Review Komik Grimm Fairy Tales #18 (Zenescope, 2007)

Di cerita sebelumnya, kita dibawa ke salah satu pengalaman Sela Mathers yang membuatnya galau. Ia merasa sudah berhasil menyelamatkan Patricia dari kehancuran melalui dongeng “The Juniper Tree”. Namun hasilnya di luar dugaan. Kematian putri Patricia, Carolyn, yang coba dihindari ternyata tetap terjadi. Ini yang kemudian menjadi salah satu faktor kenapa Sela mulai turun tangan menghukum sendiri orang-orang yang ia anggap bersalah. Lalu berhasilkah Shang mengubah pola pikir Sela yang sudah melenceng dari yang ia harapkan? Simak kelanjutan kisahnya dalam sinopsis komik Grimm Fairy Tales #18 di bawah ini.

Sinopsis Komik *SPOILER*

Review Komik Grimm Fairy Tales #18 (Zenescope, 2007)

This month Zenescope puts the Grimm Fairy Tales twist on the classic story, The Three Billy Goats Gruff. A young boy who is tormented by the school bully learns that sometimes you have to stand up for yourself and fight back, even if it’s a fight you can’t win. But he’s not the only person to learn a valuable lesson from the story. Sela herself learns that things aren’t always as they appear to be and that one person can make a difference in the world if they have the courage to try.

Story: Joe Tyler, Ralph Tedesco
Art: Nathan Watson
Color: Nei Ruffino
Letter: Alphabet Soup’s Mike De Levine
Judul Edisi: Three Billy Goats Gruff
Tanggal Rilis: November 2007

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Shang mengingatkan Sela bahwa ia tidak bertanggung jawab atas pilihan yang diambil oleh orang-orang yang ia bantu. Sela juga tidak boleh mengharapkan mereka selalu memilih jalan yang benar. Sela berdalih, mempertanyakan buat apa ia diberi kekuatan apabila tidak bisa melakukan hal tersebut. Yang ia tahu, tidak sedikit orang-orang yang berbuat kesalahan menolak untuk merubah hidupnya walau sudah diberi petunjuk melalui dunia dongeng.

Shang mengatakan bahwa tidak semua efek dari tindakan Sela akan langsung terlihat. Bisa saja perubahan yang terjadi BUKAN pada orang yang bersangkutan, melainkan pada orang lain di sekitarnya. Untuk membuktikannya, Shang mengajak Sela kembali ke masa lalu dan melihat salah satu hal yang pernah ia lakukan.

Seorang anak laki-laki bernama David yang bicaranya gagap untuk kesekian kalinya digebukin oleh sekelompok pem-bully di taman. Mereka hanya memperbolehkan David lewat apabila ia membawa sejumlah uang sebagai upeti.

Beberapa waktu kemudian, David terlihat sedang duduk dengan murung di ayunan saat Sela datang menghampirinya. Sela menawarkan bantuan pada David. Tidak dalam bentuk fisik, melainkan melalui sebuah dongeng.

Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa kecil di tengah daratan yang dipenuhi oleh monster dan makhluk magis, tinggallah seorang anak laki-laki bernama David. Ia tengah menguping pembicaraan warga desa mengenai troll (saya tidak tahu padanannya dalam bahasa Indonesia) yang tinggal di dekat jembatan dan baru saja memangsa sekelompok warga dari desa lain. Tiba-tiba ibunya memanggil dan memerintahkan David untuk mengantarkan tiga ekor kambing ke peternakan pamannya yang ada di desa seberang. Ibunya juga meminta David untuk mengajak adik perempuannya, Anna.

Melewati jembatan, sesuai rumor, muncullah sosok troll yang menghadang mereka. David segera mengajak Anna berlari menyeberang. Sayangnya, Anna terlambat. Karena takut, ia hanya terpaku di tempatnya dan kini berada tepat di hadapan si troll.

Troll mempersilahkan David untuk pergi apabila tidak ingin bernasib tragis seperti Anna. David yang awalnya ketakutan tidak mau membiarkan terjadi apa-apa pada adiknya. Alih-alih kabur, ia memutuskan untuk memasang kuda-kuda sembari mengeluarkan pedang yang ia bawa di pinggangnya.

Tanpa banyak membuang waktu, David lantas melompat ke arah troll dan menyerangnya. Pertarungan keduanya berlangsung sengit. Setelah memastikan Anna sudah berhasil kabur, David makin habis-habisan menghadapi si troll. Tanpa disangka, ia mampu mengalahkannya.

Kembali ke desa, David dielu-elukan sebagai pahlawan. Di hari itu, ia tidak hanya berhasil mengalahkan rasa takutnya. Segalanya berubah total. Dan menurut cerita, di masa mendatang anak laki-laki itu tumbuh dewasa menjadi seorang pemimpin yang hebat.

Sela menutup ceritanya dengan sebuah wejangan. Bagaimana pun, David harus berdiri tegak dan menghadapi para pembully yang selalu mengganggunya itu. Ia mungkin tidak akan menang menghadapi mereka, namun yang pasti, jika David melakukannya, ia telah menang atas rasa takut dalam dirinya.

Sejak saat itu, David selalu melawan saat di-bully. Meski dihajar habis-habisan oleh pentolan pembully yang bernama Jeremy, David pantang mundur. Setidaknya satu pukulan berhasil ia daratkan ke tubuh Jeremy setiap kali mereka bertarung.

Ujung-ujungnya Jeremy dkk merasa bosan. Tidak asyik lagi bagi mereka untuk mem-bully orang yang selalu melawan balik. Apalagi David menyatakan dengan gamblang bahwa ia tidak akan pernah lagi merasa takut pada Jeremy. Jeremy pun pada akhirnya memutuskan untuk tidak lagi mengganggu David dan membiarkannya lewat di taman kapan saja.

Waktu berlalu. Saat ini David berusia 19 tahun dan ia menjadi salah satu prajurit yang ditugaskan di medan perang. Keberanian masih terus tertancap di dadanya, termasuk ketika sebuah granat tiba-tiba terlontar di samping dirinya dan kawannya, Marcus. Tanpa ragu, demi menyelamatkan rekannya, David melompat dan menutupi granat tersebut dengan tubuhnya. Ia tewas dan memperoleh medali kehormatan atas tindakannya itu.

Sela merasa hal itu makin membuktikan bahwa apa yang sudah ia lakukan sia-sia. David tetap saja mati walau dengan kondisi yang berbeda. Dengan tenang Shang mengajak Sela untuk menyaksikan apa yang kemudian terjadi pada Marcus.

Lima tahun setelah kembali dari medan perang. Suatu hari, Marcus memutuskan untuk naik kereta subway ketimbang berjalan kaki 12 blok seperti yang acap ia lakukan setiap hari. Di saat bersamaan, ada seorang mahasiswa muda yang menderita epilepsi tengah menunggu kereta di peron. Tanpa disangka, penyakitnya tiba-tiba kambuh dan mahasiswa tersebut terjatuh ke jalur rel. Marcus yang melihatnya, terpengaruh oleh aksi heroik David beberapa tahun lalu, dengan sigap melompat ke tempat yang sama, mendorong tubuh mahasiswa tersebut ke dalam lubang rel, dan menutupinya dengan badannya sendiri.

Sesaat kemudian kereta melintas. Marcus dan mahasiswa tersebut selamat. Aksi David dahulu ternyata berhasil menginspirasi seluruh rekan-rekannya. Pun begitu dengan apa yang barusan dilakukan oleh Marcus. Tidak hanya menginspirasi warga kota yang melihat langsung maupun mengetahui beritanya di media, ia juga mematri perbuatannya itu ke dalam hati mahasiswa yang ia tolong. Mahasiswa yang belakangan diketahui sebagai murid sebuah sekolah film dan di masa mendatang menjadi salah satu sutradara film terbaik di jamannya. Beberapa karya populernya adalah film-film yang mengajarkan tentang keberanian dan kepahlawanan.

Sela tertunduk malu mengetahui hal itu dari Shang. Ia mulai menyadari kesalahannya. Shang tidak mempermasalahkannya karena manusia sudah sewajarnya berbuat salah. Yang terpenting adalah kini Sela mengetahui hal tersebut dan ia mau berubah.


Sebuah penutup volume 3 dari Grimm Fairy Tales yang lumayan menyentuh. Banyak hal yang bisa diambil dari trilogi kisah Sela Mathers ini. Yah sebenarnya hanya 2 edisi terakhir saja sih, wong bagian pertama dari trilogi tersebut lebih banyak fans service ketimbang ceritanya, hehehe.

Perlukah untuk disimpulkan pesan-pesan moral yang ada? Rasanya tidak. Semua sudah cukup jelas. Bola kini ada di tangan kita. Apakah hendak berubah menjadi lebih baik dengan menerima pesan-pesan tersebut, atau cuek saja tetap melakukan hal-hal yang bertentangan dengan moral.

Semoga bermanfaat.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply