Review Komik Teether #3 (Antartic Press, 2020)

Di cerita sebelumnya, Lilly tiba-tiba muncul kembali di sekolah. Namun Lilly yang sekarang bukanlah Lilly yang dulu. Melainkan Lilly yang bisa berubah menjadi sosok mengerikan dengan mulut bergigi tajam yang memenuhi wajahnya. Dan kedatangannya adalah untuk membalas dendam. Akankah ia berhasil melakukannya? Atau justru sebaliknya, teman-teman yang dulu mengajaknya ikut ritual justru mampu mengalahkannya? Lanjut deh baca kelanjutan kisahnya dalam sinopsis komik Teether #3 di bawah ini. Cekidot!

Sinopsis Komik *SPOILER*

Review Komik Teether #3 (Antartic Press, 2020)

“Who goes there?”
As Lilly comes closer to getting her revenge, her hunger grows more monstrous. Any hopes Dillon had of getting through to her start to fade, and he begins to wonder if Lilly will stop even if she gets what she wants. As Dillon weighs his options, his “friends” are making plans of their own, and those plans start with the gun Dillon brought to school!

Story: David Hutchison
Art: David Hutchison
Judul Edisi: –
Tanggal Rilis: 1 Januari 2020

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Lilly menangkap kaki Dillon yang mencoba kabur dalam lubang ventilasi bersama dengan Chad. Ia lantas mencoba meyakinkan Dillon bahwa yang ia ingin lakukan hanyalah membalas dendam pada Chad dkk karena telah membuat dirinya menjadi seperti itu. Apa yang terjadi pada guru mereka sebelumnya adalah sebuah kecelakaan yang juga ia sesali. Lilly sadar bahwa ia belum sepenuhnya mampu mengontrol perubahan yang ada dalam dirinya.

Dillon menyatakan bahwa baginya Lilly tetap adalah temannya. Lilly tidak mempercayai hal itu dan meminta Dillon untuk mengatakan hal itu kembali setelah melihat wajah monster Lilly. Kali ini Dillon tidak sanggup berkata apa-apa dan membiarkan Lilly mengejar Chad.

Sepeninggal Lilly, Dillon membuka ranselnya dan mengeluarkan sepucuk pistol dari dalam. Ia hendak mencoba menyelamatkan Chad, namun sesaat kemudian terdengar suara teriakan kesakitan dari Chad. Tahu bahwa Lilly sudah lebih dulu menghabisi Chad, Dillon memutuskan untuk mencari Dove dan Saul.

Officer Hill mendapati Lilly sedang menyantap tubuh Chad. Begitu Lilly menyadari keberadaannya, Hill segera melepaskan dua tembakan ke arah Lilly. Tidak ada satu pun yang mengenai target. Alih-alih berbalik menyerang Hill, Lilly kabur meninggalkan ruangan melalui lubang ventilasi udara.

Hill yang masih terkaget-kaget melaporkan hal tersebut ke rekannya. Ia pun lalu diperintahkan untuk tetap TKP sembari menunggu instruksi lebih lanjut.

Dove dan Saul bersembunyi di sebuah ruangan. Dove sibuk membaca buku tentang ritual, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menghentikan Lilly. Tak lama kemudian Dillon tiba dan menceritakan tentang Lilly yang ingin membalas dendam pada mereka berdua.

Dove kemudian memberitahu Dillon bahwa mereka harus segera keluar dari area sekolah dan menuju hutan karena ia sudah menemukan ritual yang tepat untuk mengikat iblis yang merasuki Lilly. Dillon siap untuk membantu mereka. Tanpa diduga, Dove tiba-tiba mengambil sebuah batu bata (?) dan menghantamkannya ke kepala Dillon hingga terluka dan tak sadarkan diri.

Meyakini Dillon hanya akan memperlambat mereka nantinya, Dove mengambil pistol milik Dillon (yang ternyata ia sendiri yang sebelumnya meminta Dillon untuk membawanya ke sekolah) dan bergegas menuju hutan.

Lilly menemukan Dillon masih dalam keadaan pingsan. Lilly menyadari bahwa Dillon sebenarnya juga tahu bahwa sedari awal Dove dkk mengajaknya berteman karena akan dijadikan tumbal dalam ritual di hutan. Ia berharap bahwa seandainya saja ia bisa punya teman seperti Dillon.

Tak lama terdengar teriakan dari dalam ruangan tempat Dillon berada. Officer Hill yang mendengar bergegas menghampiri ruangan tersebut. Begitu mendapati Dillon dalam keadaan terluka, Hill segera menggendongnya menuju ruang kesehatan.

Dove dan Saul tiba di hutan. Melihat banyaknya binatang yang sudah berubah menjadi monster seperti Lilly, keduanya memutuskan untuk kembali lagi nanti. Tanpa disangka, seekor rusa berukuran besar yang wajahnya juga sudah menjadi mulut penuh taring tajam muncul di belakang mereka.


1.5 tahun berlalu dan akhirnya komik ini dilanjutkan kembali. Bukan itu saja kejutannya, melainkan ditambah dengan kualitas cerita yang mungkin di atas ekspektasi saya sebelumnya. Memang bukan sesuatu yang benar-benar spesial maupun orisinil, namun dengan penggarapan yang rapi dan solid saya rasa edisi ketiga dari Teether ini patut untuk diberi acungan jempol. Gak sabar untuk melihat bagaimana endingnya nanti. Semoga saja tidak harus menunggu bertahun-tahun lagi.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply