Review Komik DCeased: The Unkillables #1 (DC Comics, 2020)

Mini seri 6 edisi DCeased yang telah berakhir tahun lalu ditutup dengan kepergian beberapa superhero dan penduduk bumi yang tersisa ke planet lain untuk memulai hidup mereka yang baru. Batman dan Wonder Woman sudah menjadi korban dari virus Anti-Life, pun begitu dengan Superman. Cyborg yang kemudian menyadari bahwa infeksi virus tersebut bisa disembuhkan keburu tewas di tangan Wonder Woman yang kini ikut menjadi zombie. Namun cerita tidak berakhir begitu saja di sana. Di tahun 2020, DC Comics menghadirkan tiga seri kelanjutannya yang diberi tajuk “DCeased: The Unkillables”. Dan inilah, sinopsis serta review singkat dari bagian pembukanya. Cekidot!

Sinopsis Komik *SPOILER*

The blockbuster DC series returns to answer this question: What did the villains do when the heroes failed and the world ended? Spinning out of the dramatic events of 2019’s smash hit, writer Tom Taylor returns to this dark world with a street-level tale of death, heroism and redemption. Led by Red Hood and Deathstroke, DC’s hardest villains and antiheroes fight with no mercy to save the only commodity left on a dying planet of the undead—life!

Story: Tom Taylor
Art: Karl Mostert (Pencils) / Trevor Scott, Neil Edwards, John Livesay (Inks)
Color: Rex Lokus
Letter: Saida Temofonte
Judul Edisi: Part 1
Tanggal Rilis: 19 Februari 2020

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Hari pertama virus Anti-Life. Di Kentucky. Seseorang menyewa Deathstroke (Slade Wilson) untuk membunuh sekelompok orang yang ada di sana. Tiba di rumah tujuan, tanpa disangka yang dihadapi Deathstroke adalah sekelompok manusia yang sudah terinfeksi virus Anti-Life. Deathstroke memang dengan mudah bisa menghadapi mereka, namun sebuah panggilan telepon pada akhirnya membuat dirinya ikut terinfeksi.

Hari kedua virus Anti-Life. Kesadaran Deathstroke kembali dan tiba-tiba ia sudah berada di tengah kota dengan para manusia ‘zombie’ berkeliaran di sekitarnya.

Sementara itu, di kota Gotham, Red Hood (Jason Todd) tiba di Bat Cave. Ia kaget mendapati tubuh ketiga orang rekannya — Batman, Robin, dan Nightwing — yang sudah terbujur kaku dengan bersimbah darah. Setelah sempat bertemu dengan Ace, anjing German Shepherd milik Batman, Jason menguburkan ketiganya dengan layak di dalam gua. Ia pun kemudian pergi mencari keberadaan anggota keluarga Batman yang masih terdeteksi bernyawa dengan menggunakan Bat mobile. Ace ikut bersamanya.

Malam harinya, Slade menghubungi putrinya, Ravager (Rose Wilson), dan mengatakan akan segera menjemputnya. Man-Bat yang sudah terinfeksi sempat menyerang Slade, namun dirinya masih baik-baik saja. Rose yang melihat Man-Bat menggigit ayahnya, mengira ayahnya sudah ikut terinfeksi dan bersiap untuk membunuhnya. Untung Slade berhasil meyakinkannya bahwa dirinya baik-baik saja alias kebal terhadap virus Anti-Life.

Sesaat kemudian Mirror Master (McCulloch) muncul dari kaca helipkoter yang sebelumnya ditumpangi Slade untuk menjemput Rose. Ia mengaku sebagai utusan Vandal Savage yang diminta untuk menjemput keduanya agar bergabung dengan Vandal dkk. Setelah menerima kacamata anti virus, keduanya pun pergi bersama Mirror Master hingga akhirnya tiba di Tree Lobster.

Vandal Savage menyambut keduanya. Ia kemudian memperkenalkan Slade dan Rose dengan orang-orang lain yang telah ia kumpulkan sebelumnya. Mereka adalah Solomon Grundy, Creeper, Cheetah, Captain Cold, Lady Shiva, Deadshot, dan Bane. Vandal Savage menyatakan bahwa ia mengumpulkan mereka semua karena masing-masing memiliki kemampuan yang bisa dimanfaatkan bersama untuk bertahan hidup.

Di Gotham City Police Department, komisaris Jim Gordon, detektif Harvey Bullock, dan Batgirl (Cassandra Cain) terlihat sedang berjibaku melawan serbuan sekelompok zombie. Sayangnya, Bullock terkena gigitan salah satu di antaranya dan terpaksa dihabisi oleh Batgirl.

Tak lama kemudian, Bat mobile menerobos masuk ke dalam bangunan dan Jason keluar dari dalam kendaraan tersebut. Tanpa banyak basa-basi, ia meminta keduanya untuk masuk ke dalam dan ikut bersamanya. Setelah membuka identitas dirinya dan juga Cassandra, Jason menyatakan bahwa hanya mereka bertiga rekan Batman yang masih tersisa di Gotham. Gordon tidak percaya bahwa putrinya, Barbara Gordon (Batwoman), telah tewas. Mau tidak mau Jason membawa Gordon ke TKP agar ia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri.

Jason sempat kesal melihat tubuh Joker yang sudah tak bernyawa tergeletak di sana. Ia lantas melampiaskannya dengan meletakkan tubuh Joker di bagian depan Bat mobile.

Hari ketiga virus Anti-Life. Jason dkk tiba di kota Bludhaven. Mereka melihat adanya konsentrasi kawanan zombie ke sebuah gedung yang ada di wilayah pinggiran. Penasaran, mereka lantas menerobos masuk dan menemukan sekelompok anak kecil di sana yang dipimpin oleh Levitia. Bangunan tersebut ternyata sebuah panti asuhan.

Setelah masing-masing memperkenalkan diri, Gordon memutuskan bahwa mereka akan tinggal di sana untuk membantu anak-anak tersebut bertahan.


Sejujurnya, bagian pertama dari The Unkillables ini tidak begitu menarik perhatian saya. Justru bagian keduanya yang akan menyusul saya sajikan reviewnya besok yang sukses membuat hati saya berubah. Tapi Tom Taylor memang cukup cerdik di sini. Setelah menghabisi sebagian besar good guys di DCeased, di sini ia memilih untuk mengusung deretan anti-hero dan supervillain sebagai tokoh utamanya. Dan, yah, saya rasa ia cukup berhasil melakukannya.

Meski kisah ini bukanlah cannon, banyak hal-hal menarik yang bisa ditemui. Terkhusus bagi para fans Batman dan dunianya. Kekesalan Jason karena tidak bisa membunuh Joker dengan tangannya sendiri misalnya. Pada akhirnya keputusan Jason menjadikan mayat Joker sebagai pajangan di bagian depan Bat Mobile terasa kocak sekaligus bisa dimaklumi.

Gak sabar sih pengen liat bakal dibawa kemana alur cerita miniseri komik ini.

Last modified on March 24, 2020 12:42 pm

Share
Cosa Aranda

Cosa Aranda adalah blogger profesional dari kota Surabaya yang sudah berkecimpung di dunia bisnis online sejak tahun 2005. Sempat beberapa kali menjadi pembicara seminar dan mengadakan workshop pada periode tahun 2007-2010. Saat ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggeluti hobi dan passionnya di bidang travelling, hiburan, serta permainan arcade. Bisa ditemui di Facebook jika ingin berkenalan.