Review Komik Grimm Fairy Tales: Inferno #1 (Zenescope, 2010)

Di cerita sebelumnya, Sela Mathers memberikan kesempatan kedua pada Mercy Dante untuk mengubah pilihan hidupnya. Setelah terus dikejar-kejar oleh rasa bersalah, Mercy menerimanya. Ia membiarkan Trisha Franks hidup sekaligus bunuh diri sebagai pengganti orang-orang yang telah ia bunuh. Sela sendiri rupanya punya rencana lain di balik semua itu. Apa yang sebenarnya hendak dilakukan oleh Sela? Simak kelanjutan kisahnya dalam sinopsis komik Grimm Fairy Tales: Inferno #1 berikut.

Sinopsis Komik *SPOILER*

Grace is lost and restless in a big city where her nightmares seem all too real. Suffering from a form of amnesia, she only feels empty and confused. Her therapist overmedicates, her boss sexually harasses her and her boyfriend beats her. The world is quickly closing in around Grace but when she learns the truth of her past she might just find the power within to redeem her life and battle her demons, no matter how real they might be. Jacob’s Ladder meets The Long Kiss Goodnight in this explosive mini-series only from ZENESCOPE ENTERTAINMENT.

Story: Ralph Tedesco
Art: Gabriel Rearte
Color: Jason Embury
Letter: Jim Campbell
Judul Edisi: Issue One
Tanggal Rilis: 5 Mei 2010

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

25 tahun yang lalu, dua saudari kembar Mercy dan Grace Dante menjadi yatim piatu akibat dibunuhnya kedua orang tua mereka oleh David Franks. Kisah Mercy sudah diceritakan dalam Grimm Fairy Tales #41. Anehnya, sebulan setelah kematian Mercy, Grace mengalami amnesia. Ia tidak ingat apapun selain diberitahu bahwa amnesia tersebut disebabkan oleh kecelakaan mobil yang ia alami.

6 bulan berlalu sejak Grace amnesia. Meski belum ingat tentang masa lalunya, ia mencoba untuk kembali hidup normal dengan bekerja di sebuah perusahaan asuransi. Apesnya, tahu kondisi Grace, bos perusahaan tersebut justru memanfaatkannya. Ia meminta Grace untuk datang menemuinya di hari Sabtu mendatang pada pukul delapan malam jika ia ingin tetap bekerja di perusahaannya.

Kehidupan percintaan Grace tidak kalah buruknya. Kekasihnya, Max, adalah seorang yang bertemperamen buruk. Ia suka mabuk-mabukan dan tidak segan main tangan pada Grace.

Belum ditambah dengan dirinya sendiri yang beberapa kali berhalusinasi. Dokter Girard yang menanganinya pun tidak banyak membantu. Ia hanya meminta Grace untuk terus mengkonsumsi obat yang ia berikan.

Hari Rabu. Di subway, dalam perjalanan pulang ke apartemennya, seorang pria misterius memberitahu Grace agar ia berhati-hati. Ia tengah berada dalam bahaya dan ada orang-orang yang akan mendatanginya.

Keluar dari stasiun, Grace tidak sengaja bertabrakan dengan dua orang laki-laki. Keduanya ternyata tidak mau menerima permintaan maaf Grace begitu saja. Grace melawan dan mencoba kabur. Di saat terdesak, seorang wanita datang dan membantunya mengusir kedua pria tersebut.

Wanita itu menyatakan bahwa ia sudah lama mencari Grace. Ia tahu tentang Mercy, saudari kembar Grace, juga tentang masa lalunya. Sambil memberikan selembar kartu nama, wanita itu meminta Grace untuk menemuinya di alamat yang tercantum di kartu nama tersebut pada hari Sabtu mendatang. Ia juga berpesan agar Grace tidak lagi meminum obat yang diberikan oleh dokter Girard.

Sesaat kemudian sebuah taksi datang. Wanita itu mempersilahkan Grace masuk ke dalamnya. Ia memastikan bahwa Grace akan diantar dengan selamat hingga ke apartemennya. Walau kebingungan Grace menurutinya.

Taksi pun mulai melaju. Grace memberitahu sang sopir kalau ia tidak membawa uang cash. Sang sopir, yang bernama Drew, tidak mempermasalahkan hal itu. Grace tidak perlu membayar karena Drew berhutang budi pada wanita yang sebelumnya menolong Grace. Ia yakin wanita tersebut juga bisa menolong Grace.

Grace bermimpi bahwa dirinya sedang membawa pistol dan kemudian menembak kepalanya sendiri. Grace terbangun dengan kaget. Mulanya ia hendak meminum obat penenang dari dokter Girard, namun ia lalu membuangnya ke toilet. Perlahan Grace mengambil kartu nama yang diberikan oleh wanita yang sebelumnya ia temui. Tertulis nama Sela Mathers di sana.


Lumayan sih ini sebagai edisi pembuka. Bagi yang sebelumnya tidak mengikuti serial Grimm Fairy Tales pun rasanya masih tetap bisa nyambung. Artworknya aja yang parah. Ekspresi wajah berulang kali gak sesuai dengan adegannya. Jelas jelas lagi ketakutan dikejar orang mesum lah kok tampangnya datar datar aja. Semoga edisi berikutnya ilustratornya diganti, hehehe.

rk gft inferno1

Leave a Reply