Nostalgia Permainan Anak-Anak Jaman Dulu

Habis nulis tentang cara bermain game-game DOS jadul via online (tunggu publikasinya besok lusa, ya) malah jadi ingat tentang permainan anak anak jaman dulu. Yang tumbuh besar sebelum era telepon genggam merajalela pasti pernah merasakan serunya beraktivitas di luar rumah bersama teman sebaya. Biasanya di sore hari hingga menjelang maghrib. Atau di sekolah saat istirahat. Saya termasuk di antaranya.

Berbeda jauh dengan kondisi saat ini. Kebanyakan anak-anak sibuk menunduk melihat ponsel. Baik milik sendiri atau pinjam punya orang tua. Kalau gak nonton Youtube ya main game. Semakin sedikit yang mau bermain fisik. Bukan berkelahi, ya. Tapi yang melibatkan aktivitas fisik. Seperti main sepakbola, kejar-kejaran, dan lain sebagainya.

Beberapa contoh permainan anak anak tradisional

Keponakan saya sendiri juga seperti itu. Lebih suka berdiam diri di dalam rumah. Hobinya menonton film kartun di kanal TV kabel. Diajak bergerak sedikit sudah merasa capek. Ketika jalan-jalan ke game center yang dituju juga mesin-mesin kartu semacam Animal Kaiser. Bukan yang model lempar bola atau injek-injek lampu (gak tau apa itu nama mesinnya, hehehe).

Jika diingat-ingat lagi, ada tiga permainan tradisional yang jadi favorit saya di masa kecil dulu.

Benteng Bentengan

Permainan ini biasanya saya mainkan di depan rumah bersama anak-anak tetangga sekitar. Biasanya titik bentengnya adalah pilar pagar salah satu rumah. Atau tong yang ada di jalan.

Untuk bermain benteng-bentengan dibutuhkan dua kelompok / tim. Jumlahnya terserah, asal seimbang. Semakin banyak semakin seru. Dasar permainannya adalah kejar-kejaran. Tapi diperlukan juga kemampuan mengatur strategi. Kita harus bisa merebut benteng lawan dan sebisa mungkin mempertahankan benteng kita.

Misalkan saya berada di tim A. Saya harus bergerak menuju benteng tim B dan menyentuhnya tanpa lebih dulu tertangkap oleh pemain tim B. Jika saya berhasil, maka tim saya mendapat poin. Tapi jika ada pemain tim B yang menangkap saya, maka saya akan jadi tawanan tim mereka. Tawanan tim harus berdiri di samping benteng lawan dan baru bisa bebas apabila disentuh oleh pemain dari timnya.

Itu sebabnya seperti yang disebutkan sebelumnya, dalam benteng-bentengan kita tidak bisa hanya mengandalkan kecepatan dan kegesitan, melainkan juga harus mampu mengatur strategi. Siapa yang bergerak lebih dahulu, kemana arahnya, siapa yang menjaga benteng, dan lain sebagainya.

Patil Lele

Ini permainan yang paling saya gemari. Seringkali saya mainkan di sekolah saat istirahat. Patil Lele namanya. Tidak hanya di Jawa Timur, permainan ini juga populer di wilayah-wilayah lain di Indonesia. Istilahnya beda-beda. Ada yang menyebutnya Benthink (Jawa Tengah dan Yogyakarta), Tak Tek (Bangka Belitung), Tal Kadal, Gatrik, dan lain-lain.

Berbeda dengan benteng-bentengan, dibutuhkan alat untuk memainkan Patil Lele. Tidak sulit kok mempersiapkannya. Hanya butuh 2 bilah kayu saja. Ukurannya berbeda. Yang satu pendek, sekitar 10-15 cm. Yang satunya lagi panjang, sekitar tiga kali bilah kayu pertama. Permainan ini juga hanya bisa dimainkan di atas tanah, karena harus ada bagian tanah yang sedikit dikeruk dengan ukuran setara bilah kayu yang pendek.

Agak rumit untuk menjelaskan dengan kata-kata cara bermainnya, jadi bisa simak saja video-videonya di Youtube melalui tautan ini.

Permainan ini bisa dimainkan secara beregu maupun hanya berdua. Ada 2 elemen yang menarik. Pertama, masing-masing tim memiliki kesempatan untuk bermain dalam 3 babak. Masing-masing babak punya cara bermain sendiri-sendiri. Apabila berhasil di satu babak, maka bisa berlanjut ke babak berikutnya. Tugas tim lawan, yang sekaligus adalah elemen menarik kedua, adalah mencegah hal itu terjadi. Jadi permainan tidak hanya berjalan satu sisi, melainkan terjadi interaksi dan adu strategi yang berkelanjutan di antara tim yang bertanding.

Engklek

Berhubung saat itu tetangga sekitar rumah kebanyakan adalah anak perempuan, ada kalanya saya ikut bermain engklek dengan mereka. Meski lebih banyak digemari kaum hawa, namun permainan ini sebenarnya juga cukup menantang. Butuh kemampuan terlatih untuk bisa melemparkan batu atau potongan ubin ke kotak yang diinginkan.

Permainan ini bisa dimainkan di tanah maupun di lantai. Selama kita bisa menggambarkan pola area permainan di sana. Seperti disebutkan di atas, dibutuhkan juga sebuah batu yang bentuknya pipih atau potongan ubin sebagai gacoan masing-masing pemain.

Sama halnya dengan Patil Lele, tidak diperlukan banyak energi fisik untuk memainkannya. Konsentrasi dan kemampuan melempar yang jadi kuncinya. Cocok untuk dimainkan saat sedang terlalu capek untuk lari-lari.


Itu tadi tiga permainan anak tradisional yang dulu acap saya mainkan. Bagaimana dengan teman-teman? Apa permainan jadul yang jadi favorit? Yuk mari bernostalgia bersama di kolom komentar, ya 🙂

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply