yakin bahwa bukan itu yang sebenarnya terjadi. Setelah diam-diam meminta James untuk mengamati ekspresi Karl dan Ludo, Catherine memberitahu mereka bahwa kotak tersebut benar telah berteleport ke tempat atau bahkan dimensi lain. Mengingat itu bukan bidangnya, Catherine menyatakan bahwa ia sama sekali tidak berminat untuk melanjutkan investigasi.

Catherine menanyakan perihal ekspresi Karl dan Ludo pada James saat ia memberitahu mereka mengenai kotak. Karl terlihat sedih, namun sebaliknya, Ludo terlihat berpura-pura sedih. Asumsi Catherine pun terbukti, bahwa salah satu di antara mereka lah yang telah mencuri kotak tersebut. Dan itu adalah Ludo.

Untuk menyelesaikan kasus tersebut, keduanya lantas naik ke sebuah kereta yang diketahui sedang memuat kotak yang hilang dari lab. Walau tidak sepenuhnya yakin, Catherine menduga bahwa kotak dan penelitian yang dilakukan oleh Karl dan Ludo ada kaitannya dengan timbangan jiwa seseorang.

Malam hari. Dalam perjalanan di kereta, Catherine banyak melihat penampakan makhluk seram di luar jendela. Ia juga merasa didatangi oleh kondektur dengan penampakan yang persis sama dengan yang sebelumnya ia lihat di kamar tidurnya. Setelah menyerahkan karcis, Catherine langsung meminum obat penenang yang ia bawa.

Catherine lantas membangunkan James. Keduanya pergi ke gerbong barang untuk menemukan kotak yang hilang. Satu persatu peti barang yang mencurigakan dibuka. Salah satunya memuat semacam manekin pria dengan jubah merah dan kuku tangan yang panjang.

Kotak yang dimaksud akhirnya berhasil diketemukan. Saat dibuka, Catherine kaget melihat sosok seperti dirinya dengan mata tajam dan kuku-kuku panjang. James segera mengingatkan bahwa tidak ada apa-apa di sana. Bahkan lebih tepatnya, kotak tersebut kosong sama sekali.

Tanpa diduga, manekin pria berjubah merah yang sebelumnya mereka temukan bergerak dan menyerang mereka. Tidak itu saja, saat James memukulnya dengan tongkat besi, tongkat tersebut meleleh begitu saja saat disentuh oleh si pria misterius berjubah merah.

Bergegas Catherine dan James melarikan diri. Pria berjubah merah terus mengejar mereka. Ia bahkan terlihat mampu menembus tubuh penumpang hingga bisa cepat berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Pada akhirnya, Catherine dan James berhasil lolos dengan cara melompat keluar dari gerbong.

Di hutan, James bercerita bahwa ia tahu bahwa Catherine mengalami halusinasi. Catherine tidak membantah. Penyakit tumor otak yang ia derita memang memungkinkan dirinya mengalami hal tersebut. Itu sebabnya ia butuh bantuan dari James yang memiliki kemampuan observasi dalam melakukan penyelidikan.

Sebelum tidur, Catherine memberitahu James bahwa kasus ini penting baginya. Jika benar ada kaitannya dengan jiwa seseorang, Catherine berharap dengan menyelesaikan kasus tersebut ia jadi tahu apa yang terjadi pada jiwa seseorang setelah ia mati nanti.

Beberapa saat kemudian, saat Catherine sudah tertidur, James yang sedang berjaga terkaget-kaget. Di hadapannya muncul sosok pria tinggi besar bermuka pucat yang selama ini dilihat oleh Catherine.

Di St. Barnabus Sanitarium. Seorang wanita tiba atas undangan dari seorang pria bernama Father Kerberos yang sepertinya adalah pendeta di tempat tersebut. Anak dari wanita tersebut berperilaku aneh belakangan ini dan tidak ada seorang pun yang mau membantunya. Setelah diamati, anak wanita tersebut ternyata sering mengucapkan kata-kata yang aneh. Seperti mantra dalam bahasa yang tidak jelas.

Setelah menyatakan bahwa bahasa yang digunakan oleh si anak tersebut adalah bahasa para iblis, dengan dingin Kerberos menembak mati pasangan anak dan ibu tersebut.

James memberitahu Catherine bahwa ia melihat pria muka pucat yang selama ini dilihat Catherine. Catherine tidak mempercayainya. Masalahnya, James yakin sepenuhnya bahwa itu bukanlah mimpi karena pria tersebut ternyata sempat duduk di sampingnya, lantas membisikkan sesuatu kepadanya.

James dan Catherine melacak jejak kotak di kereta hingga tiba di St. Barnabus Sanitarium. Seorang wanita berambut panjang yang membawa kotak tersebut, plus sebagian kargo lainnya dari kereta yang sama, ke sana.

Setelah menyusup masuk, keduanya mendapati bahwa kotak-kotak tersebut hendak dimasukkan ke dalam tungku pembakaran. Namun aksi keduanya terciduk oleh Kerberos, si wanita berambut panjang, dan anak buah mereka. Setelah menangkap James dan Catherine, Kerberos menyatakan bahwa usianya sudah mencapai 300 tahun. Ia mengisahkan bahwa dulu ia berhasil menemukan pintu penghubung antara hidup dan mati. Pihak yang berada di balik pintu tidak suka dengan kehadirannya. Pun begitu, mereka lantas membuat perjanjian. Kerberos diberikan hidup yang kekal selama ia bisa menjaga rahasia pintu tersebut dari orang lain. Dan pintu yang dimaksud ada di sanitarium tersebut.

Catherine tidak mempercayai cerita Kerberos. Ia berhasil menyerang Kerberos, merebut sebuah kunci, dan melarikan diri bersama James. Pelarian mereka berujung pada gerbang penghubung hidup mati yang diceritakan Kerberos sebelumnya. Penasaran dengan kehidupan setelah mati, Catherine nekat masuk ke balik pintu meski sudah dilarang oleh James. Mau tidak mau James mengikutinya.

Baru beberapa langkah, Kerberos dan anak buahnya sudah menyusul. Dengan cepat mereka menutup pintu tersebut dari luar, membuat James dan Catherine terkurung di dalamnya. Pun begitu, Kerberos tidak bisa tenang karena kunci yang ia miliki kini ada di tangan Catherine.

Catherine sendiri akhirnya tiba di pintu utama penghubung alam kehidupan dan kematian. Pria bermuka pucat ada di sana. Tak lama James menyusulnya. Catherine berkeras untuk membuka pintu tersebut. James kembali mencoba meyakinkan Catherine untuk tidak melakukannya. Kali ini ia berhasil.

Setelah James dan Catherine melangkah pergi, si pria bermuka pucat terlihat kesal. Ia lantas membuka pintu tersebut. Semacam angin terlihat menarik segala sesuatu yang ada di depan pintu tersebut, termasuk James dan Catherine. Untungnya, James berhasil menahan Catherine sehingga keduanya lolos dari maut. Berbeda nasib dengan Kerberos, yang terhisap masuk ke dalam pintu.

Tanpa ada Kerberos, si wanita berambut panjang dan anak buah Kerberos lainnya tidak berani berbuat apa-apa. Mereka membiarkan James dan Catherine melewati mereka. Di saat itu James baru sadar bahwa Catherine sedang mengalami kejang-kejang.

Di rumah sakit. Dokter memberitahu James bahwa apa yang dialami oleh Catherine adalah hal yang wajar bagi penderita tumor otak akur seperti dia. Tidak ada tindakan medis apapun yang bisa menyembuhkannya. Dokter bahkan tidak mempermasalahkan jika James hendak membawa Catherine pulang saat itu juga.

James lantar memberitahu Catherine tentang kasus Karl dan Ludo yang sudah berlanjut ke kepolisian. Urusan di St. Barnabus Sanitarium juga sudah beres. Tanpa disangka, wanita yang ada di tempat tidur pasien bukanlah Catherine, melainkan orang lain. Catherine justru sudah check out beberapa saat sebelumnya dan meninggalkan secarik surat pada James.

Di hutan Aokigahara, Jepang. James akhirnya berhasil bertemu kembali dengan Catherine, yang sedang meneliti kasus pria dengan penampilan seperti malaikat (lengkap dengan sayapnya) yang diketemukan tewas di sana. Tanpa perlu diminta dua kali, James dengan senang hati mengikuti ajakan Catherine untuk menginvestigasi kasus tersebut.


Lumayan seru, kan? Kalau masih kurang seru, coba baca sendiri aja deh komiknya. Siapa tahu memang saya yang kurang canggih menulis sinopsisnya, hehehe. Petualangan Catherine dan James sendiri masih berlanjut dalam “The Unknown: The Devil Made Flesh”. Saya baru akan membacanya setelah ini sehingga belum tahu persis seperti apa ceritanya. Tapi dari apa yang sudah tersaji di miniseri perdananya ini, sepertinya bakal ada banyak hal yang bisa lebih dalam dikulik. Termasuk mengenai masa lalu James dan wanita misterius dari masa lalunya yang telah tiada. Mungkin istri atau kekasihnya.

Ngomong-ngomong, setuju kan kalau kisah “The Unknown” ini layak untuk dijadikan film layar lebar?

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply