Review Komik Joker/Harley: Criminal Sanity #2 (DC Comics, 2020)

Di cerita sebelumnya, GCPD sedang dihadapkan oleh sebuah kasus pembunuhan berantai yang misterius. Detektif Maddox yang menangani kasus tersebut menganggapnya sebagai ulah gang, sementara Dr. Harley Quinn, konsultan profiler forensik GCPD, meyakini bahwa pembunuhan-pembunuhan yang terjadi ada kaitannya dengan sekte dan pemujaan. Pendapat siapakah yang benar? Atau semua itu justru adalah buah aksi Joker yang telah menghilang beberapa tahun terakhir? Simak kelanjutan kisahnya dalam sinopsis komik Joker/Harley: Criminal Sanity #2 berikut ini.

Sinopsis Komik *SPOILER*

Review Komik Joker/Harley: Criminal Sanity #2 (DC Comics, 2020)

Jim Gordon and the GCPD have turned to profiler Harley Quinn for assistance. She’s intrigued by the level of care and detail this new, depraved serial killer is putting into his crime scenes; there must be clues to his pathology in his artful staging. His level of meticulous preparation is unusual, but will it lead to or help delay his capture?

Story: Kami Garcia
Art: Michael Mayhew, Mico Suayan, Jadon Badower
Letter: Richard Starkings of Comicfraft
Judul Edisi: –
Tanggal Rilis: 1 Januari 2020

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Sama seperti sebelumnya, mayat yang ditemukan kali ini kondisinya sama-sama mengenaskan. Bahkan mungkin lebih. Kepala yang dihancurkan, beberapa bagian tubuh yang dipotong lalu dibakar, dan sebagainya. Terdapat sesuatu berbentuk jam di bagian depan tubuh, yang sayangnya kurang jelas apakah itu merupakan bagian tubuh korban sendiri yang dibentuk sedemikian rupa atau barang lain yang ditempelkan / dipasang di posisi tersebut.

Meyakini pelakunya pasti sudah pernah beraksi sebelumnya, Harley memutuskan untuk kembali ke kantor polisi guna mempelajari kasus-kasus lama yang serupa. Ia juga sempat menghubungi Arkham Asylum untuk memastikan salah satu tahanan di sana, Victor Zsasz, sama sekali tidak kemana-mana dalam jangka waktu 72 jam terakhir.

Mike Kelly, suami dari korban pertama Joker, masih terus menyalahkan putra mereka, John Kelly, atas kematian istrinya. Ia melampiaskan kemarahannya dengan memperlakukan John dengan kejam. Tak jarang ia memukuli John hingga terluka parah dan harus dibawa ke UGD.

Seorang pria berambut pendek dengan make up seperti Joker menghampiri seorang pria lainnya yang sedang makan di sebuah bar. Ia menanyakan kapan barangnya akan dikirim kepada pria yang sedang makan tersebut. Alih-alih memberikan tanggal yang pasti, pria tersebut berbalik menantang dan menyatakan bahwa harganya telah naik. Si pria mirip Joker harus membayar lebih jika ingin barangnya cepat sampai.

Tanpa banyak basa basi, pria mirip Joker mengambil pisau yang ada di meja lantas menancapkannya ke telapak tangan pria yang sedang makan. Ia menyarankan agar pria tersebut memperbaiki layanan pelanggan dari bisnis yang ia kerjakan.

Harley sedang berjalan di kota saat ia menyadari ada seseorang yang membuntutinya. Setelah dipergoki, orang tersebut ternyata adalah Barry, saudara laki-laki Harley. Ia meminta Harley untuk menemui ibu mereka yang kondisinya sudah kritis dan tidak punya banyak waktu lagi. Tidak untuk memaafkannya, tapi setidaknya untuk mengucapkan selamat tinggal.

“Aku sudah mengucapkan selamat tinggal,” jawab Harley Quinn sembari meninggalkan Barry.

Memasuki usia remaja, John Kelly merasa terganggu dengan oleh Joey, rekan sekolahnya yang sok jago. Diam-diam ia membobol password akun Joey, lalu menyebarkan video ciuman Joey dengan seorang pria. Hal tersebut membuat Joey jadi bahan tertawaan di sekolah dan tidak lagi berulah tengil.

Malam harinya, John kembali menjadi obyek pelampiasan emosi ayahnya. Tidak terlihat jelas apa yang ia alami, yang pasti ujung-ujungnya John kembali harus otewe ke UGD untuk mendapat perawatan.

Di suatu tempat, pria mirip Joker terlihat sedang mendesain sesuatu dengan menggunakan dua buah kotak.

Polisi menangkap seorang pria yang mereka yakini sebagai si pembunuh. Dari hasil pengamatan dan interogasinya, Harley meyakini bahwa pria tersebut kemungkinan besar adalah pembunuh pria di kursi taman, namun bukan pembunuh berantai sadis yang sedang mereka cari.

Di sebuah taman, pria mirip Joker menghadang langkah seorang wanita. Tak lama terlihat wanita tersebut sudah dalam kondisi terikat di sebuah ruangan dan pria mirip Joker sedang bersiap dengan pisau bedahnya untuk melakukan sesuatu pada si wanita.


Masih gak habis pikir bagaimana artwork serealistis ini bisa dihasilkan oleh tangan. Nyaris gak ada bedanya dengan foto. Sampai-sampai ada sekelompok pembaca yang 100% yakin bahwa yang kita lihat sebenarnya bukan artwork, melainkan memang foto asli.

Ceritanya sendiri terus terang agak membingungkan di edisi ini. Alur ceritanya lebih tepatnya. Ada banyak adegan yang disajikan, namun tidak ada penjelasan apakah adegan tersebut terjadi di masa lalu atau masa sekarang. Yang jadi membingungkan adalah apakah yang dialami oleh John Kelly (remaja) itu terjadi di masa sekarang atau masa lalu. Jika masa lalu, berarti fix si pria mirip Joker adalah John Kelly. Tapi jika di masa sekarang, ya jadi bingung deh si pria mirip Joker itu siapa, hehehe.

But overall, sejauh ini cerita masih sangat bisa dinikmati dan sangat ditunggu kelanjutannya.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , , , ,

Reply