Review Komik Grimm Fairy Tales #28 (Zenescope, 2008)

Di cerita sebelumnya, ada kisah tiga ekor tikus yang berpura-pura buta demi mendapatkan makanan tanpa bersusah payah. Tanpa disangka, nenek tua yang mereka tipu ternyata sedari awal tahu akal bulus mereka. Ia justru sengaja memelihara mereka agar cukup gemuk untuk santapan ular peliharaannya. Nah loh. Orang-orang yang biasa nyamar jadi pengemis dan pura-pura cacat perlu kayaknya ini baca kisah tersebut. Biar tobat, hehehe. Nah, kira-kira cerita dongeng apalagi yang bakal diangkat? Simak selengkapnya dalam sinopsis komik Grimm Fairy Tales #28 berikut ya.

Sinopsis Komik *SPOILER*

Grimm Fairy Tales continues strong in this re-telling of the classic story ‘The Ugly Duckling.’ When a young unattractive teen is tormented by her high school peers she makes a deal with Belinda, and seeks out her own form of revenge. Now, ten years later, the once ugly duckling turned swan is living a successful life as a top model. However, on the night of her class reunion, she’ll find that the deal she made many years ago is about to come back to bite her.

Story: Michael Dolce
Art: Jeff Zornow
Color: Garry Henderson & Kieran Oats
Letter: Bernie Lee
Judul Edisi: The Ugly Duckling Part 1
Tanggal Rilis: Juni 2008

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Robin Summers menemui Belinda yang sedang menunggunya sembari memberi makan bebek-bebek di taman. Rupanya di hari itu, tepat 10 tahun yang lalu, Belinda membantunya menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Belinda lantas menanyakan apakah Robin menyesali keputusannya saat itu. Robin dengan tegas menjawab tidak, karena ia sangat menikmati kehidupannya saat ini yang glamor sebagai seorang supermodel ternama.

Setelah berpisah dengan Belinda, Robin menuju sebuah taksi. Ada seorang pria berjas hitam yang terlebih dahulu menghentikannya. Robin berpura-pura hendak berbagi taksi bersamanya, namun ia justru meninggalkannya sendiri. Kendati demikian, si pria terlihat tidak kesal padanya.

Dalam perjalanan menuju acara reuni sekolah, Robin teringat kembali masa-masa dulu saat ia masih bersekolah di Dewey High School.

Robin, yang dulunya berpenampilan di bawah standar dan tampak seperti kutu buku, tengah berbincang dengan sahabatnya, Ted, di depan loker. Beberapa orang siswa kemudian menghampiri mereka. Salah satunya Marshall, cowok yang diam-diam disukai oleh Robin. Tanpa diduga, Marshall mengajaknya untuk pergi bersamanya esok malam ke pesta dansa sekolah. Dengan gembira Robin menerimanya.

Sesaat kemudian muncul Lily, yang menabrak Robin seolah tidak melihatnya. Marshall ternyata barusan hanya bercanda karena ia bakal pergi bersama Lily ke pesta dansa. Sambil meneteskan air mata Robin menumpahkan kekesalannya karena diperlakukan sedemikian rupa pada Ted.

Belinda tiba-tiba muncul dan menyerahkan sebuah buku pada Robin. Ted langsung mengenalinya sebagai guru pengganti yang baru. Dengan tersenyum Belinda mengingatkan mereka berdua agar segera masuk kelas karena bel sudah berbunyi. Di saat itu Robin baru menyadari buku yang diberikan oleh Belinda bukanlah buku miliknya yang terjatuh, melainkan sebuah buku dongeng “The Ugly Duckling”.

Robin lantas menghampiri Belinda yang sedang bersiap mengajar matpel kimia. Alih-alih menerima kembali buku tersebut, Belinda justru menanyakan apakah Robin berniat menerima tawaran jika diberi kesempatan untuk berubah dari bebek buruk rupa menjadi angsa yang cantik jelita. Meski kebingungan, Robin mengiyakan. Belinda lalu memberikan sebuah tabung kaca yang berisi cairan berwarna hijau. Ia mengatakan bahwa itu adalah sayap bagi Robin.

Setibanya di rumah, Robin memutuskan untuk meminum cairan tersebut. Karena tidak terjadi apa-apa, ia merasa lagi-lagi tertipu oleh orang lain. Tanpa ia sadari, tetesan cairan tersebut mengenai tanaman di mejanya, dan tanaman tersebut langsung layu.

Esok harinya, Robin terbangun dan mendapati dirinya sudah berubah 180 derajat menjadi sosok wanita yang cantik dan seksi. Tanpa membuang kesempatan, ia segera berdandan maksimal dan bergabung dengan Marshall dkk. Ted yang juga berada di sana ia tinggalkan begitu saja.

Di acara reuni, tanpa disangka Robin kembali bertemu dengan pria berjas hitam sebelumnya. Ia ternyata juga merupakan teman sekolah Robin walau Robin kini sama sekali tidak mengenalinya. Saat menyinggung tentang Marshall, Robin mengaku bahwa ia sudah membuat perhitungan dengannya pada malam dansa waktu itu.

Di pesta dansa sekolah, 10 tahun yang lalu. Robin datang seorang diri. Ted menyambutnya, namun ia acuhkan begitu saja. Alih-alih, Robin sengaja menggoda Marshall dan 2 orang temannya untuk menuju ke luar ruang pesta. Saat hanya tinggal Marshall seorang, Robin meminta agar Marshall melepaskan bajunya dan menemuinya di depan ruang kloset. Tanpa disangka, Robin lantas mengurung Marshall, yang hanya tinggal mengenakan pakaian dalam, di ruang tersebut. Sudah ada pula 2 orang teman Marshall lainnya, juga dalam kondisi serupa.

Beberapa waktu kemudian, saat pintu kloset dibuka oleh orang lain, berita mengenai Marshall yang beradegan gay dengan teman-temannya menjadi bahan pembahasan publik selama berminggu-minggu.

Usai mendengar cerita tersebut, pria berjas hitam lantas memberitahu Robin bahwa ia adalah Ted, kawannya dulu. Melihat penampilan Ted yang sekarang mentereng, Robin girang mengetahui hal tersebut. Ia bahkan tidak menolak saat Ted mengajaknya untuk pulang bersamanya.

Setibanya di kamar apartemen Ted yang mewah, Robin dibuat penasaran dengan kumpulan manekin yang ada di sebuah ruangan. Ia mengira itu semua adalah peraga karya-karya Ted sebagai seorang fashion designer. Saat didekati, Robin baru menyadari bahwa itu bukanlah manekin, melainkan mayat-mayat yang sudah mengering.

Mendadak di belakangnya sudah muncul Ted dengan membawa sebilah pisau. Sejak Robin berubah, Ted rupanya menyimpan dendam kepadanya yang mencampakkan dirinya begitu saja. Tidak hanya pada Robin, namun pada semua wanita yang berperilaku seperti Robin. Ted meyakini bahwa satu-satunya cara untuk ‘membebaskan’ mereka dari jeratan ‘angsa cantik jelita’ adalah dengan membunuhnya. Dan Robin pun akhirnya tewas di tangan Ted.


Yang menarik dari cerita ini adalah terjadinya 2 perubahan sekaligus. Bukan hanya Robin, melainkan Ted, orang terdekat Robin yang ikut mengalami dampak perubahan Robin walau secara tidak langsung. Bedanya, yang satu berubah menjadi lebih baik, yang satu lagi berubah menjadi lebih buruk. Cerita ini mungkin bisa menjadi pengingat bagi diri kita pribadi, bahwa bisa jadi hal kecil yang kita lakukan terhadap orang lain memiliki pengaruh yang besar kepadanya. Bisa saat ini, bisa suatu saat nanti.

Last modified on August 24, 2020 12:55 pm

Share
Cosa Aranda

Cosa Aranda adalah blogger profesional dari kota Surabaya yang sudah berkecimpung di dunia bisnis online sejak tahun 2005. Sempat beberapa kali menjadi pembicara seminar dan mengadakan workshop pada periode tahun 2007-2010. Saat ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggeluti hobi dan passionnya di bidang travelling, hiburan, serta permainan arcade. Bisa ditemui di Facebook jika ingin berkenalan.