Review Komik Grimm Fairy Tales #40 (Zenescope, 2009)

Di cerita sebelumnya, Sela Mathers berusaha menerima fakta bahwa Belinda sampai kapan pun tidak akan pernah bisa berubah menjadi baik. Ia berniat untuk tidak jatuh lagi ke dalam perangkap ‘persahabatan’ yang telah berulangkali digunakan oleh Belinda kepadanya. Sebaliknya, Belinda tetap yakin bahwa empati Sela pasti bakal membuatnya terperangkap kembali ke dalam permainannya. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Simak jawabannya dalam sinopsis komik Grimm Fairy Tales #40 berikut, ges.

Sinopsis Komik *SPOILER*

Review Komik Grimm Fairy Tales #40 (Zenescope, 2009)

A con artist has found the perfect target for what could be his biggest score yet: a widow with more money than she knows what to do with. So as he prepares to take her inheritance right from under her nose Sela decides it’s time to pay him a visit before things go terribly wrong. There is a fine line between need and greed and one con man is about to learn that once that line is crossed, there may be no going back.

Story: Raven Gregory
Art: Eduardo Garcias, Dave Hoover
Color: Mark Roberts
Letter: Jim Campbell
Judul Edisi: The Goose and The Golden Egg
Tanggal Rilis: 29 Juli 2009

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Di Australia, saat ini. Jillian Howard berada di sebuah kapal. Setelah berlayar beberapa saat, nahkoda memberitahu bahwa mereka sudah tiba di tempat tujuan. Ia juga memastikan tempat tersebut aman. Mendengarnya, Jillian pun terjun dari kapal dan mulai berenang di sana.

1 bulan sebelumnya. Jillian ternyata adalah putri Manus Howard, salah seorang dari 20 orang terkaya di dunia. Punya segalanya membuat Jillian hobi menghambur-hamburkan uang. Kali ini untuk membeli sebuah mobil mewah.

Saat tengah mengemudikan mobil anyarnya tersebut bersama temannya, Kasey Jenae, keduanya mengalami kecelakaan. Mobil mereka menabrak bus sekolah yang sedang mogok. Jillian mengalami luka ringan, sementara Kasey dalam kondisi kritis akibat kejadian tersebut.

Sela, yang bekerja sebagai pengurus kolam di rumah Manus, membesuk Jillian di rumah sakit. Ia menawarkan diri untuk membacakan sebuah dongeng untuk Jillian. Dongeng tersebut berjudul “The Goose and The Golden Egg” (Angsa dan Telur Emas).

Pada suatu waktu, tinggallah sepasang kakek dan nenek. Meski hidup kekurangan, mereka selalu mensyukuri apa yang mereka miliki. Hingga kemudian mereka mendapati seekor angsa yang berkeliaran di halaman rumah mereka ternyata bisa bertelur emas.

Telur emas tersebut lantas mereka jual. Uangnya mereka gunakan untuk mengubah hidup mereka. Gaya hidup yang baru membuat keduanya jadi lupa diri. Alih-alih bertambah kaya, mereka justru terlilit hutang.

Beberapa kali si angsa bertelur emas, beberapa kali pula pasangan tersebut hanya sekedar gali tutup lubang.

Di satu titik, si angsa tidak lagi bertelur. Tidak sabar menunggu, keduanya memutuskan untuk membelah si angsa, berharap ada telur emas di dalam tubuhnya. Harapan mereka tidak jadi kenyataan. Mereka pun bangkrut dan kebahagiaan mereka yang dulu ada saat miskin pun hilang.

Setelah mendengar cerita tersebut, Jillian mengaku paham dengan apa yang hendak disampaikan Sela. Ia berjanji akan berubah dan tidak lagi menghambur-hamburkan uang ayahnya. Nyatanya, sepeninggal Sela, Jillian justru menghubungi teman-temannya dan mengundang mereka untuk berpesta di rumahnya minggu depan.

Di saat pesta berlangsung, Sela menghampiri Jillian dengan kesal. Belum sempat ia berbicara banyak, Jillian terlebih dahulu memecatnya dan mengusirnya dari rumah.

Beberapa hari kemudian, saat berbelanja perhiasan, Jillian mendapati kartu kreditnya ditolak. Ia lantas menghubungi ayahnya. Tanpa disangka, ayahnya sengaja memutuskan untuk mematikan semua kartu kredit Jillian. Usai menutup telponnya, terlihat ada Sela di ruangan Manus. Ia ternyata sudah meminta Manus membaca buku dongeng miliknya (mungkin untuk dongeng yang sama) hingga akhirnya Manus mengambil keputusan tersebut.

Jillian sendiri, alih-alih tobat, malah mencuri perhiasan simpanan ayahnya, menjualnya, dan kabur ke Australia. Ia yakin ayahnya bakal memohon-mohon agar dirinya kembali pulang dan mengaktifkan kembali kartu kreditnya.

Setibanya di sana, Jillian pergi ke dermaga dan menyewa salah satu kapal di sana. Nahkodanya ternyata adalah Belinda.

Setelah tiba di satu tempat seperti yang ada di awal halaman, Jillian terjun ke laut untuk berenang. Tak lama kemudian muncul hiu yang langsung memangsanya. Dengan santai Belinda melihatnya sembari menyatakan bahwa Jillian sekarang adalah miliknya.


Oke, cerita kali ini benar-benar terasa personal bagi saya. Saya pribadi sering merasakan dan mengalaminya. Suka gak sadar menghabiskan uang untuk sesuatu yang gak penting-penting amat dan ujung-ujungnya puyeng sendiri karena dompet tipis. Di saat-saat seperti itu lalu ada saja rejeki yang tidak diduga-duga datang. Nah, bukannya introspeksi diri, saya justru melakukan hal yang sama seperti pada cerita di atas. Tetap lanjut belanja sana sini, hehehe. Baiklah, setelah ini kudu kuat ati, pasang kacamata kuda agar fokus dan gak tergoda beli ini itu.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply