Review Komik Amber Blake #3 (IDW, 2019)

Di cerita sebelumnya, hubungan Amber dengan Matt menjadi semakin intim. Sementara itu, misi mereka di Tokyo berjalan di luar rencana. Untunglah mereka berdua masih bisa mengatasinya. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Simak jawabannya dalam sinopsis komik Amber Blake #3 berikut ini ya.

Sinopsis Komik *SPOILER*

Review Komik Amber Blake #3 (IDW, 2019)

Amber Blake is a woman on a mission. She’s going to destroy everyone who has hurt the people she loves. But not all is as it seems, and some of her allies have agendas of their own…

Story: Jade Lagardere
Art: Butch Guice
Color: –
Letter: Christa Miesner, Robbie Robbins
Judul Edisi: –
Tanggal Rilis: 30 Mei 2019

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Peter Arg kesal dengan misi Matt dan Amber yang berantakan. Terlebih, kode brankas yang mereka dapatkan dari misi tersebut tidak lagi berguna. Sembari mengingatkan agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi, Arg memberikan misi selanjutnya pada Amber dan Matt, yang akan mengambil tempat di New York. Mereka diminta untuk membongkar kedok agensi model Two Models pimpinan Scott O’Connor yang sebenarnya bermain di bisnis narkoba dan prostitusi.

Berperan sebagai model membuat Amber teringat akan sahabatnya di Cleverland yang telah meninggal, Amanda. Ia masih ingat bahwa Amanda ingin sekali model terkenal dan bisa berkeliling dunia. Ia sempat meminta Matt untuk menghiburnya di ranjang, namun Matt menolak dengan alasan mereka tidak seharusnya mencampuradukkan antara urusan personal dengan bisnis.

Saat Amber sudah terlelap di tempat tidur Matt, sebuah pesan masuk ke ponsel Matt, menanyakan perkembangan “Mission Amber”. Matt mengabaikan pesan tersebut.

Matt mengantar Amber ke tempat castingnya. Usai Amber turun dari taksi, Matt berharap seandainya saja Amber juga bisa menyelamatkannya, walau sekarang hal tersebut sudah terlambat.

Di tempat casting, Amber tidak sabar menunggu giliran dipanggil. Ia pun memilih untuk meninggalkan tempat. Tentu saja, keputusannya itu membuatnya dimarahi habis-habisan oleh pihak Two Models, yang pada akhirnya memecatnya. Di saat itulah tanpa disangka Amber melihat foto Amanda di deretan portofolio model agensi tersebut.

Malam harinya, dengan menyamar sebagai tukang sapu, Amber menyelinap masuk ke kantor Two Models. Anehnya, foto Amanda yang tadi ia lihat sudah menghilang. Matt yang sedari awal tidak percaya menganggap Amber hanya berhalusinasi saja.

Setelah mengambil informasi dari laptop Scott yang berguna untuk misi mereka, Amber melanjutkan dengan mencari informasi tentang Amanda dengan software khusus yang sudah ia siapkan. Dan ternyata apa yang ia lihat sebelumnya tidak salah. Amanda memang masih hidup. Ia bahkan bekerja sebagai salah satu ‘karyawan’ Two Models dengan nama Edena Clair.

Amber menyusup ke sebuah pesta dimana ia mendapati Amanda di sana. Matt mengingatkannya untuk tetap fokus pada misinya, namun Amber tidak mempedulikannya. Setelah melumpuhkan pria yang sedang bersama Amanda di kamar, ia pun mengkonfrontasinya. Amanda lantas bercerita bahwa saat itu sebenarnya Kavotz tidak benar-benar membunuhnya, hanya menyekapnya selama berhari-hari. Setelah itu, Kavotz menawarkan kebebasan pada Amanda sekaligus pekerjaan sebagai model yang ia dambakan selama ini, dengan syarat ia harus tutup mulut atas semua yang telah terjadi. Amanda menyetujuinya.

Begitu tahu bahwa Amber berniat untuk menangkap Scott, Amanda langsung menyerang Amber. Tak sulit bagi Amber untuk melumpuhkannya. Di saat bersamaan, Matt datang ke TKP dan meminta Amber untuk kabur karena ia sudah memanggil FBI untuk menangkap Scott dan yang lainnya. Matt juga berjanji bakal memastikan Amanda tidak ikut ditahan. Percaya dengan kata-kata Matt, Amber pun lantas pergi meinggalkan TKP.

Amanda tersadar dan mendapati Matt duduk di hadapannya. Tanpa disangka, Matt langsung menembak kepalanya hingga tewas.

Dari berita di televisi, Amber mengetahui kabar kematian Amanda. Matt menyatakan bahwa mungkin Scott yang membunuhnya. Amber mempercayainya.

Seseorang bernama Soa Rakotovaro menghubungi Amber. Amber mengenalinya sebagai lulusan terbaik kedua di Cleverland International. Soa mengatakan bahwa ia punya misi yang sama dengan Amber, untuk membantu alumni Cleverland yang mengalami masalah. Ia juga menyatakan bahwa ia memiliki bukti-bukti yang bisa menjerat eksekutif top Cleverland dengan pasal-pasal kriminal. Amber menduga bahwa pejabat top yang dimaksud adalah Jeff Kavotz. Dugaannya salah, karena yang dimaksud oleh Soa justru pimpinan utama dari Cleverland International sendiri, Arnav Aslam.

Menarik. Walau mungkin sudah bisa diduga. Kalau anak buahnya bermasalah, biasanya bosnya juga demikian. Tinggal dilihat nanti seperti apa sebenarnya kejahatan yang dilakukan oleh Arnav Aslam.

Matt sepertinya mulai bimbang dengan misi dari Kavotz yang ia emban. Kemungkinan karena ia mulai benar-benar jatuh cinta pada Amber. Kemungkinan besar juga ia melakukan semua itu karena dipaksa atau diancam oleh Kavotz. Yah, kita lihat saja nanti deh seperti apa kelanjutannya.


OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply