Review Komik Grimm Fairy Tales #12 (Zenescope, 2006)

Di cerita sebelumnya, kita diajarkan mengenai pentingnya menjaga kepercayaan. Ditambah pula dengan untuk tidak menerima mentah-mentah apa yang terlihat di depan mata. Sebuah pesan moral yang rasanya cukup berguna bagi kehidupan kita. Inilah salah satu alasan saya menyukai serial komik “Grimm Fairy Tales”. Di luar cover yang menggoda iman serta ceritanya yang twisted, ada nasehat-nasehat bijak yang bisa diserap. Tidak terkecuali di edisi #12 berikut ini. Simak lah buruan sinopsisnya di bawah.

Sinopsis Komik *SPOILER*

Review Komik Grimm Fairy Tales #12 (Zenescope, 2006)

A businessman is being investigated for extortion so he decides the best way to rid of his problem is to employ the services of a ruthless killer. But when the assassin finishes his job and doesn’t get his payment in full there will be hell to pay…

A peaceful small town finds itself being terrorized by enormous rats that have flooded the streets. And when residents find they cannot control the problem they call on the mysterious Pied Piper who claims he can rid of the vermin for a very steep price. But when the piper delivers and the town reneges on its payment it sparks the most terrifying revenge a town could have ever imagined.

Zenescope brings you one of their most stunning fables to date… It’s time to pay the Piper!

Story: Ralph Tedesco, Joe Tyler
Art: Randy Nunley
Color: Renne Stefani
Letter: –
Judul Edisi: The Pied Piper of Hamelin
Tanggal Rilis: Februari 2007

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Chad mengkonfrontasi saudaranya, Neal, yang selama ini diam-diam menggelapkan uang perusahaan yang nilainya hampir mencapai 1 juta dolar. Rekan Neal, Abram, ternyata melaporkan aksi Neal tersebut ke pihak berwajib. Pun begitu, Neal meminta Chad untuk tenang karena ia sudah mengatur rencana untuk menyingkirkan Abram. Meski sempat ragu, Chad akhirnya mengikuti rencana saudaranya itu. Ia tidak mau nantinya Mark, putranya, kehilangan figur ayah.

Malam harinya, di sebuah bar, Neal menceritakan secara lebih detil mengenai rencananya. Ia sudah menyewa orang untuk membunuh Abram. Orang tersebut meminta bayaran setengah juta dolar, namun Neal sama sekali tidak berminat membayar sebanyak itu. Ia sudah mengatur rencana lain agar hanya membayar separuhnya saja.

Tiba-tiba seorang wanita menghampiri Chad. Ia adalah Sela, yang tanpa banyak basa-basi menyerahkan sebuah buku pada Chad. Neal yang menganggapnya wanita penghibur langsung mengusir Sela pergi. Sepeninggal Sela, Chad jadi penasaran dengan buku yang barusan ia tinggalkan. Dan yang terbuka adalah halaman mengenai dongeng “The Pied Piper”.

Sebuah kota kecil diserang wabah tikus berukuran raksasa. Keganasan kawanan tikus tersebut membuat penduduk kota kewalahan. Salah satu warga menyarankan mereka menyewa jasa Pied Piper, yang terkenal ampuh dalam mengusir hama tikus. Namun biayanya tidak murah. Hal itu membuat sebagian besar warga keberatan. Kakak beradik Nathan dan Charles (salah satunya sepertinya merupakan walikota) kemudian mengusulkan agar mereka menyewa jasanya terlebih dahulu, baru setelah itu memikirkan masalah pembayarannya.

Sesuai rencana, esok harinya Nathan dan Charles bertemu dengan Pied Piper. Mereka memastikan sudah paham mengenai persyaratan yang diminta olehnya. Setelah mendengarnya, tanpa membuang waktu Pied Piper mulai bersiap-siap.

Yang mula-mula ia lakukan adalah berdiri dengan tenang menunggu hadirnya kawanan tikus raksasa. Begitu mereka muncul, dengan tenang ia mulai meniup alat musik yang ia bawa. Secara ajaib, tikus-tikus itu terdiam mendengar alunan musik Pied Piper. Mereka bahkan mulai mengikuti langkah Pied Piper pergi menjauh dari kota.

Esok harinya, Pied Piper kembali menemui Nathan dan Charles. Dengan beribu alasan, Nathan hanya memberikan sebagian dari bayaran yang diminta oleh Pied Piper. Meski tampak kecewa, Pied Piper menerimanya dan pergi meninggalkan mereka.

Sepeninggal Pied Piper, Nathan menyatakan bahwa sebagian dari jatah bayaran Pied Piper akan mereka simpan sendiri. Charles sempat menolak, namun Nathan meyakinkan bahwa mereka berdua berhak untuk itu.

Malam harinya, tanpa diketahui warga kota, Pied Piper datang ke kota. Ia kembali meniupkan alat musiknya. Yang ikut dengannya kali ini bukan tikus, melainkan semua anak-anak di sana.

Esok harinya, seluruh kota heboh dengan menghilangnya anak-anak mereka. Begitu tahu Pied Piper pelakunya, Nathan segera mengutus seseorang untuk menemui Pied Piper dan menyerahkan sisa bayaran yang kemarin tidak ia berikan.

Cara itu sepertinya berhasil. Beberapa waktu kemudian satu demi satu anak-anak penduduk kota kembali ke keluarga masing-masing. Tapi dugaan mereka salah. Pied Piper tidak mengembalikan mereka begitu saja. Setiap anak sudah disihir sedemikian rupa sehingga di malam hari mereka berubah menjadi tikus-tikus raksasa.

Usai membaca dongeng tersebut, Chad menjadi bimbang. Ia meminta Neal untuk membatalkan rencananya. Neal menjawab bahwa hal itu sudah terlambat. Sebaliknya, ia memastikan semua bakal baik-baik saja.

Beberapa hari kemudian, Chad menerima telpon dari seseorang. Ternyata yang menghubungi adalah orang yang disewa untuk membunuh Abram. Ia menuntut sisa bayaran yang dijanjikan kepadanya. Chad mengaku tidak tahu menahu mengenai hal itu. Namun demikian, si pembunuh bayaran tidak peduli. Ia meminta Chad untuk memeriksa kardus yang sudah ia taruh di depan pintu. Saat dibuka, isinya adalah dua daun telinga Neal. Tidak itu saja, ada baju Mark yang ternyata sudah lebih dulu diculik oleh orang tersebut.


Untuk pertama kalinya penghujung halaman kisah Grimm Fairy Tales tidak benar-benar tuntas. Tidak diketahui nasib Chad selanjutnya, apakah bakal sanggup menebus anaknya yang diculik atau mungkin malah akan menemui ajalnya bersama Neal. Tapi yah, sesuai dengan yang saya harapkan sih. Adanya ending lain selain yang sudah pasti bahagia atau sudah pasti tragis. Cuman kalau abu-abu gini jadi gregetan juga, hehehe.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply