Review Komik Batman: Last Knight On Earth #1 (DC Comics, 2019)

Pertengahan tahun ini penggemar komik DC Comics sepertinya bakal benar-benar dimanjakan dengan hadirnya aneka cerita seru, baik dalam bentuk cross-over event maupun miniseri. Mulai dari DCeased, Year of The Villain (yang saya tunggu-tunggu), hingga Event Leviathan. Dan masih ada satu lagi yang tidak kalah menariknya, miniseri “Batman: Last Knight On Earth” keluaran DC Black Label. Seperti apa ceritanya?

Sinopsis Komik *SPOILER*

Review Komik Batman: Last Knight On Earth #1 (DC Comics, 2019)

Bruce Wayne wakes up in Arkham Asylum. Young. Sane.

And…he was never Batman.

So begins this sprawling tale of the Dark Knight as he embarks on a quest through a devastated DC landscape featuring a massive cast of familiar faces from the DC Universe. As he tries to piece together the mystery of his past, he must unravel the cause of this terrible future and track down the unspeakable force that destroyed the world as he knew it…

From the powerhouse creative team of writer Scott Snyder and artist Greg Capullo, the team that reinvented Batman from the emotional depths of “Court of Owls” to the bombastic power of DARK NIGHTS: METAL, DC Black Label is proud to present the bimonthly, three-issue miniseries BATMAN: LAST KNIGHT ON EARTH, published at DC’s standard comic trim size.

This could be the last Batman story ever told…

Story: Scott Snyder
Art: Greg Capullo, Jonathan Glapion
Color: FCO Plascencia
Letter: Tom Napolitane
Judul Edisi: –
Tanggal Rilis: 30 Mei 2019

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Part One. The Cave.

Selama hampir setahun belakang, Batman menyelidiki sebuah kasus yang misterius. Bahkan sebenarnya belum ada korban, mayat, tindak kejahatan nyata, dan petunjuk mengenai penjahat yang ada di baliknya. Yang membuat Batman penasaran adalah coretan kapur yang dibuat sejengkal demi sejengkap setiap harinya, hingga akhirnya, saat Batman memeriksanya melalui satelit, coretan kapur tersebut menggambarkan tubuh Batman yang sedang terbaring di tanah.

Seperti coretan kapur yang biasanya dibuat oleh pihak kepolisian untuk mayat di TKP pembunuhan.

Yang lebih mengejutkan lagi, posisi jantung Batman apabila dianalisa dari gambar tersebut adalah tepat berada di Crime Alley, spot dimana kedua orang tuanya dulu dibunuh.

Tiba di sana, Batman mendapati seorang anak kecil berpakaian jas dan mengenakan payung. Hujan memang sedang turun saat itu. Alfred mencoba mengingatkan Batman untuk berhati-hati. Namun Batman tidak menghiraukannya. Saat payung diangkat, terlihat sosok wajah yang benar-benar pucat dan kering, seperti sudah terkena dehidrasi berhari-hari.

Batman segera meminta Alfred untuk menghubungi pihak kepolisian. Sesaat kemudian, anak tersebut mengeluarkan pistol dan menembakkannya tepat ke arah Batman.

Bruce Wayne terbangun dan mendapati dirinya sedang berusaha di sebuah rumah sakit. Wajahnya terlihat kembali muda. Yang membuatnya panik adalah sosok dokter dan pegawai rumah sakit yang serupa dengan para supervillain yang pernah ia hadapi. Ada Joker, Harley Quinn, The Riddler, dan lain-lain.

Tak lama kemudian Alfred mendatanginya. Alfred senang karena setelah belasan tahun akhirnya Bruce benar-benar tersadar. Ia lantas menjelaskan bahwa semua itu bermula saat Bruce membunuh kedua orang tuanya sendiri. Sejak itu Bruce menjadi semacam berhalusinasi dan menganggap orang lain sebagai penjahat. Bruce juga telah menciptakan kostumnya sendiri untuk itu, kombinasi strap jacket serta helm shock theraphy yang sepintas mirip dengan topeng Batman.

Usai menjelaskan semuanya, Alfred meminta Bruce untuk menerima kenyataan tersebut agar mereka bisa bersama-sama kembali ke rumah. Bruce menolak dan meminta Alfred untuk menyerahkan kostum tersebut.

Part Two. The Right Hand.

Setelah mengenakan kostumnya, dalam waktu singkat Bruce mulai melumpuhkan satu persatu pegawai yang ada di rumah sakit, termasuk para penjaga keamanan, Sergeant Bullock dan Captain Gordon. Di saat tersisa beberapa orang dan posisi Bruce terjepit, ia menyatakan bahwa ia tidak akan menyerah karena sudah tahu rahasia yang disembunyikan Alfred.

Alfred lantas mengaku bahwa ia sengaja melakukan semua itu, membuat simulasi virtual bagi Bruce, karena dunia di luar sana sudah jauh berubah. Semuanya sudah menghilang. Begitu pula dengan rekan-rekan Batman sesama superhero.

Tanpa menjelaskan lebih lanjut penyebabnya, Alfred yang sebenarnya sudah uzur, menolak ajakan Bruce untuk membantunya. Ia sadar diri sudah tidak punya tenaga untuk itu. Alih-alih, Alfred meminta Bruce untuk memeluknya untuk yang terakhir kalinya.

Di sebuah padang pasir, Batman yang tengah berjalan ke suatu tempat menemukan sebuah lentera dengan kepala Joker berada di dalamnya. Tidak itu saja, kondisi kepala Joker seolah tidak ada bedanya dengan saat ia masih hidup. Ia masih bisa berbicara dengan normal, walau sama sekali tidak ingat apa yang terjadi. Joker lalu meminta Batman untuk membawanya karena ia yakin pastinya akan ada sesuatu yang ia ingat nanti.

Part Three. The Asylum.

2 hari kemudian, Batman dan (kepala) Joker tiba di Coast City. Kota yang sebelumnya merupakan tempat tinggal Hal Jordan (Green Lantern) kini telah luluh lantak. Joker menceritakan bahwa saat itu cincin Green Lantern berjatuhan di sana dan digunakan oleh sembarang orang. Tiga diantaranya muncul dan langsung menyerang Batman dan Joker.

Di saat terdesak, seseorang muncul menyelamatkan mereka. Saya lupa namanya. Yang pasti ia muncul dari balik kendaraan baja yang tidak terlihat dan segera meminta Batman untuk masuk. Ada Poison Ivy (Pamela Isley) di balik kursi pengemudi. Namun begitu tahu yang barusan masuk adalah Batman, Pamela langsung menghantamnya hingga pingsan.

Part Four. Echolocation.

Bruce terbangun. Sesaat kemudian muncul Wonder Woman (Princess Diana) yang langsung membebaskannya. Diana lantas mengajaknya berjalan sembari menjelaskan apa yang terjadi.

Saat ini mereka tengah berada di Gemworld, dimensi yang tersembunyi jauh di bawah tanah. Hanya tersisa seratus ribuan warga sipil dan beberapa orang superhero saja. Diana meminta Bruce untuk membantu melindungi mereka.

Semuanya ternyata bermula dari pengumuman Lex Luthor bahwa dunia berada di ambang kehancuran. Sumber daya menipis. Pemerintah mencoba menenangkan masyarakat, namun Lex memprovokasi mereka hingga akhirnya pemerintahan lumpuh.

Justice League lantas mengadakan rapat dan setuju untuk membuka pintu bagi warga sipil untuk bertahan hidup di sana. Siapa sangka, orang-orang yang panik itu justru mengeroyok para superhero yang ada. Batman, Aquaman, Green Arrow, dan Black Canary adalah 4 di antaranya yang tewas terlebih dahulu.

Tidak berhenti sampai di sana. Lex yang awalnya mengira ia sudah menang membuat blunder. Seperti yang biasa terjadi di komik-komik survival, sulit untuk mengontrol perilaku orang yang dalam keadaan panik, putus asa, dan ingin bertahan hidup. Tidak hanya para superhero, supervillain pun satu persatu tewas di tangan warga sipil.

Di tengah-tengah kekacauan, muncul satu sosok jahat yang menamakan dirinya Omega. Para superhero dan supervillain yang tersisa bekerja sama untuk mengalahkannya, namun sia-sia. Usaha tersebut sia-sia. Omega bahkan dikabarkan memiliki Anti-Life Equation dan mampu menggunakannya untuk mengontrol pikiran banyak orang sekaligus.

Pada akhirnya, Wonder Woman membawa orang-orang yang tersisa bersamanya ke Gemsworld.

Sosok Bruce yang ada sekarang sendiri sebenarnya adalah hasil clone dari mesin kloning yang sudah pernah ia buat. Alfred yang mengeksekusinya, sekaligus meminta ijin pada Wonder Woman untuk ‘menjaga’ Batman di dunia virtual.

Usai mendengar penjelasan Wonder Woman, Bruce mengungkapkan keinginannya untuk mengalahkan Omega. Wonder Woman menolak. Ia memberitahu Bruce bahwa kemungkinan besar sosok Omega adalah salah satu dari anak didik Batman. Setelah memberikan koper berisi kostum lama Batman dan sekali lagi mengajak Bruce untuk ikut serta dengan mereka untuk pindah ke Underworld yang menurutnya jauh lebih aman, Wonder Woman pergi meninggalkannya.

Esok harinya, Wonder Woman mendapati koper yang sebelumnya ia berikan pada Bruce sudah kosong. Tahu pilihan yang diambil Batman, keputusan Wonder Woman tidak berubah. Ia tetap akan menuju Underworld bersama yang lain.

Sementara itu, Batman terlihat sedang berjalan di padang pasir bersama dengan (kepala) Joker.


Jujur, awalnya saya pikir ceritanya bakalan membosankan. Kisah klise tentang Batman yang kehilangan ingatannya atau dipengaruhi pikirannya sehingga apa yang terjadi hanyalah ada dalam mimpinya saja. Tetapi begitu memasuki bagian kedua (Book Two), semua tudingan buruk tersebut langsung sirna. Ini ceritanya keren bangettt. Literally, Batman sepertinya bakal benar-benar jadi satu-satunya superharo / pahlawan yang tersisa di bumi. Dalam keadaan dunia yang sudah hancur lebur pula. Asli gak sabar untuk baca kelanjutannya.

Di luar artworknya yang tidak kalah kerennya dengan alur cerita, ada satu bagian yang mengganjal sih. Bagian dimana warga sipil bisa seolah dengan mudahnya membunuh para superhero dan supervillain. Memang tidak dijelaskan dengan pasti siapa siapa saja yang tewas di tangah orang biasa dan siapa saja yang dibunuh oleh Omega. Tapi tetap saja.

Apalagi diceritakan yang dihabisi pertama adalah Batman. Bukankah dia seharusnya orang yang paling siap untuk hal-hal semacam itu? Lah bolak-balik diceritakan dikeroyok penjahat aja masih bisa selamat TANPA harus membunuh penjahatnya kok. Aneh kan jadinya?

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , , ,

Reply