Review Komik Prodigy #3 (Image, 2019)

Perjalanan Edison Crane dalam miniseri komik Prodigy kini mencapai titik tengah. Di cerita sebelumnya, Crane bersama agen CIA Rachel Straks pergi ke Moscow untuk mencari petunjuk mengenai invasi yang akan terjadi di bumi. Sayangnya, arsip kuno yang seharusnya tersimpan di sana sudah dicuri orang. Mereka pun bersiap untuk menuju pegunungan Himalaya, Tibet, untuk menyusuri jejak arsip kuno tersebut. Sementara itu, keluarga Fransis dari Brotherhood of The Dragon mulai terlihat sebagai salah satu sosok yang membantu proses terjadinya invasi. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Simak kelanjutan ceritanya dalam sinopsis komik Prodigy #3 di bawah ini.

Sinopsis Komik *SPOILER*

Review Komik Prodigy #3 (Image, 2019)

Crane’s quest takes him across the Himalayas and into a sunken temple in the Indian Ocean, where he battles pirates and great white sharks to find clues about the missing scroll. But the evil lying in wait is getting stronger.

Story: Mark Millar
Art: Rafael Albuquerque
Color: –
Letter: –
Judul Edisi: –
Tanggal Rilis: 6 Februari 2019

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Perjalanan Crane dan Rachel dalam menyusuri jejak arsip kuno yang hilang tidaklah mudah. Mulai dari Tibet, Kamboja, hingga Samudera Hindia. Sepanjang perjalanan mereka juga diserang oleh tentara-tentara bayaran yang sengaja disewa untuk menggagalkan usaha mereka.

Di salah satu momen, terlihat bagaimana Crane mampu berbicara dengan beberapa di antara mereka dan meyakinkan mereka untuk bertobat. Kebiasaan Crane yang berusaha merangkul orang sebanyak-banyaknya diamini juga oleh salah seorang rekannya di Damascus, yang ditemui oleh Crane dan Rachel. Bahkan seluruh anak buahnya saat ini ia peroleh dengan cara tersebut: berteman dan membantu menyelesaikan masalah-masalah mereka.

Dari pembicaraan ketiganya di Damascus, Crane telah mengetahui tentang eksistensi Brotherhood of The Dragon sebagai pihak yang diam-diam bekerjasama membantu terjadinya proses invasi ke bumi. Sifat mereka yang kejam dan tidak punya empati juga sudah ia ketahui merupakan hasil didikan turun temurun. Kini satu-satunya cara untuk menggagalkan invasi dari dunia pararel ke bumi tersimpan di Temple of Bel, Palmyra.

Rekan Crane memberitahu bahwa kota tersebut saat ini dikuasai oleh pemberontak. Kendati demikian, mereka tidak mempermasalahkan orang luar untuk masuk… asalkan membayar 2 juta dolar. Dengan santai Crane mengungkapkan niatnya untuk mengumpulkan uang sebanyak itu dengan cara berjudi di lokasi tak jauh dari tempat mereka mengobrol.

Satu jam berlalu. Crane menghubungi Rachel dan rekannya. Ia meminta keduanya untuk menjemputnya di suatu tempat dalam waktu 300 detik. Terlihat di hadapan Crane ada beberapa orang penjudi yang marah karena telah dikalahkan olehnya. Sebagian di antaranya sudah mulai menodongkan pistol ke arah Crane.


Loyalitas serta kemampuan anak buah Crane yang sempat terlihat di edisi sebelumnya ternyata merupakan hasil polesan darinya. Dari salah satu rekannya yang berada di Damascus juga berarti dapat dipastikan Crane punya banyak orang yang bisa membantunya di berbagai negara. Sehingga untuk urusan SDM dia tidak akan kesulitan.

Dari edisi sebelumnya yang alurnya berjalan lambat, kali ini kita disuguhkan cerita dengan pergeseran alur yang lumayan gegas. Dari satu tempat ke tempat lain. Cukup memuaskan jika dilihat dari sudut pandang kisah petualangan ala ala Indiana Jones, yang bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain untuk mencari petunjuk.

Saya pribadi masih belum teryakinkan dengan artworknya. Permasalahan masih pada penggambaran karakter Rachel Stark. Kadang keren, kadang serem. Atau mungkin hanya perasaan saya saja…

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply