Review Komik Prodigy #2 (Image, 2019)

Di cerita sebelumnya, Edison Crane yang notabene adalah manusia tercerdas di bumi diminta untuk menyelidiki sebuah kasus misterius yang terjadi di Australia. Dari investigasi awal, ia menyimpulkan kemungkinan akan adanya invasi ke bumi dalam waktu dekat. Dugaannya terbukti tidak meleset. Tak lama setelahnya, seorang agen CIA bernama Rachel Straks menemuinya untuk memberikan informasi yang lebih mendalam tentang hal tersebut. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Simak kelanjutan kisahnya dalam sinopsis komik Prodigy #2 di bawah ini yuk.

Sinopsis Komik *SPOILER*

Review Komik Prodigy #2 (Image, 2019)

Edison Crane heads to a military base in Australia to investigate otherworldly apparitions the government can’t explain. Meanwhile, a long-dormant evil is rising, and Crane will have to unlock secrets hidden deep in the Kremlin vaults before it’s too late.

Story: Mark Millar
Art: Rafael Albuquerque
Color: –
Letter: –
Judul Edisi: –
Tanggal Rilis: 9 Januari 2019

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Satu minggu sebelumnya. Seorang jendral menemui Rachel, membocorkan informasi mengenai adanya invasi ke bumi dalam waktu dekat. Masalahnya, ternyata ada pihak-pihak berkuasa yang membantu aksi mereka itu. Belum sempat si jendral melanjutkan ceritanya, sebuah peluru melesat masuk ke kepalanya. Ia pun tewas seketika.

Rachel menceritakan hal tersebut pada Edison. Ia menambahkan bahwa sang jendral menginformasikan adanya catatan kuno tersimpan di Kremlin Library, berisi rencana invasi tersebut. Dengan demikian, untuk bisa mencegah hal tersebut terjadi, mereka harus bisa mendapatkan catatan kuno itu.

Di sebuah tempat di Belgia. Beberapa anak kecil, yatim piatu, diculik dan dijadikan sasaran permainan berburu oleh sekelompok orang kaya. Tanpa segan mereka membunuh anak-anak kecil tersebut satu demi satu.

Moscow. Edison bersama Rachel menemui jendral Gogol. Dengan santai, Edison yang sebelumnya sudah menyuap staf-staf si jendral, menggunakan kekuatan chi-nya untuk melumpuhkan Gogol dan membuatnya lupa atas apa yang barusan terjadi.

Tak butuh waktu lama bagi Edison untuk menemukan perpustakaan rahasia yang berisi buku-buku catatan yang sudah sangat tua umurnya. Namun ia terkejut begitu mengetahui catatan tentang invasi ternyata sudah hilang dari tempatnya.

Setelah mengetahui bahwa catatan yang dimaksud diketemukan di sebuah kuil di Himalaya, Edison mengajak Rachel untuk bersiap-siap menuju ke sana.

Di Cape Town, Afrika Selatan. Sebuah pesawat luar angkasa terjatuh. Masih sama dengan sebelum-sebelumnya, seluruh awaknya dalam kondisi hangus terbakar. Ada sekelompok orang yang sedang berada di sekitar pesawatnya. Dua di antaranya adalah bagian dari kelompok orang yang berburu anak kecil di Belgia, Francis dan ayahnya. Keluarga mereka ternyata sudah secara turun temurun bekerjasama dengan pihak yang akan menginvasi bumi. Francis menyindir ayahnya yang sampai sekarang masih belum bisa membantu terlaksananya rencana mereka. Ia mengingatkan bahwa jika itu terus-terusan terjadi, bisa saja suatu saat dirinya yang akan mengganti posisi sang ayah.


Makin seru ceritanya. Gaya Edison yang cool terus terang bikin terpesona. Ditambah ia juga ternyata menguasai ilmu tenaga dalam. Kombinasi kemampuan diri serta aset yang dimiliki Edison sepertinya jadi kekuatan tersendiri dari miniseri komik ini.

Jalan cerita agak sedikit melambat di edisi #2 ini. Sub cerita tentang keluarga Fransis di Belgia sepertinya terlalu panjang kalau hanya untuk menceritakan tentang kesadisan mereka. Untungnya selipan misteri baru tentang pihak-pihak yang membantu terjadinya invasi bisa menjadi penawarnya.

Artwork agak sedikit mengecewakan kalau menurut saya pribadi. Di beberapa frame wajah Rachel terasa tidak konsisten. Saya sampai harus kembali ke halaman-halaman awal untuk memastikan bahwa itu benar karakter Rachel. Di luar itu tidak ada komplain sih.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply