Review Komik Grimm Fairy Tales #14 (Zenescope, 2007)

Di cerita sebelumnya, pasca membaca dongeng “Beauty And The Beast”, Jenna Washington memutuskan untuk meninggalkan Drew Peirce, kekasihnya yang posesif, dan beralih pada Steve Brooks, pria tampan pelanggan bar tempat Jenna bekerja yang terlihat lebih lembut dan pengertian kepadanya. Namun Drew tidak mau melepaskan Jenna begitu saja. Ia berjanji akan merebut kembali Jenna karena yakin mereka berdua ditakdirkan untuk bersama. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Simak akhir kisah mereka dalam sinopsis komik Grimm Fairy Tales #14 berikut ini.

Sinopsis Komik *SPOILER*

Review Komik Grimm Fairy Tales #14 (Zenescope, 2007)

Drew’s gorgeous girlfriend, Jenna, has finally left him and his abusive ways behind as she finds happiness in another man’s arms. But the vengeful Drew is not about to let the happy couple live happily ever after.
Meanwhile an enraged Beast searches for his Beauty after she was rescued from his estate. The Beast’s plan is to take Jesabel back no matter what the cost and he knows that means nothing short of death and destruction on his path to find her. Not even Sela herself can predict how this intense saga will end.

Story: Joe Brusha, Ralph Tedesco
Art: Tommy Castillo
Color: Mark McNabb
Letter: Artmonkeys
Judul Edisi: Beauty and the Beast II
Tanggal Rilis: April 2007

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Masa kecil Drew bukanlah masa-masa yang menyenangkan. Ayahnya suka menyakiti ibunya. Pengalaman melihat sendiri kejadian tersebut membuat Drew tumbuh dewasa menjadi sosok yang penuh kebencian.

Usai mengkonfrontasi Jenna dan Steve di bar, Drew pulang kembali ke rumah. Ia mengambil pistol dan berniat untuk membunuh Steve. Saat hendak kembali ke bar, Drew menemukan sebuah buku dongeng di depan pintunya. Halaman yang terbuka adalah mengenai cerita “Beauty And The Beast”.

Beast a.k.a Edmund Munroe berniat untuk merebut kembali Jesabel. Ia melacak jejak George dan pasukannya di dalam hutan hingga tiba di benteng yang ada di ujung hutan tersebut. Tiba-tiba di hadapannya muncul sosok wanita yang memberikan kutukan kepadanya. Ia mencoba mengingatkan bahwa waktu yang dimiliki Edmund tinggal sedikit dan masih ada kesempatan baginya untuk menghilangkannya dengan mencari cinta sejati dari wanita lain. Edmund menolak karena yakin bahwa hal tersebut bisa ia dapatkan dari Jesabel. Terlebih ia merasa George dkk telah merampas satu-satunya harta berharga yang ia miliki saat ini.

Kedatangan Edmund ke benteng disambut oleh hujan panah. Pun begitu, Edmund sama sekali tidak gentar. Selangkah demi selangkah ia mendekat dan masuk ke dalam benteng. Semua pasukan yang menghadangnya ia habisi tanpa ampun. Hingga kini tersisa George seorang. Dan setelah melalui pertarungan sengit, George akhirnya tewas di tangan Edmund.

Jesabel yang melihatnya mencoba untuk kabur. Ia berlari dan tiba di atas tembok benteng. Edmund mencoba meyakinkannya bahwa ia bisa memberikan apapun yang diinginkan Jesabel. Jesabel menolak, lantas bunuh diri dengan cara melompat ke bawah. Ia terjatuh tepat di samping George dan tewas seketika.

Dengan jatuhnya kelopak bunga mawar terakhir, kutukan pada Edmund menjadi permanen. Tubuhnya sampai kapan pun bakal seperti sekarang, buruk rupa bagai monster mengerikan.

Membaca dongeng tersebut ternyata tidak membuat Drew berubah pikiran. Begitu bertemu dengan Steve dan Jenna, ia langsung menghajar Steve habis-habisan. Saat hendak membunuhnya, Jenna mencoba membujuknya. Ia tahu masa lalu Drew yang kelam sehingga ia yakin bukan sepenuhnya salah Drew kenapa dirinya sekarang menjadi seperti itu.

Drew terdiam. Ia menerima apa yang barusan dikatakan Jenna. Kendati demikian, ia merasa dirinya sudah tidak mungkin berubah. Setelah meminta maaf, tiba-tiba Drew menarik pelatuk pistol yang ia bawa dan bunuh diri tepat di hadapan Jenna.

Dari kejauhan Jenna menyatakan bahwa tidak seharusnya kejadian tersebut berakhir seperti itu. Ia mulai merasa sia-sia membantu orang lain sementara orang tersebut sama sekali tidak menghargai diri mereka sendiri.


Sebuah akhir cerita yang tragis dan agak tidak terduga. Saya bahkan sulit menemukan pesan moral yang coba disampaikan di dalamnya. Apa mungkin memang tidak ada?

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply